
Eps. 99
"Apa kau tidak takut jika orang tuamu tidak menemanimu?" tanya Clara kecil, menatap penasaran pada Arion.
Arion menampakkan senyum teduhnya dan menggeleng kecil. Ia duduk di tepi ranjang dan menggoyang-goyangkan kakinya pelan.
"Tidak. Orang-orang sering berlalu lalang di depan pintu, dan malam hari ibuku akan menemani ku disini."
"Lalu kenapa kau tidak dipasang infus? Sedangkan aku harus diinfus," tanya Clara sedikit tidak terima.
Arion tersenyum lebar. "Kau masih sakit. Aku sudah mulai sehat. Mama bilang, jika aku mau minum obat, aku tidak perlu diinfus."
"Lalu kenapa kau di rumah sakit? Kau kan bisa tinggal di rumah?" tanya Clara. Arion hanya mengedikkan bahu tidak tahu.
"Memangnya kau sakit apa? sepertinya kau baik-baik saja."
Arion menghentikan gerakan kakinya. Terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Entahlah. Tapi Mama bilang, tubuhku lemah. Terkadang aku harus sering keluar masuk RS untuk pengobatan. Mama juga menyuruhku agar banyak istirahat.
Mama bahkan tidak mengizinkan ku ikut olahraga di sekolah, karena dadaku akan sakit."
Arion melirik gadis kecil yang termangu itu dari sudut matanya. Tidak menyangka dia akan memberikan ekspresi kasihan.
"Hei, jangan menatapku seperti itu," ucap Arion ketika melihat Clara yang sedang menatapnya iba.
Setiap hari, mereka selalu bercerita atau bermain bersama. Sesekali mereka akan keluar ruangan ditemani orang tua mereka hanya untuk mengambil udara segar.
Arion merapikan anak rambut di kening Clara yang sedang mencoba tidur di sampingnya. Laki-laki manis ini duduk menemani Clara di ranjang gadis itu.
Clara bilang ingin tidur tapi ia tidak bisa karena orang tuanya masih memesan makanan di kantin bawah. Sejak Clara yang selalu nyaman dengan Arion, orang tua Clara mempercayakan Arion untuk selalu mengajak Clara bicara agar gadis itu tidak kesepian.
"Kenapa kau mau menemaniku disini?" tanya Clara, mendongak menatap Arion yang sedang duduk disisinya.
"Karena aku menyukaimu."
Clara tersenyum kemudian tertawa. "Ya, aku juga menyukaimu."
"Benarkah? Kalau begitu, maukah kau bersama ku selamanya?"
"Bolehkah begitu? Kita masih kecil. Mama akan memarahiku kalau kita pacaran," sergah Clara kemudian menutup mata dengan mulut cemberut.
Arion tertawa lebar, ia menegakkan punggungnya yang tadi bersandar di ranjang. "Kalau begitu saat dewasa nanti aku akan datang pada mu dan mengajakmu kencan, bagaimana?"
"Hm… kau harus sehat terlebih dahulu." Clara menguap dengan tangan kecil yang mengucek matanya ringan. "Tidurlah Arion, aku ngantuk," ucap Clara kemudian terlelap begitu saja. Tangannya menggenggam jemari Arion erat.
Dengan senyuman kecil, Arion bergerak merebahkan tubuhnya di sebelah Clara secara perlahan. Ia tidak mau membuat gadis kecil kesayangannya itu terbangun.
Selama ini, teman-temannya hanya akan mengejek karena tubuh lemah yang dimilikinya. Anak perempuan juga melihatnya prihatin tanpa mau terlibat terlalu dekat dengannya.
Namun, Clara berbeda. Gadis yang sedang tidur lelap disebelahnya itu tidak terusik dengan itu dan bermain bersama Arion dengan senyum lebarnya yang begitu manis.
Arion menyukainya. Ia memejamkan matanya dan berdoa agar Tuhan memberinya kesembuhan sehingga ia bertemu lagi dengan Clara saat dewasa nanti.
"Oh Tuhan," seru Mama Arion tertahan melihat kedua bocah itu tidur terlelap dengan tangan saling bertaut.
"Ayo, Sayang. Kita pulang," ajaknya.
"Baik Ma." Arion berjalan ke arah pintu dan menyambut tangan ibunya yang terulur, bergandengan keluar ruangan.
Hari ini Arion diperbolehkan pulang karena kondisinya yang sudah stabil.
Laki-laki kecil ini mencoba mencari Clara dengan bertanya orang tuanya. Arion terkadang mengajak orang tuanya untuk melihat ke sekolah lain siapa tahu Clara mungkin akan keluar dari salah satu sekolah itu. Namun, semuanya sia-sia.
Dan hal yang paling menyedihkan dan begitu menyakiti Arion … satu tahun kemudian, Arion meninggal.
Arion kecil melihat orang tuanya menangis di pemakamannya. Ia sedih, Arion tidak akan lagi bisa mengajak Clara untuk berkencan saat dewasa nanti. Namun, setidaknya ia hanya ingin bertemu dengan Clara sebelum benar-benar pergi.
Selama mencari berkeliling kota, Arion akhirnya menemukan Clara bersekolah di SD yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.
Satu hal yang Arion tahu, banyak sekali hantu jahat yang menyukai tubuh Clara. Sejak itu ia teringat alasan kenapa Clara begitu takut ditinggal sendirian karena hal itu terus mengganggunya.
Arion bersemangat ingin bicara pada gadis kecil yang disukainya namun ternyata ia harus berebut dengan hantu lain. Arion tidak bisa berbuat apa-apa.
Hantu kecil ini hanya bisa diam saat ia tidak bisa melawan hantu lainnya meskipun sekedar untuk berbicara dengan Clara. Ia cukup bisa mengikuti gadis yang dicintainya dari jauh dan melihat Clara tersiksa dengan gangguan hantu yang lain.
Arion marah. Jika saja ia bisa memiliki kekuatan dan melindungi gadisnya, Clara tidak akan tersiksa seperti itu.
Hingga suatu ketika, Arion menangis dengan kemarahan, melihat Clara histeris kesakitan saat hantu jahat mencoba menguasai tubuh kecilnya.
Tubuhnya gemetar ingin sekali mendekat, tapi intimidasi hantu itu sangat kuat membuat tubuhnya seolah enggan hanya untuk bergerak.
Arion benar-benar marah karena tidak bisa melakukan apapun. Padahal sebelum ini dirinya pernah berjanji akan melindungi Clara agar anak kecil itu tidak ketakutan lagi.
Beruntung, ibunya datang dan menyelamatkan Clara.
Dan sejak saat itu, Leo menutup pintu itu agar Clara tidak bisa melihat atau merasakan lagi.
Arion begitu bersedih. Kini kesempatannya berkomunikasi dengan Clara sudah tidak ada lagi. Para hantu yang biasanya mengikuti Clara juga mulai berkurang, dengan begitu Arion dapat mengambil langkah untuk lebih dekat dengan gadis kesayangannya.
Meskipun begitu, Arion masih mengikuti gadis itu dengan antusias, berharap suatu saat Clara akan bisa melihat hantu lagi. Tapi sebelum itu, Arion harus mengasah kekuatannya agar disaat itu terjadi, ia akan bisa menepis hantu lain yang mencoba mengambil miliknya.
Tahun demi tahun, Arion masih sabar memperhatikan Clara dari luar rumahnya, dan mengikutinya setelah keluar rumah. Ia tahu, keluarga Clara bisa merasakan hantu, bahkan ibu gadis itu bisa melihat hantu. Arion tidak mau membuat masalah untuk Clara.
Sesekali Arion mencoba berkomunikasi meskipun hanya satu arah. Namun semakin lama, Arion makin serakah. Saat melihat gadisnya tertarik pada laki-laki, hantu tampan ini tidak bisa hanya tinggal diam dan membiarkan Clara tersenyum pada laki-laki lain. Perhatian Clara hanya untuk Arion.
Selama mengikuti Clara, Arion juga mempelajari laki-laki seperti apa yang Clara suka. Meskipun rata-rata wajahnya tidak lebih tampan dari wajah Arion. Hantu kecil ini perlahan mengubah bentuk tubuhnya menjadi tubuh laki-laki dewasa seperti usianya sekarang jika saja dirinya masih hidup.
Arion sangat yakin, Clara akan menyukai wajah Arion dewasa yang lebih dari tampan.
Selain memperkuat kemampuannya, sedikit demi sedikit Arion juga mencoba membuka pintu untuk Clara agar mereka kembali berkomunikasi.
Bertahun-tahun, dan perlahan pintu yang Arion buka mulai berhasil. Hingga suatu saat, ia melihat gadisnya tidak sadar berbicara dengan hantu cantik bernama Lisya.
Arion sangat senang akhirnya Clara bisa melihat lagi, dengan begitu Arion akan bisa berbicara lagi dengan gadis itu.
Namun Lisya yang semakin tidak tahu diri membawa laki-laki pengganggu itu untuk Clara, membuat Arion geram dan tidak bisa menahan diri lagi.