Young Mommy

Young Mommy
Part 43



...🍃Happy Reading🍃...


Sementara sebuah kafe, tiga pria dewasa saling diam menatap anak kecil yang sedang lahap memakan makanan pesanannya.


Gama, Lucas, Fabio dan Zayyan saat ini berada di sebuah cafe yang tidak jauh dari restoran milik Gama.


Beberapa saat yang lalu, Fabio mengajak Gama ke sebuah cafe, tak lupa pria itu menelpon sepupunya untuk ikut agar suasana tidak canggung.


Gama dan Lucas menatap wajah Zayyan dengan takjub. Benar-benar wajah Zayyan dan Gama bagaikan pinang dibelah dua, tidak ada yang membedakan. Sementara Fabio hanya menatap seperti biasanya, ia memang senang melihat Zayyan saat makan seperti ini dengan mulut yang penuh.


"Ku rasa, Ayana terlalu membencimu makanya wajah Zayyan sangat mirip denganmu" bisik Lucas pada Gama.


"Kurasa juga seperti itu" jawab Gama tanpa mengalihkan etensinya.


"Apa kamu tidak ingin memeluknya ?" tanya Lucas.


Gama tidak menjawab. Ia terdiam bukan karena tidak ingin membawa putranya dalam pelukannya, tapi ia sedang berpikir bagaimana cara ia mendekatkan diri pada Zayyan.


'Apa aku masih memiliki kesempatan untuk bersama kalian ?' batinnya.


Sepertinya akan sangat sulit membawa Ayana ke dalam hidupnya karena wanita itu terlihat sangat membencinya.


Fabio yang melihat Gama menatap Zayyan dengan tatapan sedih membuatnya tidak tega. Meskipun sebenarnya ia tidak suka pria itu karena telah membuat hidup Ayana dalam kesulitan. Tapi Gama tetap Papa Zayyan.


"Om Bio, Zayyan udah kenyang. Kita bisa pulang sama Mama ?" tanya Zayyan saat dirinya selesai makan.


Bio tersenyum pada Zayyan lalu berkata, "Nanti kita pulang ya ! Mama kamu lagi ada urusan dan nggak boleh diganggu !" ucap Bio.


"Mama ada kerjaan ya ?" tanya Zayyan yang mendapat anggukan kepala dari Fabio.


"Oh iya, Zayyan masih ingat nggak sama Om Lucas ?" tanya Fabio mengalihkan pembicaraan.


Zayyan mengikuti arah telunjuk Fabio. Ia lalu menatap wajah Lucas yang tampak tidak asing. Tapi ia lupa siapa pria itu.


Fabio yang melihat wajah bingung Zayyan akhirnya mencoba anak kecil itu mengingat Lucas.


"Om Lucas itu sepupunya Om Bio. Kita pernah ketemu dengan Om Lucas saat ulang tahun Omah Shita. Sudah ingat ?"


Zayyan masih terlihat mengingat-ingat pertemuannya dengan Lucas. Tak lama anak kecil itu mengangguk.


"Zayyan mengingatnya. Om Lucas yang bawa Mama kabur kan ? Om Lucas berbuat apa sama Mama sehingga Mama menangis saat pulang ke rumah ?" tanya Zayyan dengan raut wajah marah.


Mendengar pertanyaan Zayyan membuat Lucas membulatkan matanya. Bisa-bisanya anak itu menuduhnya berbuat sesuatu pada Mamanya.


"Hai anak tampan, Om tidak melakukan apa-apa pada Mamamu" elak Lucas.


"Tapi mengapa Mama bisa menangis saat pulang dari rumah Omah ?" tanya Zayyan masih tidak mempercayai Lucas. Anak polos itu masih menatapnya dengan tajam.


Lucas melihat tatapan Zayyan merasa ngeri. Masih kecil tatapannya sudah terlihat mengerikan apalagi kalau sudah dewasa nanti. Lucas menebak putra sahabatnya ini bahkan lebih dingin dari Gama nantinya.


Gama yang sedari tadi mendengar ucapan Zayyan dan melihat kemarahan di wajah mungil putranya kini beralih menatap Lucas.


Lucas yang merasa ditatap oleh Gama seperti tatapan Zayyan kini kembali membuka suara, "Oh ayolah ! Kalian jangan menatapku dengan tatapan yang menyudutkan seperti itu ! Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa, aku hanya berbicara tentang orang tua Ayana" jelas Lucas pada Gama.


Gama dan Zayyan masih menatap Lucas, meskipun pria itu telah menjelaskan kejadian yang sebenarnya tapi tetap saja tatapan mereka begitu tajam.


'Ck... Bisa-bisanya aku terjebak kesalahpahaman dengan dua orang ini. Mengerikan sekali' batinnya.


Fabio yang melihat Lucas tampak menahan kekesalannya pada Zayyan hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia juga sedari tadi memperhatikan Zayyan dan Gama secara bergantian. Seribu persen Zayyan dan Gama memang mirip, bahkan tingkah lakunya saja mirip.


"Zayyan, waktu itu Mama lagi kangen sama Nenek dan Kakeknya Zayyan makanya Mama nangis, bukan karena diapa-apain sama Om Lucas" jelas Fabio.


Mendengar hal itu membuat raut wajah Zayyan berubah, "Benarkah Om ?" tanya Zayyan pada Fabio.


Gama melihat Fabio yang sedang membantunya berkenalan dengan Zayyan kini mulai tersenyum. Tadinya ia merasa iri dan cemburu pada Fabio karena sangat akrab dengan Ayana dan Zayyan.


Zayyan menatap Gama, mencoba memperhatikan wajah pria dewasa itu. Sementara Gama berinisiatif memperkenalkan diri karena Zayyan masih terdiam.


"Om Gama" ucap Gama bergetar. Rasanya sangat sesak menyebut dirinya sebagi Om padahal dia adalah Papa kandung Zayyan.


Tangan mungil Zayyan meraih tangan kekar milik Gama untuk berjabat tangan, "Zayyan Arkana" ucapnya memperkenalkan diri.


Seketika tubuh Gama berdesir saat tangannya bersentuhan dengan Zayyan. Walau hanya sesaat tapi mampu me.buat hati Gama bergetar.


Gama senang akhirnya ia bisa menyentuh putranya meski hanya bersentuhan tangan.


"Om tidak apa-apa ?" tanya Zayyan membuat Gama tersentak.


"Akh tidak apa-apa" jawabannya tersenyum lebar.


"Tapi mata Om mengeluarkan air mata. Kata Mama jika seseorang mengeluarkan air mata, itu bisa memiliki dua arti. Yang pertama karena merasa sedih dan yang kedua merasa terharu atau bahagia" jelas Zayyan membuat Gama segera menghapus air matanya yang tanpa sengaja ia keluarkan.


Lucas menatap sahabatnya. Ia tahu pasti perasaan Gama sedang bercampur aduk. Selama ini ia menjadi saksi betapa terpuruknya Gama harus kehilangan Ayana dan putranya.


"Eh... I-ini, tadi mata Om kelilipan" bohong Gama.


Zayyan yang masih polos dengan mudahnya percaya pada Gama.


'Air mata Papa ini bukti jika Papa sedang sedih karena tidak bisa memelukmu langsung Nak. Air mata Papa ini juga bukti jika Papa terharu bertemu denganmu dan Mama kamu. Papa berjanji akan memperjuangkan kalian kembali. Papa ingin hidup bahagia bersama kalian' batin Gama.


🍃


Sementara di restoran milik Gama, Ayana sedang melepaskan rindu pada keluarganya dan Nenek Rukmini. Ada rasa lega karena akhirnya bisa bertemu dengan keluarganya lagi.


"Nak, apa kamu akan kembali ke Surabaya ?" tanya Mama Lisa.


"Iya Ma, Ayana tidak bisa tinggal disini" jawab Ayana yakin.


"Kenapa tidak bisa sayang ?" tanya Mama Lisa.


"Ayana sudah nyaman tinggal disana. Lagipula Ayana memiliki usaha di Surabaya. Tidak mungkin Ayana meninggalkan usaha yang Akan bangun dari nol" jelas Ayana.


"Kamu bisa membuka usaha yang sama disini Nak ! Papa akan membantu kamu" sambung Papa Hartono.


"Ayana tetap tidak bisa Pa" jawab Ayana tetap pada pendiriannya.


Sebenarnya bukan hanya itu alasan Ayana memilih tinggal di Surabaya. Alasan utamanya karena ia bisa jauh dari Gama. Ia takut jika mereka tinggal disini Gama akan gencar mengambil kesempatan untuk merebut Zayyan darinya.


"Tapi, kami tidak sanggup jika kamu tinggalkan lagi Ayana" ucap Mama Lisa sedih.


"Tenang saja Ma ! Ayana akan sering-sering menemui kalian" jawab Ayana mencoba menenangkan sang Mama.


Akhirnya mereka menyetujui keputusan Ayana walaupun merasa terpaksa. Bagi mereka, bertemu dengan Ayana saja sudah sangat bersyukur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩



Author : Ingflora


Judul : CEO dan The Twins