
...🍃Happy Reading🍃...
"Ga-Gala..." Ucap Ayana lirih.
Awalnya Ayana tidak mengenali Gala karena rambutnya yang gondrong, tapi saat mereka berhadapan Ayana terkejut melihat pria itu.
Gala tersenyum kala melihat Ayana di hadapannya. Pria itu berdiri lalu mengulurkan tangannya.
"Apa kabar Ayana ?" tanyanya.
Namun Ayana yang masih terkejut dengan kehadiran Gala tidak bisa menjawab. Ia masih menatap tidak percaya jika pria itu ada di hadapannya. Seketika ia bingung mengapa pria itu bisa ada disini.
Gama yang melihat Ayana masih menatap adiknya segera berdiri. Ia menarik tangan Ayana lalu menundukkan wanita itu di sampingnya, tepat ditengah-tengah Gama dan Zayyan.
"Jaga mata sayang !" tegur Gama dengan suara yang sengaja ia keraskan.
Seketika Ayana berhenti menatap Gala. Sementara Gala sendiri mematung kala mendengar ucapan sang kakak yang memanggil Ayana dengan mesra.
"Silahkan duduk adikku ! Apa kamu tidak lelah berdiri ?" Gama tersenyum puas ketika melihat wajah adiknya.
'Ck... Dulu sok-sok'an mau jagain tapi pada akhirnya dia sendiri kehilangan jejak. Yang sabar ya adikku, Ayana tetap jadi milikku' batin Gama.
Gala ikut duduk di samping sang kakak. Matanya masih menatap Ayana, bahkan mata pria itu tidak berkedip sama sekali.
Lagi-lagi Gama tidak suka jika ada yang menatap Ayana begitu lama, terlebih ia tahu jika pria yang menatap Ayana adalah sang adik yang memiliki perasaan cinta pada Ayana.
"Jaga matamu adikku ! Dia adalah wanitaku, calon kakak ipar kamu" ketus Gama.
Ayana lalu menatap Gama dengan mata yang melotot. Tentu saja ia tidak terima jika Gama mengatakan dirinya adalah calon kakak ipar dari Gala. Memangnya kapan ia setuju menikah dengan pria itu ?, batinnya.
Sementara Gama tampak acuh dengan tatapan Ayana yang seolah tidak terima perkataannya.
Gala menatap kesal sang kakak. Ia juga menyesal mengapa ia tidak muncul lebih dulu saat menemukan Ayana. Lagi-lagi ia kalah star dengan Gama. Atensinya kemudian beralih pada Ayana.
"Apa benar kamu ingin kembali dan menikah dengannya ?" Tanya Gala tidak percaya.
"Benar, kamu pikir aku berbohong ?" sahut Gama tidak terima dengan pertanyaan sang adik.
"Aku tidak bertanya padamu" kesal Gala, "jawab pertanyaan dariku Ayana ! Apa dia memaksa dirimu ?" tanya Gala lagi.
"Ck... Anak ini, kamu pikir aku sebrengsek itu ?" Gama mulai emosi dengan adiknya, "kami kembali karena saling mencintai" lanjutnya geram.
Gala terdiam, ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ayana. Mengapa dia bisa kembali dengan sang kakak, padahal jelas-jelas Gama pernah meninggalkannya dalam keadaan terpuruk. Apa memang cinta sebodoh itu ?
Ayana yang melihat Gama mulai emosi pada adiknya mencoba menenangkan Gama dengan menggenggam tangannya. Tentu saja hati Gama yang tadinya panas berubah adem kembali.
"Gala, lama tidak bertemu. Sedang apa kamu disini ?" tanya Ayana pada Gala.
"Aku sedang magang" jawab Gala datar.
"Dengan Tio dan Lerry ?"
Gala mengangguk sebagai jawaban. Rasanya ia tidak ingin menjawab pertanyaan Ayana yang tidak penting itu. Tujuannya kesini untuk menemui Ayana dan memulai perjuangannya. Tapi belum berjuang dirinya sudah dijalankan oleh sang kakak.
"Mengapa baru sekarang muncul ? Padahal aku bertemu dengan mereka beberapa bulan yang lalu" tanya Ayana.
Lagi-lagi Gama tidak menjawab. Hatinya panas melihat tangan sang kakak dan wanita yang ia cintai saling bertautan.
Diamnya Gala membuat Ayana menjadi sungkan bertanya lagi. Ia tidak tahu mengapa pria itu mendadak terdiam
Suasana meja itu kembali terasa sunyi ketika mereka saling mendiamkan.
🍃
Fabio baru saja tiba di rumahnya. Pria itu membantu sepupunya mengangkat koper. Ketiganya berjalan beriringan memasuki rumah. Kedatangan Aaron dan Dira disambut hangat oleh orang tua Fabio.
Pria paruh baya itu memeluk tubuh ponakannya dengan erat.
Setelah itu Ibu Shita yang memeluk tubuh Aaron, "Apa kabar Nak ?" tanya.
"Baik Tante" jawab Aaron, " Om, Tante, kenalin ini Dira istri Aaron" lanjut pria itu.
Atensi Ibu Shita beralih pada Dira. Ia menatap wanita hamil itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dira hanya bisa menunduk kala Ibu Shita menatapnya.
"Sudah berapa bulan ?" tanya Ibu Shita lembut.
Dira mengangkat kepalanya dan menatap wanita paruh baya itu.
"Jelan 7 bulan Tante" jawab Dira merasa canggung.
"Wah... Nggak lama lagi berarti kita punya cucu, Yah" ucap Ibu Shita tersenyum senang.
Ya meskipun itu adalah cucu dari sepupu suaminya, tapi Ibu Shita sudah sangat senang.
Dira hanya tersenyum tipis melihat wanita paruh baya itu tampak senang. Dalam hati Dira berucap syukur. Karena setelah hamil di luar nikah, tidak ada yang mau menerima kehadirannya kecuali Aaron. Ya, hanya pria baik itu yang menerimanya, bahkan pria itu rela menikahinya.
"Ya sudah, sekarang kita makan siang dulu ! Om dan Tante sengaja menunggu kalian untuk makan siang bersama"
Sebelum makan siang, Ibu Shita menunjukkan kamar mereka. Kemudian mereka menuju meja makan.
Dira tampak canggung berada ditengah-tengah keluarga Ayah Sandy. Sementara Aaron merasa santai saja.
Ibu Shita melihat Dira tampak canggung, wanita paruh baya itu menyentuh tangan Dira.
"Anggap saja rumah sendiri" ucap Ibu Shita lembut.
Dira tersenyum kala mendengar ucapan Ibu Shita.
"Iya, anggap saja rumah sendiri yang penting jangan dijual" canda Ayah Sandy membuat Aaron dan Ibu Shita terkekeh.
Dira tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya. Sementara Fabio fokus menghabiskan makanannya.
Setelah selesai makan, Fabio pamit untuk kembali ke kantor.
"Ayah, Ibu, Fabio pamit ya" ucapnya seraya mencium punggung tangan orang tuanya.
"Hati-hati Bio" ucap Ibu Shita.
"Iya..." Jawab Fabio, "Aku berangkat kerja dulu ya, Aar" lanjutnya.
"Ya, silahkan" balas Aaron ramah.
Fabio lalu meninggalkan rumahnya dan menuju kantor. Sepeninggalan Fabio, mereka kembali berbincang-bincang.
"Bagaimana kabar Ibu kamu ?" tanya Ayah Sandy.
"B-Baik Om" jawab Aaron sedikit terbata.
Ayah Sandy melirik ponakannya, sebenarnya ia tahu apa yang terjadi antara Aaron dengan Ibunya. Mereka sedang berseteru karena Aaron memilih menikahi Dira, wanita yang hamil di luar nikah. Ibunya Aaron tidak setuju karena bukan Aaron yang menghamili wanita itu.
"Apa kalian saling mencintai ?" tanya Ayah Sandy.
Keduanya terdiam, mereka enggan menjawab pertanyaan dari Ayah Sandy. Dira menunduk dengan kedua tangan yang saling bertautan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗❤️