
...🍃Happy Rading🍃...
Saat ini Ayana berada di kamar Nenek Rukmini. Ia teringat kembali ketika bertemu dengan sang Nenek yang mau menolongnya.
Tak lama Gama masuk dan menghampirinya.
"Sayang, ayo kita makan dulu !" ucap Gama lembut.
Ayana menatap suaminya dengan tatapan sendu. Gama tahu jika istri sangat sedih. Gama memeluk tubuh istrinya dengan erat, ia mengecup pucuk kepalanya dengan lembut. Tubuh Ayana kembali bergetar karena menangis.
"Kita tidak boleh larut dalam kesedihan, Nenek akan sedih jika melihat kita seperti ini. Terlebih melihat cucu menantunya yang paling ia sayangi menangis terus" ucap Gama menenangkan istrinya.
Ayana berusaha menghentikan tangisannya meskipun ia sesegukan. Gama mengurai pelukannya, ia kembali menatap wajah Ayana, jari jempolnya menghapus sisa air mata Ayana dengan lembut.
"Sekarang kita makan ya ! Mama, Papa dan Omah menunggu kamu di meja makan" ucap Gama.
Ayana mengangguk, Gama berdiri lalu tanpa aba-aba ia menggendong tubuh Ayana ala bridal style.
"Kenapa kamu menggendongku ? Aku bisa jalan sendiri" ucap Ayana.
"Kami bisa jalan sendiri, tapi tubuh kamu begitu lemah karena belum makan dari semalam" jawab Gama, "Nenek pasti tersenyum ketika melihat aku menggendong cucu menantunya" lanjutnya sambil tersenyum.
Ayana ikut tersenyum mendengar ucapan Gama. Ia mengalungkan tangannya di leher Gama. Gama kemudian menurunkan Ayana di atas kursi ketika mereka sudah tiba di meja makan.
"Bunda mana ?" tanya Ayana kala tidak melihat ibu mertuanya.
"Bunda lagi ganti pakaian" jawab Gala.
"Selesai makan kamu juga ganti baju ya !" ucap Gama.
Ayana melihat pakaiannya yang serba hitam, ia memang belum sempat mengganti pakaian. Wanita itu kemudian mengangguk sebagai jawaban.
Tak lama kemudian, Bunda Mila datang dengan Ayah Budianto.
"Mari makan !" ucap Gama.
Gama mengisi piring kosong milik Ayana, "Makan yang banyak sayang !" ucapnya penuh perhatian.
"Terima kasih" ucap Ayana tersenyum pada suaminya.
"Sama-sama" balas Gama.
"Bunda juga makan yang banyak !" ucap Ayah Budianto.
Bunda Mila hanya tersenyum tipis, walaupun ia tidak berselera makan tapi Bunda Mila tetap memaksakan diri untuk menelan makanan itu.
Usai makan siang, mereka semua istirahat di kamar masing-masing. Sementara orang tua Ayana dan Omah memilih pulang. Mereka akan kembali ke sini saat malam sesuai dengan janji mereka pada Ayana.
"Sayang, kamu harus kembali semangat agar kita bisa honeymoon, kita kan udah janji akan buatin cucu yang banyak untuk Nenek" ucap Gama.
Saat ini mereka sedang berbaring di atas ranjang dengan posisi saling berpelukan.
"Oh iya, pernikahan Mona tinggal tiga hari lagi kan ? Kamu mau nggak ke butik, kita cari baju pesta !" ucap Gama.
"Boleh" jawab Ayana singkat.
"Kalau begitu besok kita ke butik" ucap Gama, "sekarang kita tidur siang !" lanjut Gama.
Mereka pun tertidur dalam keadaan tubuh yang masih saling memeluk.
🍃
Mona kembali ke rumah sakit untuk menjaga Angga.
"Kamu sudah kembali ?" tanya Rangga ketika Mona masuk ruangan.
Mona tidak menjawab pertanyaan Rangga, wanita itu menatap sinis pada Rangga.
Rangga merasa aneh dengan sikap Mona, apalagi saat melihat tatapan wanita itu.
"Karena kamu sudah datang, kalau begitu aku pulang ya" ucapnya walaupun tidak dihiraukan oleh Mona.
Pria itu kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu. Belum sempat Rangga membuka pintu tersebut, ia mendengar Mona memanggilnya.
"Rangga..."
"Ya, ada apa ?" Tanyanya.
"Apa kamu tidak merasa bersalah dengan apa yang telah kamu perbuat terhadap sahabatku ?" tanya Mona datar.
Kening Rangga mengkerut, ia tidak mengerti ucapan dari Mona, "Maksudnya ?"
"Setelah kamu merenggut kesuciannya apa kamu tidak merasa bersalah ?" tanya Mona lagi tanpa menatap Rangga.
"Kamu ini bicara apa sih ? Aku tidak mengerti !" balas Rangga yang masih belum bisa menangkap arah pembicaraan Mona.
Mona yang tidak taha lagi dengan kebodohan Rangga kini berbalik badan. Ia menatap pria itu dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu masih meniduri sahabatku saat tahu dia dalam keadaan tidak sadar karena dibius ? Apa kamu tidak punya otak meniduri wanita yang masih perawan dalam keadaan pingsan ? Itu sama saja kamu memperkosanya" ucap Mona.
"Kamu ingat delapan bulan yang lalu ketika kamu dan kakak kamu memesan wanita malam di hotel ?" tanya Mona.
Rangga terlihat mencoba mengingat-ingat. Mona yang kesal melihat Tangga yang sangat lambat berpikir akhirnya membuka ponselnya.
"Lihat video ini !" pinta Mona.
Rangga mengambil alih ponsel Mona dan memutar rekaman video tersebut. Seketika matanya membulat kala teringat ia pernah meniduri wanita pindang karena wanita malam yang ia pesan tidak datang.
"Ja-jadi... Di-dia temanmu ?" tanyanya dengan suara yang terbata-bata.
"Kenapa kamu masih menidurinya dan berani menodainya ? Tentu kamu tahu jika dia bukan wanita penghibur, mana mungkin seorang penghibur dibawa dalam keadaan pingsan ? Apa otakmu tidak berpikir kesana ?" tanya Mona.
Rangga benar-benar terkejut saat tahu wanita itu adalah sahabat Mona. Lalu mengapa sang kakak bisa tahu jika yang ia perkosa adalah sahabat Mona ? Batin Rangga bertanya.
"Kamu tahu tidak, akibat dari perbuatan kamu, Dira diusir dari rumahnya, Dira dihina, dicemooh oleh orang-orang. Kamu telah membuat hidupnya hancur" lanjut Mona terisak.
"Mon, sebelumnya aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu jika itu teman kamu" ucap Rangga membela diri.
"Meskipun wanita itu bukan temanku, seharusnya kamu tidak melakukan itu pada wanita yang pingsan !" Balas Mona ketus.
"Waktu itu aku sedang dalam pengaruh alkohol, meskipun aku masih setengah sadar tapi aku tidak bisa lagi menahan gairahku. Aku akui aku salah, dan masalah teman kamu hamil dan aku tidak bertanggung jawab, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu soal hal ini" jelas Rangga.
"Ini bukan masalah dia hamil dan kamu tidak bertanggung jawab, tapi ini masalah mengapa kamu tega melakukan itu padanya ?" Balas Mona dengan suara yang mulai pelan.
"Ini diluar kendaliku Mon" jawab Rangga.
Ia benar-benar menyesal tidak bisa menahan gairahnya malam itu. Ia juga tidak menyangka jika Dira akan mengandung anak darinya.
"Lalu dimana temanmu itu ?" tanya Rangga.
"Untuk apa kamu mencari tahu dimana ia berada ?" tanya Mona dengan ketus.
"Aku ingin bertanggung jawab atas kesalahanku" jawab Rangga dengan kepala menunduk.
Mona tersenyum sinis, "Cih, mereka saat ini tidak membutuhkan pertanggung jawaban dari pria bejat sepertimu"
"Apa maksudmu ?" Tanya Rangga menatap Mona.
"Dira sudah menikah dengan pria baik hati yang ingin menerimanya meskipun dalam keadaan hamil" jawab Mona.
Entah mengapa Rangga begitu putus asa ketika mendengar jawaban Mona. Pria itu kini diam seribu bahasa, pikirannya kini mulai kalut. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.
Sementara Mona kini terduduk di samping brankar, ia menatap wajah calon suaminya dengan tatapan penuh penyesalan.
'Seandainya saja aku tidak keras kepala, mungkin kejadian ini tidak akan menimpa kamu. Mungkin saat ini kita sedang berbahagia karena pernikahan kita tinggal tiga hari lagi. Tapi semuanya batal karena kebodohanku. Maafkan aku Angga, maafkan aku sayang' batin Mona.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo semuanya, numpang kasih rekomendasi novel bagus nih 🤗
Judul : Revenge of Two Sons
Author : Mom Al
Cerita sangat seru 🤩 jangan lupa mampir ya 😘