
...🍃Happy Rading🍃...
Saat ini Mona belum sadarkan diri. Wanita itu berada di ruang UGD ditemani sang Mama, sementara sang Papa sedang berada di depan ruangan operasi.
Kecelakaan yang dialami oleh Angga cukup parah. Angga harus menjalani operasi karena mengalami cedera di bagian kepala. Otak bagian kanan Angga mengalami pendarahan sehingga mengharuskan Dokter mengambil tindakan operasi.
Ibu Angga tak hentinya menangis, ia tidak menyangka nasib putranya sangat malang.
Sementara Ayah Angga berusaha menenangkan istrinya meskipun sebenarnya ia juga merasa terpukul melihat kondisi putranya.
Papa Mona hanya bisa termenung, ia berharap semoga calon menantunya bisa selamat.
Tak lama seorang pria menghampiri mereka dengan langkah kaki yang panjang.
"Ibu... Ayah... Bagaiman kondisi kakak ?" tanya pria itu.
"Rangga... Kamu sudah datang ?" tanya Papa Mona.
"Om, maaf Rangga tidak menyadari keberadaan Om" ucap Rangga.
"Tidak apa-apa. Kamu duduklah terlebih dahulu ! Kakak kamu sedang dalam penanganan Dokter" ucap Papa Mona.
"Memangnya kecelakaannya parah ?" tanya Rangga.
Papa Mona mengangguk, "Kakak kamu mengalami pendarahan di bagian otak kanannya. Itu sebabnya Dokter mengambil tindakan operasi agar pendarahan di otaknya terhenti" jelas Papa Mona.
Rangga kini tertunduk, ia merasa kasihan dengan sang kakak yang harus menghadapi nasib yang malang sebelum pernikahannya.
Sementara di ruangan UGD, Mona baru saja sadar.
"Ma, bagaimana keadaan Angga ?" tanya Mona.
"Sayang, kamu tenang dulu ! Jangan banyak pikiran" ucap sang Mama.
"Bagaimana Mona nggak kepikiran jika Mona belum tahu keadaan Angga. Sekarang dimana Angga ?"
"Angga sedang menjalani operasi" jawab sang Mama.
Mona segera turun dari brankar, ia menarik infus di tangannya dengan kasar. Ia tidak peduli tangannya terluka, perasaan bersalah kini menyelimuti hati wanita itu.
Sang Mama terkejut ketika melihat Mona berlari keluar ruangan. Ia berlari mengikuti putrinya.
Langkah kaki Mona membuat semua orang yang menunggu Angga di depan ruang operasi mengalihkan atensinya.
Mona segera memeluk tubuh calon Ibu mertuanya Sedaya terisak. Ibu Angga membalas pelukan Mona dengan erat. Keduanya sama-sama terisak.
"Bu, maafin Mona ! Semua gara-gara Mona tidak ingin mendengar penjelasan Angga" ucapnya sambil terisak.
Ibu Angga menggelengkan kepalanya, "tidak Nak, ini bukan salah kamu. Memang sudah seperti ini takdir Angga" jawab Ibu Angga, ia tidak mau menyalahkan Mona atas apa yang dialami putranya.
"Tapi, seandainya Mona mau mendengarkan penjelasan Angga tadi malam, pasti Angga tidak akan datang ke rumah lagi hingga mengalami kecelakaan" ucap Mona yang masih menyalahkan dirinya.
"Sudah sayang, sebaiknya kita doakan saja semoga operasi Angga bisa berjalan dengan lancar !" ucap Ibu Angga.
Wanita paruh baya itu manarik tangan Mona agar duduk di sampingnya.
Rangga sedari tadi memperhatikan calon kakak iparnya menangis, merasa iba.
Beberapa jam kemudian, pintu ruangan operasi terbuka. Seorang Dokter keluar dari ruangan tersebut. Seketika semua orang mengelilingi sang Dokter karena ingin tahu keadaan Angga.
"Dok bagaimana keadaan putra kami ?" Tanya Ayah Angga.
"Oeprasinya berjalan dengan lancar" jawab sang Dokter.
Semua bisa bernafa lega kala mendengar jawaban Dokter tersebut.
"Pendarahan di otak kana pasien bisa kami hentikan. Tapi pasien belum bisa sadarkan diri" lanjut sang Dokter.
"Kapan kira-kira kakak saya sadarkan diri Dok ?" tanya Rangga.
"Kalau itu saya belum bisa memastikan. Keadaan pasien saat ini sedang dalam keadaan koma. Dan saya juga ingin menjelaskan, akibat pendarahan otak yang dialami pasien membuat pasien akan mengalami kelumpuhan ingatan atau Amnesia" jelas sang Dokter.
Seketika senyum penuh harapan tadi berubah menjadi sendu. Terlebih Mona dan Ibu Angga. Mereka sangat terpukul atas inseden ini.
"Pasien akan kami pindahkan di ruang ICU. Sebaiknya kalian semua berdoa agar pasien bisa cepat sadar ! Kalau begitu saya permisi" ujar Dokter itu sebelum pergi.
🍃
Ayana dan Gama saat ini sedang dalam perjalanan pulang.
"Sayang kita mampir di toko buah dulu !" pinta Ayana.
"Baik Honey" balas Gama.
Mobil mereka pun singgah ketika melihat toko buah. Mereka turun dari mobil dan memilih buah-buahan.
"Zayyan mau makan buah pir dan buah persik" jawab Zayyan.
"By, mau buah apa ?" tanya Ayana pada suaminya.
"Apa saja Yank" jawab Gama.
Akhirnya Ayana memilih buah Anggur, jeruk, apel dan alpukat.
Setelah itu, Ayana membawanya ke kasir dan Gama yang membayarnya.
"Kita ke rumah Ayah dan Bunda dulu ya" ucap Gama.
Mobil Gama pun melesat menuju rumah orang tuanya. Tiba disana mereka disambut dengan hangat.
"Kalian pulang setelah makan malam saja ya !" pinta Bunda Mila.
"Baik Bun" jawab Gama dan Ayana serempak.
"Waw, kakak ipar bawa apa ?" tanya Gala yang tiba-tiba muncul.
"Jangan memanggilku kakak ipar ! Kamu lebih tua dariku" ucap Ayana.
"Kenyataannya seperti itu kok" balas Gala. Pria itu sibuk membongkar kantong plastik yang dibawa Gama tadi.
"Yang nggak gitu juga dong, manggilnya pakai nama saja !" pinta Ayana.
"Baik Ayanaku sayang" goda Gala.
Sontak Gama memukul pundak adiknya dengan keras, "dasar adik ipar kurang ajar ! Dia itu kakak iparmu, jangan coba-coba merayunya !" kesal Gama.
"Aaaww... Bunda kakak Gama KDRT" adu Gala pada sang Bunda dengan nada bicara yang manja.
"Jijik sekali aku mendengarnya" kata Gama.
"Sudahlah ! Kalian ini, sudah tua juga masih aja sering bertengkar" tegur sang Bunda.
"Dia yang mulai Bund" ucap Gala sambil menggigit buah apel.
Gama hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Om Gala jorok, masa buahnya belum dicuci udah dimakan sih" ledek Zayyan.
"Ini bukan jorok, buah yang belum dicuci justru lebih sehat" elak Gala.
"Benarkah ?" tanya Zayyan tidak yakin.
"Ben- Aaakhh... Sakit Bund..."
"Jangan mengajari ponakanmu dengan hak yang tidak benar !" tegur Bunda Mila sambil mencibir paha Gala.
"Makanya jangan ngajarin putraku dengan hak yang sesat !" Gama terkekh melihat wajah adiknya yang kesal.
"Oh iya, Nenek dimana Bun ?" tanya Ayana.
"Ada di kamarnya" jawab Bunda Mila.
"Ayana mau ke kamar Nenek dulu ya" ujar Ayana.
Wanita itu berjalan menuju kamar Nenek Rukmini. Ia sangat rindu pada Nenek mertuanya itu.
"Nek..." Sapa Ayana kala melihat Nenek Rukmini berbaring di atas ranjang.
"Ayana... Kamu kemari sayang ?" tanyanya dengan suara lemah.
"Iya, Ayana kangen sama Nenek" jawab Ayana.
Nenek Rukmini tersenyum, ia menatap Ayana dengan tatapan yang sangat dalam. "Berbaringlah di samping Nenek !" pintanya pada Ayana.
Dengan senang hati Ayana berbaring di samping Nenek Rukmini.
"Apa kamu sudah bahagia ?" tanya Nenek Rukmini.
"Iya Nek, Ayana sudah bahagia" jawab Ayana sambil menatap wajah keriput Nenek Rukmini.
"Nenek lega jika kamu sudah bahagia. Sekarang berjanjilah pada Nenek untuk tetap hidup rukun dengan suamimu !"
"Ayana bernjanji Nek"
"Terima kasih Nak, akhirnya Nenek bisa pergi dengan tenang" ucap Nenek Rukmini yang membuat senyuman Ayana luntur.
Tiba-tiba Ayana merasa tidak nyaman saat mendengar ucapan Nenek Rukmini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...