Young Mommy

Young Mommy
Part 50



...🍃 Happy Reading 🍃...


Mama Lisa dan Omah yang sedang berada di ruang tengah menemani Zayyan bermain terlihat heran saat Ayana berjalan dengan langkah cepat. Mereka sempat melihat Ayana menghapus air matanya dengan kasar.


Tak lama Gama masuk dengan wajah yang kusut. Pria itu hendak berpamitan pada Mama Lisa dan Omah.


"Tante, Omah, Gama ijin pamit ya. Masih banyak kerjaan kantor yang menunggu Gama" ucapannya berusaha tersenyum.


Mama Lisa tentu tahu jika pria itu merasa sedih. Tapi ia tidak ingin ikut campur terlalu jauh, ia akan membiarkan Gama menyelesaikan masalahnya dengan Ayana dengan usahanya sendiri.


"Baiklah Nak, hati-hati di jalan !" balas Mama Lisa.


Gama mencium punggung tangan Mama Lisa dan Omah, setelah itu ia mendekati Zayyan yang sedang asik bermain.


"Zayyan, Om pamit pulang ya" ucapnya sambil mengacak-acak rambut putranya. Sebenarnya ia sangat berat pergi dari rumah ini, tapi ia tidak ada pilihan lain.


"Om hati-hati ya ! Besok Om kesini lagi ya, Zayyan senang jika Om datang dan menemani Zayyan bermain" ucapnya membuat Gama kembali senang.


Walaupun Ayana menolaknya, setidaknya Zayyan masih menerima kehadirannya.


"Sudah pasti Boy" jawabnya semangat.


Zayyan tersenyum mendengar jawaban Gama, "Ya sudah Om, hati-hati di jalan" ucapnya kemudian melanjutkan lagi aktifitas bermainnya.


Akhirnya Gama meninggalkan kediaman orang tua Ayana. Pria itu melajukan mobilnya kembali ke perusahaan. Tak butuh waktu lama Gama akhirnya tiba di tempat tujuan.


Saat Gama masuk ke ruangannya, ia sudah disambut oleh sekertarisnya.


"Selamat siang Pak, tadi Pak Budianto datang kemari" lapor Ibu Indah.


"Apa yang ia katakan ?" tanya Gama sambil berjalan menuju kursi kebesarannya.


"Bapak Budianto hanya memberikan pesan agar Bapak pulang ke rumah tidak kembali ke apartemen milik bapak !" jawab Ibu Indah.


"Hanya itu ?" tanya Gama.


"Iya Pak. Ini sekalian saya ingin memberikan surat perjanjian kontrak kerja sama perusahaan yang dititipkan Tuan Nugroho" Ibu Indah meletakkan map di atas meja Gama.


"Tinggalkan saja !" ucapnya hanya melirik map tersebut. Ia tidak berniat sama sekali membuka dan membaca isi perjanjian kontrak itu.


Pria itu lebih memilih menyibukkan diri dengan kertas yang berisikan laporan perusahaannya.


🍃


Ayana terbangun dari tidurnya dengan mata yang sedikit membengkak. Ya, tadi wanita itu menangis hingga lelah dan tertidur. Ayana turun dari ranjangnya dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah itu ia turun ke dapur untuk mencari makanan. Perutnya terasa perih karena belum makan siang.


Selesai makan, Ayana mencari putranya di kamar sang Mama. Tapi Zayyan tidak berada disana, hanya ada Mama Lisa yang tertidur pulas. Akhirnya Ayana ke kamar sang Omah, dan benar saja Zayyan sedang tertidur dengan Omah.


Tak ingin menggangu tidur anaknya, Ayana memilih duduk di ruang tengah untuk menonton acara televisi. Mata Ayana terpaku pada mainan baru milik putranya yang berserakan.


Wanita itu akhirnya memutuskan untuk merapikan mainan Zayyan.


"Ck... Kenapa dia membelikan banyak mainan untuk putraku ? Apa dia pikir dengan cara seperti ini ia bisa mendapatkan Zayyan ? Tidak akan pernah aku biarkan, bahkan sampai matipun aku tidak akan membiarkan kamu merebut putraku" gerutunya sambil memunguti mainan Zayyan satu persatu.


Akhirnya Ayana bisa duduk tenang setelah mainan putranya tidak terlihat lagi di lantai. Ia menonton acara televisi dengan posisi berbaring di atas sofa. Setelah tiga puluh menit, Ayana memutuskan ke dapur untuk melihat bahan-bahan makanan.


"Sepertinya aku harus belanja deh" ucapannya saat melihat kulkasnya hampir kosong.


Ia menatap jam yang baru menunjukkan pukul 4 sore. Ayana lalu masuk ke kamarnya dan bersiap-siap ke supermarket. Setelah siap, Ayana keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan sang Mama.


"Ayana, kamu mau kemana sayang ?" tanya Mama Lisa.


"Mama udah bangun ?" tanya Ayana mendapatkan anggukan kepala dari sang Mama, "Ini, Ayana mau keluar buat belanja. Ayana lihat kulkas isinya hampir habis" jelas Ayana.


"Oh iya kalau begitu kamu hati-hati ya !" Pesan Mama Lisa.


"Iya Ma" jawab Ayana. Ia lalu mencium punggung tangan sang Mama lalu pergi.


Saat tiba di supermarket, Ayana langsung mengambil troli barang belanjaan. Ia mulai berkeliling mencari sesuatu yang ia butuhkan. Karena Ayana berniat membuat kue, ia juga membeli bahan-bahan yang ia perlukan.


Tanpa Ayana sadari di kasir sebelahnya seseorang sedang menatapnya dengan ekspresi terkejut. Tanpa sadar bibirnya berucap lirih menyebut nama Ayana.


Wanita itu masih terpaku melihat Ayana yang berdiri di sampingnya. Ia baru tersadar saat Ayana sudah pergi.


"Jadi dia sudah kembali ? Apa jangan-jangan Gama sudah bertemu dengannya ?" Kini wanita itu sibuk dengan berbagai pikirannya.


Setelah semua barang milik Ayana masuk dalam mobilnya. Ia segera menancap gas menuju rumahnya. Ia tidak sabar untuk membuat kue.


Baru saja dua hari ia meninggal Surabaya, ia sudah rindu dengan suasana dapur toko roti miliknya.


Setibanya di rumah, ia menyusun barang-barang belanjaannya. Di rumah orang tua Ayana memang sudah tidak ada lagi ART semenjak tiga tahun lalu.


Tak lama Mama Lisa datang menghampiri putrinya yang sedang sibuk.


"Sini Mama bantuin" Mama Lisa menawarkan bantuan pada putrinya.


"Nggak usah Ma, ini juga udah mau selesai" jawab Ayana.


Akhirnya Mama Lisa hanya duduk memperhatikan putrinya. Perlahan senyum di bibirnya merekah, ia merasakan perubahan Ayana yang kekanak-kanakan dan manja berubah menjadi Ayana yang dewasa dan mandiri.


Waktu telah mengubah kepribadian putrinya, meski harus melalui takdir yang terasa pahit.


"Kamu mau bikin apa Nak ?" tanya Mama Lisa saat melihat Ayana menyiapkan tepung dan beberapa bahan kue lainnya.


"Ayana mau bikin kue Ma" jawabannya semangat.


"Ah benarkah ? Mama tidak sabar ingin mencicipi kue buatan putri Mama" ucap Mama Lisa membuat Ayana tersenyum lebar.


"Apa yang bisa Mama bantu ?" tanya Mama Lisa mendekati Ayana yang sudah lengkap dengan apronnya.


"Udah ya, Mama cukup jadi penonton saja ! Biar Ayana yang bertempur" ucapnya tertawa.


Ayana mulai membuat adonan kue. Dengan cekatan ia mengerjakan step by step.


Sesekali Mama mengajak Ayana berbicara.


"Jadi kamu belajar bikin kue dari mana ?" tanya Mama Lisa.


"Dari internet Ma. Kan sekarang udah canggih, mau bikin apa aja bisa lihat resep di internet" jawab Ayana.


"Iya sih. Tapi biasanya beda loh hasil dari resep dengan buatan tangan kita" ucap Mama Lisa.


"Itu kayaknya kalau kita nggak ngikutin secara benar aja sih Ma" balas Ayana.


Saat mereka asik mengobrol, Omah dan Zayyan datang menghampiri mereka.


"Eh, cucu Nenek udah bangun ya ?" tanya sambil mengelus pucuk kepala Zayyan.


"Nenek, Zayyan tidak suka jika kepala Zayyan dielus-elus" ucap Zayyan.


"Ah benarkah ? Tapi kenapa saat Om Gama yang melakukannya Zayyan terlihat suka ?" tanya Mama Lisa tanpa sadar menyebut nama pria yang dibenci putrinya.


"Zayyan juga tidak tahu, Nek" jawab Zayyan polos.


Ayana yang mendengar jawaban putranya hanya bisa terdiam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


sekarang promosi novel sendiri ya 🤣🤣🤣 jangan bosan² ya baca novel Sa 🤗❤️😘🥰


Love You Sekebon, Se-kabupaten, Se-provinsi ❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥



Udah ya, Hari ini Crazy Up, jadi jangan lupa tinggalkan jejak supaya Sa tambah semangat 💪❤️