Young Mommy

Young Mommy
4°Ngidam



"Kamu udah kedokter untuk periksa kandungan? " Tanya Nita


"Udah ma, ni hasil USG Nindy. Kata dokter anak Nindy ada 3" Nita nampak terkejut mendengar ucapan Nindy.


"Banyak juga ya? Nggak apa apa, banyak orang di luar sana yang susah banget punya anak sedangkan kamu langsung dikasih 3" Ucap Nita


"Tapi Nindy takut Papa marah ma. Papa pasti benci sama Nindy" Lirih Nindy


"Papa nggak mungkin benci sama anak kesayangan papa. Ini nggak sepenuhnya kesalahan kamu, mama sama papa yang salah karena nggak ngasih perhatian penuh ke kamu" Nindy sama Nita terkejut dengan kehadiran darma yang datang tiba-tiba dari arah pintu.


"Papa? Kok papa bisa tau Nindy di sini? " Heran Nindy


"Ini nggak sepenuhnya komplek Vila kamu. 5 Vila lagi punya papa, kamu cuma punya 5 Vila"


"Kok bisa pa?" Tanya Nindy


"Vila ini punya temen papa. Terus waktu itu temen papa bilang kalo Vila ini di beli sama kamu. Papa bilang aja kasih setengah harga buat kamu sisanya papa yang bayar" Ucap santai Darma


"Pa, Nindy hamil" Ucap Nindy menundukkan kepalanya takut


"Papa tau. Walaupun papa jarang nelfon kamu, tapi papa udah bayar bodyguard untuk jagain kamu setiap detik"


"Papa nggak marah sama Nindy? " Tanya Nindy


"Sama seperti mama mu. Papa tidak marah tapi Papa kecewa"Nindy memeluk Darma dan menangis di pelukannya.


" Nindy fikir papa sama mama nggak sayang sama Nindy " Sesegukan Nindy


"Orang tua mana yang nggak sayang sama anaknya" Ucap kompak Nita dan Darma


"Karena cucu papa ada tiga di perut kamu, jadi kamu homeschooling aja ya. Kamu mau tinggal di mana? " Tanya Darma


"Aku mau tinggal disini dulu sampe usia kandungan aku 4 bulan" Jawab Nindy


"Yaudah kamu istirahat aja dulu dikamar, nggak usah nangis lagi, kita nggak marah kok" Ucap Nita


"Iya ma pa. Nindy ke kamar ya"


Dikamar


Nindy menghubungi Zahra untuk memberitahu agar dia tak masuk sekolah lagi mulai besok.


Dan Zahra hanya membalas. 'Iya gpp, kasian ponakan gue kalo lo sekolah'


Nindy merendam dirinya dengan air hangat sesekali mengelus perutnya yang masih rata.


"Sabar ya sayang, bunda akan jaga kamu apapun yang terjadi" Ucap Nindy pada calon bayi nya.


selesai mandi Nindy langsung tertidur lelap. Dan terbangun pukul 2 malam, ia merasa perutnya sangat lapar. Nindy berjalan menuruni tangga hingga sampai di dapur .


"Kamu mau pancake yang atasnya di tambah saus mapel ya, dek. Oke bunda cariin" Nindy mengacak acak lemari makanan dan menemukan adonan pancake.


klontang klontang


"Mas, Mas. Bangun mas. Kayaknya ada maling deh" Ucap Nita pada Darma.


"Perasaan kamu aja kali. Masa ada maling di Vila yang penjagaan nya super ketat kayak gini" Darma mengeratkan pelukannya pada Nita dan melanjutkan tidurnya.


prang klontang


Darma membulat kan matanya mendengar suara basi jatuh.


"Eh kok ada suara besi. Ayo keluar, kamu periksa Nindy. Takutnya dia kenapa kenapa" Panik pastri itu.


"Kamu tunggu sini aja. Aku turun dulu" Ucap Darma.


"Hati hati mas" Darma menuruni tangga dengan hati hati dan mencigok kan kepalanya ke arah dapur.


"Yaampun sayang. Kamu ngapain malem malem mainin tepung" Lega Darma.


"SIAPA MAS?! " Pnggil Nita dari atas.


"Turun aja. Ini si Nindy malem malem mainin tepung" Nita turun untuk melihat keadaan dapur.


"Kamu ngapain tengah malem gini di dapur, ini lantai dapur juga penuh tepung semua kalo kamu kepeleset gimana? " Nita mendekat kearah Nindy yang malah cengengesan


"Maaf ma, pa.. Nindy ganggu ya? Ini Nindy mau buat pancake saus mapel. Kayaknya enak" Ucap Nindy sambil membayangkan kelezatan pancake nya.


"Jadi ceritanya anak mama lagi ngidam" Darma mencubit pipi kanan Nindy gemas. Dengan semangat Nindy mengangguk.


"Kok nggak bangunin mama sama papa? " Tanya Nita


"Nindy takut ganggu waktu tidur mama sama papa"


"Nggak apa apa sayang. Sini mama bantuin buat pancake nya"


"Papa juga ikut ya" Senyum Nindy merekah melihat kekompakan kedua orang tuanya.


"Iya ma pa. Ayo bantuin Nindy. Nindy juga lagi pengen eskrim pake merica. Aduh kayaknya enak" Girang Nindy


"Eskrim pake Merica? Waw mama kamu waktu hamil kamu juga ngidam itu" Ingat Darma.


"Kita sama ya ma" Mereka tertawa bersama.


'Nindy berharap kita selalu kayak gini ya ma pa' batin Nindy


Mereka bertiga terhanyut oleh canda tawa bahagia yang sangat Nindy rindukan hingga 15 menit kemudian makanan Nindy jadi.


"Ni pesenan cucu mama. Di abisin ya" Ucap Nita


"Siap Oma" Ucap Nindy menirukan suara anak kecil.


"Pelan pelan makannya sayang. Nggak ada yang minta kok" Pesan Darma.


"Hehe iya pa" Nindy memelankan makannya.


"Udah selesai makannya? " Tanya Nita yang melihat piring Nindy sudah bersih.


"Udah ma. Emmm, ma pa" Panggil Nindy


"iya sayang? " Kompak mereka


"Nindy boleh nggak tidur sama mama papa? " Nindy berharap cemas dengan jawaban kedua orang tuanya.


"Boleh lah sayang. Apa sih yang engga buat kamu" Ucap Darma merangkul Nindy


"Iya lah. Udah pasti boleh. Yuk kita keatas, besok kita jalan jalan ya ke kebun teh baru kita ke gunung pancar" Ucap Nita.


"Yaudah yuk kita tidur, udah malem" Darma merangkul Nindy dan Nita hingga depan pintu kamar.


akhirnya mereka tidur dengan posisi Nindy berada di tengah antara Darma dan Nita.


(sekian, Terimakasih)