Young Mommy

Young Mommy
Part 28 -



...🍃Happy Reading 🍃...


"Tuan, saya sudah mendapatkan alamat rumah Ibu Tuan. Tempatnya di desa terpencil, tapi saya belum bisa memastikan apakah beliau masih tinggal disana atau tidak" lapor anak buah yang diperintahkan Ayah Budianto.


"Siapkan kendaraan untuk kesana, nanti malam kita akan mulai perjalanan !" Perintah Ayah Budianto.


"Baik Tuan" balas anak buahnya.


Setelah anak buahnya pergi, Ayah Budianto kembali fokus mengerjakan semua pekerjaan kantornya. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya untuk tiga hari ke depan agar bisa fokus mencari Ibunya.


"Semoga Ibu masih hidup dan kita akan berkumpul bersama" harapnya.


🍃


Setelah sepekan berpikir panjang, Ayana akhirnya memutuskan untuk ikut dengan Fabio. Sebelum mengambil keputusan Ayana meminta pendapat sang Nenek terlebih dahulu.


"Nenek hanya ikut saja, apapun yang jadi keputusan kamu Nenek hanya berharap itu keputusan yang baik"


"Apa Nenek sanggup melakukan perjalanan panjang ?"


Ayana sedikit khawatir tentang kondisi sang Nenek, perjalanan mereka ke Surabaya membutuhkan waktu 9 jam. Ayana khawatir jika sang Nenek tidak sanggup untuk perjalanan selama itu.


Sang Nenek terkekeh mendengar pertanyaan Ayana, "kamu jangan meremehkan Nenek hanya karena Nenek bungkuk dan terlihat renta ! Tua-tua begini Nenek masih sanggup loh berjalan puluhan kilo"


"Ayana bukannya meremehkan Nenek, Ayana hanya khawatir dengan kondisi Nenek" ucap Ayana mengelus punggung tangan sang Nenek.


"Jangan Khawatir ! Nenek masih sanggup bahkan jika diajak keliling Indonesia" balasnya sambil tertawa.


Ayana ikut tertawa mendengar ucapan sang Nenek. Setelah puas mengobrol Ayana mempersiapkan semua barang-barangnya yang akan ia bawa.


Tak lama kemudian Fabio datang menjemput mereka.


"Sudah siap ?"


"Sudah" jawab Ayana.


Mereka lalu membawa semua barang-barang Ayana ke mobil Fabio. Setelah semua barang masuk mobil, Ayana lalu menggendong Zayyan, sementara Fabio membantu sang Nenek berjalan ke mobil.


"Apa Nenek beneran sanggup duduk selama 9 nama perjalanan ?" tanya Fabio.


"Ais, kalian sama saja selalu meremehkan nenek-nenek tua ini" balas sang Nenek membuat Ayana dan Fabio tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang !"


Mobil Fabio mulai meninggalkan rumah susun yang pernah Ayana tempati. Selama perjalanan Ayana selalu berdoa semoga mereka selamat sampai tujuan.


🍃


Malam itu, Ayah Budianto beserta dua anak buahnya memulai perjalanan mereka menuju tempat tinggal sang Ibu.


Sementara sang istri tinggal di rumah hanya bisa membantu berdoa dan berharap agar ibu mertuanya bisa ditemukan oleh sang suami. Jika memang ibu mertuanya masih hidup, ia akan meminta maaf pada ibu mertuanya atas apa yang telah ia perbuat. Seharusnya sebagai seorang menantu ia tidak boleh menyimpan dendam pada ibu mertuanya.


Gala yang melihat Bundanya tampak termenung dengan wajah sendu segera menghampiri sang Bunda.


"Ada apa Bun ?" tanya Gala membuat sang Bunda terkejut.


"Kamu bikin Bunda kaget aja"


Gala menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berkata, "habis Bunda ngelamun. Bunda memangnya lagi mikirin apa ? Lagi mikirin anak sulung Bunda atau lagi mikirin Ayah yang lagi kerja di luar kota ?" tanya Gala.


"Bunda mikirin Kakak kamu, yang semakin hari semakin sulit dihubungi" jawab sang Bunda berbohong.


"Ah benarkah ? Kalau begitu nanti Gala coba telpon Kakak" balas Gala mencoba menenangkan sang Bunda.


"Makasih sayang"


"Sama-sama Bund"


Sementara di Jerman Gama memfokuskan diri untuk belajar, ia bertekad menyelesaikan kuliahnya dalam waktu cepat agar bisa kembali dan bertemu dengan Ayana. Ia sangat yakin jika Ayana tidak sendiri lagi karena anak mereka pasti telah lahir.


"Aku tidak sabar bertemu dengan anakku, jika dia perempuan pasti ia cantik seperti Ayana dan jika ia laki-laki pasti setampan diriku" ucapnya sambil tersenyum.


Ia sudah tidak sabar menantikan pertemuan itu.


🍃


"Apa masih jauh ?" tanya Ayah Budianto.


"Beberapa kilo lagi Tuan"


Ayah Budianto menghela nafas berat, akhirnya mau tidak mau ia harus berjalan kaki menyusuri jalanan setapak yang dikelilingi sawah yang membentang luas. Udara malam mulai menusuk hingga tulang-tulangnya meskipun ia menggunakan jaket. Memang cuaca malam ini sedikit lebih dingin karena baru saja selesai hujan. Pria paruh baya itu berjalan di gelapnya malam dan hanya ada cahaya senter dari gadgetnya. Ia menatap jalanan yang tampak becek. Sebisa mungkin ia menghindari lubang-lubang yang tergenang air hujan.


Setelah melewati jalanan setapak di tengah sawah, kini mereka melewati jalan setapak di tengah hutang bambu. Ketiganya merasakan bulu kuduk mereka merinding.


"Apa benar tempatnya disini ?" tanya Ayah Budianto merasa tidak yakin jika ibunya tinggal di hutan seperti ini.


"Benar Tuan" jawab salah satu anak buahnya.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka hingga mereka melihat sebuah rumah sederhana tanpa pencahayaan listrik. Salah satu anak buah Ayah Budianto mengetuk pintu rumah tersebut hingga seorang bapak tua muncul di balik pintu.


"Kalian siapa bertamu tengah malam ?" tanya bapak tua itu.


"Kami mencari Ibu Rukmini. Apa benar ini rumahnya ?"


"Benar, tapi Nenek Rukmini sudah tidak tinggal disini" jawab bapak-bapak tua tersebut.


"Lalu kemana Ibu Rukmini pergi ?"


"Beliau sudah meninggalkan rumah ini dan mempercayakan saya untuk menjaganya beberapa bulan terakhir ini. Beliau berangkat dengan cucu dan cicitnya ke kota" jelas sang bapak tua tersebut.


"Jika boleh tahu, siapa cucunya dan apakah mereka mengatakan ingin pergi ke kota mana ?"


"Sayangnya saya tidak tahu nama cucunya, saya hanya ingat dia seorang wanita mudah. Sementara untuk tujuan mereka saya juga kurang tahu" jawab bapak itu.


Mendengar penjelasan bapak tersebut, Ayah Budianto menghela nafas dengan berat. Tanpa terasa air matanya mulai jatuh membasahi pipinya. Jika benar ibunya tinggal di rumah tengah hutan seperti ini selama bertahun-tahun, maka ia akan sangat merasa bersalah. Ia hidup dengan nyaman dengan keluarganya sementara sang Ibu terlantar.


"Jika boleh tahu untuk apa kalian mencari Nenek Rukmini ?" tanya bapak tersebut.


"Kami adalah kerabatnya, dan kami ingin membawa Ibu Rukmini ke kota"


"Wah, sayang sekali Nenek Rukmini sudah pergi"


Mereka kemudian sama-sama terdiam. Lebih tepatnya menunggu kata-kata keluar dari mulut Tuannya.


"Ayo kita pergi !" ucap Ayah Budianto.


"Kalian mau kembali dalam kondisi cuaca seperti ini ? Ada baiknya kalian menginap saja disini ! Besok pagi kalian bisa berangkat ke kota lagi" tawar bapak tersebut.


Kedua anak buah Ayah Budianto tampak menunggu jawaban Tuannya. Ayah Budianto sendiri menatap gerimis yang mulai turun, sepertinya mereka menginap saja disini.


"Baiklah Pak, terima kasih atas tumpangannya" ucap Ayah Budianto.


Mereka akhirnya tidur di rumah sederhana itu yang hanya menggunakan pelita sebagai penerang.


"Maafkan aku Ibu, karena telah membuat hidupmu menderita. Aku memang anak durhaka, aku memang anak yang tidak tahu diri"


Ia menangis menyesali semua perbuatannya. Ia tidak bisa membayangkan betapa sulitnya kehidupan yang dijalani sang Ibu.


🍃


Sementara di tempat lain, Ayana dan Fabio baru saja tiba di kota Surabaya. Mereka sudah sampai di sebuah rumah mewah. Ayana menatap Fabio seolah bertanya siapa rumah di depan mata mereka.


"Ini rumahku" ucap Fabio seolah tahu apa yang ingin ditanyakan Ayana.


"Be-benarkah ? Kamu orang kaya ?" tanya Ayana dengan mulut yang menganga.


"Tutup mulutmu itu ! Nanti bisa kemasukan lalat" ejek Fabio membuat Ayana kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩



Author : Tyatul


Judul : Dewi untuk Dewa