
...🍃Happy Reading🍃...
"Papa... Mama..." Teriak Zayyan menghampiri kedua orang tuanya yang baru saja tiba dari honeymoon.
Ayana berjongkok lalu menangkap tubuh putranya. Ia memeluk Zayyan dengan erat, untuk pertama kalinya ia meninggalkan Zayyan selama sepuluh hari.
"Mama kangen banget sama Zayyan" ucap Ayana sambil mencium pipi putranya.
"Ma, hentikan ! Ini sangat menggelikan" pinta Zayyan.
Ayana menghentikan aksinya, wanita itu kemudian berdiri dan menghampiri ibu mertuanya.
Kini giliran Gama yang memeluk erat tubuh mungil putranya. "Papa, dimana adik bayinya ?" tanya Zayyan.
"Adik bayinya belum lahir" jawab Gama.
"Maksudnya ?" tanya Zayyan dengan wajah yang kebingungan.
"Jadi, nanti adik bayinya tinggal di dalam perut Mama dulu, setelah itu adik bayinya keluar" jawab Gama, tapi tetap saja Zayyan tidak mengerti.
"Sebaiknya kita pulang sekarang, Mama dan Papa capek !"
Zayyan mengangguk. Kini Gama dibantu supirnya memasukkan semua barang-barangnya dalam bagasi mobil.
🍃
Sudah tiga hari sejak kejadian dimana dirinya diusir dari rumah. Kini Shintia tinggal di rumah mewah milik Lucas.
Selama tinggal disini, Shintia diperlakukan layaknya seorang pelayan. Lucas benar-benar tidak memiliki hati, pria itu menyiksanya tanpa memikirkan jika saat ini dirinya sedang hamil.
"Kamu bereskan rumah ini hingga bersih ! Aku ingin keluar sebentar, dalam waktu dua jam aku akan kembali dan rumah ini harus bersih ! Jika kamu tidak bisa menyelesaikan perkejaan kamu sebelum aku kembali, maka hukuman baru siap menantimu" perintah Lucas disertai ancaman.
Shintia yang sangat kesal dan lelah diperlakukan hina oleh Lucas kini melempar sapu yang ia pegang tepat di hadapan Luca.
"Kamu pikir aku ini pembantu ?" teriaknya kesal.
"Tidak, aku tidak berpikir kamu sebagai pembantu" jawab Lucas sambil menendang sapu itu dengan keras, "pembantu atau pelayan itu lebih tinggi derajatnya darimu" lanjutnya menghina Shintia.
Shintia benar-benar kehabisan kesabaran, ia sangat terluka dengan hinaan Lucas. Wanita itu lalu mendekati Lucas dan memberikan sebuah tamparan keras di wajahnya.
Plak.
"Dasar pria bajingan" teriak Shintia dengan penuh amarah.
Lucas yang mendapat tamparan dari wanita itu kini tersenyum menyeringai. Ia menatap Shintia dengan tatapan membunuh.
Tentu saja Shintia mendadak takut saat melihat ekspresi wajah Lucas. Wanita itu kini menunduk dan mulai melangkahkan kakinya ke belakang dengan pelan.
Lucas yang menyadari wanita di hadapannya itu hendak kabut segera menarik tangannya.
"Aaahhh..." Teriak Shintia saat merasakan cengkraman tangan Lucas yang sangat kuat.
"Sepertinya, kamu sangat tidak sabar merasakan hukuman dariku" ucap Lucas yang dingin mampu membuat Shintia kesulitan menelan ludahnya.
"Lu-Lucas... A-aku minta ma-maaf, a-aku mohon le-lepaskan a-aaku !" pinta Shintia dengan bibir yang bergetar.
Lucas semakin menyeringai kala mendengar permintaan Shintia. Tanpa aba-aba, Lucas mengangkat tubuh Shintia dan membawanya masuk kamar. Pria itu tidak peduli Shintia yang berteriak memohon ampunan darinya.
🍃
"Wah, oleh-oleh Zayyan banyak sekali" ucap Zayyan senang saat menerima oleh-oleh dari orang tuanya.
Gama dan Ayana tersenyum melihat wajah bahagia Zayyan. Begitu juga dengan Mama Lisa dan Bunda Mila.
"Oh ya, Omah dimana Ma ?" tanya Ayana.
"Omah dan Papa kamu kan lagi pulang ke kampung, lusa baru pulang" jawab Mama Lisa.
"Bun, Gama lapar" ucap Gama.
"Ya sudah, mari kita makan ! Bunda udah masakin makanan kesukaan kalian" ucap Bunda Mila.
Mereka kemudian berpindah ke meja makan. Ayana menatap makanan kesukaannya dengan mata yang berbinar-binar.
"Wah, kepiting saos Padang" ucap Ayana.
"Mama sengaja memasak ini untukmu" ucap Mama Lisa.
Ayana kemudian mengisi piringnya dengan nasi beserta lauk kesukaannya. Setelah itu Ayana mengisi piring Gama.
"Mau makan apa By ?" tanya Ayana.
"Kasih lauk rendang daging aja yank !" Pinta Gama.
Usai mengisi piring suaminya, Ayana meletakkan piring itu di hadapan Gama.
Gama menghirup dalam-dalam aroma makanan di hadapannya. Sudah lama Gama tidak makan daging rendang. Pasti ia makan dengan lahap. Pikirnya.
Tapi sayangnya, tiba-tiba pria itu merasa mual saat mencium bau makanan tersebut. Seketika Gama menutup mulut dan hidungnya.
"Huuekk..." Gama berlari ke arah wastafel ketika ia tidak bisa lagi menahan gejolak dalam perutnya.
"By..." Teriak Ayana bingung dan cemas. Ia segera menghampiri suaminya dan memijit tengkuknya dengan pelan.
Sementara Mama Lisa dan Bunda Mila saling melirik dengan senyuman penuh arti.
"Sepertinya kita akan punya cucu baru" ucap Bunda Mila.
"Aku rasa juga seperti itu" balas Mama Lisa.
Kedua wanita paruh baya itu kemudian tertawa bahagia. Zayyan menatap mereka dengan tatapan aneh lalu kembali melanjutkan suapannya.
Sementara Ayana masih cemas melihat suaminya yang tidak hentinya muntah.
Gama menegakkan tubuhnya setelah ia merasa lebih baik. Pria itu kemudian mencuci mulutnya.
"Aku juga tidak tahu sayang. Tadi saat mencium bau makanan tiba-tiba perutku terasa mual" jawab Gama lemas.
Ayana menatap suaminya dengan tatapan sedih. Ia kasihan dengan suaminya. "Apa mungkin pengaruh mabuk udara ?" tanya Ayana.
"Mana mungkin sayang ? Kita udah tiba dari tadi. Dan aku juga tidak pernah mengalami mabuk ketika naik pesawat" balas Gama.
"Lalu, apa mungkin kamu masuk angin ?" tanya Ayana bingung.
Gama mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban jika ia juga tidak tahu.
"Ya sudah, sekarang kita kembali ke meja makan !" Ajak Ayana.
"Tidak, aku ingin istirahat saja !" tolak Gama. Entah mengapa ia tidak berselera makan lagi.
"Loh, bukannya tadi kamu bilang lapar ?" tanya Ayana.
"Itu tadi, kalau sekarang aku mau tidur. Mataku terasa berat" jawab Gama.
Ayana pun mengantar suaminya masuk ke kamar. "Mama, Bunda, kami ke kamar dulu ya. Gama sepertinya sedang tidak enak badan. Kalian makan saja duluan !" ucap Ayana.
Mama Lisa dan Bunda Mila mengangguk lalu lanjut makan.
Tiba di kamar, Ayana membantu Gama berbaring.
"Sayang, kepalaku terasa pening. Bisa kah kamu memijit keningku ?"
Ayana pun memijit kening Gama. Perlahan mata Gama terpejam. Ia merasakan pijitan Ayana yang nikmat. Semakin lama, mata pria itu semakin berat. Dan beberapa menit kemudian, Gama sudah masuk ke alam mimpi.
Ayana mengecup kening suaminya, setelah itu keluar dan kembali ke meja makan.
*
Sudah satu Minggu lebih Gama mengalami mual-mual. Bahkan pagi tadi lebih parah hingga membuat Ayana khawatir.
"By, kita ke rumah sakit ya !" ajak Ayana.
"Tidak sayang. Aku sangat malas keluar" jawab Gama.
Ayana menghela nafas dengan berat. Dari kemarin ia mengajak Gama ke dokter, tapi pria itu tidak mau. Jika seperti ini, maka Ayana tidak tahu harus berbuat apa.
"Sayang percaya padaku ! Aku baik-baik saja. Dulu aku pernah mengalami yang lebih parah" ucap Gama sambil memegangi tangan istrinya.
Ayana menatap suaminya dengan tatapan bingung. "Kamu punya penyakit parah yang aku tidak tahu ?" Tanyanya mendadak takut.
Gama terkekeh, "Tidak, ini hanya penyakit khusus untuk suami yang sangat sayang istrinya" jawab Gama.
"Kamu ini bicara apa sih ? Aku tidak mengerti" ucap Ayana bingung.
"Kamu pernah dengar kehamilan simpatik atau sindrom couvade ?" tanya Gama.
Ayana tampak berpikir sejenak, sedetik kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Aku sedang mengalaminya" jawab Gama.
"Darimana kamu tahu ?" tanya Ayana tidak percaya, "bukannya jika kamu sedang mengalami kehamilan simpatik itu artinya aku hamil ? Sementara aku sendiri belum-" seketika Ayana menghentikan ucapannya.
Matanya kini membulat dengan sempurna. Ia baru teringat jika sebelum berangkat ia sedang dalam masa subur.
Ayana melihat tanggal dan menghitung hari menstruasinya. Ternyata sudah telat tiga hari. Tapi Ayana kembali tidak yakin dengan pemikiran suaminya.
"Sepertinya kamu salah tebak deh By" ucap Ayana kembali duduk di samping suaminya.
"Coba saja kamu cek pakai testpack besok pagi !" pinta Gama yang yakin Ayana sedang hamil.
Ayana mengangguk setuju, memang ia harus melakukan testpack besok pagi.
"Oh iya, tadi kamu bilang kamu pernah mengalaminya ?"
"Iya, waktu kamu hamil Zayyan, aku juga mengalami hal yang sama. Tapi Zayyan lebih parah, bahkan dulu aku sering absen kuliah karena harus menjalani perawatan" jawab Gama.
"Tapi aku menikmati masa-masa itu. Aku kadang berpikir mungkin itu hukuman bagi diriku karena tidak bisa menjadi Papa yang bertanggung jawab" lanjut Gama.
Ayana menatap kasihan wajah suaminya. Ia tidak menyangka jika Gama juga pernah merasakan morning sickness. Ternyata, perjuangan Gama bukan hanya sekedar ucapan belaka, buktinya ia ikut menanggung apa yang dirasakan Ayana saat hamil.
"Dan untuk kehamilan kamu kali ini, aku pastikan tidak akan lari dari tanggung jawabku sebagai suami dan seorang Papa. Aku akan menikmati kehamilan simpatik ini, aku tidak ingin kamu yang merasakannya" ucap Gama sambil mengelus perut istrinya.
Ayana menatap suaminya dengan tatapan penuh haru. Ia sangat beruntung bisa menikah dengan Gama.
*
Keesokan paginya, Ayana melakukan testpack. Mata wanita itu seketika berembun kala melihat dua garis merah.
Ayana segera keluar dari kamar mandi dan menemui suaminya yang baru saja terbaring setelah mengalami morning sickness.
"By... Aku benar hamil" ucap Ayana sambil menangis bahagia.
Gama tersenyum senang, dugaannya memang tepat. Pria itu mengubah posisinya menjadi duduk tegap. Ia kemudian memeluk tubuh Ayana dan memberikan kecupan lembut di keningnya.
"Aku sangat senang mendengarnya. Akhirnya sebentar lagi kita mempunyai anak. Kali ini aku akan menjadi Papa yang siap siaga untuk kalian" ucap Gama sambil menghapus sisa air mata Ayana.
Ayana tersenyum manis pada suaminya. "Terima kasih sudah berusaha untuk menjadi suami dan papa yang baik untuk kami" ucapnya.
Ayana mengecup lembut bibir suaminya. Saya hendak menjauh, Gama segera menahan tengkuk Ayana.
Kini keduanya sedang menikmati ciuman yang semakin lama semakin panas dan menuntut.
Pagi hari itu mereka bercinta dengan ritme yang pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...