
...🍃Happy Reading🍃...
"Om orang kaya ya ?" tanya Zayyan.
"Tidak, Om Gama tidak kaya" jawab Gama.
"Tapi mobil Om keren. Bahkan Om Fabio yang rumahnya besar saja tidak mempunyai mobil seperti ini" ucap Zayyan.
Gama hanya terkekeh menanggapi ucapan putranya.
Tak terasa mereka sudah tiba di rumah orang tua Ayana. Gama memarkirkan mobilnya lalu turun membukakan pintu mobil untuk putranya.
"Ayo !" ucapnya.
"Terima kasih Om"
"Sama-sama"
Kedua berjalan masuk ke rumah, Gama berada tepat di belakang putranya.
Kedatangan mereka membuat ketiga wanita yang sedang asik mengobrol di ruang tengah mengalihkan atensi mereka.
"Kalian sudah kembali ?" tanya Mama Lisa sambil tersenyum.
"Iya Tante" jawab Gama. Pria itu mencium punggung tangan ketiga wanita tersebut. Melihat hal itu membuat Zayyan ikut melakukan hal yang sama.
"Cucu Nenek pintar sekali" puji Mama Lisa.
"Nek, Mama dimana ?" tanya Zayyan.
"Mama kamu ada di kamarnya, lagi istirahat. Zayyan mau istirahat juga ?" tanya Mama Lisa.
"Iya Nek" jawab Zayyan mengangguk.
"Ya sudah, ikut Nenek ke kamar Mama kamu"
Mama Lisa membawa Zayyan masuk ke kamar putrinya. Terlihat Ayana sedang lelap dalam tidurnya. Zayyan ikut berbaring di samping sang Mama. Setelah Zayyan tertidur, Mama Lisa keluar dari kamar.
Mama Lisa kembali duduk di ruang tengah.
"Gama sebaiknya kamu dan Nenek kamu pulang setelah makan malam saja ! Kamu bisa istirahat di kamar tamu. Nenek kamu bisa istirahat di kamar Omah" ucap Mama Lisa.
Ia sengaja menahan Gama karena ia tahu pria itu pasti masih ingin berdekatan dengan putranya.
"Tapi..." Gama hendak menolak karena takut jika Ayana akan marah.
"Kamu tenang saja !" potong Mama Lisa.
Akhirnya Gama menurut dengan Mama Lisa. Pria itu beristirahat di kamar tamu yang sudah disiapkan Mama Lisa. Gama berbaring di atas kasur sambil memandang langit-langit kamar. Ia tidak menyangka akhirnya ia bertemu dengan Ayana, bahkan bisa berbicara dengan putranya tadi.
Meski begitu, masih ada yang mengganjal di hati Gama. Sikap Ayana yang telah berubah.
"Aku berjanji akan memperjuangkan kamu dan anak kita. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku berharap kamu bisa menerima kehadiranku lagi. Aku masih mencintaimu Ayana, dan untuk selamanya akan selalu seperti itu" ucapnya.
🍃
Sementara di tempat lain Shintia mendatangi rumah orang tua Gama. Wanita itu kesal karena telah menunggu berjam-jam di depan apartemen Gama tapi pria itu tidak muncul sama sekali.
"Gama tidak ada, tadi katanya ada urusan penting" ucap Bunda Mila.
"Urusan apa Tante ?" tanya Shintia penasaran.
"Tante juga tidak tahu. Gama langsung pergi aja membawa Neneknya pergi" jawab Bunda Mila.
Shintia menghembuskan nafas dengan kasar. Bukannya semakin gampang mendapatkan Gama, Shintia justru merasa semakin sulit.
"Tante, Shintia mau pertunangan kami disegerakan !" Ucapnya.
"Tapi, Tante tidak bisa memaksa kehendak Gama"
"Shintia tidak mau tahu Tante, pokoknya Gama dan Shintia harus segera bertunangan ! Shintia tidak ingin kehilangan Gama lagi"
Kali ini Shintia ingin memaksa Bunda Mila untuk segera menuruti kemauannya. Jika tidak seperti itu, maka kesempatannya untuk memiliki Gama tidak akan pernah ada.
"Nanti Tante coba bicarakan sama Gama" jawab Bunda Mila pasrah.
"Baik Tante, kalau begitu Shintia pamit pulang" ucap Shintia berdiri.
Bunda Mila melihat kepergian Shintia hanya bisa bernafas lega. Entah bagaimana nasib putranya jika menikah dengan wanita seperti itu.
Dulu ia setuju menjodohkan Gama dan Shintia karena wanita itu selalu menampilkan perilaku lembut dan baik. Tapi semakin lama sifat asli Shintia mulai keluar.
"Sepertinya aku salah memilih calon menantu" ucapnya lirih.
Tapi aku tidak mau, mereka harus melanjutkan perjodohan ini agar kerja sama perusahaannya dengan perusahaan milik orang tua Shintia tidak batal. Jika hal itu terjadi maka perusahaannya akan mengalami banyak kerugian.
Kini Bunda Mila mencari cara agar Gama bisa menerima perjodohan ini. Lagipula wanita yang dicari putranya belum ketemu, dan ia berharap wanita itu tidak pernah muncul lagi. Menurutnya, Shintia masih lebih baik daripada Ayana.
🍃
Malam harinya, Ayana sedang sibuk membantu Mama Lisa menyiapkan makan malam. Lebih tepatnya Ayana yang memasak menu makan malam untuk mereka.
"Mama tidak menyangka, putri Mama sudah pintar memasak" puji Mama Lisa.
"Kan dulu sering belajar sama Omah" ucap Ayana tersenyum.
Setelah semua masakannya selesai, Ayana dan Mama Lisa menata makanan di meja.
"Baik Ma"
Ayana berjalan menuju kamar sang Omah, wanita itu tidak tahu jika Nenek Rukmini masih berada di rumah ini.
Ayana mengetuk pintu sebelum masuk, setelah terdengar suara sang Omah dari dalam yang memintanya masuk, Ayana mendorong pintu pelan.
"Omah, keluar yuk kita makan malam !" ucapnya.
Seketika Ayana terkejut saat melihat Nenek Rukmini sedang berbicara dengan sang Omah.
"Nenek..." Ucapnya.
Nenek Rukmini tersenyum melihat kedatangan Ayana.
"Nenek masih disini ?" tanya Ayana.
"Iya Nak, apa kamu keberatan ?" tanya Nenek Rukmini.
"Ah, tidak Nek. Ayana malah senang jika Nenek masih berada disini" jawab Ayana tersenyum hangat pada Nenek Rukmini.
Ayana mendekati Nenek Rukmini dan membantunya duduk di kursi roda.
"Kita keluar dulu buat makan malam. Ayana sudah memasak" ucap Ayana.
"Benarkah ?" tanya Omah.
"Iya Omah" jawab Ayana tersenyum.
Akhirnya mereka keluar dari kamar, Ayana mendorong kursi roda Nenek Rukmini keluar. Omah yang masih sanggup berjalan berada di samping Ayana.
Ayana membantu Nenek Rukmini pindah ke kursi meja makan karena kursi roda Nenek Rukmini terlalu pendek. Setelah itu ia duduk di tengah-tengah Omah dan Nenek Rukmini.
Tak lama Mama Lisa masuk dan ikut duduk bersama mereka.
"Papa mana Ma ?" tanya Ayana.
"Masih di luar. Sebentar lagi masuk, mereka terlalu sibuk bermain dengan Zayyan" jawab Mama Lisa.
Ayana mengerutkan keningnya, "Mereka ?" gumannya.
Tak lama pintu dari arah kolam renang terbuka. Terlihat Zayyan berlari ke arah mereka. Disusul oleh Papa Hartono dan juga...
'Gama' batin Ayana.
Ya, pria yang berjalan beriringan dengan Papanya adalah Gama. Gama dan Papa Hartono baru saja selesai mengobrol dan juga bermain dengan Zayyan.
Untuk sesaat tatapan Ayana dan Gama bertemu membuat jantung mereka berdetak tidak karuan. Keduanya seolah terhipnotis dengan hingga Ayana mengakhiri tatapan mareka karena Zayyan memanggilnya.
"Ma... Zayyan duduk sama Nenek dan Kakek ya" ucapnya.
Ayana yang masih berusaha menetralkan perasaannya hanya bisa mengangguk pelan. Sementara Gama mendekat ke arah mereka dan duduk di samping Mama Lisa.
Seketika Ayana merasa tidak nyaman karena harus makan satu meja dengan Gama.
Melihat gelagat Ayana, membuat semua orang tahu jika ia tidak senang jika Gama makan malam disini. Hanya Zayyan yang belum mengerti apa-apa.
"Ini masakan kamu sayang ?" tanya Omah pada Ayana. Lagi-lagi Ayana hanya mengangguk pelan.
"Sepertinya enak" puji sang Omah.
Ayana tidak menanggapi pujian Omahnya karena sibuk dengan perasaannya sendiri.
Semua orang mengisi piring kosong mereka dengan makanan, hanya Ayana dan Gama yang masih tidak bergeming.
"Wah, sejak kapan putri Papa pintar memasak" puji Papa Hartono berusaha membuat suasana makan malam menjadi hangat.
"Mama memang jago masak. Apalagi bikin kue dan roti" celetuk Zayyan.
"Benarkah ? Mama kamu bisa masak kue ?" tanya Papa Hartono pura-pura tidak tahu.
"Iya dong Kek, Mama kan punya toko roti" jawab Zayyan.
"Kapan-kapan Papa mau dong dibikinin kue sama kamu, Nak !" ucap Papa Hartono pada Ayana.
Namun Ayana masih enggan membuka suara. Bahkan rasanya ia ingin segera acara makan ini berkahir.
Berbeda dengan Gama, pria itu justru berharap agar makan malam ini terasa panjang. Ia sangat puas memandang wajah Ayana meskipun wanita itu sedikit tertunduk.
Terlalu sibuk memandangi Ayana, Gama tidak sadar jika Mama Lisa memperhatikannya.
"Gama, kenapa belum makan ?" tanya Mama Lisa membuat Gama tersentak.
"Ah, i-iya Tan-te. I-ini baru mau makan" ucapnya terbata. Ia sangat malu ketika Mama Lisa memergokinya sedang memandang Ayana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩
Author : Oktavia Janda Zakhia
Judul : Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar