
...🍃Happy Reading🍃...
Tak lama, Freya melihat Aaron dan Dira keluar dari kafe. Sebisa mungkin wanita itu mengontrol perasaannya agar Aaron dan Dira tidak curiga.
"Maaf kami agak lama" ucap Aaron yang merasa tidak enak hati pada Freya.
"Hmm... Tidak masalah" jawab Freya sambil tersenyum walaupun terpaksa.
"Kalian kembali lagi ke rumah sakit ! Kebetulan aku sudah memesan taksi online" celetuk Dira.
"Tidak bisa begitu, aku tidak ingin kamu pulang sendirian" balas Aaron menolak.
"Aku tidak apa-apa, kalian bisa terlambat jika mengantarku pulang" ucap Dira.
"Iya, Dira benar Aaron. Tadi aku baru saja mendapatkan telpon dari rumah sakit, ada pasien emergency yang harus aku tangani" sambung Freya, ia bukannya tega membiarkan Dira pulang sendirian, tapi ia memang harus segera kembali ke rumah sakit.
"Ah benarkah ? Mengapa kamu tidak mengatakannya dari tadi ?" tanya Aaron.
"Ya sudah, kalian kembali sekarang ! Sebentar lagi taksi yang aku pesan tiba" ujar Dira.
"Maaf ya, aku tidak bisa mengantar kamu pulang. Kamu hati-hati di jalan, jika ada apa-apa maka hubungi aku !" Aaron merasa tidak tega meninggalkan Dira, tapi ia tidak punya pilihan lain.
"Iya, kalian juga hati-hati ya" ucap Dira tersenyum.
"Maaf banget ya Dir" ucap Freya.
"Tidak masalah, kalian pergilah ! Tadi katanya ada pasien emergency" balas Dira.
Akhirnya Aaron dan Freya pun meninggalkan Dira sendiri. Sementara Dira mencari halte untuk ia tempati duduk. Sebenarnya wanita itu belum memesan taksi sama sekali, ia hanya berbohong karena tidak ingin merepotkan Aaron dan Freya.
Dira membuka gadgetnya dan hendak memesan taksi online. Tapi tiba-tiba seorang pria menghampirinya dan memintanya masuk ke mobil.
"Ikut pulang denganku !" pinta pria itu.
Dira terkejut saat melihat Fabio berdiri di hadapannya. Untuk sesaat Dira terdiam melihat Fabio yang terlihat berkarisma dengan stelan jasnya disertai kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.
"Apa kamu tidak mendengarkan apa kataku ?" Tanya Fabio yang membuat Dira tersentak dari lamunannya.
"Ha... Eh... Anu..."
"Sudahlah, ikut aku pulang sekarang !" Fabio menarik tangan Dira dengan pelan. Sementara Dira merasakan jantungnya yang berdetak sangat kencang kala merasakan hangatnya telapak tangan Fabio.
🍃
Saat ini Gama dan Ayana sedang bersantai di paviliun belakang rumah mereka. Gama tak hentinya mengelus perut Ayana yang sedang berbaring di pahanya.
"By, berhenti mengelus perutku ! Rasanya geli" punya Ayana.
"Biasanya juga aku cium dan jilat sayang" goda Gama.
Seketika wajah Ayana bersemu mendengar ucapan Gama yang terlalu absrud.
"Ck... Kamu ini" ucap Ayana sambil mencubit manja perut Gama.
"Sayang, bagaimana keadaan calon suami Mona ?" tanya Gama.
"Katanya masih sama, belum ada perkembangan sama sekali" jawab Ayana sedih.
"Kasihan banget ya Mona" balas Gama, "Dira juga kasihan, rumah tangganya masih jalan di tempat" lanjutnya. Gama sangat miris melihat nasib kedua sahabat istrinya.
"Hubungan Aaron dan Dira tidak berjalan di tempat kok, ada kemunduran" balas Ayana.
"Maksudnya ?" tanya Gama bingung.
"Sebenarnya mereka memutuskan pisah setelah Dira melahirkan anaknya nanti. Aku juga baru tahu itu dari Ibu Shita. Mereka sepakat untuk pisah karena mereka tidak bisa mempertahankan rumah tangga tanpa adanya rasa cinta" jelas Ayana.
"Loh kenapa seperti itu ? Seharusnya mereka berusaha untuk menumbuhkan rasa cinta mereka"
"Cinta tidak bisa dipaksakan"
"Lalu untuk apa mereka menikah jika ujung-ujungnya pisah juga ?"
"Aaron kan hanya berniat membantu Dira agar tidak banyak orang yang mencemoohnya hamil diluar nikah. Awalnya mereka pikir cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, tapi nyatanya perasaan itu tidak berkembang" jelas Ayana.
"Iya juga sih, tapi kenapa Aaron harus membantu Dira dengan cara menikahinya ? Kan masih banyak cara lain untuk membantu Dira"
"By, aku pernah melewati masa dimana semua orang menolakku. Aku pernah merasakan bagaimana sakitnya ketika kita dihina sebagai wanita yang tidak baik-baik karena hamil diluar nikah. Yang paling menyesakkan adalah ketika orang-orang mengatakan jika anak yang aku kandung adalah anak haram" ucap Ayana, "dengan adanya Aaron menikahi Dira, maka akan sedikit orang yang tahu jika Dira sebenarnya hamil diluar nikah. Tapi sayangnya mereka tidak berjodoh" lanjut Ayana.
Seketika rasa bersalah kembali menyeruak di hati Gama. Ia tidak bisa membayangkan betapa lukanya hati wanita yang ia cintai ini ketika harus berjuang sendiri melawan hinaan orang-orang.
"Maafkan aku ! Karena aku yang terlalu pengecut sehingga membuat dirimu melalui masa sulit" ucap Gama tulus.
Ayana menatap wajah suaminya, tangannya terulur untuk membelai lembut rahang suaminya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Aku sudah memaafkan kamu, By" ucap Ayana tersenyum.
"Itu sudah menjadi takdir kita dari Tuhan. Coba pikir, jika saja dulu kamu bertanggung jawab mungkin aku tidak akan diusir dan bertemu dengan Nenek Rukmini yang berhati baik menolongku. Aku juga tidak bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti Fabio dan orang tuanya" lanjut Ayana, "sekarang tugas kita, mengawasi anak-anak kita agar tidak ada yang mengalami kejadian yang sama seperti kita !"
Ayana mengubah posisinya menjadi duduk, ia menatap mata Gama sangat dalam.
"Meskipun kamu pernah menjadi pria pengecut, tapi kamu bisa membuktikan jika kamu pria yang setia. Kamu bisa menjaga cintamu untukku, padahal bisa saja kan kamu mencari wanita lain di luaran sana. Tapi kamu memilih mempertahankan namaku di hatimu. Kamu harus tahu jika aku merasa sangat beruntung karena bisa dicintai oleh pria seperti dirimu" usai mengucapkan itu, Ayana mengecup bibir Gama dengan lembut.
Gama menatap istrinya dengan tatapan berkaca-kaca. Ia sangat terharu mendengar ucapan Ayana.
"Mana mungkin aku mencintai wanita lain yang belum tentu sesempurna dirimu. Kamu adalah wanita kuat, ibu yang hebat, wanita yang tidak hanya cantik diluar tapi juga di dalam hati" balas Gama.
Kali ini ia yang mencium bibir Ayana, ciuman disertai ******* kecil dan lembut. Cukup lama bibir mereka berpagutan, hingga Gama menghentikan ciuman mereka.
"Jangan dilanjut sayang, aku takut jika aku tidak bisa menahan diri. Kasihan bayi kita jika Papanya selalu menengoknya" ucap Gama.
Ayana tersenyum malu mendengar ucapan suaminya. Kini mereka saling berpelukan saling menyalurkan perasaan cinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...