
...🍃Happy Reading🍃...
Omah memeluk Ayana dengan erat dan terisak, "maafkan Omah kerena tidak bisa membelamu di depan mereka" ucapnya merasa bersalah.
Ayana yang tidak mengerti ucapan sang Omah hanya bisa terdiam dan membiarkan Omah terisak. Sangat lama mereka saling berpelukan hingga mereka mendengar ketukan pintu dan suara ribut di luar rumah.
Di luar rumah...
"Omah, bawa cucu Omah keluar !"
"Iya, cucu Omah tidak boleh tinggal di desa ini !"
"Cucu Omah nantinya membuat nama desa ini menjadi buruk"
"Iya... Betul sekali..."
Seperti itulah teriakan para warga yang sudah mengetahui jika Ayana hamil di luar nikah.
Mendengar teriakan di halaman rumah membuat Ayana dan Omah segera membuka pintu. Betapa terkejutnya mereka kala melihat banyak warga yang berkumpul di halaman rumah mereka.
"Ada apa ini ?" tanya Omah dengan suara yang agak meninggi.
"Kami mau usir cucu Omah dari desa ini !" teriak salah satu warga.
"Ya, kami tidak ingin nama desa ini tercemar karena memiliki warga yang hamil diluar nikah !" Sahut yang lainnya.
"Kami tidak akan pandang bulu, meskipun itu adalah cucu orang terpandang di desa ini, kami akan tetap memintanya segera meninggalkan desa ini" celetuk sekarang ibu-ibu.
"Ya betul sekali, justru sebagai orang terpandang dan orang terkaya di desa ini Omah harus kooperatif dengan aturan di desa ini !" Sambung salah satu bapak-bapak.
Mendengar semua ucapan warga membuat Ayana mengerti ucapan dari sang Omah tadi. Tubuhnya mulai gemetaran karena merasa takut diamuk massa. Sementara Omah hanya bisa terisak, harusnya memang dari awal ia menolak cucunya untuk tinggal disini.
"Izinkan saya berbicara dengan cucuku sebentar !" ucap Omah.
"Baik, kami hanya tunggu hingga besok Omah. Kami tidak ingin melihat cucu Omah berada di desa ini lagi !"
"Ayo bubar !"
Para warga pun bubar dan meninggalkan rumah Omah. Omah lalu masuk ke dalam rumahnya dan disusul Ayana.
Sementara di luar, seorang wanita paruh baya tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ia bisa membalaskan dendamnya pada Hartono dan Lisa.
"Ini adalah karma karena kalian dulu begitu tega membuatku malu dan terluka" ucapnya dengan tangan terkepal. Ia teringat beberapa tahun lalu saat dirinya masih remaja.
*Flashback On*
Kala itu saat Hartono masih berusia 17 tahun, tepat saat mereka masih duduk di bangku kelas dua SMA. Hartono dan Sri menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih. Keduanya saling mencintai dan bahkan keluarga mereka mendukung hubungan mereka. Tentu saja Sri dan Hartono merasa senang karena mendapat restu dari orang tua mereka.
Hingga suatu saat datanglah murid baru menghancurkan segalanya. Bukan dengan kesengajaan, melainkan Hartono sendiri yang kala itu tiba-tiba jatuh hati pada murid baru tersebut. Murid itu tidak lain adalah Lisa.
Lisa kala itu menjadi idola baru para remaja desa membuat Sri merasa marah dengan wanita itu. Ia membenci Lisa karena mampu menggeser posisinya sebagai kembang desa dan idola parah remaja di sekolah. Yang semakin membuat Sri emosi adalah kala Hartono terang-terangan memuji kecantikan Lisa.
Karena tidak ingin kehilangan Hartono, Sri meminta orang tuanya agar mengatakan pada orang tua Hartono untuk melangsungkan pertunangan mereka. Untungnya saat itu orang tua Hartono setuju, tapi Hartono menolak karena sudah tidak ada lagi rasa dengan Sri. Sayangnya orang tua mereka sudah sepakat setelah tamat sekolah nanti mereka akan melangsungkan pernikahan.
Kedua orang tua Lisa tentu meminta pertanggungjawaban pada Hartono. Orang tua Hartono kala itu begitu marah karena telah dipermalukan oleh putra mereka. Akhirnya mereka terpaksa menikahkan Hartono dengan Lisa dan membatalkan pernikahan putra mereka dengan Sri.
Sri dan orang tuanya merasa sakit hati dan marah pada Hartono, terlebih saat mendengar kabar kehamilan Lisa. Dari masalah itulah muncul peraturan jika ada gadis yang hamil diluar nikah maka akan diusir dari desa karena dianggap membuat malu dan mencemarkan nama baik desa.
Hartono dan Lisa akhirnya menikah secara sederhana setelah itu ia meninggalkan desa dan memulai hidup baru.
Tapi sayangnya Sri yang kala itu begitu terluka ingin membalaskan dendamnya pada Hartono dan Lisa. Wanita itu mengikuti kemana Hartono dan Lisa tinggal. Ia berusaha mencari cara untuk membuat mereka merasakan apa yang ia rasakan. Hingga muncullah ide untuk membuat Lisa keguguran. Awalnya Sri menemukan jalan yang sulit untuk membuat wanita itu kehilangan anaknya, namun pada akhirnya ia bisa tersenyum bahagia saat ia berhasil membuat Lisa keguguran dan kehilangan anaknya.
Hartono dan Lisa tentu merasa sedih telah kehilangan calon anak mereka. Tapi mereka tidak ingin larut dalam kesedihan, akhirnya mereka memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru dan memulai hidup baru lagi.
Sri yang saat itu kehilangan jejak Hartono dan Lisa akhirnya memutuskan kembali ke desanya. Setidaknya ia sudah berhasil membuat Hartono dan Lisa merasakan sakitnya kehilangan.
*Flashback off*
Namun setelah beberapa tahun berlalu, ternyata rasa dendam dan sakit hati itu masih bertahta. Saat tahu Ayana diasingkan oleh papa Hartono dan mama Lisa karena alasan hamil diluar nikah, ibu Sri menyusun cara agar Ayana bisa diusir dari desa ini. Dan inilah yang ia tunggu-tunggu saat semua warga berbondong-bondong mendatangi rumah Omah untuk mengusir Ayana.
Ia tersenyum puas karena rencananya berhasil, tidak sia-sia ia setiap hari mempengaruhi warga untuk segera mengusir Ayana dari desa ini.
Ibu Sri pun segera meninggalkan tempatnya dan kembali ke rumahnya dengan hati yang gembira.
🍃
Omah dan Ayana kini duduk di ruang tengah, mereka saling diam mencoba menenangkan perasaan mereka setelah apa yang mereka hadapi.
"Apa Ayana harus meninggalkan desa ini ?" tanyanya terdengar sedih.
Omah menatap cucunya dengan tatapan sendu dan rasa bersalah. Ia mengangguk sebagai jawaban.
"Memang sudah jadi peraturan di desa ini jika ada wanita yang hamil diluar nikah maka tidak bisa tinggal di desa ini lagi. Peraturan ini berlaku saat papa kamu dan ibu kamu mengalami kejadian yang sama" jelas Omah.
Ayana yang mendengar dengan baik penjelasan Omah kini membulatkan matanya.
"A-apa ? Papa dan Mama juga mengalami hal yang sama ?" tanyanya terkejut.
"Iya, saat itu papamu jatuh cinta pada mama kamu, tapi mereka tidak bisa menikah karena papa kamu sudah bertunangan dengan Sri. Namun sayangnya papamu yang terlanjur jatuh hati dengan mama kamu akhirnya memilih jalan yang salah." Jelas Omah.
Ayana terdiam, ia teringat ibu Sri yang selalu berbicara ketus padanya. Ternyata inilah alasan wanita paruh baya itu membencinya.
Omah lalu melanjutkan ceritanya tentang masa lalu orang tuanya. Lagi-lagi Ayana terkejut karena ia bukanlah anak pertama. Kali ini ia mengerti mengapa sang Papa melarangnya untuk pacaran. Ia paham mengapa sang Papa awalnya meminta ia mengugurkan kandungannya. Tapi Ayana bingung mengapa sang Papa mengirimnya ke desa ini jika ada peraturan seperti itu ?
"Tapi mengapa Papa mengirimku kesini jika tahu Ayana akan mengalami hal yang sama ?" tanyanya pada Omah.
"Jika mengenai hal itu Omah tidak tahu. Tapi perlu kamu ketahui sayang, Omah merasa bersalah tidak menolakmu dari awal. Harusnya Omah meminta Papamu agar tidak membawamu kemari, tapi Omah tidak tega dan takut jika kamu menganggap Omah tidak menerima kehadiranmu." Omah kembali terisak membuat Ayana memeluk tubuh renta sang Omah.
"Jika Omah menolakmu mungkin kamu tidak mengalmi hal semacam ini" ucap Omah merasa bersalah.
"Semua sudah terjadi Omah. Mau tidak mau Ayana memang harus pergi dari desa ini" ucapnya terisak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa kritik dan sarannya 🤗❤️