
...🍃Happy Reading🍃...
Niat hati ingin pulang sore tertunda hingga malam. Ayana baru bisa terbangun saat siang, sehabis makan siang Gama menyerang wanita itu lagi. Ayana hanya bisa pasrah.
"Wajah kamu kenapa cemberut begitu ?" tanya Gama pada Ayana.
Bagaimana tidak cemberut, sebelum pulang Gama meminta haknya lagi. Ini baru sehari jadi pengantin baru tubuh Ayana terasa remuk.
"Masih nanya kenapa aku cemberut ?" bukannya menjawab Ayana justru balik bertanya dengan kesal.
Tanpa merasa bersalah Gama justru tertawa melihat kekesalan sang istri.
"Jangan cemberut seperti itu sayang, aku menyerang kamu di dalam mobil" goda Gama.
Sontak wanita itu memukul lengan suaminya. Ia benar-benar tidak habis pikir mengapa Gama sangat kuat bercinta.
Mobil Gama baru saja memasuki pekarangan rumah. Terlihat Zayyan dan Bunda Mila sedang menunggu kedatangan mereka.
"Mama... Papa..." Teriak Zayyan ketika Ayana dan Gama turun dari mobil.
Zayyan berlari ke arah mereka. " Zayyan kangen Mama dan Papa" ucapnya.
Gama berjongkok lalu menggendong putranya. "Papa dan Mama juga kangen dengan Zayyan" ucap Gama.
"Tapi kenapa Mama dan Papa perginya lama ? Kan janjinya pulang sore" balas pria mungil itu dengan bibir cemberut.
Gama dan Ayana merasa gemas pada putra mereka. Gama mencoba berbisik di telinga Zayyan agar putranya itu tidak ngambek lagi.
"Itu karena Mama dan Papa sedang berusaha membuat adik untuk Zayyan"
Sontak Zayyan menatap sang Papa, "benarkah ?" tanyanya.
Gama mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau begitu berikan Zayyan adik perempuan !" pinta Zayyan.
Sontak saja Ayana melirik suaminya dengan tajam saat mendengar ucapan putranya.
"Jangan bicara yang aneh-aneh pada putraku !" tegas Ayana.
"Kamu lupa sayang jika dia juga putraku ?" tanya Gama.
Ayana hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. Sementara Gama tersenyum puas melihat istrinya merajuk.
"Zayyan doa saja, semoga bisa dapat adik perempuan !" bisik Gama lagi.
Zayyan mengangguk dengan semangat. Gama mengelus pucuk kepala putranya dengan lembut.
"Mengapa kalian pulang malam ?" tanya Bunda Mila.
Ayana tidak menjawab, ia tentu saja malu mengatakan yang sebenarnya. Ditambah lagi ia sedang merajuk pada suaminya.
"Kan lagi fokus buatin adik untuk Zayyan" jawab Gama tanpa rasa malu.
Ayana benar-benar kesal pada suaminya itu. Rasanya sangat malu mendengar ucapan sang suami. Wajah wanita itu sudah memerah bak kepiting rebus.
Bunda Mila tersenyum geli mendengar ucapan putranya. Ia berharap semoga Ayana bisa hamil lagi dan memberikan cucu untuknya. Ia akan merawat Ayana dengan baik, ia tidak ingin Ayana merasakan kesedihan yang sama dengan kehamilan pertamanya.
"Bunda, Ayana masuk ke kamar duluan ya" ucap Ayana.
"Iya sayang, istirahatlah !" balas Bunda Mila.
Ayana segera masuk ke dalam kamar milik Gama.
"Kamu juga istirahat ! Biar Zayyan tidur dengan Bunda" ucap Bunda Mila.
"Malam ini Zayyan ingin tidur dengan Papa dan Mama" ucap Zayyan.
Tentu saja Gama tidak setuju, jika Zayyan masuk ke kamarnya pasti ia tidak bisa bercinta dengan istrinya.
"Zayyan tidur bareng Omah dan Opah saja ! Kan tadi minta adik perempuan, nanti Papa buatkan untuk Zayyan" ucap Gama mencoba membujuk putranya.
"Tapi Zayyan mau lihat bagaimana cara membuat adik" ucap Zayyan polos.
Sontak mata Gama dan Bunda Mila membulat.
"Eh... Tidak bisa sayang" ucap Bunda Mila.
"Memangnya kenapa ?" Tanya Zayyan.
Ayah Budianto yang berada di ruang tengah hanya bisa geleng-geleng kepala saat mendengar pertanyaan cucunya.
"Malam ini Zayyan tidur dengan Nenek ya ! Kan kemarin malam tidurnya bareng Opah dan Omah, sekarang giliran Nenek Rukmini !" celetuk Ayah Budianto.
"Iya, kan besok kita bermalam di rumah Mama, setelah itu kita kembali ke Surabaya" sambung Gama cepat.
"Baiklah, tapi kapan-kapan Zayyan mau lihat cara membuat adik ya" ucap Zayyan.
Mau tidak mau Gama hanya bisa mengangguk pelan. Biar saja, yang penting putranya ingin tidur dengan Nenek Rukmini.
Akhirnya drama Zayyan berakhir. Kini Gama harus menghadapi drama sang istri yang sedang merajuk.
Gama membaringkan tubuhnya pelan-pelan di samping Ayana. Ia melihat istrinya sudah tertidur pulas. Gama merasa tidak tega menggangu tidur nyenyak sang istri.
Akhirnya pria itu memutuskan untuk ikut tidur. Ia memeluk tubuh Ayana, memberikan kehangatan untuk sang istri.
Pagi harinya Ayana sudah berada di dapur. Ia sedang membangun ART memasak. Ya, memang hanya membantu.
"Sayang, sebaiknya kamu duduk saja !" perintah Bunda Mila.
Ya, sedari tadi mertuanya itu melarangnya untuk membangun ART memasak, tapi Ayana yang sudah terbiasa hidup mandiri tentu merasa bosan jika tidak melakukan pekerjaan. Ia merasa tangannya begitu gatal ingin menyentuh peralatan dapur.
"Bentar lagi sesali Bun" jawab Ayana.
Bunda Mila hanya bisa menghela nafas. Ia memperhatikan menantunya terlihat akrab dengan para ART.
Lagi-lagi rasa penyesalan dan rasa bersalah membuat dada Bunda Mila terasa sesak. Dulu ia sangat bodoh karena menyia-nyiakan menantu seperti Ayana.
Beberapa menit kemudian, semua makanan sudah tersaji di atas meja makan.
Ayana memanggil Gama yang masih tertidur pulas.
"Gama, bangun ! Kita sarapan dulu setelah itu mandi !" ucap Ayana seraya menggoyangkan tubuh suaminya dengan lembut.
Tubuh Gama menggeliat. Pria itu membuka matanya pelan, ia tersenyum kala mendapati wajah cantik istrinya.
"Ayo sarapan !" ajak Ayana.
Gama terduduk sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Pria itu lalu menarik tubuh Ayana dan mengecup singkat bibirnya.
"Cup... Morning kiss" ucapnya dengan suara serak.
Wajah Ayana bersemu merah saat mendapatkan kecupan singkat dari suaminya.
Gama yang sangat gemas dengan sang istri mencubit kedua pipinya.
"Aaa... Sakit" ucap Ayana.
"Nanti saat mandi aku kasih yang nikmat" goda Gama.
"Ck... Kamu ini, pikirannya selalu kesana" kesal Ayana. Wanita itu menjauhkan tubuhnya dari sang suami.
Gama terkekeh melihat istrinya keluar dari kamar dengan wajah yang bersemu. Pria itu kemudian turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi.
Setelah selesai mencuci wajah, Gama keluar dan ikut duduk di meja makan.
Mereka sarapan dengan suasana hangat. Diam-diam Nenek Rukmini menjatuhkan air matanya saat melihat anak, menantu, cucu-cucunya , menantu cucu dan juga cicitnya berkumpul di meja makan.
Sudah lama ia tidak merasakan suasana sehangat ini. Selama ia hidup sendiri di luaran sana, ia tidak pernah berpikir akan kembali ke rumah ini dan merasakan keluarga yang harmonis.
Di umur yang sudah senja ini ia mengucap syukur pada Tuhan karena masih memberikan kesempatan untuknya merasakan semua kebahagiaan ini.
Ayana yang melihat Nenek Rukmini tidak menyentuh makanannya merasa heran.
"Nek, kenapa tidak makan ? Apa makanannya tidak enak ?" tanya Ayana lembut.
Lamunan Nenek Rukmini buyar, ia kemudian mengalihkan atensinya pada cucu menantunya. Wanita yang pernah ia tolong yang tidak ia sangka ternyata jodoh cucunya.
"Makanannya enak" ucap Nenek Rukmini.
"Lalu menatap Nenek tidak makan ?" tanya Ayana.
"Nenek hanya melamun sejenak" jawab Nenek Rukmini.
Semua mata kini menatap Nenek Rukmini dengan tatapan bingung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...