
...🍃Happy Reading🍃...
"Ini beneran rumahmu ?" tanya Ayana masih tidak percaya.
"Iya, kalau tidak percaya ayo kita masuk sekarang !" ajak Fabio.
Pria itu keluar dan meminta satpam membantunya membawa barang-barang mereka masuk.
"Tunggu apa lagi ?" tanya Fabio saat melihat Ayana masih terdiam di dalam mobil.
Wanita itu akhirnya turun dengan pelan karena putranya sedang tertidur. Sementara sang Nenek berjalan sambil dituntun oleh Fabio. Ayana berjalan mengikuti Fabio, sebenarnya ia merasa cemas masuk ke rumah mewah milik Fabio. Ia cemas dan takut dirinya akan ditolak dan diusir oleh keluarga Fabio.
Pintu rumah Fabio pun terbuka lebar, tak lama seorang wanita paruh baya menghampirinya dan memeluk tubuh Fabio.
"Akhirnya kamu pulang Nak, Ibu sangat rindu padamu" wanita paruh baya itu terisak di pelukan Fabio.
"Bio juga rindu dengan Ibu" balas Fabio mengecup kening ibunya.
Puas mereka saling melepas rindu, Ibu Fabio beralih menatap Ayana dan Nenek Rukmini.
"Apa mereka yang kamu ceritakan pada Ibu ?" tanya sang Ibu pada Fabio.
"Iya Ibu. Ini namanya Nenek Rukmini, ini namanya Ayana dan bayi kecil yang lucu ini adalah Zayyan anak Ayana" jelas Fabio memperkenalkan Ayana serta Nenek Rukmini dan Zayyan.
"Kenalkan, saya Ibunya Fabio, panggil Ibu Shita saja !" ucapnya memperkenalkan diri pada Ayana.
"Nenek bisa memanggilku Nak Shita" lanjutnya memperkenalkan diri pada Nenek Rukmini.
"Nanti aja kenalannya ya ! Fabio capek Bu" rengek Fabio manja membuat Ayana merasa geli dengan kelakuan pria dewasa itu.
"Ya sudah, kalian langsung istirahat di kamar saja ! Ibu sudah siapkan kamar tidur untuk Ayana dengan bayinya dan untuk Nenek Rukmini juga" ucap Ibu Shita.
"Baik Bu, terima kasih" ucap Ayana tulus. Ia tidak menyangka ibu Fabio sangat baik padanya. Ia pikir dirinya akan diusir lagi.
Ayana istirahat di kamar yang sudah disiapkan oleh ibu Shita. Ia meletakkan Zayyan dengan pelan di atas kasur tepat di sampingnya.
Untuk sementara ia akan tinggal di rumah Fabio, setelah ia dapat tempat tinggal dan sudah mendapatkan tempat strategis untuk membuka usaha, ia akan hidup bertiga dengan anaknya dan Nenek Rukmini.
🍃
Pagi harinya di sebuah desa terpencil, sebelum meninggalkan rumah yang pernah ditempati oleh Ibunya, Ayah Budianto mencoba mengedarkan pandangannya di setiap sudut rumah. Bahkan ia mengecek dapur dan kamar mandi rumah ini. Ia merasa ini tidak layak untuk menjadi tempat tinggal wanita yang telah melahirkannya. Tidak ada listrik, bahkan kompornya masih menggunakan kompor minyak tanah. Ia sangat miris melihat tempat tinggal ini.
"Tuan, sepertinya kita harus kembali ke kota dan mencari informasi terbaru tentang Nyoya Rukmini !"
"Ayo kita pulang !" balas Ayah Budianto.
Mereka lalu pamit pada bapak yang menempati rumah sang Ibu. Setelah itu mereka kembali ke Bandung.
Dalam perjalanan, Ayah Budianto banyak diam. Ia meratapi penyesalannya yang tidak mencari sang Ibu dari dulu.
"Apa aku masih pantas menjadi anakmu Ibu ?" gumannya. Air matanya tidak bisa ia tahan lagi. Ia tidak perduli dengan kedua anak buahnya yang menatapnya dengan rasa kasihan. Ia hanya ingin menangis sebagai tanda penyesalannya, tanda rasa sakit hatinya, tanda rasa bersalahnya pada sang Ibu.
Sementara Nenek Rukmini yang sedang berbaring di kamar tiba-tiba teringat dengan putranya. Rasa rindunya kini kembali menyeruak di dalam hatinya.
"Sedang apa kamu Nak ? Apa kamu masih mengingat Ibu ? Apa kamu merindukan Ibu ?" tanyanya sambil terisak.
🍃
"Kenapa kamu bisa berada disini ?" tanya Gama saat melihat Shintia berada di kampusnya.
"Aku pindah kuliah disini, dan kita satu jurusan" jawab Shintia tersenyum penuh kemenangan.
"Are you kidding ?" tanya Gama.
"Tidak, aku serius Gama"
'Ck... Sial' umpat Gama dalam hati. Yang benar saja, setiap harinya ia akan bertemu dengan wanita agresif ini. Sepertinya hari-hari Gama akan semakin kacau dengan kehadiran Shintia.
"Kenapa melamun ? Kamu tidak ingin memberikan ucapan selamat untukku ?" tanya Shintia mencoba menempelkan tubuhnya dengan Gama.
"Menjauh dariku !" pekik Gala mendorong kasar tubuh Shintia.
"Tidak" balas Gama ketus. Ia segera meninggalkan Shintia dan masuk ke kelasnya.
Sementara Shintia yang ditinggal oleh Gama kini tersenyum sinis. Ia tidak akan menyerah untuk membuat Gama bertekuk lutut padanya, ia hanya perlu sedikit usaha lagi jika perlu ia akan melakukan cara licik untuk menjerat Gama.
"Kita tunggu saja tanggal mainnya" gumannya.
🍃
Malam harinya Ayana sibuk membantu ibu Shita memasak. Sebenarnya ada tiga orang ART di rumah ini, tapi Fabio yang manja ingin memakan masakan ibunya. Akhirnya ibu Shita harus turun tangan, lagipula hanya memasak saja bukanlah hal yang sulit.
Sementara Fabio kini duduk di ruang tengah dengan Ayahnya.
"Kamu sudah siap melanjutkan kepemimpinan Ayah di perusahaan ?" tanya sang Ayah pada Fabio.
"Fabio belum bisa jawab, Yah" jawab Fabio.
"Apa lagi yang membuatmu belum siap ? Ayah sudah memberikan kebebasan untukmu cukup lama. Umurmu saat ini sudah menginjak 28 tahun, umur segitu cukup matang untuk memegang tanggung jawab"
"Tapi Fabio belum menemukan sesuatu yang Fabio cari"
"Apa kamu mencari pendamping hidup ? Jika iya, kenapa tidak nikahi wanita yang kamu bawa kemari ?"
"Itu tidak mungkin, Yah"
Fabio sebenarnya menyukai Ayana, tapi mengingat Ayana yang tidak percaya akan cinta membuat ia tidak yakin untuk mengajak wanita itu ke jenjang pernikahan.
"Cobalah untuk berjuang !" ucap sang Ayana sambil menepuk pundak Fabio.
Tak berselang lama terdengar teriakan dari ibu Shita.
"Yah, Bio, makanan sudah siap"
Fabio dan Ayahnya habis bisa geleng-geleng kepala saat mendengar teriakan ibu Shita. Mereka lalu berjalan ke arah meja makan, disana sudah ada Nenek Rukmini ikut duduk. Sementara ini Zayyan dijaga oleh salah satu ART yang bekerja di rumah ini.
"Ibu ini kebiasaan deh teriak-teriak" tegur sang suami.
"Tidak apa-apa, lagian biar rumah ini terasa ramai" balas ibu Shita santai.
Mendengar ucapan ibu Shita membuat Ayana dan Nenek Rukmini menahan tawa.
"Sudahlah Bu, Ayah ! Sebaiknya kita segera makan. Mumpung Zayyan tidur jadi Ayana bisa makan dengan tenang" tegur Fabio.
"Kamu bisa aja sih perhatian sama Ayana dan bayinya" goda sang Ibu.
Ayana hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu dan anak itu. Ia sama sekali tidak baper dengan perhatian yang diberikan oleh Fabio karena ia menganggap laki-laki itu sebagai saudara saja.
Mereka kemudian makan malam dengan khidmat. Setelah selesai makan malam, Ayana masuk ke kamarnya karena Zayyan terbangun, sama halnya dengan Nenek Rukmini yang masuk ke kamarnya. Sementara Fabio dan kedua orang tuanya duduk santai di ruang tengah.
🍃
"Bagaimana Yah ?" tanya Bunda Mila saat melihat suaminya sudah kembali.
"Ibu sudah tidak tinggal di rumah itu. Ia kembali ke kota, tapi Ayah tidak tahu ia tinggal di kota mana ?" jawab sang suami lesu.
"Ibu pergi ke kota ?" tanya Bunda Mila bingung.
"Ibu berangkat dengan wanita muda yang sudah memiliki anak. Kata orang yang tinggal di rumah Ibu, mereka berangkat beberapa empat bulan yang lalu" jelas Ayah Budianto.
"Benarkah ? Ya Tuhan, semoga saja wanita itu wanita baik-baik" harap Bunda Mila.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩
Judul : My Love My Obsession
Author : Candy