
...🍃Happy Reading🍃...
"Ya Tuhan, aku harus apa ?" tanya Ayana bingung.
Ayana kembali menajamkan pendengaran telinganya.
Bunda Mila menatap mertuanya dan berkata, "Tidak Bu, Ibu tidak perlu meminta maaf pada kami. Seharusnya sebagai anak dan menantu yang baik kami tidak boleh menyimpan dendam pada Ibu. Kami bukanlah anak dan menantu baik karena telah tega menelantarkan Ibu, terutama Mila, Bu"
"Tidak, kalian adalah anak yang baik. Apa yang kalian lakukan pada Ibu telah memberikan banyak pelajaran bagi Ibu. Sekarang kita bisa saling memaafkan atas silaf masing-masing. Semoga dengan cara ini kita bisa bersatu kembali" ucap Nenek Rukmini.
"Berdirilah Nak ! Ibu rindu pelukan kalian" lanjutnya.
Keduanya berdiri lalu duduk di samping Nenek Rukmini. Mereka berpelukan saling melepas rindu. Pemandangan mengharukan ini membuat Bibi Ar ikut hanyut. Ia yang berdiri di depan pintu kamar dengan menggendong Zayyan ikut menyaksikan drama dari keluarga Nenek Rukmini.
Tak lama suara Zayyan membuat mereka melerai pelukan mereka. Tatapan Ayah Budianto dan Bunda Mila kini beralih pada Zayyan.
"Kemarilah !" pinta Nenek Rukmini.
"Siapa dia Ibu ?" tanya Bunda Mila.
"Bayi itu adalah anak dari cucu Ibu" jawab Nenek Rukmini.
"Ibu pernah menikah lagi ?" tanya Bunda Mila.
"Tidak, itu adalah anak dari cucu angkat Ibu. Wanita itu kasihan diusir dari keluarganya karena hamil diluar nikah. Makanya Ibu memintanya tinggal bersama Ibu, setelah melahirkan gadis itu meminta Ibu ikut tinggal di kota" jelas Nenek Rukmini.
"Ah benarkah ? Kasihan sekali gadis malang itu" ucap Bunda Mila, ia menatap Zayyan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sementara diluar Ayana mengepalkan tangannya dan tersenyum sinis saat mendengar ucaoyyang keluar dari mulut Bunda Mila.
"Apa katanya ? Kasihan ? Bisa-bisanya dia mengatakan hal yang mustahil itu. Jika kamu kasihan denganku mengapa kamu mengusirku dan membiarkan anakku lahir tanpa status yang jelas ?" gumannya.
Kembali ke dalam rumah...
"Apakah Nyonya ingin menggendongnya ?" tanya Bibi Ar pada Bunda Mila, sedari tadi ia melihat wanita paruh baya itu menatap Zayyan
"Apa boleh ?" tanya Bunda Mila.
"Tentu saja boleh Nyonya" jawab Bibi Ar, ia segera mendekatkan Zayyan pada Bunda Mila. Tapi anak kecil itu justru seperti ketakutan saat melihat wajah Bunda Mila. Zayyan memalingkan wajahnya lalu memeluk tubuh Bibi Ar sangat kuat, bahkan terdengar rengekan dari bibir mungil Zayyan.
"Sepertinya ia takut padaku" ucap Bunda Mila kala melihat respon Zayyan.
Mendengar hal itu membuat Ayah Budianto sedikit terkekeh. Kini gilirannya yang meminta Zayyan pada Bibi Ar.
"Berikan padaku !" pintanya sambil tersenyum.
Tapi senyumannya luntur kala mendapatkan respon yang sama dari Zayyan. Kini giliran Bunda Mila yang terkekeh melihat wajah suaminya yang berubah pias.
"Tidak biasanya Zayyan menolak untuk dekat pada orang lain" ucap Nenek Rukmini menatap cicitnya keheranan.
"Mungkin karena kita orang yang terlihat asing makanya bayi ini menolak" ucap Ayah Budianto.
"Mungkin saja" ucap Nenek Rukmini.
Bibi Ar kembali duduk bersama Zayyan. Nenek Rukmini kembali bercerita dengan anak dan menantunya. Ia menceritakan bagaimana ia menjalani hidup di desa terpencil hingga bertemu dengan cucu angkatnya itu.
"Beribu-ribu maaf kami ucapkan atas perlakuan kami kepada Ibu" ucap Ayah Budianto sekali lagi.
Nenek Rukmini tersenyum melihat wajah putranya, ia lalu membawa tangan anak dan menantunya di atas pahanya. Ia menggenggam tangan mereka dan berkata, "Kita lupakan semuanya, ibu telah memaafkan kesalahan kalian. Kita bisa memulai lembaran baru"
Mereka lalu kembali berpelukan tapi kali ini hanya pelukan singkat.
"Oh iya Bu, dimana cucu angkat Ibu ? Kami ingin bertemu dengannya" ucap Bunda Mila.
"Dia sedang di toko. Kemarin dia baru saja membuka usaha Bakery" jawab Nenek Rukmini.
"Dia wanita yang cukup kuat, dia tidak pernah mengeluh dan terus berjuang untuk membiayai hidupnya dan putranya. Terkadang Ibu kasihan padanya, tapi ia bukan gadis yang suka dikasihani" lanjutnya tersenyum kala mengingat Ayana.
"Ke Bandung ?" tanya Nenek Rukmini.
"Iya Bu, cucu Ibu menunggu kepulangan Ibu. Pasti mereka senang saat melihat kedatangan Ibu" jawab Bunda Mila.
"Mereka ? Apa kalian membuatkan banyak cucu untuk Ibu ?" tanya Nenek Rukmini tersenyum senang.
"Sebenarnya hanya dua Ibu, yang satunya kuliah di Jerman sementara yang satunya lagi tetap kuliah di Bandung" jelas Bunda Mila.
"Apa mereka tahu jika Ibu masih hidup ?"
"Tidak Bu. Makanya kami ingin membawa Ibu kembali ke Bandung dan mempertemukan Ibu pada cucu Ibu" jawab Ayah Budianto.
"Tapi Ibu tidak bisa" tolak Nenek Rukmini.
"Mengapa Ibu tidak bisa ?" tanya Ayah Budianto sedih.
Nenek Rukmini terdiam saat mendapati pertanyaan dari anaknya. Ia bingung anatara ingin pulang dan kembali berkumpul dengan keluarganya atau tetap tinggal bersama dengan keluarga barunya. Meskipun ia baru mengenal Ayana satu tahun lebih, tapi hatinya terasa berat meninggalkan Ayana terlebih lagi Zayyan.
Nenek Rukmini menatap bayi mungil itu dengan tatapan sedih. Ayah Budianto dan Bunda Mila mengikuti arah tatapan Nenek Rukmini.
"Apa karena cucu angkat Ibu ?" tanya Bunda Mila.
"Jika Ibu berat meninggalkan mereka, Ibu bisa mengajaknya ikut dengan kami ! Kami akan membuatkan usaha baru untuknya di kota Bandung" sambung Ayah Budianto.
"Benarkah ?" tanya Nenek Rukmini tersenyum senang.
"Iya Ibu. Kami akan melakukan apapun untuk membuat Ibu bahagia" jawab Ayah Budianto.
"Kalau begitu kita tunggu cucu Ibu pulang !" Pinta Nenek Rukmini membuat anak dan menantunya mengangguk.
Sementara Ayana yang masih menguping di luar segera meninggalkan rumah kontrakannya. Sepanjang perjalan ia menahan amarahnya agar tidak meledak, ia menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan kalian mengambil anakku. Dia hanyalah putraku, kalian tidak berhak untuk membawanya pergi apalagi menyakitinya" tegasnya. Tangannya terkepal mengingat bagaimana kedua orang tua Gama menolak anak yang ia kandung, bahkan dengan entengnya meminta Ayana mengugurkan kandungannya.
Pukul 5 sore, Ayana masih betah berada di tokonya. Ia enggan pulang karena kedua orang tua Gama masih berada di rumahnya. Gadgetnya sudah berbunyi sebanyak delapan kali, tapi ia tidak berniat mengangkatnya sama sekali.
Tak la gadgetnya berbunyi kembali, ia melihat nama yang tertera di layar gadget miliknya. Kali ini Ayana tidak menghindari panggilan masuk tersebut.
"Halo, ada apa Bio ?" tanyanya.
📞 "Ay, kamu kapan pulang ? Zayyan mulai menangis karena mencarimu !" jawab Fabio di seberang sana.
Saat ini Fabio berada di rumah kontrakan Ayana. Ia sengaja singgah karena ingin menemui Zayyan dan bermain dengan anak kecil itu, tapi ia terkejut saat mendapati adanya tamu di rumah Ayana. Fabio lalu meminta ijin untuk bertemu dengan Zayyan, saat mereka bermain tiba-tiba Zayyan menangis.
Sudah hampir setengah jam Zayyan menangis, akhirnya Fabio menghubungi Ayana.
"Bisakah kamu membawanya ke toko ?" tanya Ayana.
📞"Bisa, tapi kenapa kamu tidak kembali saja ? Apa kamu masih sibuk ?" tanya Fabio
"Nanti aku jelaskan jika kamu sudah disini. Tolong kamu bawa Zayyan bersama Bibi Ar !" pinta Ayana.
📞"Baiklah"
Mau tidak mau Fabio menuruti permintaan Ayana. Ia pamit lalu membawa Zayyan dan Bibi Ar ke toko Bakery milik Ayana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩
Author : Lena Laiha
Judul : Dendam Cinta