
...🍃Happy Reading🍃...
*Flashback On*
Dira dan Mona baru saja pulang dari kampus.
"Hari ini jadi nggak temenin aku ke birthday party Leo ?" tanya Mona pada Dira.
"Jadi, asal kamu jemput aku. Soalnya kamu tahu sendiri kan sifat orang tua aku kayak gimana" jawab Dira.
"Ok, jam 7 malam aku jemput kamu ya" ucap Mona.
"Ok, sip"
Leo adalah kakak tingkat mereka sekaligus gebetan Mona. Leo dan Mona baru dekat satu bulan. Malam ini, Leo mengadakan acara ulang tahun, tentu saja Mona diundang. Main yang tidak ingin pergi sendirian, akhirnya meminta Dira menemaninya.
Malam itu, Mona dan Dira hadir di acara ulang tahun Leo. Acara ulang tahun itu diadakan di sebuah club malam.
"Mona, kok kamu berani sih datang ke acara ulang tahun Leo ?" tanya Dira.
"Sebenarnya aku nggak berani, makanya aku ngajakin kamu. Aku nggak enak juga nolak permintaan Leo. Lagipula kan banyak orang, nggak hanya kita aja" jawab Mona.
Tak lama Leo menghampiri mereka. Mona dan Dira melempar senyum pada pria itu.
"Akhirnya kamu datang" ucap Leo senang.
"Tentu saja aku datang. Selamat ulang tahun Leo" ucap Mona.
"Terima kasih" balas Leo, "Kamu temenin aku potong ku ya, soalnya kamu adalah tamu yang istimewa" lanjutnya.
Wajah Mona tersipu malu kala mendengar rayuan Leo. Leo menarik tangan Mona dengan lembut.
Dira hanya menatap sahabatnya tanpa berniat mengikutinya. Dira lalu mencari tempat duduk. Tak lama seorang pria menghampiri Dira.
"Boleh duduk disini ?" tanyanya ramah.
Dira hanya mengangguk, tanpa rasa curiga ia membiarkan pria itu duduk di meja yang sama dengannya. Tak ada pembicaraan yang terjadi diantara mereka, hanya pria itu yang melirik-lirik Dira. Sementara itu, Dira yang fokus pada sahabatnya yang tertawa gembira tidak menyadari jika dirinya sedang dalam bahaya.
Setelah acara potong kue, Mona dan Leo menghampiri Dira. Pria yang duduk di samping Dira pun pergi.
"Dira, nanti kamu bisa bawa mobil aku pulang. Aku mau lanjut dinner dengan Leo. Tidak apa-apa kan ?"
Dira mengangguk sebagai jawaban. Tidak mungkin juga ia menolak, melihat wajah Mona yang tampak bahagia membuatnya tidak tega menghancurkan kebahagiaan sahabatnya itu.
"Kalau begitu aku pulang duluan saja" ucap Dira.
"Aku antar ke depan ya"
"Tidak perlu"
"Ya sudah, kamu hati-hati ya" pesan Mona.
"Iya bawel"
Dira pun keluar sendirian, wanita itu berjalan menuju mobil Mona. Saat hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba dari arah belakang seseorang membekap mulutnya dengan sapu tangan. Dira sempat memberontak, namun dalam waktu sekejap wanita itu tidak sadarkan diri.
Pria itu lali menyeret Dira ke dalam mobilnya. Setelah berhasil membaringkan Dira di jok belakang, pria itu lalu melajukan mobilnya menuju apartemennya.
Dalam keadaan tidak sadar, Dira kehilangan kehormatannya sebagai seorang wanita. Wanita itu dilecehkan berkali-kali hingga pria itu merasa sangat puas.
Pagi harinya, Dira terbangun dengan kepala yang berat. Wanita itu mencoba mengubah posisinya menjadi duduk, walaupun perasaannya masih linglung. Cukup lama Dira memijit kepalanya, setelah merasa agak enakan Dira mulai menyadari jika dirinya berada di tempat asing.
"Dimana aku ?" gumannya. Ia menatap sekelilingnya mencoba memastikan jika dirinya memang berada di ruangan asing.
Matanya membulat kala teringat kejadian semalam, dirinya yang hendak masuk ke mobil namun tiba-tiba seseorang membiusnya.
"Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi ?"
DEG.
Jantung Dira seolah berhenti berdetak kala turun dari ranjang, ia melihat tubuhnya polos tanpa sehelai benang. Rasa perih di bagian intimnya membuatnya semakin membeku. Matanya lalu melirik bercak darah di atas seprai, meskipun seprai itu berwana Pink, tapi Dira tahu jika itu adalah noda darah.
Seketika kakinya Dira melemas saat mengetahui dirinya telah dilecehkan. Tubuhnya bergetar hebat.
"Apa ini mimpi ?" Ucap bibirnya bergetar. Wanita itu menampar wajahnya berulang kali, hingga air matanya mengalir deras.
"Ini bukanlah mimpi, ini nyata. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan ? Kehormatan ku hilang dan aku tidak tahu pria yang telah merenggutnya. Bagaimana ini ? Pasti keluargaku akan marah besar. Apa yang harus aku lakukan ?"
Tangisan Dirah pecah, hidupnya benar-benar hancur.
"Dasar ******" teriak Papa Dira.
Dira menunduk ketakutan, selama ini ia selalu menjadi anak yang penurut dan baik.
Sang Mama menghampiri Dira dan memberikan sebuah tamparan keras di pipi Dira. Dira memegang pipinya yang terasa perih akibat tamparan dari sang Mama.
"Beginilah jadinya kalau salah pergaulan. Makanya dari dulu Mama dan Papa melarang kamu berteman dengan wanita seperti Ayana" emosi sang Mama juga meledak.
"Ma, Dira udah nggak pernah bertemu dengan Ayana jadi jangan bawa-bawa Ayana lagi !" balas Dira.
"Dasar anak kurang ajar. Sudah bikin Mali tapi masih bisa melawan" teriak sang Mama.
"Dulu Papa sudah memperingatkan kamu untuk mejadi anak yang membanggakan, tapi hari ini kamu justru membuat Papa dan Mama malu. Hari ini juga, kamu bukan anak Papa dan Mama. Angkat kaki dari rumah ini !"
Dira mengangkat kepalanya dan menatap sang Papa dengan tatapan tidak percaya. Tangisannya semakin pecah, ia mencoba merayu sang Papa agar merubah pikirannya.
"Pa, jangan usir Dira ! Jika kalian mengusir Dira, lalu Dira akan tinggal dimana ?"
Dira terus memohon pada Papanya, bahkan ia memeluk kaki sang Papa dengan erat. Tapi sayangnya, sang Papa tidak merasa iba dengannya. Bahkan Pria patuh baya itu menendang Dira hingga tersungkur ke belakang.
"Angkat kakimu dari rumahku !" tegas sang Papa.
Setelah diusir dari rumah, Dira meminta bantuan pada Mona. Ia menceritakan semua kejadian beberapa Minggu lalu. Mona merasa bersalah pada Dira. Seandainya mereka tidak ke club, mungkin kejadian ini tidak akan menimpa Dira.
Tapi Dira tidak menyalahkan Mona. Mungkin ini takdir yang harus Dira terima.
Beberapa bulan kemudian, Dira batu saja memeriksa kandungannya. Kali ini Dira pergi sendirian, jika biasanya ia pergi dengan Mona. Tapi karena kebetulan Mona memiliki acara penting, akhirnya Dira pergi sendirian.
Setelah melakukan pemeriksaan, Dira keluar dari rumah sakit. Wanita itu menunggu taksi online yang ia pesan. Saat taksi online pesannya tiba, Dira hendak segera masuk ke mobil itu. Tapi seseorang menabrak tubuhnya.
Tubuh wanita itu hampir saja terhuyung ke belakang, untungnya pria itu dengan sigap menarik tangannya.
"Maaf, aku terlalu buru-buru" ucap pria itu merasa bersalah.
Dira tidak menjawab, ia masih syok dengan kejadian tadi. Tangannya mengelus perutnya. Untung saja ia tidak jatuh, jika ia jatuh entah apa yang akan terjadi pada dirinya dan calon bayinya.
"Apa kamu tidak apa-apa ?" tanyanya lagi.
Dira tersentak, ia menatap pria yang hampir menabraknya. Ternyata pria itu adlah seorang Dokter. Dira menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kita coba periksa dulu ya ! Takut ya ada terjadi apa-apa pada kalian"
"Tidak apa-apa Dok. Saya juga baru saja memeriksa kandungan" tolak Dora halus.
"Tapi tadi kamu terkejut, sebaiknya kita periksa ulang !" ajak pria itu sekali lagi. Kali ini tangan Dira ditarik oleh pria itu menuju Dokter Obgyn.
Setelah melakukan pemeriksaan, pria itu kembali mengucapkan kata maaf pada Dira.
"Sekali lagi maafkan saya" ucapnya tulus.
"Tidak masalah, lagipula aku dan calon bayiku tidak apa-apa" balas Dira.
"Oh, ya perkenalkan namaku Aaron" pria itu mengulurkan tangannya.
Dira pun membalas uluran tangan pria itu seraya memperkenalkan diri "Dira"
"Kalau boleh tahu suaminya kemana ?" tanya Aaron.
Dira tidak menjawab, tidak mungkin ia mengatakan jika ia hamil di luar nikah hasil dari pelecehan seksual. Tidak mungkin juga Dira berbohong pada pria.
Melihat diamnya Dira membuat Aaron bingung, tapi pria itu tidak bertanya lagi. Ia pikir dirinya terlalu lancang menayangkan hal pribadi dengan wanita yang baru saja ia kenal.
"Maaf, kalau begitu aku pamit kerja ya" ucap Aaron, ia merasa canggung setelah memberikan pertanyaan pada Dira.
"Ah, silahkan ! Aku juga mau pulang" balas Dira.
Itu adalah wala mula Aaron bertemu dengan Dira. Dan sejak saat itu mereka sering saling sapa ketika bertemu. Lama-lama hubungan mereka menjadi dekat. Dira mulai nyaman bercerita pada Aaron.
*Flashback Of*
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ok, segitu dulu ya bahas Dira dan Aaron 🤗
maaf ya, karena telat update 🙏