Young Mommy

Young Mommy
Part 67



...🍃Happy Reading🍃...


Tengah malam Ayana terbangun karena ingin buang air kecil. Usai buang air kecil, Ayana merasa tenggorokannya kering. Ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Wanita itu mengisi gelasnya dengan air es. Saat hendak meminumnya tiba-tiba seseorang merampas gelasnya.


"Tengah malam minum air es itu tidak baik" ucap Gama.


DEG


"Ga-Gama..." ucap Ayana. Tiba-tiba wanita itu menjadi gugup ketika pria itu berdiri tepat di sampingnya. Jantungnya kini berdegup kencang.


"Iya, ada apa ?" tanya Gama sambil tersenyum.


"Kenapa kamu bisa ada disini ?" Tanya Ayana. Wanita itu sedikit menjauh dari tubuh Gama. Ia takut pria itu mendengar detak jantungnya yang sangat kencang.


"Mataku tidak bisa tidur, makanya aku memutuskan untuk keluar dari kamar. Aku duduk di ruang tengah lalu melihat kamu keluar dari kamar, jadi aku mengikuti kamu" jawab Gama. Pria itu meletakkan gelas yang berisi air es itu di atas meja. Gama lalu mengambil gelas baru dan mengisinya dengan air biasa.


"Minum yang ini saja !" pinta Gama.


Ayana segera mengambil gelas di tangan Gama dan meminum airnya hingga tandas. Wanita itu lalu meletakkan gelas itu di atas meja dan ingin segera pergi dari dapur.


Namun belum sempat wanita itu melangkah, Gama sudah menarik tangannya. Pria itu menyapu bersih sisa air di pinggiran bibir Ayana menggunakan jari jempolnya.


Mendapatkan perlakuan manis dari Gama tentu membuat perasaan Ayana tersentuh. Ia tidak berani menatap mata Gama karena bisa-bisa jantungnya meledak karena berdetak begitu kencangnya.


Sementara Gama tersenyum kala melihat Ayana menunduk malu. Pria itu kini memberanikan diri untuk menyentuh pipi Ayana yang merah merona.


"Saat malu seperti ini, kamu terlihat menggemaskan" ucap Gama.


Ayana semakin menunduk karena tersipu malu. Entah mengapa bibir wanita itu seolah terkunci, lidahnya terasa keluh sehingga membuatnya tidak bisa berucap sepatah katapun.


Sementara Gama semakin melancarkan aksinya karena melihat Ayana hanya terdiam. Pria itu memeluk tubuh Ayana. Ia sengaja meletakkan telinga Ayana tepat di dadanya.


"Kamu dengar detak jantungku yang tidak normal ?" tanyanya, "Hanya kamu yang mampu membuat jantungku berdetak tidak normal. Mengapa bisa demikian ? Jawabannya karena hanya kamu wanita yang istimewa. Kamu adalah wanita yang menguasai seluruh isi hatiku" lanjutnya.


Tanpa Gama ketahui, Ayana menahan senyumnya saat mendengar ungkapan hati Gama. 'Akupun demikian' balas batinnya.


"Ayana, apakah kamu mau memberikan aku kesempatan kedua ? Aku ingin hidup bersamamu, bersama dengan putra kita Zayyan dan juga anak-anak kita yang lain kelak" lanjut Gama yang semakin mengeratkan pelukannya.


Mendengar permintaan Gama, Ayana memberanikan diri untuk menatap pria itu. Pria itu juga menatapnya. Sesaat mereka saling menatap dengan tubuh yang masih berpelukan, lebih tepatnya tubuh Ayana masih dalam pelukan Gama.


"Aku takut" jawab Ayana lirih.


Gama mengerutkan alisnya, "Takut karena apa ?" tanyanya.


"Aku takut terluka lagi" jawabnya. Ayana memutuskan tatapannya dan membuang wajah ke lain arah.


Lagi-lagi ucapan Ayana membuat Gama merasa bersalah. Pria itu melepaskan pelukannya sehingga membuat Ayana menatapnya. Pria itu lalu memegang kedua tangan Ayana.


"Maaf. Maafkan aku yang terlalu egois sehingga membuatmu terluka. Aku menyesal, sangat menyesal. Maka dari itu aku datang kepadamu lagi, aku ingin meminta kesempatan kedua. Aku ingin menebus semua kesalahanku dimasa lalu. Aku ingin mengganti semua kesedihanmu di masa lalu dengan sebuah kebahagiaan. Aku mohon, ijinkan aku kembali memasuki ruang hatimu !"


Air mata Gama mengalir begitu saja saat mengakui kesalahannya.


Melihat itu membuat tangan Ayana refleks menghapus air matanya. Ia melihat ada ketulusan di mata Gama. Sebenarnya Ayana juga masih menyimpan rasa yang sama, hanya saja wanita itu selalu mencoba membunuh perasaannya dengan meyakinkan hati jika dirinya sangat membenci pria itu.


"Tapi berjanjilah, jangan mengulangi kesalahan yang sama !" pinta Ayana.


Seketika senyuman menghiasi wajah Gama. Pria itu mengangguk dengan semangat.


"Aku janji sayang" ucapannya.


Pria itu kembali memeluk tubuh Ayana, bahkan ia mengecup pucuk kepala warna itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Gama berjanji jika dirinya tidak akan membuat Ayana menangis sedih lagi.


Cukup lama keduanya saling memeluk, hingga keduanya sontak melepaskan pelukan mereka karena mendengar suara Omah.


"Hmm... Maaf, Omah hanya haus" ucap Omah berusaha menahan senyumnya.


Ayana dan Gama tampak salah tingkah. Mereka layaknya sepasang remaja kasmaran yang kepergok sedang berpelukan.


'Ahk... Malu sekali' teriak batin Ayana.


Ayana berlari kecil meninggalkan dapur dengan kepala yang menunduk. Sementara Omah kini terkekeh melihat cucunya yang malu-malu.


"Sudah berhasil ?" tanya Omah pada Gama.


Gama berdehem mencoba terlihat biasa-biasa saja.


"Iya Omah" jawabnya singkat.


Omah tersenyum senang, "Kali ini dijaga ya ! Jangan dirusak lagi ! Kalau berani rusak cucu Omah, maka Omah yang akan menghalangi kalian bersatu" Omah memberikan pesan sekaligus ancaman untuk Gama sebelum meninggalkan dapur.


Sementara Ayana sudah berbaring di atas tempat tidur dengan menutup seluruh tubuhnya. Ia malu pada Omah, benar-benar merasa malu.


Omah masuk kamar dan melihat seluruh tubuh cucunya tertutup dengan selimut tebal. Omah menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah cucunya seperti seorang remaja.


"Tidak perlu malu ! Omah juga pernah merasakan hal yang sama. Apa kamu tidak merasa sesak menutupi seluruh tubuhmu dengan selimut tebal ?" Goda Omah.


Ayana membuka pelan selimutnya, sebenarnya ia memang terasa sesak.


Omah tersenyum kala melihat wajah cucunya memerah, entah itu karena malu atau karena hampir kehabisan oksigen di balik selimut.


"Kalian seperti ABG yang kepergok bermesraan" lanjut Omah menggoda Ayana.


"Omah..." ucap Ayana, ia ingin sang Omah segera berhenti menggodanya.


Omah tersenyum, ia lalu ikut berbaring di samping Ayana.


"Ingat untuk jaga diri ! Kamu sudah dewasa, jangan sampai melakukan kesalahan yang sama !" pesan Omah.


"Baik Omah" jawab Ayana patuh.


"Ya sudah, sekarang kembali tidur !"


Omah kembali memejamkan matanya, dan tidak butuh waktu lama ia sudah masuk ke alam mimpi.


Sementara Ayana masih belum bisa memejamkan matanya. Kejadian di dapur selalu mengusik pikirannya. Lagi-lagi wajahnya terasa panas karena merasa malu.


Sama halnya dengan Gama. Pria itu berbaring di atas tempat tidur dengan mata yang masih terjaga. Ia menatap langit-langit kamar dengan wajah yang tersenyum bahagia. Bahkan sesekali ia terkekeh karena mengingat wajah menggemaskan Ayana yang tersipu malu.


Gama kemudian memiringkan tubuhnya menghadap Zayyan. Ia menatap lekat wajah putranya.


"Apa karena Mama kamu sangat mencintai Papa sehingga wajah kamu begitu mirip dengan Papa ?" tanyanya.


Zayyan terlihat damai dalam tidurnya. Gama mengecup pipi putranya lalu memutuskan untuk segera tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tim sorak Gama mana suaranya ? 🤣🤣🤣


Jangan lupa kasih dukungannya 🤭


Tim sorak Fabio sabar ya 😘