Young Mommy

Young Mommy
Part 98



...🍃Happy Reading🍃...


"Kapan kalian pergi bulan madu ?" tanya Nenek Rukmini.


"Setelah acara pernikahan Mona, kami akan honeymoon" jawab Ayana.


"Bikin cucu yang banyak ya !" goda Nenek Rukmini.


Ayana mengangguk dengan semangat, "Ayana akan membuat banyak cucu untuk Nenek" jawabnya.


Nenek Rukmini tersenyum lembut, "Sekarang temani Nenek tidur !"


Ayana kembali mengangguk, ia menatap wajah Nenek Rukmini yang perlahan menutup matanya.


Wanita itu tidak tahu, mengapa matanya tiba-tiba terasa panas saat melihat Nenek Rukmini tertidur.


Tak lama kemudian, Ayana menyadari suatu hal. Ia tidak mendengar hembusan nafas yang keluar dari hidung Nenek Rukmini.


Mendadak ia merasa cemas, Ayana mengulur tangannya yang bergetar. Ia menaruh telunjuknya di depan hidung Nenek Rukmini. Tak ada lagi hembusan nafas yang keluar.


Wanita itu segera bangkit dari tidurnya, ia mencoba mengguncang tubuh Nenek Rukmini dengan pelan.


"Nek.... Nenek..." panggil Ayana. Tapi sayangnya sang Nenek sudah tidak ada.


Ayana berlari keluar kamar sambil menangis histeris.


"Bunda... By..." teriaknya.


Sontak semua orang yang berada di ruang tengah menatap Ayana. Gama segera menghampiri istrinya dengan rasa khawatir.


"Ada apa sayang ? Mengapa kamu menangis ?" tanya Gama.


"Nenek... Nenek..." ucap Ayana yang tidak bisa meneruskan kalimatnya.


"Nenek kenapa ?" tanya Gala.


Bunda Mila dan Ayah Budianto segera beranjak dari sofa. Ia masuk ke kamar Nenek Rukmini dengan langkah kaki yang lebar.


Gala, Zayyan, Gama dan Ayana mengekor.


Ayah Budianto mengecek denyut nadi sang Ibu. Seketika tubuhnya luruh di atas lantai.


"Yah ada apa ?" tanya Bunda Mila cemas.


"Ibu... Ibu sudah pergi" jawab Ayah Budianto terisak.


Seketika Bunda Mila ikut terisak. Suasana sedih menyelimuti keluarga mereka.


"Ibu... Kenapa Ibu pergi sekarang ?" teriak Bunda Mila. Wanita paruh baya itu belum merasa puas merawat dan menebus dosanya pada sang mertua, kini Ibu mertuanya pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.


Ayana menangis dalam pelukan suaminya. Zayyan yang belum mengerti keadaan ini menatap orang-orang dewasa itu dengan tatapan bingung.


"Papa, Mama, kenapa kalian semua menangis ?" tanyanya polos.


Gala yang mendengar pertanyaan ponakannya berjongkok, ia mensejajarkan tubuhnya dengan Zayyan.


"Nenek sudah tidak ada. Nenek udah pergi ninggalin kita" jawab Gala.


Bukannya mengerti, Zayyan justru semakin bingung, "Nenek tidak pergi, itu Nenek sedang tidur" ucap Zayyan sambil menunjuk Nenek Rukmini yang terbaring di atas ranjang dengan tubuh yang sudah kaku.


"Nenek sudah meninggal" ucap Gala.


"Meninggal ? Artinya Nenek pergi surga ?"


Gama mengangguk sebagai jawaban. Kali ini Zayyan ikut sedih, pria mungil itu kini ikut terisak.


"Sayang, kamu duduk dulu di ranjang ya ! Aku mau hubungi Mama dan Papa dulu" ujar Gama.


Ayana kini duduk di samping tubuh Nenek Rukmini. Tangisannya kini semakin pecah. Mereka baru saja merasakan kebahagiaan, kini mereka merasakan duka yang mendalam dikarenakan kepergian Nenek Rukmini.


Gama keluar dan menghubungi keluarga Ayana, ia juga menghubungi Fabio. Buat bagaimanapun Fabio dan Nenek Rukmini cukup dekat.


Fabio yang mendengar berita duka dari Gama, tanpa pikir panjang ia memesan tiket pesawat ke Bandung. Fabio hanya bisa datang sendirian. Ibu Shita tidak bisa meninggalkan Dira dalam keadaan hamil tua.


Di kediaman orang tua Gama sudah ramai dihadiri keluarga dan juga kerabat mereka. Ayana dan Bunda Mila tidak ingin meninggalkan jasad Nenek Rukmini sama sekali. Bahkan mereka tertidur di samping jasad Nenek Rukmini hingga pagi.


"Gama, Ayana, aku dan keluargaku turut berdukacita atas kepergian Nenek Rukmini" ucapan bela sungkawa dari Fabio.


"Terima kasih karena sudah menyempatkan diri untuk datang" balas Gama.


"Aku juga turut berdukacita atas kepergian Nenek Rukmini, Gal." ucapan bela sungkawa dari Lucas.


"Terima kasih Lucas" balas Gama.


Lerry, Tio juga hadir dan turut berdukacita atas kepergian Nenek dari sahabatnya.


Pukul 10 pagi, jasad Nenek Rukmini dimakamkan. Setelah proses pemakaman usai, semua pelayat pulang. Kini tinggal Gama, Ayana dan keluarga dekat yang lainnya.


"Kenapa Nenek pergi sebelum cucu-cucu Nenek lahir" ucap Ayana, "Kemarin Nenek minta cucu yang banyak dari Ayana, tapi Nenek malah pergi meninggalkan kamu" lanjutnya sambil terisak.


"Sayang sudah ya ! Tidak baik berbicara seperti itu ! Ini sudah menjadi takdir Tuhan. Mungkin tugas Nenek untuk menyatukan keluarga kita sudah selesai" ucap Gama.


"Benar Nak, menangisi kepergian seseorang untuk selama-lamanya itu tidak dilarang, tapi kita tidak boleh menangis dan berbicara seakan menentang ketetapan Tuhan. Sekarang kita harus ikhlaskan Nenek Rukmini agar Nenek kamu bisa tenang !" sambung Ayah Budianto.


Mereka sama-sama merasa sedih, tapi mereka tidak boleh larut dalam kesedihan mereka. Ini memang sudah menjadi ketetapan dari Tuhan.


"Sebaiknya kita pulang dan istirahat !" ucap Gama.


Meskipun kaki mereka berat melangkah pergi, tapi mereka tidak punya pilihan lain. Mereka tahu, setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada Sang Pencipta.


Kini tugas mereka mengirim doa untuk Nenek Rukmini, dan menjalankan amanah yang ditinggalkan beliau.


🍃


Di rumah sakit, Mona masih setia menemani Angga yang terbaring lemah di ruangan ICU.


"Sayang bangun ya ! Aku ingin meminta maaf padamu, harusnya aku mau mendengarkan penjelasan dari kamu meskipun itu sangat pahit dan menyakiti hatiku" ucap Mona terisak.


Tangannya membelai wajah pucat Angga dengan lembut.


"Sayang, jika memang kamu yang melakukannya pada Dira, aku akan memaafkan kamu dan mengikhlaskan kamu untuk bertanggung jawab padanya. Tapi kamu bangun dulu dan kita selesaikan semuanya" lanjutnya.


Ya, memang Mona belum membaca pesan dari Angga. Pesan yang menjelaskan siapa sebenarnya yang menghamili Dira.


Ia terlalu sibuk menangi dan menyalahkan diri atas apa yang menimpa Angga.


Tak lama, Rangga masuk ruangan tersebut.


"Mon, sebaiknya kamu keluar dulu dan makan !" pinta Rangga.


Mona menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin meninggalkan Angga sama sekali. Ia juga belum merasa lapar.


"Aku tidak lapar" jawabnya.


"Kamu bukannya tidak lapar, tapi kamu terlalu larut dalam kesedihan kamu sehingga membuat selera makan kamu menurun" balas Rangga.


"Apapun penyebabnya, yang jelas aku tidak lapar" kekeh Mona.


Rangga menghela nafasnya dengan berat, Mona begitu keras kepala. Ia tidak mengerti bagaimana kakaknya bisa membuat wanita itu menjadi lunak.


"Sebenarnya, apa yang membuat kalian bermasalah ? Jika dipikir-pikir, hari pernikahan kalian tinggal menghitung hari lagi, tapi mengapa kalian justru memiliki masalah" tanya Rangga penasaran.


Mona terdiam, ia enggan menjawab pertanyaan calon adik iparnya.


"Apa kak Rangga kembali menjadi Casanova ?" tanya Rangga.


Mona menggelengkan kepalanya, "Dia tidak pernah melakukan hal itu lagi" jawabnya.


"Lantas apa yang membuat kalian bertengkar ?" tanya Rangga.


Mona menatap adik iparnya dengan tatapan sedih.


"Sebenarnya..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sa mewek loh nulis ini 🤧


jangan lupa berikan dukungannya ❤️