
...🍃Happy Reading🍃...
Setelah acara makan malam selesai, Ayana langsung pamit ke kamarnya.
Mama Lisa merasa tidak enak pada Gama karena Ayana bersikap dingin saat dirinya datang.
"Maafkan sikap Ayana" ucap Mama Lisa.
"Tidak masalah Tante. Apa yang dilakukan Ayana memang pantas untuk pria pengecut sepertiku" balas Gama yang sama sekali tidak merasa tersinggung dengan sikap Ayana.
Mama Lisa tersenyum hangat pada Gama. Dulu ia juga sama dengan putrinya yang sangat membenci Gama. Tapi setelah Gama pulang dan memperlihatkan kesungguhannya untuk meminta maaf membuatnya luluh.
Toh, setiap manusia pasti melakukan kesalahan, dan setiap manusia pantas untuk mendapatkan kemaafan atas semua kesalahan yang ia perbuat. Semua juga sudah ditentukan oleh Tuhan, jadi kita harus menerima takdir yang telah Tuhan tetapkan.
"Tenang saja ! Kamu masih memiliki kesempatan untuk berjuang, Ayana belum ada yang senggol kok. Tapi harus gercep juga ! Takutnya tiba-tiba datang laki-laki yang melamar Ayana kan bahaya ! Contohnya, Fabio" celetuk Papa Hartono memberikan semangat untuk Gama sekaligus memberinya peringatan.
Gama terdiam, sejenak ia teringat dengan Fabio. Gama belum tahu apakah pria itu benar menyukai Ayana. Tapi kenal bertahun-tahun lamanya dan memiliki hubungan dekat tentu salah satu diantaranya mempunyai rasa suka. Atau bisa jadi Ayana yang suka dengan Fabio.
Tiba-tiba Gama merasa cemas jika cinta Ayana telah berpaling. 'Apa yang harus aku lakukan ?' batinnya frustasi.
'Tidak, aku tidak akan menyerah meskipun Ayana atau pria itu seling mencintai. Aku akan memperjuangkan kembali cintaku' lanjut batinnya.
Melihat Gama melamun, Nenek Rukmini mencoba menyadarkan cucunya.
"Sudah malam, sebaiknya kita pulang !" ucap Nenek Rukmini.
Gama tersadar dan melihat jam, ternyata sudah hampir jam sembilan malam.
"Ah, baiklah kalau begitu. Kami pamit pulang Ya" ucap Gama terdengar berat.
"Om mau pulang ?" Tanya Zayyan mendekat pada Gama.
"Iya sayang" jawab Gama sambil mengacak-acak rambut Zayyan, dan anehnya pria kecil itu tidak menepis tangan Gama.
"Besok kesini lagi ya !" pinta Zayyan.
"Baik pak bos" ucap Gama semangat.
Tadi saat di pinggir kolam. Gama memiliki kesempatan untuk mendekati Zayyan. Ternyata tidaklah sulit mengambil hati putranya. Zayyan yang sangat suka mainan mobil-mobilan mewah membuat Gama gampang mengambil hati Zayyan.
"Besok Om bawakan mainan untuk Zayyan" janji Gama pada putranya.
"Benarkah ?" tanya Zayyan berbinar.
"Iya, Om janji" jawab Gama sambil menjulurkan jari kelingkingnya.
Zayyan mengaitkan jari kelingkingnya yang kecil dengan kelingking Gama yang besar sebagai tanda janji.
"Zayyan tunggu ya Om" ucap Zayyan.
Gama tersenyum senang, karena Zayyan menerimanya meskipun hanya status Om saja.
"Ya sudah, kalau begitu kami pulang dulu" ucap Gama pamit.
"Hati-hati" pesan Mama Lisa.
Sebelum Gama mendorong kursi roda Nenek Rukmini, wanita tua itu menyempatkan untuk berbalik melihat Omah. Sebelah matanya berkedip sebagai kode. Sontak Omah menaikkan jempolnya. Entah apa yang direncanakan kedua nenek tua itu, yang jelas hanya mereka berdua yang tahu dan juga Tuhan beserta malaikatnya.
Gama melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak butuh waktu lama mereka sudah tiba di rumah. Gama segera membantu sang Nenek duduk di kursi roda. Setelah itu ia mendorongnya masuk ke rumah. Tak disangka kedua orang tua Gama menunggu kedatangan mereka.
"Darimana ?" tanya Ayah Budianto dingin.
"Bukan urusan Ayah" jawab Gama tak kalah dinginnya.
"GAMA !!!" Geram Ayana Budianto.
"Ayah tahan emosi !" Tegur Bunda Mila.
Bunda Mila mendekati Gama dan menggantikan Gama mendorong kursi roda ibu mertuanya.
"Gama sebaiknya kamu duduk sebentar ! Ada yang ingin Ayah dan Bunda sampaikan. Bunda bawa Nenek kamu dulu masuk ke kamar" ucap Bunda Mila.
Sementara di dalam Bunda Mila membantu sang ibu mertua berbaring di atas ranjang setelah membantu Nenek Rukmini mengganti pakaian.
"Ibu istirahat ya !" ucapnya lembut.
Saat Bunda Mila hendak keluar tiba-tiba tangannya dipegang oleh Nenek Rukmini. Wanita paruh baya itu berhenti lalu menoleh pada ibu mertuanya.
"Jangan paksa Gama menuruti kemauan kalian lagi ! Putramu sudah cukup berkorban, biarkan dirinya mencari kebahagiaannya sendiri ! Dan kebahagiaan Gama adalah wanita yang ia cintai" pesan Nenek Rukmini dengan mata yang berembun.
Bunda Mila tertegun mendengar ucapan Nenek Rukmini. Memang benar jika hanya Gama lah yang bisa menentukan kebahagiaannya sendiri.
Bunda Mila kemudian meninggalkan kamar ibu mertuanya. Ia ikut bergabung bersama suami dan putranya dengan perasaan bimbang.
"Kamu darimana ?" tanya Ayah Budianto sekali lagi.
"Gama mau kemana saja, itu bukan urusan Ayah" jawab Gama.
"Gama... Jangan seperti itu Nak ! Ayah kamu bertanya baik-baik, jawab yang baik juga dong !" celetuk Bunda Mila lembut.
Gama tidak menggubris ucapan sang Bunda, menurutnya kedua orang tuanya sama saja, sama-sama egois.
"Katakan saja apa yang ingin kalian sampaikan ! Gama ingin pulang istirahat" ucap Gama.
"Pulang kemana ? Rumah kamu disini !" Ucap Bunda Mila.
"Katakanlah ! Gama sangat lelah hari ini, Gama malas berdebat" ucapnya.
Bunda Mila menarik nafas panjang. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya ia melunakkan hati Gama.
"Tadi siang Shintia datang kemari, ia merengek pada Bunda untuk segera mempercepat acara pertunangan kalian" jelas Bunda Mila.
"Pertunangan itu tidak akan pernah terjadi" ucap Gama tegas.
"Kamu tidak bisa menolak !" Ucap Ayah Budianto.
"Gama berhak menolak, kalian tidak bisa menentukan pilihan Gama lagi ! Hidup Gama bukan Bunda dan Ayah yang jalani, jadi berhenti mengatur hidup Gama !" Geram Gama.
"Berani kamu melawan ?" teriak Ayah Budianto, "Memang apa yang kamu harapkan lagi pada wanita itu ? Kamu bahkan tidak bisa menemukannya. Lagipula Shintia lebih baik daripada wanita itu" lanjutnya dengan dada yang naik turun.
Ia tahu alasan putranya terus menolak menikah dengan Shintia, semua karena Ayana.
Gama tersenyum miring, "Ayah jangan sok tahu. Jika pun Gama tidak bisa menemukan Ayana, Gama lebih memilih hidup menyendiri tanpa harus menikah dengan wanita lain. Hanya Ayana yang ada di hati Gama" ucapannya tegas.
Ayah Budianto mengepalkan tangannya, Gama sungguh keras kepala.
"Jangan terlalu mencintai seseorang sampai-sampai kamu berpikiran bodoh seperti itu !" ucap Ayah Budianto.
"Jangan naif Ayah" ledek Gama, " Ayah juga pernah melakukan hal yang bukan ? Menghamili Bunda hingga Gama lahir dan menentang Nenek demi hidup bersama dengan Bunda, wanita yang Ayah cintai. Bahkan dengan teganya Ayah mengusir ibu kandung Ayah sendiri. Yang lebih bodoh siapa ? Gama atau Ayah ?" lanjutnya semakin membuat sang Ayah emosi.
"GAMA !!! BERANINYA KAU-" teriak Ayah Budianto emosi. Pria paruh baya itu baru saja ingin memukul putranya tapi niat buruknya ia urungkan karena terdengar suara Nenek Rukmini.
"Hentikan Budi !" ucap Nenek Rukmini berusaha berteriak walaupun kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi.
Sontak tangan Ayah Budianto tertahan di atas kepalanya. Ia menarik tangannya Lely menengok sang Ibu.
Bunda Mila yang menunduk karena ketakutan melihat emosi suaminya meluap kini mengangkat kepalanya, ia menghampiri Ibu mertuanya dan hendak mendorong kursi rodanya masuk ke kamarnya.
"Jangan ! Ibu tidak ingin masuk, Ibu ingin ikut bicara dengan kalian" ucap Nenek Rukmini mengehentikan membuat Bunda Mila memutar kursi roda sang Ibu mertua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩
Author : Nirwana Asri
Judul : Dikira Melarat Ternyata Konglomerat