Young Mommy

Young Mommy
Part 55



...🍃Happy Reading🍃...


Fabio menatap Ayana yang hanya berdiri tanpa menghampirinya. Ia mengikuti tatapan matanya. Dan benar saja dugaannya jika Ayana dan Gama sama-sama larut dalam tatapan satu sama lain. Ada rasa sakit yang menyelinap masuk di hati Fabio. Tapi ia mencoba menahan rasa sakit itu, ia tahu jika Ayana masih mempunya rasa yang sama padanya.


Ayana memutus tatapannya dengan Gama dan mencoba bersikap seperti biasanya, walaupun hatinya sedang bergemuruh setelah melihat kehadiran Gama.


Ayana mendekati kedua orang tua Fabio dan mencium punggung tangannya.


"Gama, kamu juga datang ?" tanya Mama Lisa ketika atensinya beralih pada Gama.


"Iya Tante, tadi siang kami bertemu dan Zayyan mengajakku kemari" jawab Gama.


"Ah begitu" Mama Lisa mengangguk-angguk kepalanya, "Ya sudah karena semua sudah hadir, sekarang kita makan malam !" lanjut Mama Lisa mengajak mereka ke meja makan.


"Wah, pasti ini masakan Ayana" tebak Ibu Shita.


"Memang ini masakan Ayana. Aku tidak menyangka putriku bisa memasak. Dulu tuh Ayana manja banget, jangankan masak makanan seperti ini, masak air saja kadang dia lupa sampai pancinya hangus" ungkap Mama Lisa yang membuat semua orang tertawa. Sementara Ayana begitu malu karena sang Mama membeberkan keburukan di masa lalu.


"Hahaha... Benarkah ?" tanya Ibu Shita yang mendapat anggukan dari Mama Lisa.


"Mama... Bikin Ayana malu saja" ucap Ayana dengan wajah yang memerah.


"Kenapa harus malu ? Namanya juga masih remaja kan, masih banyak mainnya" ucap Ibu Shita.


"Yang penting kan sekarang udah bisa masak enak" sambung Omah.


"Benar itu" ucap Ibu Shita.


Ayana tersenyum mendengar ucapan sang Omah. Mereka lalu melanjutkan makan malam mereka dengan suasana yang hangat. Tapi tiga orang dewasa diantara mereka merasakan hal berbeda.


Ayana merasa risih karena Gama dan Fabio selalu menatap ke arahnya. Sementara Gama dan Fabio seperti sedang bersaing mendapatkan cela untuk mendekati Ayana. Fabio dan Gama sama-sama sadar jika mereka berdua memiliki rasa yang sama terhadap Ayana.


Setelah makan malam selesai, mereka kembali berkumpul di ruang tengah sambil menikmati kue buatan Ayana.


Gama yang berjanji akan menemani Zayyan bermain kini berada di paviliun dekat kolam renang. Zayyan sibuk meng unboxing mainan baru yang dibawa Gama tadi.


"Gimana, apa kamu senang ?" tanya Gama pada Zayyan.


"Sangat senang Om, terima kasih banyak ya Om Gama" ucap Zayyan begitu gembira.


"Sama-sama sayang" ucap Gama sambil mencubit pipi Zayyan. Putranya itu membelanya dengan senyuman.


Di balik jendela kaca, Ayana menatap keakraban Gama dan Zayyan. Begitu juga dengan Fabio.


"Sepertinya Zayyan sangat menyukainya" tebak Fabio.


"Dia sangat licik, dia mendekati Zayyan dengan membawa banyak mainan yang Zayyan sukai" balas Ayana.


"Jika aku perhatikan, seperti bukan karena Gama pintar mengambil hati Zayyan. Tapi memang itu murni karena ikatan batin seorang anak dengan Papanya. Coba kamu perhatikan ! Gama mencubit pipi Zayyan tapi putramu tidak menepis tangannya. Sementara yang kita tahu Zayyan sangat membenci hal itu, bahkan kamu sebagai Mamanya saja sering ditepis tangannya. Hal sekecil itu bisa kita jadikan bukti jika ikatan batin seorang anak dan orang tuanya itu memang sangat kuat" jelas Fabio.


Ayana terdiam saat mendengar ucapan Fabio. Jika benar itu murni karena adanya ikatan batin antara orang tua dan anak, lalu apakah suatu saat Zayyan akan meminta Gama menjadi Papanya ?. Tanya batin Ayana.


"Ayana, jika suatu saat Zayyan meminta kamu menikah dengan pria itu, apa kamu akan menurutinya ?" tanya Fabio sambil menatap wajah Ayana dari samping.


Ayana melirik Fabio lalu kembali menatap Gama dan Zayyan. Ia terdiam sejenak lalu menjawab, "Tidak".


Fabio tersenyum miring kala mendengar jawaban singkat dari Ayana. Ia yakin jika apa yang dikatakan Ayana tidak sesuai dengan kata hatinya.


"Apa aku tidak memiliki kesempatan untuk masuk hatimu ?" tanya Fabio menatap lekat wajah Ayana.


Kali ini Ayana tak hanya melirik Fabio, tapi tubuhnya juga ikut menghadap padanya. Ayana membalas tatapan mata Fabio yang sangat tulus padanya. Tapi entah mengapa hati Ayana tidak pernah bergetar sama sekali saat melihat tatapan cinta Fabio.


"Sthh..." Fabio memotong ucapan Ayana, ia meletakkan telunjuknya tepat di bibir Ayana. Setelah Ayana terdiam, kedua tangannya menarik tangan Ayana. Ia menggenggam tangan wanita itu.


"Jangan lanjutkan ! Aku tidak suka jika kamu merendahkan dirimu karena masa lalu yang pernah kamu alami. Yang perlu kamu tahu Ayana, jika aku mencintaimu benar-benar tulus. Aku akan tetap menunggu kamu membalas perasanku, entah kapan hari itu tiba. Tapi aku tidak akan pernah berhenti memperjuangkan kamu kecuali jika kamu telah dipersunting oleh pria lain" ucap Fabio.


"Ta-tapi Fabio-"


*Bug*


Belum sempat Ayana melanjutkan ucapannya, Fabio sudah menariknya ke dalam pelukannya.


Sontak Ayana membulatkan matanya, ia berusaha terlepas dari pelukan Fabio tapi pria itu memeluknya begitu erat.


"Fa-Fabio... Le-paskan !" Pintanya namun tidak digubris pria itu.


"Coba dengarkan detak jantungku !" pinta Fabio sehingga membuat Ayana berhenti meronta.


Kini Ayana mencoba merapatkan telinga di dada Fabio, ia bisa mendengar debaran jantung Fabio yang sangat kencang.


"Ayana, berhentilah memintaku untuk tidak mencintaimu karena itu permintaan yang sangat sulit bagiku ! Aku tidak akan pernah memaksa perasaanmu membalas perasaanku, tapi ijinkan aku memperjuangkan cintamu" ucapnya.


Dari luar seseorang menatap adegan itu dengan tangan terkepal. Hatinya begitu panas karena terbakar cemburu.


'Apa yang harus aku lakukan Ayana ? Apa aku harus mundur demi kebahagiaanmu ? Tapi aku tidak bisa melepaskan mu. Aku masih mencintaimu, dari dulu hingga sekarang tidak ada yang berubah. Tapi sepertinya kamu telah menemukan pria lain' batinnya.


Gama terus menatap Ayana dan Fabio yang masih berpelukan. Dadanya terasa sesak melihat wanita yang ia cintai berada di pelukan pria lain. Hingga atensi pria itu teralihkan saat Zayyan memanggil namanya.


"Om, kita main yuk ! Mainannya udah Zayyan buka semua" ajak Zayyan.


Akhirnya Gama bermain dengan Zayyan. Bermain dengan putranya membuat hati Gama sedikit membaik.


Mereka bermain hingga tanpa terasa waktu sudah hampir jam sepuluh malam. Ayana memanggil putranya untuk segera masuk dan istirahat.


Ayana menghampiri paviliun tempat Zayyan dan Gama bermain. Kedatangan Ayana membuat atensi Gama beralih padanya. Meskipun ia melihat Gama sedang menatapnya, Ayana berusaha tidak memperdulikan tatapan Gama.


"Zayyan, sekarang masuk ya ! Ini sudah terlalu malam untuk bermain" ucap Ayana.


"Baik Ma" jawab Zayyan menuruti permintaan sang Mama.


"Kita main besok lagi ya Om !" Pinta Zayyan sambil merapikan mainannya.


"Zayyan, jangan meminta Om itu terus datang bermain denganmu. Om itu orang sibuk jadi jangan tidak boleh saring datang menemui kamu bermain disini !" tegur Ayana yang melarang putranya selalu meminta Gama datang menemaninya bermain. Atau lebih tepatnya ini sebagai sindiran untuk Gama agar tahu diri untuk tidak datang ke rumahnya.


"Tapi Om Gama bilang masih ada waktu kok untuk menemani Zayyan bermain. Iya kan Om ?"


Ucapan Zayyan membuat Gama tersenyum penuh kemenangan, tapi tidak dengan Ayana yang kesal karena putranya terus menempel pada Gama.


"Tentu saja Boy. Om akan selalu ada disaat kamu membutuhkan Om" jawab Gama semangat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩



Judul : Pewaris untuk Musuh


Napen : As Cempreng