
...🍃HAPPY READING🍃...
Deg.
Seketika Bunda Mila dan Ayah Budianto merasakan sesuatu yang bergetar hebat di dadanya kala mendengar Zayyan memanggil mereka.
"Omah, Opah Zayyan datang" ucap Zayyan.
Pria mungil itu lalu memeluk kaki Bunda Mila dengan erat.
Bunda Mila tidak mampu lagi menahan air matanya. Ia menangis terharu saat mendapatkan pelukan pertama dari cucunya. Cucu yang pernah ia tolak.
Perlahan Bunda Mila berjongkok, ia mensejajarkan tubuhnya dengan Zayyan. Ia menatap wajah cucunya cukup lama, setelah itu ia memeluknya erat. Tangisannya pecah.
"Kenapa Omah nangis ? Apa Omah tidak suka dengan Zayyan ?" tanya Zayyan.
Bunda Mila menggelengkan kepalanya, ia masih enggan melepaskan pelukannya.
"Omah, menangis karena bahagia. Omah bahagia bertemu dengan Zayyan" jawabnya.
"Omah sama seperti Papa saat Zayyan memanggilnya Papa" ucap Zayyan.
Bunda Mila melepaskan pelukannya lalu mencium pipi Zayyan.
Setelah berpelukan dengan Bunda Mila, Zayyan berpelukan dengan Ayah Budianto. Pria paruh baya itu juga menangis terharu. Jika diingat dirinyalah yang paling kejam. Ia bahkan ingin membayar keluarga Ayana agar mereka memaksa Ayana menggugurkan kandungannya.
Puas berpelukan dengan Zayyan mereka menghampiri Ayana. Wanita itu tampak setia menundukkan kepalanya.
Gama duduk di samping Ayana lalu menggenggam tangannya.
"Sayang, Bunda dan Ayah sudah keluar" bisik Gama.
Ayana mengangkat kepalanya dengan pelan. Baru sedetik Ayana menatap wajah kedua calon mertuanya, Bunda Mila dengan cepat memeluk tubuhnya. Air mata Ayana berhasil terjun setelah cukup lama menahannya. Ia perlahan membalas pelukan Bunda Mila.
"Maafkan Bunda sayang. Maaf" ucap Bunda Mila di sela tangisannya.
Ayana hanya bisa mengangguk pelan. Kedua wanita itu larut dalam tangisan dan kesedihan mereka. Nenek Rukmini yang kedua wanita itu juga ikut menjatuhkan air mata.
Setelah berpelukan dengan Bunda Mila, Ayana berpelukan dengan Ayah Budianto.
"Terima kasih Nak telah menjadi wanita kuat, kamu sangat hebat yang lebih memilih dibuang oleh orang-orang yang kamu sayangi demi mempertahankan darah dagingmu. Terima kasih telah melahirkan cucu untuk kami. Kami sangat menyesal atas apa yang kami lakukan padamu dulu. Maafkan kami" ucap Ayah Budianto terisak.
"Ayana sudah memaafkan Om dan Tante. Maafkan Ayana juga kala itu tidak berani bertemu dengan kalian. Seharusnya Ayana tidak bersembunyi saat Om dan Tante menjemput Nenek Rukmini di Bandung" balas Ayana.
"Tidak Nak, kamu tahu ketakutan yang kamu rasakan, kami bisa memaklumi itu" ucap Ayah Budianto.
Gama yang melihat calon istrinya dan Ayahnya saling berpelukan segera mendekat.
"Jangan lama-lama Yah, dia calon istriku !"
Gama mencoba melepaskan pelukan keduanya. Ia tidak suka pria lain memeluk istrinya termasuk Ayahnya sendiri.
"Tidak sopan sekali" gerutu Ayana melihat sikap Gama.
Semua orang terkekeh melihat Gama yang cemburu. Kedua orang tua Gama bangga karena memiliki seorang putra yang setia pada satu cinta.
"Cih, dasar bucin" suara seseorang yang membuat semua orang menoleh kearahnya.
"Om Gala" teriak Zayyan.
Semua orang masih menatap Gama yang berjalan ke arah mereka.
"Halo Boy" sapa Gala pada ponakannya.
Pria itu lalu mensejajarkan tubuhnya dengan Zayyan, "Om bawa mainan terbaru untukmu" ucapnya seraya memperlihatkan paper bag yang ia pegang.
"Wah, serius Om, terima kasih Om Gala" ucap Zayyan senang.
Semua orang tersenyum saat melihat tingkah Zayyan. Gala mengacak-acak rambut Zayyan.
"Jangan Om !" pinta Zayyan, "Zayyan hanya suka jika Papa yang melakukannya" lanjutnya.
"Jika Mamamu yang melakukannya ?" tanya Gala.
"Zayyan tidak suka. Kalau Mama sukanya main cium, Zayyan nggak suka seperti itu" jawab Zayyan polos.
Gama menatap Ayana dan tersenyum penuh kemenangan, sementara Ayana hanya bisa memutar bola matanya dengan malas.
"Wah benarkah ? Kalau begitu Om mau dong dicium sama Mama kamu" ucap Gala yang berhasil membuat Gama kesal.
Gala tersenyum jail lalu berkata pada Zayyan, "Papa kamu bucin"
"Gala !!!" tegur Ayana dan Gama secara bersamaan.
"Jangan mengajari putraku yang tidak-tidak !" kesal Ayana.
Gala lalu berdiri dan menghampiri Ayana dan Gama.
"Aku tidak mengajarinya yang tidak-tidak. Kakak ipar tenang saja !" ucapnya.
Pria itu hendak memeluk tubuh Ayana, tapi dengan sigap Gama menendang lututnya.
"Jangan kurang ajar dengan kakak iparmu !" ketus Gama.
"Aww, sakit tahu" pekik Gala sambil mengelus lututnya yang kesakitan.
"Ingat dia calon istriku, jadi jangan berani menyentuhnya !" lanjut Gama mode posesif.
"Masih calon, aku masih bisa menikung sebelum janur kuning melengkung" goda Gala.
"Kau ini..." Gama hendak memukul pundak adiknya tapi dengan cepat Gala menghindar.
Kedua orang tua mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. Tapi hati mereka lega karena Gama dan Gala bisa kembali bercanda seperti biasanya. Mungkin Gala sudah terima jika Ayana ditakdirkan untuk menjadi kakak iparnya.
"Gala jangan ngerjain kakak kamu terus !" tegur Bunda Mila.
"Sudah-sudah, sebaiknya kita makan dulu ! Kalian pasti lapar" ucap Ayah Budianto.
"Zayyan sini sama Om Gala !" Gama menarik tangan ponakannya menuju meja makan.
"Kamu duduk disini sayang !" pinta Bunda Mila mempersilahkan Ayana duduk di dekatnya.
"Makan yang banyak !" Bunda Mila mengisi piring Ayana dengan nasi dan lauk kesukaannya.
"Tante tahu makanan kesukaan Ayana ?" tanya wanita itu pada calon ibu mertuanya.
"Kok Tante sih ? Panggil Bunda dong !" ralat Bunda Mila, "Gama yang mengatakan apa saja makanan yang kamu sukai, makanya Bunda menyiapkan menu makanan kesukaan kamu sayang" jawab Bunda Mila lembut.
Ayana tersenyum kala mendapatkan perlakuan hangat dari orang tua Gama. Kini tidak ada kekhawatiran lagi di hatinya.
🍃
Di Surabaya, tepatnya di rumah Fabio.
Dira sedang duduk bersama Ibu Shita di taman belakang rumah. Kedua wanita itu sedang berbincang-bincang.
"Ibu tidak menyangka jika kalian mengalami hal yang sama. Tapi yang membedakan, Ayana sedang larut dalam cinta dan hawa nafsu sementara kamu korban pemerkosaan" ucap Ibu Shita yang prihatin dengan Dira.
"Ya, semua mungkin sudah menjadi takdir hidup yang harus kita jalani" balas Dira tersenyum.
Meskipun dirinya dibuang oleh keluarganya, tapi Dira bersyukur masih bisa bertemu dengan orang baik. Bisa saja ini jalan Tuhan mempertemukan ia dengan cintanya.
Cukup lama keduanya mengobrol hingga mereka terhenti karena mendengar bunyi dering handphone milik Dira.
"Halo..." Sapanya.
📞 "Halo... Dira, aku tidak pulang hari ini karena harus lembur" ucap Aaron di seberang sana.
"Baiklah, kamu kerja yang semangat ya" balas Dira.
📞 "Iya, kamu harus ingat jangan terlalu kecapean !"
"Iya" jawab Dira sebelum memutuskan panggilan.
"Siapa ? Aaron ya ?" tanya Ibu Shita.
"Iya Ibu"
"Bilang apa ?"
"Katanya, hari ini dia lembur dan tidak bisa pulang"
Ibu Shita hanya tersenyum saat mendengar jawaban Dira.
"Apa kalian sudah saling mencintai ?" tanya Ibu Shita menatap Dira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...