Young Mommy

Young Mommy
Part 24



...🍃Happy Reading🍃...


Ayana tertidur pulas setelah membersihkan tubuhnya, mungkin karena kelelahan jadi wanita itu tidur dengan lelap. Sang nenek lalu masuk melihat keadaan Ayana, ia merasa kasihan dengan Ayana yang hamil mudah tapi tidak memiliki tempat tinggal.


"Apa ia diusir karena hamil di luar nikah ?" tebaknya.


Ia kemudian teringat dengan menantunya yang mengalami hal yang sama, tapi karena keangkuhannya ia mengusir menantunya karena hamil di luar nikah. Tapi putranya yang sangat mencintai wanita itu tidak terima jika wanita yang ia cintai pergi meninggalkannya. Mau tak mau sang nenek pun membiarkan putranya menikah dengan wanita tersebut. Tapi karena belum terima dengan kehadiran menantunya itu, akhirnya sang nenek selalu menindas menantunya, bahkan saat cucunya telah lahir dengan terang-terangan sang nenek menolak kelahiran cucunya. Hal itu membuat menantunya sakit hati dan berubah menjadi menantu yang kurang ajar.


"Orang-orang yang menolak dirimu dan calon anakmu akan menyesali perbuatannya seperti yang nenek rasakan saat ini" guman sang nenek.


Tanpa sadar ia menitikan air mata, air mata kesedihan, air mata penyesalan, air mata kerinduan.


Sang nenek lalu menghapus air matanya dan membenarkan selimut yang digunakan Ayana.


🍃


Malam harinya, Ayana terbangun karena merasakan badannya teramat dingin. Ayana membuka matanya dengan pelan dan mendapati sebuah pelita di atas meja kecil samping tempat tidurnya. Ayana mengubah posisinya menjadi duduk, ia menatap kamar yang ia tempati hanya ada cahaya pelita yang remang-remang.


"Ya Tuhan, dimana aku ?" tanyanya.


Ia mulai merasa takut karena tidak tahu ia sedang berada dimana, bahkan tubuhnya mulai bergetar saat mendengar suara jangkrik dan kodok saling bersahutan.


Ia mengambil pelita yang ada di atas meja dan berjalan keluar, Ayana berjalan dengan pelan lalu menatap setiap sudut rumah yang gelap ini. Ia mulai panik karena tidak mendapati orang di rumah ini. Matanya mulai berembun dan hatinya mulai menjerit meminta bantuan orang tuanya.


Aya membuka pintu pelan dan menatap sekitar rumah itu hanya ada tumbuhan bambu yang mengelilingi rumah ini.


"Ya Tuhan, bagaimana ini ?" tanyanya lirih.


Tanpa Ayana sadari seseorang berada di tepat di belakangnya. Saat tangan orang itu menyentuh bahu Ayana, ia menjerit ketakutan.


"Arrhgg.... Tolong jangan sakiti saya !" Ayana berjongkok dan memeluk lututnya, tubuhnya bergetar karena terisak dan ketakutan.


"Kamu sedang apa disini Nak ? Ini sudah malam" ucap sang nenek.


Ayana menghentikan isakannya lalu pelan-pelan mengangkat kepalanya menatap sang nenek. Sedetik kemudian ia teringat jika tadi siang ia diajak sang nenek tinggal di rumahnya, rumah tepat yang berada di hutan.


Ayana berdiri lalu memeluk sang nenek, "Sa-saya takut Nek" ucapnya terbata.


"Tenang, Nenek ada disini !" balas sang Nenek.


Tangan Ayana kemudian ditarik oleh sang Nenek masuk ke dalam rumah. Ia menuntun Ayana duduk di kursi lalu kemudian sang nenek masuk dapur dan membawakan air untuk Ayana.


"Minumlah !"


Ayana kemudian menerima gelas yang berisi air tersebut lalu meminumnya hingga tandas, "terima kasih Nek" ucapnya.


"Sudah merasa lebih tenang ?" tanya sang nenek pada Ayana.


Ayana lalu mengangguk dan tersenyum tipis pada sang nenek.


"Mau makan malam ?" tanya sang Nenek.


Ayana yang memang kelaparan segera mengangguk. Sang nenek lalu masuk ke dapur dan menghangatkan makanan untuk Ayana. Setelah itu ia meletakkan makanan tersebut di atas meja.


Ayana menatap makanan itu lalu tanpa pikir panjang ia memakan makan tersebut hingga piringnya bersih.


"Setelah makan, jangan langsung tidur ! Tidak baik" ucap sang nenek pada Ayana.


Ayana mengangguk mengerti. Mereka lalu duduk berdua di tengah kesunyian malam dan dinginnya angin yang menusuk hingga tulang mereka.


"Apa rumah ini tidak memiliki listrik ?" tanya Ayana.


"Iya, rumah nenek belum bisa mendapatkan aliran listrik karena cukup jauh dari pemukiman warga" jelas sang nenek.


"Apa nenek tidak takut tinggal sendiri disini ?" tanya Ayana hati-hati.


"Awalnya nenek takut tinggal di rumah ini, bukan takut karena ketemu setan atau semacamnya. Nenek hanya takut kesunyian dan kesepian. Tapi lama-kelamaan nenek mulai nyaman hidup sendiri dan sederhana seperti ini" jelas sang nenek.


"Dulu tempat ini tidak ditumbuhi pohon bambu yang lebat, tapi semakin lama pohon bambu yang tumbuh di sekitar rumah ini semakin lebat" lanjut sang nenek.


"Maaf, apa dari dulu nenek tinggal disini, maksudnya memang sejak lahir tingg disini ?" tanya Ayana.


Mereka kemudian saling terdiam dan menikmati suara jangkrik dan katak yang saling bersahutan.


"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur saja di kamar nenek !" ucap sang Nenek.


"Apa tidak masalah ?" tanya Ayana.


"Tidak masalah"


Ayana lalu masuk ke kamar sang nenek. Kamarnya lebih luas dari kamar yang ia tempati.


Ayana membaringkan tubuhnya dan tidak lama kemudian ia sudah masuk ke alam mimpi. Sang nenek kemudian menyusul Ayana. Saat berbaring di samping Ayana, tangannya bergerak menyentuh perut Ayana.


"Semoga kamu lahir dengan selamat" do'anya tulus.


Entah mengapa sang nenek merasa sangat dengan dengan Ayana. Ia sangat menyayangi Ayana meskipun mereka baru bertemu tadi siang.


🍃


Keesokan harinya Ayana terbangun dengan perasaan yang tenang. Ia melihat sisi ranjang sudah kosong, yang artinya sang nenek sudah bangun.


Ayana membereskan kamar dan keluar mencari nenek, ia melihat sang nenek sedang berada di luar menikmati secangkir teh hangat. Ayana lalu duduk di samping nenek.


"Mau minum teh juga ?"


"Akh, tidak Nek"


Keduanya menikmati suasana pagi hari yang terasa sejuk, untuk pertama kalinya Ayana merasakan sebuah kedamaian di hatinya. Ia menghirup dalam-dalam udara segar ini. Ia tidak menyangka jika suasana pagi hari di tempat ini begitu nyaman dan menyenangkan perasaan. Sejenak Ayana melupakan masalah yang sedang ia alami.


Puas menikmati cuaca segar pagi hari ini, Ayana dan sang nenek masuk ke dapur untuk mempersiapkan sarapan. Untuk pertama kalinya Ayana memasak di atas kompor minyak dan untuk pertama kalinya Ayana memasak nasi menggunakan panci.


Dengan sabar sang nenek mengajarkan Ayana cara memasak nasi dengan benar menggunakan panci. Setelah nasi matang, Ayana lanjut memasak sayur bening dan juga menggoreng ikan air tawar.


"Ini namanya ikan lele ?" tanya Ayana, karena ini pertama kalinya ia melihat langsung ikan lele.


"Iya, kamu sebelumnya tidak pernah memakannya ?"


"Iya Nek, ini pertama kalinya"


"Pakai sambal terasi lebih enak" ucap Nenek.


Setelah semua makanan siap, Ayana dan sang nenek segera menyantap hasil kerja mereka di dapur. Ayana makan dengan lahap membuat sang nenek tersenyum senang.


"Ternyata enak ya Nek" ucapnya setelah isi di piringnya tandas.


Setelah selesai sarapan, Ayana lalu mencuci piring sementara sang nenek ke sumur mencuci pakaian.


"Nek, biar Ayana saja yang kerjakan" ucap Ayana setelah selesai cuci piring dan menyusul sang nenek.


"Tidak masalah, Nenek masih kuat" jawab sang nenek.


"Tapi..."


"Kamus sedang hamil, istirahatlah !"


Ayana lalu teringat jika ia sedang hamil, ia mengelus lembut perutnya dan membatin, 'maafkan Mama karena melupakan kamu Nak'


Ayana kemudian meninggalkan sang nenek dan masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai ia duduk di depan rumah.


"Aku tidak menyangka hidupku akan seperti ini. Jauh dari keluarga, diusir dan dicemooh oleh orang-orang" ucapnya lirih.


Matanya kembali terasa panas saat teringat dengan kedua orang tuanya, Omah dan...


"Kenapa aku harus memikirkannya, pasti ia sedang bersenang-senang dengan wanita itu. Setelah berhasil membuatku hancur, ia malah menghilang" lanjutnya.


Ia merasa kesal dengan dirinya sendiri yang masih saja menyimpan perasaan pada Gama. Harusnya ia membenci pria itu sedalam-dalamnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Woiii komen dong ! 🤣 sepi banget dah pembaca 🤧