
...🍃Happy Reading🍃...
Hari ini Ayana dan Gama mengajak Zayyan jalan-jalan. Tentu saja Zayyan sangat senang.
"Kita jalan kemana Ma, Om ?" tanya Zayyan pada Ayana dan Gama.
'Panggilam yang tidak serasi. Harusnya Mama dan Papa, bukan Mama dan Om. Tapi tidak masalah, aku harus bisa membuat Zayyan mengubah nama panggilan itu' batin Gama.
"Kita mau ke pantai" jawab Ayana.
"Yeay, Mama kali ini Zayyan boleh main air ?" tanya Zayyan pada Ayana.
"Boleh, tapi harus hati-hati !" jawab Ayana.
Zayyan semakin senang karena sang Mama mengijinkannya main air. Tak sama saat mereka pergi dengan Fabio, Ayana melarang Zayyan bermain air.
Gama dan Ayana tersenyum senang melihat putra mereka bahagia.
Gama lalu melirik Ayana yang tersenyum lebar, pria itu lalu menggapai tangan Ayana dan menggenggamnya.
Sontak Ayana membulatkan matanya, ia kemudian melirik Zayyan yang sedang menatap ke jalanan.
"Jangan seperti ini ! Nanti Zayyan lihat" bisik Ayana pada Gama.
"Apa sayang, aku nggak dengar ?" tanya Gama pura-pura tidak tahu.
Ayana mencebik kesal lalu menarik tangannya agar terlepas dari Gama. Tapi pria itu semakin menguatkan tangannya hingga membuat Ayana kesal.
Wanita itu lalu mendekati Gama dan berbisik di telinga pria itu, " Lepaskan ! Nanti Zayyan lihat. Kamu fokus aja nyetir mobilnya !"
Gama tersenyum lalu menjawab, "Aku lepasin tapi cium dulu !" ia mengikuti Ayana berbisik walaupun pandangan matanya masih fokus ke jalan.
Ayana tentu semakin kesal, wanita itu menjauhkan tubuhnya dari Gama lalu menarik tangannya.
Gama terkekeh kala Ayana berhasil melepaskan tangannya lalu melipat tangannya di depan dadanya.
Wanita itu berdecak kesal sehingga membuat Gama begitu gemas.
"Mama dan Om Gama sedang apa ?" tanya Zayyan sambil menatap kedua orang dewasa itu secara bergantian.
"Tuh kan, dibilangin ngeyel sih" kesal Ayana.
Gama hanya tersenyum melihat wanitanya sedang marah. Ia lalu melirik putranya melalui kaca mobilnya.
"Zayyan senang nggak jalan-jalan sama Mama dan Om Gama ?" tanya Gama pada putranya.
"Tentu saja senang Om" jawab Zayyan tersenyum tapi senyumannya tiba-tiba memudar kala teringat dengan sang Papa,
"Tapi lebih senang lagi kalau yang datang Papa" lanjutnya terdengar menyayat hati kedua orang tuanya.
Gama terdiam sesaat, rasa bersalah dan rasa penyesalan masih terus menggerogoti hatinya. Sementara Ayana berusaha Manahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Apa Zayyan akan senang jika Papa pulang ?" tanya Gama.
"Tentu saja senang, selama ini Zayyan berdoa agar Papa meninggalkan pekerjaannya dan kembali bersama Zayyan dan Mama" jawab Zayyan.
"Apa Zayyan tidak membenci Papa karena tidak pernah menemuimu ?" Tanya Gama lagi.
"Tidak. Papakan pergi karena kerja, mungkin jika nanti Papa kembali Zayyan akan memintanya untuk tidak pergi lagi. Jika Papa masih tetap memilih pekerjaannya daripada Zayyan, saat itulah Zayyan akan membencinya" jawab Zayyan tegas.
Ayana tidak bisa lagi menahan air matanya, dadanya terasa sesak mendengar ungkapan hati putranya. Wanita itu menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara isakan tangisnya.
"Tapi jika Papa kamu adalah Om Gama bagaimana ?" tanya Gama masih menggenggam tangan Ayana.
"Apa Om Gama papa Zayyan ?" tanya Zayyan polos.
"Apa kamu akan menerima Om jika ternyata Om adalah Papa kandung kamu ?" tanya Gama pada putranya.
Zayyan terdiam sesaat, entah apa yang dipikirkan oleh pria kecil itu.
Gama dan Ayana sama-sama merasa cemas jika Zayyan tidak akan menerima Gama sebagai Papanya.
Tak ada lagi suara yang keluar selama perjalanan hingga mereka tiba di tempat tujuan.
Gama turun dari mobil lalu membuka pintu untuk putranya.
Zayyan turun tanpa ekspresi, pria kecil itu terdiam bahkan tidak ingin melirik Gama.
Tentu saja sikap Zayyan membuat Gama merasa sedih. Ia pikir putranya pasti sangat marah dan kecewa padanya.
Ayana menghampiri Gama dan mengelus lembut punggungnya, "sabar !" ucapnya sambil tersenyum walau sebenarnya ia juga merasa sedih karena Zayyan terlihat tidak menerima Gama sebagai Papanya.
"Sepertinya aku harus berjuang lebih keras lagi" balas Gama berusaha tersenyum.
"Mama, ayo ! Zayyan mau main air" teriak Zayyan yang mulai jalan meninggalkan Ayana dan Gama.
"Sayang, tunggu Mama ! Kamu jangan mendekat ke pinggir pantai sendirian !" balas Ayana berteriak.
Ayana dan Gama berjalan dengan langkah kaki yang cepat. Gama lalu mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Zayyan, tapi sayangnya pria kecil itu menolak.
Zayyan justru menggenggam tangan sang Mama. Gama hanya bisa menghela nafas panjang saat menerima penolakan dari Zayyan. Dadanya terasa sesak karena Zayyan menghindarinya.
Zayyan menarik tangan Ayana menuju bibir pantai. Gama hanya bisa mengekor di belakang kedua orang tersayangnya itu.
"Ma, bisa tidak Om Gama sedikit menjauh dari kita ?" tanya Zayyan.
Ayana menatap putranya dengan wajah bingung.
"Zayyan mau bicara sesuatu sama Mama" lanjut Zayyan.
Akhirnya Ayana mengangguk paham, "Kamu tunggu disini dulu ! Mama akan bicara dengan Om Gama" ucap Ayana.
Wanita itu kemudian menghampiri Gama yang tak jauh di belakang mereka.
"Zayyan meminta kamu menjauh sebentar !" ucap Ayana. Sebenarnya wanita itu tidak tega melihat wajah sedih Gama.
"Apa dia membenciku ?" tanya Gama.
"Tidak, sepertinya Zayyan butuh waktu sebentar" jawab Ayana meyakinkan Gama jika Zayyan tidak membencinya.
"Hanya sebentar saja sayang" lanjut Ayana sambil tersenyum.
Mendengar panggilan manis dari wanita yang ia cintai membuat Gama menarik kedua sudut bibirnya melengkung menjadi senyuman.
"Baiklah" jawabnya.
Gama mencari tempat nyaman untuk menyendiri. Sementara Ayana kembali bersama putranya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa dukungannya 🤗 kalian bisa mendukung novel ini dengan cara memberikan hadiah + vote + like + komen + rate ⭐ lima 🙏