Young Mommy

Young Mommy
Part 62



...🍃Happy Reading🍃...


Di balik pintu, Ayana menguping pembicaraan Gama dan kedua orang tuanya. Setelah itu ia berjalan mendekati putranya yang sudah tertidur pulas. Ayana memandang putranya seraya mengelus lembut pipinya.


"Maafkan Mama sayang yang bersikap egois. Mama bukannya ingin menjauhkan kalian. Tapi Mama masih membutuhkan waktu untuk memastikan perasaan Mama. Setelah semuanya sudah pasti, Mama janji tidak akan menghindar lagi dari Papa kamu" ucapnya lirih.


Ya, memang Ayana sengaja menjauhkan Zayyan dan Gama. Ia ingin tahu bagaimana dengan perasaannya saat ini terhadap Gama. Jika memang cintanya memang masih ada, maka Ayana akan kembali dengan pria itu dan mengikhlaskan semua masa lalunya.


Ayana lalu ikut berbaring dengan putranya, tak lama setelah itu ia juga ikut tertidur.


Keesokan harinya, Ayana sudah mempersiapkan semua barang-barangnya. Hari ini ia sudah memesan tiket ke Surabaya. Penerbangannya jam 10 pagi.


"Kenapa mendadak sekali ?" tanya Mama Lisa.


Ya, memang Ayana belum mengatakan pada orang tuanya jika hari ini ia akan pulang. Ia hanya mengatakan dalam waktu dekat ini ia akan kembali ke Surabaya.


"Maaf Ma, Pa, Omah. Ayana tidak bisa berlama-lama disini. Kapan-kapan kalau ada waktu lagi Ayana pulang menjenguk kalian" jawab Ayana.


"Apa tidak bisa kamu kembali menetap di Bandung ?" tanya Papa Hartono.


"Untuk sekarang belum bisa Pa. Jika Ayana tinggal disini, lalu bagaimana dengan usaha yang Ayana rintis dari nol ? Kan Ayana masih bisa jalan-jalan kesini lagi. Kalian juga bisa ke Surabaya. Jadi maaf jika Ayana belum bisa kembali menatap disini" jawab Ayana.


Sebenarnya ia pun merasa berat meninggalkan keluarganya, tapi mau tidak mau ia memang harus kembali.


"Kamu bisa membuka usaha disini juga, buka cabang. Lalu kamu bisa memantu usaha kamu di Surabaya dari sini" ucap Papa Hartono yang masih berusaha menahan putrinya.


"Nanti Ayana pikiran. Sekarang biarkan Ayana kembali ke Surabaya mengurus usaha Ayana sekaligus menenangkan hati" balas Ayana yang kekeh untuk kembali ke Surabaya.


Akhirnya Papa Hartono pasrah dan membiarkan putrinya pergi. Walaupun dengan berat hati ia harus melepas putrinya. Biar bagaimanapun, ia tidak bisa memaksa kehendak putrinya.


Pukul 9 Ayana sudah berada di bandara. Ia diantar oleh kedua orang tuanya.


"Setelah sampai jangan lupa kabari kami sayang !" Pesan Mama Lisa.


"Baik Ma. Mama, Papa jaga kesehatan ya ! Ayana janji akan kembali berkunjung kesini" balas Ayana.


"Hanya berkunjung ?" Pancing Papa Hartono.


Ayana hanya tersenyum kala mendengar pertanyaan sang Papa. Ia enggan menjawab karena ia pun tidak tahu jawabannya. Entahlah, suatu saat ia kembali kesini hanya untuk mengunjungi keluarganya atau akan kembali menetap di Bandung.


"Ya sudah kalau begitu Ayana pamit ya" ucap Ayana.


Mereka saling berpelukan seolah tak rela untuk berpisah. Mama Lisa sudah mengeluarkan air mata.


"Semoga kamu selamat sampai tujuan ya Nak" doa Mama Lisa sebelum melepaskan pelukannya.


"Zayyan, Salim dengan Kakek dan Nenek !"


Zayyan segera mencium punggung tangan Kakek dan Neneknya seraya berkata.


"Nenek jangan menangis ! Zayyan janji akan menjenguk Nenek lagi"


Mama Lisa berjongkok dan memeluk tubuh cucunya dengan erat. Begitu juga dengan Papa Hartono.


Ayana berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh saat melihat pemandangan yang menyedihkan ini.


Setelah itu, Ayana dan Zayyan masuk dalam bandara. Mereka meninggalkan Papa Hartono dan Mama Lisa seraya melambaikan tangannya.


Mama Lisa dan Papa Hartono memutuskan untuk pulang setelah tubuh Ayana sudah tidak terlihat lagi. Baru beberapa langkah, tiba-tiba mereka terhenti kala melihat Gama berlari ke arahnya.


"Huft..." Gama berusaha mengatur nafasnya saat ia sudah sampai di depan orang tua Ayana. Setelah nadanya mulai normal, Gama bertanya pada orang tua Ayana.


"Apa mereka sudah pergi ?"


Papa Hartono dan Mama Lisa saling memandang. Mereka sangat kasihan melihat Gama. Papa Hartono hanya bisa menjawab pertanyaan Gama dengan sebuah anggukan kepala.


Gama menghembuskan nafas dengan kasar. Ia berusaha menahan air matanya. Hatinya sangat sesak kala mengetahui Ayana dan putranya memilih kembali ke Surabaya.


"Apa Gama tidak bisa mendapatkan kesempatan kedua lagi ?" tanyanya lirih.


"Gama, biarkan Ayana menenangkan hatinya dulu. Om sangat yakin jika Ayana juga masih menyimpan perasaan yang sama terhadapmu" ucap Papa Hartono mencoba meyakinkan Gama.


"Itu sangat mungkin. Om sangat yakin itu, percayalah sama Om !" Balas Papa Hartono.


Akhirnya Gama juga mencoba meyakinkan hatinya. Walaupun sebenarnya ia merasa takut jika dirinya sudah tidak memiliki kesempatan lagi.


"Oh iya, kamu tahu dari mana jika Ayana akan kembali ke Surabaya ?" tanya Mama Lisa.


"Dari Ayah Gama" jawabnya.


*Flashback On*


Di kediaman Budianto.


"Sudah tiga hari Gama tidak pulang ke rumah" ucap Bunda Mila sedih.


"Iya, Bun. Semenjak pertemuan kita di dengan Ayana, Gama tidak pernah muncul lagi. Bahkan saat Ayah berkunjung ke perusahaan, Gama terang-terangan mengusir Ayah" ucap Ayah Budianto.


Pembicaraan keduanya tentu didengar oleh Nenek Rukmini.


"Apa kalian pernah bertemu dengan Ayana ?" Tanya Nenek Rukmini.


"Iya Ibu. Beberapa hari yang lalu kami bertemu di sebuah restoran. Tapi saat itu Ayana sangat marah ketika melihat kami. Bahkan putranya bersembunyi dan ketakutan melihat kami" jawab Bunda Mila semakin sedih.


Ia masih mengingat bagaimana takutnya Zayyan pada mereka.


Nenek Rukmini menatap putranya dan menantunya.


"Jelas Ayana marah pada kalian. Pasti bukan hanya marah, tapi Ayana juga pasti ketakutan saat kalian muncul di hadapannya" ucap Nenek Rukmini.


"Ayana marah mengingat penolakan kalian di masa lalu. Sementara ketakutannya muncul karena takut kalian menyakiti putranya, mengingat betapa teganya kalian memintanya menggugurkan kandungannya" lanut Nenek Rukmini.


Ayah Budianto dan Bunda Mila membenarkan ucapan sang Ibu. Tapi tujuan mereka bertemu dengan Ayana hanya untuk meminta maaf.


"Tapi Ibu, kami bukannya ingin menyakiti cucu kami. Kami hanya ingin meminta maaf pada Ayana atas kejadian beberapa tahun lalu. Tapi Ayana tidak memberikan kesempatan untuk kami membuka suara" ungkap Bunda Mila.


"Pasti ini sangat berat untuk Ayana. Mungkin saja saat ini bagi Ayana kalian masih menjadi ancaman untuk putranya " balas Nenek Rukmini.


"Sebaiknya kalian datang saja ke rumahnya dan meminta maaf. Ibu yakin orang tua Ayana akan membantu kalian untuk bicara pada Ayana !" lanjut Nenek Rukmini memberikan saran.


Tentu saja mereka setuju dengan saran dari sang Ibu.


Akhirnya setelah sarapan mereka menuju rumah Ayana. Mereka berharap ada secercah harapan untuk mendapatkan maaf dari wanita yang telah melahirkan cucu untuk mereka. Tapi sangat disayangkan, saat tiba di depan rumah Ayana, mereka melihat Papa Hartono memasukkan koper ke bagasi mobilnya.


"Yah, apa Ayana akan pergi ?" tanya Bunda Mila.


"Sepertinya Bun" balas Ayah Budianto.


"Kalau begitu telpon Gama Yah !" Pinta Bunda Mila.


Ayah Budianto segera mengambil gadgetnya dan menghubungi nomor putranya. Namun karena Gama sepertinya masih marah dengannya, panggilannya tidak mendapatkan jawaban. Tapi Ayah Budianto masih berusaha menghubungi Gama hingga puluhan panggilan masih tidak dijawab.


"Bunda sebaiknya kita ke perusahaan dan memberitahu Gama" ucap Ayah Budianto segera menancap gas mobilnya menuju perusahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo kakak² tersayangnya Sa 👋❤️ apa kabar hari ini ? sehat kan ? 😘 Sa mau kasih rekomendasi novel bagus nih untuk kalian 🤗❤️ jangan lupa mampir ya ❤️



Judul : Kesalahan Di Malam Reuni


Author : AdindaRa


*


*


HARI SENIN JANGAN LUPA KASIH VOTE YA 🤗❤️ HADIAHNYA JUGA KALAU ADA YANG BAIK HATI 🤭