
...🍃Happy Reading🍃...
Ayana meninggalkan Gala yang terdiam bagaikan patung. Wanita itu sama sekali tidak mengenali Gala karena rambut Gala yang sedikit gondrong serta wajah yang tertutup masker dan kacamata hitam.
Sepeninggalan Ayana, Gala kembali bernafas lega. Untung saja ia tidak ketahuan. Ia segera berdiri dan keluar dari toko milik Ayana. Ia menatap mobil Ayana yang mulai menjauh.
Dengan langkah yang cepat Gala masuk mobilnya hendak mengejar mobil Ayana, tapi sialnya gadget miliknya berbunyi dia waktu yang kurang tepat.
"Ck... Siapa sih ?" Ia berdecak kesal sambil merogoh kantongnya. Ia menatap layar gadgetnya dan membaca nama pemilik nomor yang menelponnya.
"Kenapa nelpon sih ?" pekik Gala.
📞"Kamu dimana ?" tanya Tio.
"Ck... Kamu kayak pacarku saja yang namanya kamu dimana" kesal Gala.
📞 "Ih najis banget. Aku serius Gala, kamu dimana ?" tanyanya sekali lagi.
"Kamu nenyee aku dimana ? Kamu bertanya-tanya ?" Balas Gala sebelum menutup panggilannya.
Ia melempar gadgetnya di kursi sampingnya.
"Akh sialan si Tio. Jadi kehilangan jejak kan, udah nyarinya susah sekalinya dapat malah hilang" umpatnya kesal.
Ia kehilangan mobil Ayana. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kos-kosannya.
🍃
Sementara Ayana yang tadinya ingin masuk mini market, kini mengurungkan niat kala ia bertemu dengan Tio dan Lerry.
"Ya Tuhan, kenapa mereka bisa disini ?"
Ayana yang panik segera menancap gas meninggalkan mini market tersebut.
Tio dan Lerry yang sempat tertegun saat melihat Ayana kini kembali sadar, tapi sayangnya wanita itu sudah pergi.
"Kenapa kita malah kayak patung tadi ?" tanya Lerry.
"Kamu nenyee ? Kamu bertanya-"
"Bacot" potong Lerry kesal sambil menjepit mulut Tio.
"Sialan kamu" umpat Tio saat mulutnya sudah terlepas dari jepit tangan Lerry.
Mereka segera meninggalkan mini market tersebut, mereka tidak sabar menceritakan pertemuan mereka dengan Ayana. Pasti Gala sangat terkejut.
Sesampainya di kos-kosan, Tio dan Lerry segera menghampiri Gala yang sedang melamun.
"Woiii, ngelamun aja sih, kesambet setan baru tahu rasa" ucap Tio mengagetkan Gala.
"Sialan kamu. Kalaupun aku kerasukan, orang pertama yang aku cekik pasti kamu" kesal Gala.
"Wish, santai bos ! Kayak cewek PMS aja, sensitif" ledek Tio.
Gala memukul pundak Tio cukup keras, "Gara-gara kamu aku jadi kehilangan jejak" ucap Gala menyalahkan Tio.
"Kok aku sih ? Perasaan kita nggak bareng tadi" balas Tio sambil mengelus pundaknya yang terasa perih.
"Tadi pas kamu telpon, nggak tepat banget" jelas Gala.
"Memangnya kamu kehilangan jejak siapa ?" tanya Lerry penasaran.
Seketika Gala terdiam, tidak mungkin ia mengatakan jika ia kehilangan jejak Ayana. Biarlah ia mencari tahu tempat tinggal Ayana dulu, baru ia akan berkata jujur pada kedua sahabatnya.
"Bu-bukan siapa-siapa" jawab Gala.
"Kayaknya kamu udah beneran dapat cewek baru deh" goda Tio.
Gala tidak menghiraukan ucapan Tio, ia tahu temannya itu jika diladeni makin tambah menjadi-jadi.
"Ya, padahal kita mau kasih informasi tentang Ayana" sambung Lerry.
Mendengar nama Ayana disebut membuat Gala menatap serius ke arah Lerry.
"Ayana ?" beo Gala.
Lerry dan Tio mengangguk. Seketika Gala penasaran ada apa dengan Ayana. Melihat wajah Gala yang menunggu penjelasan dari mereka, akhirnya Gala membuka suara.
"Tadi kami bertemu dengan Ayana di mini market, pas Ayana melihat kami dengan langkah yang cepat wanita itu masuk mobilnya. Kami yang masih terpaku karena terkejut melihat Ayana, tidak bisa mencegah wanita itu pergi. Ayana melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga mobilnya hilang dari pandangan kami. Kita berdua baru sadar saat Ayana sudah pergi"
"Benar sekali" sambung Lerry.
"Kalian sangat bodoh. Aku justru sengaja menghindari Ayana agar tidak ketahuan, kalian malah terang-terangan muncul di hadapannya. Jika seperti itu, maka kita semakin sulit menemukan Ayana"
"Tunggu dulu ! Kamu bilang sengaja menghindari ? Maksudnya apa ?" tanya Lerry yang tidak bisa mengerti ucapan Gala.
Gala menghela nafas panjang lalu menceritakan apa yang ia lihat di restoran tadi. Tio dan Lerry menjadi pendengar baik dan sesekali mengangguk saat mengerti dengan ucapan Gala.
"Tapi gara² ank curut ini, aku jadi kehilangan Ayana" umpat Gala mantap kesal ke arah Tio.
Tio yang menjadi tersangka utama kini cengengesan seperti kuda. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berkata "Ya mana aku tahu"
🍃
Ayana yang baru saja tiba di rumahnya segera mengambil air di gelas dan meminumnya hingga tandas. Ia masih terkejut dengan pertemuan dirinya dan kedua sahabat Gala.
"Mereka sedang apa disini ?" tanyanya penasaran.
"Ya Tuhan, semoga saja itu terakhir kalinya aku bertemu dengannya" harap Ayana.
Setelah merasa tenang, Ayana berjalan ke kamarnya. Wanita itu hendak mengganti pakaian lalu kembali ke toko Bakery miliknya.
Tak lama Ayana keluar dan mendapati putranya duduk di ruang tengah sedang menonton film kartun kesukaannya.
"Putra Mama sudah bangun ?"
Ayana menghampiri putranya lalu mengelus lembut kepalanya.
"Bunda mau ke toko lagi ?" tanya Zayyan.
"Iya sayang, kamu mau ikut ?"
"Zayyan mau ke rumah Omah Shita aja" jawab Zayyan.
Memang Zayyan sangat dekat dengan keluarga Fabio, terutama Ibu Shita.
"Ya sudah, kamu ganti baju dulu habis itu kita langsung ke rumah Omah Shita" perintah Ayana.
"Baik Ma" Zayyan segera mesum kamarnya dan mengganti pakaiannya. Anak kecil yang hampir memasuki usia 5 tahun ini memang sudah bisa melakukan banyak hal dengan mandiri.
Selesai bersiap-siap Ayana dan Zayyan berangkat ke rumah Fabio. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Ibu Shita.
"Fabio belum pulang Bu ?" tanya Ayana.
"Belum, sepertinya lembur" jawab Ibu Shita.
Ayana mengangguk paham. Memang sejak Fabio memegang tanggung jawab di perusahaan sang Ayah, pria itu sering lembur.
🍃
"Bunda..." Teriak Gama yang baru saja masuk ke rumah orangtuanya.
"Bunda..." Teriaknya sekali lagi.
Dadanya naik turun karena amarah yang membuncah di hatinya. Ia marah pada orangtuanya yang tiba-tiba menjodohkannya dengan Shintia.
"Gama, akhirnya kamu pulang sayang. Duduk dulu ! Bunda mau bicara sesuatu padamu" ucap Bunda Mila yang baru saja keluar dari kamarnya. Wanita paruh baya itu merasa senang akhirnya putra sulungnya ingin menginjakkan kakinya kembali di rumah ini.
"Maksud Bunda apa jodohin Gama sama Shintia ?" tanya Gala penuh penekanan.
"Sayang, umur kamu sudah cukup untuk menikah. Bunda bukan menjodohkan kamu dengan Shintia, Bunda hanya ingin kamu dekat dulu dengan Shintia. Jika kalian cocok kalian bisa melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius" jelas Bunda Mila tanpa rasa bersalah.
"Itu sama saja Bun. Gama tidak mau dekat dengan wanita manapun. Bagi Gama hanya Ayana wanita yang akan menjadi pendamping hidup Gama, titik !" tegas Gama.
"Dicoba saja dulu Gama ! Kalau tidak cocok kamu bisa cari yang lain. Lagipula apa kurangnya Shintia ? Dia wanita berpendidikan, wanita mandiri, wanita baik-baik, dan jelas dari keluarga siapa. Jangan menutup hati pada wanita lain, belum tentu wanita yang kamu inginkan menginginkan kamu juga" balas Bunda Mila sedikit kesal. Sudah lima tahun lamanya, Gama masih saja mengingat wanita itu.
"Cukup Bunda ! Jika Gama bilang tidak mau ya tidak mau. Bisa tidak Bunda sekali ini jangan bersikap egois ? Gama muak selalu menuruti permintaan Bunda. Gama melepaskan impian Gama agar bisa menggantikan Ayah di perusahaan. Semua perjuangan Gama sia-sia selama kuliah empat tahun di Jerman. Bahkan demi impian Gama, Gama meninggalkan wanita yang paling Gama cintai dalam keadaan mengandung. Tapi karena permintaan Bunda, Gama terpaksa melepas cita-cita Gama menjadi Dokter. Tak hanya sampai disitu keegoisan Bunda, bahkan Bunda tega menyembunyikan tentang Nenek dari kami. Gama muak jika Bunda terus-menerus mengekang Gama untuk mengikuti kemauan Bunda"
Amarah Gama yang sedari tadi ia tahan kini meledak-ledak bagaikan petasan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩
Author : Navizaa
Judul : Eternal Enemy