Young Mommy

Young Mommy
Part 78



...🍃Happy Reading🍃...


Malam harinya, setelah makan malam. Semua orang berkumpul di depan televisi.


Sepulang dari pantai, Zayyan selalu menempel dengan Gama. Semua orang melihat kedekatan Zayyan dengan Gama merasa senang.


"Jadi kapan kalian menikah ?" tanya Papa Hartono.


"Secepatnya Om" jawab Gama sambil melirik Ayana yang tersipu malu.


"Jangan panggil Om lagi ! Tapi panggil Papa !" pinta Papa Hartono.


Gama tersenyum lebar, tentu saja dengan senang hati ia memanggil Papa Hartono dengan sebutan Papa.


"Baik Pa" jawabnya.


"Apa orang tua kamu akan setuju dan menerima Ayana sebagai menantunya ?" tanya Mama Lisa cemas.


Ayana juga melupakan hal itu. Seketika ia takut jika kedua orang tua Gama masih membencinya, ia takut jika mereka tidak menerima Zayyan.


"Tenang saja Ma ! Mereka sudah setuju" jawab Gama.


"Jika mereka setuju, kami bisa tenang menikahkan Ayana denganmu, Nak" sahut Omah.


Semua bernafas lega kala tahu orang tua Gama telah menerima Ayana dan Zayyan, tapi tidak dengan Ayana. Wanita itu masih ragu.


Beberapa hari kemudian, besok keluarga Ayana memutuskan untuk kembali ke Bandung.


Mereka tidak bisa tinggal lama di Surabaya karena memiliki banyak pekerjaan.


Begitu juga dengan Gama. Pria itu harus kembali dan mengatakan pada keluarganya jika ia akan menikahi Ayana.


Saat ini Ayana sedang duduk di teras bersama Gama.


"Sayang, apa kamu belum ingin ikut pulang bersama kami ?" tanya Gama sambil menggenggam tangan Ayana.


"Belum sekarang, masih ada yang harus aku selesaikan disini. Jika aku kesana, lalu bagaimana dengan usaha yang aku bangun dari nol ?"


Ayana bukannya tidak ingin pulang, hanya saja ia tidak mau meninggalkan usaha yang telah ia bangun susah payah.


"Untuk dua Minggu saja sayang ! Aku ingin cepat menikahi kamu" ucap Gama memohon.


"Mana bisa mengurus acara pernikahan dalam waktu yang singkat itu ? Akan ada banyak hal yang harus kita persiapkan !" balas Ayana.


"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, orang tuaku sudah mengatur semuanya. Bahkan jika kamu siap menikah besok lusa, kita bisa melakukannya" balas Gama.


"Apa mereka yakin menerimaku ?" tanya Ayana lirih.


Sesungguhnya wanita itu merasa cemas dan ragu untuk menikah dengan Gama karena takut kedua orang tua Gama menolaknya.


"Iya sayang, aku sudah mengatakannya berapa kali, kalau mereka menerima kamu menjadi menantunya. Jadi jangan ragu lagi !" jawab Gama.


Entah harus berapa kali dirinya meyakinkan Ayana jika orang tuanya telah menyesali perbuatannya dimasa lalu. Bahkan mereka tidak sabar ingin bertemu dengan Ayana dan meminta maaf padanya.


Untuk sesaat Ayana terdiam. Melihat Ayana terdiam membuat Gama takut jika wanita itu menolak.


Namun rasa takutnya berubah menjadi rasa bahagia kala Ayana menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih sayang" ucap Gama menarik Ayana ke dalam pelukannya.


Ayana membalas pelukan Gama dengan erat. Ia mencoba menyakinkan diri jika pilihannya sudah tepat.


🍃


Pagi harinya, mereka sudah siap ke bandara.


Sebelumnya, Ayana sudah menghubungi Fabio agar bisa mengantar mereka. Tak hanya Fabio yang turut mengantar Ayana dan keluarganya. Tapi kedua orang tua Fabio dan Dira juga ikut.


"Kita mampir di toko dulu ya ! Ayana mau pamit sama karyawan" pinta Ayana.


Akhirnya mereka mampir di toko roti milik Ayana. Wanita itu berpamitan dengan keempat karyawannya.


"Apa setelah menikah Mbak akan tinggal disana ?" tanya Mia pada Ayana.


"Bisa iya, bisa tidak" jawab Ayana. Ia pun belum tahu akan menetap dimana.


"Kami pasti merindukan Mbak" lanjut Mia.


Memang diantara keempat karyawannya, Mia yang sangat-sangat dekat dengan Ayana.


"Selama aku disana, Fabio yang akan mengurus toko ini" ucap Ayana.


Ya, Ayana sudah bicara dengan Fabio dan menitipkan toko roti miliknya pada pria itu. Meskipun dengan berat hati, Fabio setuju.


Tiba di bandara, Ayana memeluk erat tubuh Dira, Ibu Shita dan Ayah Sandy.


"Terima kasih Ibu, Ayah sudah menjadi keluarga baru bagi Ayana" ucap Ayana tulus.


"Sama-sama Nak, Ibu dan Ayah sudah menganggap kamu sebagai putri kami" balas Ibu Shita, air mata wanita itu luruh. Ia sedih karena Ayana harus pergi.


"Jangan sungkan-sungkan meminta bantuan pada kami, Nak ! Dan sering-sering lah berkunjung kemari !" sambung Ayah Sandy.


"Baik Yah, Ibu" jawab Ayana.


Ayana lalu menatap Dira, "Padahal kita baru bertemu beberapa hari, tapi sepertinya kita harus berpisah lagi" ucapnya.


"Kita masih bisa bertemu jika kamu memiliki kesempatan untuk berkunjung kemari. Kita juga masih bisa berhubungan melalui sosial media, tidak seperti dulu saat kamu menghilang tanpa jejak" balas Dira.


"Jika kamu sempat hadir di perta pernikahan kami, maka aku pasti sangat senang" ucap Ayana.


Dira hanya tersenyum tipis, ia tidak tahu apakah dirinya akan hadir. Rasanya tidak mungkin ia kembali kesana, ia takut diolok-olok oleh orang-orang yang mengenalnya.


Ayana lalu menghampiri Fabio yang hanya terdiam.


Grap.


Fabio membulatkan matanya kala mendapatkan pelukan dari Ayana. Jantung pria itu berdebar kencang saat merasakan hangatnya pelukan wanita yang ia cintai.


Gama juga membulatkan matanya, pria itu hendak memisahkan Ayana dan Fabio karena merasa cemburu. Tapi Papa Hartono mencegahnya.


"Untuk yang terakhir kalinya" bisik Papa Hartono.


Ayana menangis saat memeluk tubuh Fabio, "Jangan mendiamkan aku ! Aku sangat tidak nyaman" ucapnya disela isakannya.


Fabio mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Ayana. Sungguh berat baginya melepaskan wanita yang ia cintai untuk menikah dengan pria lain. Tapi demi kebahagiaan Ayana, Fabio harus rela.


"Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki, bertemu denganmu membuat aku bisa merasakan betapa bahagianya memiliki seorang kakak laki-laki yang selaku melindungiku" ucap Ayana.


Entah Fabio harus merasa senang atau sakit hati. Dirinya hanya dianggap sebagai sahabat baik dan seorang kakak.


"Aku harap kamu bisa hadir dihari bahagiaku. Maafkan aku karena membuat hatimu terluka" lanjut Ayana.


"Akan aku usahakan" jawab Fabio walau terasa berat.


Ayana melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Fabio. Pria yang sangat berjasa bagi Ayana.


"Zayyan, sekarang pamit dengan Om Bio !" pinta Ayana.


Zayyan segera mendekat, Fabio jongkok Agara tubuhnya bisa sejajar dengan Zayyan. Keduanya saling memeluk.


"Om Bio, Zayyan akan pergi dengan Papa. Zayyan pasti akan rindu pada Km Bio" ucapnya.


Fabio melepaskan pelukannya dan berkata, "Apa Zayyan senang bisa bertemu dengan Papa ?" tanyanya.


"Senang, sangat senang" jawab Zayyan.


"Zayyan jadi anak yang berbakti ya dengan Mama dan Papa ! Om juga pasti merindukan Zayyan" ucap pria itu mengelus lembut pipi Zayyan.


Zayyan kemudian mencium punggung tangan Fabio, setelah itu ia mencium tangan Dira dan kedua orang tua Fabio.


"Kami ucapkan banyak-banyak terima kasih terlah membantu Ayana dengan tulus. Kami menunggu kedatangan kalian di Bandung" ucap Papa Hartono tulus.


"Tidak perlu berterima kasih, biar bagaimanapun kami telah menganggap Ayana sebagai putri kami" balas Ayah Sandy.


"Ya sudah kalau begitu, kami berangkat" sambung Mama Lisa.


Mereka semua saling berpelukan sebelum benar-benar berpisah dan melakukan check-in.


Saat mereka berjalan masuk bandara. Gama justru berbalik dan memeluk tubuh Fabio.


"Terima kasih telah menjaga mereka, aku sangat berhutang budi padamu" ucapnya tulus. Meskipun Fabio pernah menjadi rivalnya, ia tetap harus mengucapkan rasa terima kasih karena telah menjaga Ayana dan Zayyan.


Fabio membalas pelukan pria itu, "Tidak masalah. Aku harap kamu bisa menjaganya dengan baik ! Jika kamu melepaskannya, maka aku tidak akan segan-segan merebutnya kembali" ancam Fabio.


Bukannya marah, Gama justru tertawa. Ia melepas pelukannya dan menepuk pundak Fabio.


"Kamu tenang saja ! Hal itu tidak akan pernah terjadi. Aku harap kamu bisa menemukan wanita yang baik"


Setelah mengatakan itu, Gama menyusul yang lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf ya telat Update 🙏 HP-nya lagi dipakai sama bocil nonton YouTube 🤧 terus sekalian dipakai jual pulsa soalnya HP yang satu rusak 😭😂


Jangan lupa Votenya 😘