Young Mommy

Young Mommy
Part 65



...🍃Happy Reading🍃...


Fabio membuka pintu dengan pelan. Ia meminta Ayana dan Zayyan segera masuk, tapi wanita itu menatapnya ragu.


"Masuklah ! Mereka sudah menunggu" ucap Fabio.


Ayana menarik nafas panjang, ia mencoba menetralkan degup jantungnya. Entah siapa lah di dalam kafe ini sehingga Fabio enggan mengatakannya.


Mereka melangkah masuk dengan langkah kaki pelan. Ayana mengedarkan pandangannya, ia mencoba mencari orang yang dimaksud Fabio. Tapi yang ia dapat hanyalah ruangan yang sudah didekorasi.


Ayana menatap dekorasi itu dengan heran. Ia kemudian menatap Fabio dengan tatapan penuh pertanyaan.


Namun belum sempat Fabio menjawab, Gama, Omah dan kedua orang tua Ayana muncul entah dari mana.


"Om Gama... Kakek, Nenek, Omah..." Teriak Zayyan.


Ayana membulatkan matanya kala melihat Gama mendorong sebuah meja yang diatasnya terdapat kue yang cukup besar. Kue yang bertemakan Zoo itu membuat Zayyan berlompat kegirangan.


Keempat orang dewasa itu muncul dengan sebuah nyanyian ulang tahun. Zayyan benar-benar senang dengan kejutan ini. Sementara Ayana merasa terkejut masih mematung melihat kehadiran mereka.


"Selamat ulang tahun cucunya Kakek" ucap Papa Hartono menghampiri cucunya dan memeluk tubuh mungilnya.


"Selamat ulang tahun sayang. Tumbuh jadi anak yang cerdas dan baik ya, Nak" ucapan dari Mama Lisa.


"Selamat ulang tahun cicitnya Omah" ucapan Omah pada Zayyan.


"Selamat ulang tahun Zayyan Arkana" ucap Gama, 'Selamat ulang tahun putraku sayang. Zayyan Arkana Wismagara, maafkan Papa yang selama ini tidak hadir saat ulang tahunmu, Nak. Mulai saat ini, Papa akan selalu ada untukmu dan Mama' lanjut batin Gama.


Pria itu menggendong Zayyan dan membantunya untuk meniup lilin. Setelah meniup lilin, Zayyan diminta untuk potong kue.


"Tapi kuenya terlalu besar, Zayyan tidak bisa potong kuenya.


"Kalau gitu kita minta bantuan Mama !" bisik Gama di telinga Zayyan.


Pria kecil itu langsung mengangguk dan memanggil sang Mama.


"Mama, bantu Zayyan potong kue !" panggil Zayyan.


Ayana yang merasa dipanggil tersadar dari lamunannya.


"A-aapa sayang ?" tanyanya bingung.


"Bantu Zayyan potong kue !" Ulang Zayyan.


"Aahhh... B-baik" jawab Ayana. Wanita itu mendekat pelan ke arah mereka. Ia masih belum bisa menetralisir rasa keterkejutannya.


Melihat Ayana berjalan lambat, Gama segera mendekatinya dan menarik tangannya lembut.


Melihat hal itu, Fabio hanya bisa terdiam. Hatinya tentu terasa panas melihat perlakuan hangat Gama pada Zayyan dan Ayana. Meskipun begitu, ia merasa tidak mempunyai hak untuk marah.


"Nah sekarang potong kuenya !" ucap Mama Lisa.


Gama mengambil pisau kue lalu berkata, "kita potong sama-sama !"


"Ha?" sahut Ayana masih bingung.


"Kamu ikut pegangan pisaunya, terus kita potong kuenya bareng-bareng !" jelas Gama.


Ayana yang masih belum bisa mencerna keadaan ini, hanya menurut saja. Jadilah Ayana ikut memegang pisau kue itu. Lebih tepatnya punggung tangan Gama dan putranya.


Gama tersenyum senang karena Ayana tidak sadar menyentuh tangan Gama. Gama mulai mengerakkan pisau dan memotong kue. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang harmonis.


"Zayyan kuenya untuk siapa ?" tanya Gama pada putranya.


"Emmm... Untuk siapa ya ?" tanya Zayyan bingung. Ia lalu teringat dengan acara ulang tahun temannya. Setelah memberikan kue sang Mama, mereka memberikan sang Papa kue.


"Tadi Mama sudah dapat kue, biasanya teman-teman Zayyan memberikan kue pada Papanya. Tapi kan Papa Zayyan nggak ada disini. Jadi Zayyan kasih siapa dong ?" lanjutnya bertanya dengan wajah sedih.


DEG.


Pernyataan dan pertanyaan Zayyan bagaikan sebuah tamparan bagi Ayana dan Gama. Seketika rasa bersalah menyelimuti hati mereka. Sementara Papa Hartono, Mama Lisa dan Omah hanya bisa saling melirik.


'Ya Tuhan, aku harus bagaimana ?' batin Ayana. Ia menatap wajah polos putranya dengan perasaan sedih.


'Papa ada disini Nak. Maafkan Papa karena pergi meninggalkan kamu' batin Gama yang juga merasa sedih mendengar ucapan putranya tadi.


Merasakan suana mulai canggung. Papa Hartono mencoba memecahkan keheningan.


"Zayyan berikan saja pada orang yang Zayyan sukai !" usul Papa Hartono.


"Kalau begitu Zayyan kasih kuenya untuk Om..." Zayyan terlihat berpikir.


Sementara semua orang dewasa itu menunggu jawaban Zayyan. Mendengar pria mungil itu menyebut Om, itu artinya hanya ada dua orang kemungkinan. Gama atau Fabio.


"Zayyan mau kasih kuenya untuk Om Gama" Zayyan memberikan kue itu pada Gama.


Pria itu tersenyum saat putranya memberikan kue untuknya. Itu artinya dirinya sangat berarti bagi Zayyan. Apa dia bisa berharap jika suatu saat mereka bisa bersama ?


Sementara Ayana dan Fabio tertegun saat melihat putranya memberikan kue kepada Gama dengan senyum yang mengembang diwajahnya.


'Apa Zayyan melakukan ini karena ikatan batin seorang anak dengan Papanya ?' batin Ayana.


'Ternyata aku terlalu berharap menjadi bagian penting dari hidup Zayyan' batin Fabio merasa kecewa.


"Terima kasih sayang" ucap Gama terharu. Sebisa mungkin ia menahan air matanya. Meskipun ia adalah seorang pria, tapi ia juga bisa menangis karena tersentuh dengan sikap putranya.


"Ya sudah kalau begitu kita makan dulu. Setelah itu baru pemberian kado untuk cucu Kakek yang tampan ini" ucap Papa Hartono.


Mereka akhirnya makan bersama. Gama, Fabio dan Zayyan satu meja. Sementara Ayana memilih satu meja dengan orang tuanya dan sang Omah.


"Mengapa kalian tidak bilang jika kalian jadi ke Surabaya ?" tanya Ayana.


"Jika kami mengatakannya padamu berarti bukan kejutan namanya" jawab Mama Lisa.


"Lalu kenapa kalian bisa datang bersama pria itu ?" tanya Ayam melirik Gama yang sedang beradu tatap dengan Fabio.


"Gama merindukan Zayyan. Dia datang ke rumah dan meminta ijin untuk menyusul kalian kesini. Karena kebetulan kamu meminta kami datang ke acara ulang tahun Zayyan, jadi kami memintanya berangkat bersama" jawab Mama Lisa.


Ayana terdiam saat mendengar jawaban Mama Lisa.


"Ayana, Papa tahu jika kamu masih terluka atas kejadian beberapa tahun lalu. Tapi mau sampai kapan kamu terjabk dalam lukamu itu ? Kamu menyikasa diri sendiri dengan menutup diri. Coba kamu berdamai dengan masa lalumu, Nak ! Semua orang pasti mengalami kisah pahit, hanya saja kisah setiap orang berbeda. Masa lalu biarkanlah menjadi pelajaran untuk kalian dimasa depan ! Sekarang sudah saatnya kamu mengikhlaskan semuanya agar bisa menjalani hidup yang tenang !" pesan Papa Hartono.


"Selama ini pasti kamu bertanya mengapa Papa dan Mama kamu memberikan Gama kesempatan untuk memperjuangkan cintamu ? Papa dan Mama tidak mungkin mengambil sebuah keputusan besar sebelum mempertimbangkannya. Selama ini Gama benar-benar menunjukkan semua rasa bersalahnya, semua rasa penyesalannya terhadap apa yang telah ia perbuat padamu. Gama juga tidak pernah menyerah untuk menunjukkan keseriusan cintanya pada kami. Pria itu melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan kepercayaan dari kami. Hingga akhirnya hati kami luluh, dan memberikan kesempatan untuknya. Kami hanya berharap kamu bisa berdamai dengan masa lalu kalian dan bisa menentukan pilihan hatimu. Tidak sedihkah kamu selalu membohongi Zayyan jika Papanya sedang berada di tempat yang jauh ? Pikirkan juga perasaan putramu Nak !" lanjut Papa Hartono.


Ayana hanya mampu terdiam saat mendengar cerita sang Papa. Ayana mulai bimbang dengan perasaannya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf ya, telat Update, soalnya lagi revisi bab 🤧😅


jangan lupa tinggalkan jejak ❤️😘