Young Mommy

Young Mommy
Part 36



...🍃Happy Reading🍃...


Sudah beberapa bulan sejak Gama pulang dari Jerman, tapi pria itu tidak pernah tinggal rumah orang tuanya. Sejak ia tahu jika kedua orang tuanya sangat kejam menelantarkan Neneknya.


Gama hanya akan pulang jika Nenek Rukmini memintanya, tapi tetap saja Gama tidak menginap di rumah orang tuanya. Ia lebih senang tinggal di apartemen miliknya, menghabiskan waktu untuk mencari keberadaan Ayana.


Memang Gama tidak pernah berhenti mencari keberadaan wanita yang ia cintai. Tapi sayangnya, Ayana hilang bagaikan di telan bumi.


Pernah Gama bertanya pada orang tua Ayana, tapi jawaban mereka membuat Gama merasa sedih. Ayana pergi entah kemana, bahkan keluarganya tidak ada yang tahu dimana ia berada. Hal yang membuat Gala serasa menemukan jalan buntu.


Masalah Ayana belum terpecahkan, kini ia harus dihadapkan lagi dengan masalah perjodohannya dengan Shintia. Kedua orang tuanya membangun kerja sama dengan kedua orang tua Shintia dengan syarat Gama dijodohkan dengan Shintia. Hal yang membuat Gama marah karena orang tuanya setuju tanpa meminta pendapat Gama terlebih dahulu.


Ia sudah muat dengan. Semua keegoisan orang tuanya, terutama sang Bunda. Sudah cukup banyak yang ia korbankan untuk menuruti permintaan orang tuanya. Kali ini Gama ingin bersikap egois.


"Tapi perjanjian kerjasama kita dengan orang tua Shintia bisa batal jika kamu tidak ingin menerima perjodohan ini Gama. Kita akan mengalami kerugian besar jika perjanjian ini batal" ucap sang Bunda.


"Gama tidak perduli. Kali ini Gama ingin bersikap egois Bunda. Gama ingin mencari kebahagiaan Gama. Dan kebahagiaan Gama adalah bersatu dengan Ayana" ucap Gama sebelum pergi.


Perdebatan para ibu dan anak itu tak luput dari perhatian Nenek Rukmini. Nenek tua itu menekan tombol di kursi rodanya sehingga bisa berjalan ke arah Bunda Mila.


"Sudahlah Mila ! Jangan paksakan kehendakmu ! Biarkan Gama mencari kebahagiaannya sendiri ! Jangan sampai kamu menyesali perbuatannya sama halnya yang pernah Ibu rasakan" ucap Nenek Rukmini sambil mengelus pundak menantunya.


Ia tahu sebenarnya menantunya itu baik hati. Hanya saja masa lalu membuat Ibu Mila berubah jadi arogan dan memiliki sifat kejam seperti ini.


"Tapi Bu, buat bagaimanapun Gama tidak akan pernah bisa menemukan wanita itu. Bahkan keluarganya saja tidak mengetahui dimana keberadaannya. Mila hanya tidak ingin Gama terlalu fokus mencari wanita itu sehingga melupakan kehidupannya sendiri" balas Bunda Mila lembut.


"Berikan waktu untuk putramu, Nak !" pinta Nenek Rukmini. Ia sebenarnya sedih melihat keadaan Gama yang terlihat terpuruk, meskipun Nenek Rukmini tidak tahu wanita yang Gama cintai, tapi Nenek Rukmini yakin jika wanita itu pasti wanita baik-baik.


🍃


Wanita itu baru saja keluar dari rumahnya, ia hendak memanaskan mesin mobilnya. Setelah itu ia kembali ke dalam rumahnya dan sarapan bersama Zayyan. Selesai acara sarapan, Ayana memandikan Zayyan terlebih dahulu sebelum ia juga membersihkan diri.


Semenjak bertemu dengan Tio dan Lerry, Ayana menjadi waspada saat keluar rumah. Ia tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Hidupnya sudah cukup tenang jauh dari orang-orang yang berhubungan dengan Gama.


"Semoga saja mereka sudah tidak di kota ini" harap Ayana.


Sesampainya di toko miliknya, Ayana terkejut karena Fabio datang pagi-pagi.


"Om Bio..." teriak Zayyan senang.


"Hay Boy..." Sapa Fabio.


"Tumben datang pagi-pagi" ucap Ayana.


Wanita itu lalu duduk di samping Fabio. Ia meletakkan tasnya di atas meja.


"Kan hari Minggu. Kemarin aku tidak bertemu dengan anak tampan ini makanya aku kemari sekalian sarapan pagi" jawab Fabio sambil mencubit pipi Zayyan.


"Jangan Om... Zayyan bukan anak perempuan yang suka dicubit pipinya" ucap Zayyan sedikit kesal. Memang anak itu tidak senang jika pipinya dicubit apalagi dicium.


"Memang anak perempuan suka dicubit pipinya ?" tanya Fabio menggoda Zayyan.


Zayyan mengangguk dengan polosnya sehingga membuat Fabio terkekeh.


"Kamu sibuk nggak ?" tanya Fabio pada Ayana.


"Memangnya kenapa ?" tanya Ayana.


"Kita jalan-jalan yuk ! Udah lama kita nggak jalan" ajak Fabio.


"Jalan-jalan ? Kita mau jalan-jalan ?" tanya Zayyan antusias.


"Ayo Ma, kita jalan-jalan yuk !" pinta Zayyan.


Ayana menatap wajah putranya, ia tampak berpikir. Sepertinya Zayyan sangat menginginkannya, lagipula mereka memang sudah lama tidak jalan-jalan karena sangat sibuk.


"Baiklah, tapi Mama selesaikan beberapa pekerjaan dulu ya !" ucap Ayana setuju.


"Ok Ma, yeeey... Asik, akhirnya kita jalan-jalan" ucap Zayyan melompat senang.


Ayana tersenyum melihat tingkah putranya, begitu juga dengan Fabio yang ikut senang melihat Zayyan kegirangan.


Tiga puluh menit, akhirnya pekerjaan Ayana selesai, sisanya tinggal karyawannya yang mengerjakan.


"Pakai mobilku saja !" ucap Fabio.


Ayana mengangguk lalu ikut masuk di mobil Fabio. Ia duduk di samping Fabio sementara Zayyan duduk di belakang.


"Kita mau kemana ?" tanya Ayana.


"Kamu maunya kemana ? Ke pelaminan juga bisa" tanya Fabio sedikit menggoda Ayana.


"Ck... Kamu ini" ucap Ayana memutar bola matanya dengan malas.


"Memang aku kenapa ? Aku serius loh Ayana, kalau mau ke pelaminan aku mah ayo aja" ucap Fabio semakin menggoda Ayana.


"Berhenti membicarakan omong kosong !" pinta Ayana.


"Ini bukan omong kosong loh Ayana. Sudah berapa kali aku memintamu menikah denganku, tapi kamu selalu menganggapnya hanya gurauan" balas Fabio kini serius.


"Menikah bukanlah perkara yang mudah, semua membutuhkan pertimbangan yang matang. Yang paling penting soal perasaan. Apa jadinya sebuah rumah tangga jika tidak ada cinta di dalamnya ?" Ayana menatap Fabio yang sedang fokus menyetir.


"Aku sering mengatakan perasaanku padamu, tapi kamu selalu menolak. Aku benar-benar mencintai kamu Ayana. Perasaan ini bukanlah tipuan, melainkan kenyataan" balas Fabio.


"Tapi aku tidak bisa mencintaimu. Aku tidak bisa mencintai pria manapun. Hatiku sudah mati rasa" ucap Ayana sambil memandang jalanan lurus.


"Hatimu bukan mati rasa. Kamu hanya terlalu fokus pada luka hatimu sehingga membuat dirimu takut jatuh cinta" balas Fabio.


"Sudahlah Bio, jika kamu selalu membahas hal semacam ini sebaiknya kita pulang saja !" pinta Ayana yang mulai merasa tidak nyaman.


"Maaf" ucap Fabio. Ia tahu dirinya telah salah terlalu memaksa Ayana mengerti akan perasaannya.


Ayana tidak menjawab, ia memilih diam. Sebenarnya ia merasa bersalah telah menolak cinta Fabio. Tapi perasaan tidak bisa dipaksa. Bahkan selama ini ia berusaha memaksa hatinya untuk membenci Gama, tapi sayangnya cintanya selalu mampu membuat rasa benci itu kembali padam. Entah sampai kapan Ayana tersiksa dengan perasaannya sendiri. Ketika mengingat luka yang ia alami maka rasa benci itu akan membuncah, tapi jika ia teringat kenangan manisnya dengan Gama maka perlahan rasa benci itu berkurang karena dikalahkan oleh rasa cintanya.


Tanpa terasa mereka telah tiba di pantai Kenjeran Surabaya. Zayyan sangat antusias tidak sabar ingin bermain di pantai. Raut wajah senang Zayyan membuat hati Ayana kembali membaik.


"Sepertinya Zayyan sangat menyukai tempat ini" ucap Ayana pada Fabio sambil tersenyum.


"Ya, sepertinya begitu. Aku ingin senang jika Zayyan menyukainya" Fabio membalas senyuman Ayana.


Seperti ini lah mereka jika sedang perang dingin. Pasti salah satunya akan mencari pembahasan agar mereka bisa baikan lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩



Judul : Saga Antara Cinta Dan Ego


Author : Eveliniq