
...🍃Happy Reading 🍃...
Dua bulan berlalu, saat ini kehamilan Ayana sudah memasuki empat bulan. Perutnya Sudan mulai buncit membuat banyak tetangga sering kali berbisik tentang Ayana. Terlebih lagi ratu gosip alias Bu Sri.
Ayana sendiri sudah jarang ke kebun karena merasa risih dengan tatapan ibu-ibu. Ia tahu cepat atau lambat orang-orang akan tahu jika dirinya hamil di luar nikah. Ia sangat yakin jika mereka sudah tahu maka akan banyak cemoohan
untuk dirinya. Sebisa mungkin Ayana mempersiapkan diri untuk hal tersebut, walaupun ia akan merasa sakit hati, tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan bertahan.
Omah juga akhir-akhir ini sering drop, mungkin karena faktor umur jadi sangat rentang jatuh sakit.
"Omah hari ini ke kebun ya, kamu jaga diri baik-baik !" ucap Omah pamit pada Ayana.
"Baik Omah, Omah juga hati-hati ya ! Jangan terlalu memaksakan diri, jika sudah lelah segera beristirahat !" balas Ayana.
Sebenarnya ia ingin melarang sang Omah untuk pergi kebun, tapi ia tahu Omah tidak akan mendengarkan permintaannya.
Omah meninggalkan rumahnya dan menuju kebun, tiba-tiba di perjalanan seorang ibu-ibu menegurnya.
"Omah mau ke kebun ya ?" tanyanya basa-basi.
"Iya, seperti biasa" jawab Omah tersenyum ramah.
"Terus cucunya kok nggak ikut sih Omah, biasanya juga nempel sama Omah" tanyanya lagi.
"Dia sedang di rumah" jawab Omah.
"Cucu Omah semakin hari semakin berisi ya, sepertinya ia makan dengan nyaman selama tinggal disini"
Omah hanya tersenyum saat mendengar ucapan ibu-ibu tersebut. Ia sudah mulai menangkap arah pembicaraan ibu tersebut. Omah tahu jika lama-kelamaan warga sekitaran sini akan tahu jika Ayana hamil. Pasti saat waktu itu tiba, Ayana akan semakin bertambah bebannya. Pasti akan banyak cemoohan yang sering ia dengar nantinya. Tapi Omah tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tidak bisa menghindar dari hal tersebut. Bahkan jika Ayana pindah lagi ke tempat lain, tetap akan ada yang mencemooh cucunya itu.
Sesampai di kebun Omah kembali ditodong beberapa pertanyaan dari para pekerjanya.
"Omah, apa kami boleh bertanya tentang cucu Omah ?" Ibu Nana berbicara dengan hati-hati.
"Tanyakan saja !" jawab Omah, ia sudah tahu jika pasti mereka ingin bertanyalah dengan perubahan tubuh Ayana.
"Begini... Kami perhatikan Ayana semakin hari semakin berisi, tapi..."
"Tapi Apa ? Jika bicara jangan berbelit-belit ! Langsung pada intinya saja !" Potong Omah.
Ibu Nana menyenggol temannya dan memberikan isyarat agar dia saja yang bertanya.
"Hmm... Begini Omah... Kami dengar-dengar Ayana sedang..." Ibu Laila mencoba menggantikan ibu Nana bertanya pada Omah.
"Hamil" lanjutnya lirih.
Omah terdiam sangat lama... Dengan cemas dan takut, kedua ibu tersebut menatap raut wajah Omah yang sangat sulit diartikan. Keduanya takut jika Omah marah padanya dan memecatnya berkerja di kebun milik Omah.
Sementara ibu-ibu yang berada di dekat mereka menunggu jawaban Omah dengan rasa penasaran. Termasuk Ibu Sari dan Ibu Nimas.
Omah menarik nafas panjang lalu mengangguk pelan. Tidak ada pilihan lagi, ia tidak bisa terus menerus menyembunyikan kehamilan Ayana. Cepat atau lambat semua orang akan tahu.
Semuanya terkejut melihat respon Omah. Mereka tidak menyangka dibalik wajah Ayana yang terlihat lugu ternyata sudah tidak perawan lagi. Berbagai pertanyaan muncul di benak mereka. Apakah Ayana hamil karena menjadi korban pemerkosaan ? Apakah Ayana wanita liar ? Apakah Ayana menjadi korban rayuan kekasihnya lalu tidak bisa bertanggung jawab ?...
"Wah, nggak nyangka ya cucunya Omah bisa hamil di luar nikah, mana masih mudah lagi" celetuk sala satu ibu-ibu yang bermulut lemes.
"Iya, memang pernah dengar sih kalau pergaulan anak mudah di kota ngeri" sambung ibu yang satunya.
"Padahal wajahnya terlihat lugu ya" sambung yang lainnya.
"Meskipun cucuku hamil diluar nikah, tapi kalian tidak memiliki hak untuk berasumsi terlalu buruk terhadap cucuku. Kalian tidak tahu cerita yang sebenarnya jadi jangan terlalu menggoreng opini !" Omah berusaha bersikap tenang di depan para pekerjanya.
"Tapi buktinya sudah nyata Omah, cucu Omah hamil diluar nikah, itu tandanya cucu Omah memang salah pergaulan" celetuk salah satu ibu-ibu.
"Tidak semua yang mengalami hal itu adalah anak yang salah pergaulan" balas Omah masih membela cucunya.
"Ya kan siapa tahu Omah, Omah kan nggak tinggal dengan cucu Omah" celetuk ibu-ibu lemes.
"Bener tuh Omah, bukannya kita nuduh ya, siapa tahu Cucu Omah ngikutin jejak Mamanya" sambung yang satunya lagi.
"CUKUP!!! Jangan menghina cucu dan menantu saya lagi jika kalian masih ingin bekerja disini !" pekik Omah. Ia meninggalkan kebun dengan perasaan yang campur aduk.
Sementara para ibu-ibu tampak kesal karena Omah sangat membela cucunya. Terlebih Bu Sri yang geram karena Omah masih membela menantunya.
"Cih... Padahal wanita itu hanyalah perebut kekasih orang" ucapnya.
🍃
Saat Omah tiba di rumah, Ayana melihat perubahan wajah sang Omah. Ayana penasaran mengapa Omah pulang cepat dengan wajah yang tampak sedih seperti itu.
"Apa Omah baik-baik saja ?" tanyanya.
"Hm..." Hanya itu yang keluar dari sang Omah.
Ayana menatap sang Omah dengan tatapan penasaran dan khawatir. Tapi ia tidak berani bertanya-tanya lagi dengan sang Omah, melihat respon Omah yang sepertinya sedang ada masalah.
Oma berlalu masuk ke kamarnya, sementara Ayana melanjutkan aktifitasnya membereskan rumah.
Malam harinya Ayana telah menyiapkan makan malam, ia lalu memanggil sang Omah agar keluar dari kamar dan ikut makan malam bersamanya.
"Omah, hari ini Ayana memasak tumis kangkung kesukaan Omah dan perkedel jagung" ucap Ayana membujuk Omah untuk makan, tadi siang Omah tidak ingin keluar dari kamarnya walau sekedar makan siang bersama.
Omah berdiri dan keluar bersama Ayana. Mereka lalu duduk di meja makan dan menikmati makan malam. Setelah selesai Omah segera masuk ke kamarnya tanpa meninggalkan sepatah katapun untuk Ayana.
Ayana hanya menatap nanar kepergian sang Omah. Ia merasa ada yang tidak beres dengan sang Omah.
Ayana lalu membereskan meja makan, mencuci piring lalu masuk ke kamarnya. Ia berbaring di atas ranjang dengan rasa penasaran yang mengganjal hatinya. Ia merasa Omah seperti menghindarinya, tapi apa yang membuat Omah menghindari Ayana ? apa Ayana punya salah dengan Omah ?
Keesokan harinya Ayana sibuk di dapur, ia menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan Omah. Bicara tentang Omah, wanita tua itu belum juga keluar dari kamarnya, Ayana merasa cemas karena sang Omah belum kunjung keluar. Biasanya jam 6 pagi Omah sudah siap, tapi ini sudah 7 pagi Omah belum keluar.
Ayana segera menyelesaikan pekerjaannya setelah itu ia akan mengecek Omah di kamarnya.
Ayana mendorong pintu kamar sang Omah dengan pelan, Ayana terkejut kala mendapati sang Omah sedang terisak di sofa dekat jendela. Tanpa pikir panjang Ayana masuk menghampiri sang Omah.
Omah menatap Ayana dengan tatapan sedih dan dipenuhi rasa bersalah. Sementara Ayana mantap cemas sang Omah.
"Omah ada masalah apa ? Apa Omah sakit ? Apa Omah marah dengan Ayana ? Atau Omah..."
"Stthhh... Omah tidak apa-apa, Nak. Omah hanya sedih" potong Omah.
"Sedih kenapa Omah ?" tanya Ayana penasaran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa Komen + Like + Vote + Beri Gift & Bintang 5 🤗❤️