
Eps. 93
Gadis bermanik hitam ini menatap bingung kantong plastik bening yang Reyhan berikan. Di dalamnya berisi sekotak susu vanila dan beberapa bungkus roti. Semua kesukaan Clara.
"Ambillah, setidaknya kau harus tetap makan," ucap laki-laki tampan itu tersenyum begitu manis. Mereka sedang berdiri di depan kelas Clara.
Clara memang tidak berselera makan dan lebih sering tiduran di kelas untuk menghabiskan waktu. Mungkin itu alasan Reyhan membawakan makanan ini padanya.
"Oh … terima kasih. Kau tidak perlu repot Rey, jangan membebani mu," ucap Clara mengambil kantong itu dengan enggan.
Senyuman manis itu belum luntur dari wajah Reyhan sedari tadi. "Tidak merepotkan. Oh … apakah sore ini kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu pergi makan. Eros bilang ada makanan enak yang baru buka di dekat alun-alun."
Clara menghela pelan. Biasanya ia akan menyetujui ajakan itu. Karena selama ini saat bersama Reyhan, ia merasa begitu nyaman. Setelah belajar bersama, nonton, membeli buku, kuliner makan, jajan dan hampir setiap hari mereka bersama sebelum ini.
Namun tidak kali ini, hatinya tiba-tiba ragu untuk kembali dekat dengan orang itu. Entah kenapa kenangan dengan Lisya seolah memperingati Clara agar tidak mendekati Reyhan. Ia bahkan sempat bermimpi tentang Lisya memintanya untuk menjauhi kekasihnya.
"Ah… maafkan aku. Aku sudah ada acara dengan keluarga ku," jawab Clara tersenyum culas, sedikit canggung.
"Begitu ya … baiklah kalau begitu. Jangan lupa dimakan ya, aku pergi dulu." Reyhan berpamitan tak lupa mengusap pucuk kepala Clara.
Bodoh! batin Clara merutuki dirinya sendiri.
Clara kesal, terus merutuki dirinya sendiri, menyesal telah menolak ajakan Reyhan.
Namun hati yang lainnya mengatakan untuk menolak ajakan itu, selalu mengingatkan bahwa perasaannya pada Reyhan tidak akan pernah berhasil.
Sudah beberapa hari, Reyhan datang menemui Clara di depan kelasnya dan memberikan beberapa makanan. Seperti susu, roti, air mineral atau bahkan kotak bekal yang Reyhan bawa dari rumahnya.
Tidak bisa menolak, Clara hanya bisa menerima pemberian itu. Ia tidak peduli dengan tatapan iri, benci, dan marah beberapa orang yang melihat Reyhan begitu peduli dengan Clara.
Namun ajaibnya, kini mereka tidak berani mengganggu Clara. Terkadang, hanya berpapasan saja, mereka tersentak, tertunduk, atau bahkan menghindari bertemu dengan nya. Sama seperti dulu saat Lisya masih ada. Sebenarnya Clara sedikit penasaran dengan itu namun ia mencoba tidak peduli.
Clara melihat Reyhan yang selalu dingin pada perempuan yang terlihat jelas menyukainya, dan bersikap biasa bahkan cenderung datar pada mereka yang tidak terlihat berbinar saat berhadapan dengannya.
Namun, wajah rupawan itu tiba-tiba berubah begitu lembut dengan senyuman yang terlalu sering diumbar untuk Clara. Begitu memperhatikan keadaan gadis itu, memberikan sesuatu yang tidak Clara perlukan. Meluangkan waktunya yang bahkan sangat sulit diminta oleh teman-temannya.
Pasti ada sesuatu yang salah.
Dan beberapa bulan terakhir, sentuhan di pucuk kepala, rangkulan, dan genggaman tangan sering Clara rasakan begitu hangat untuknya.
Apa dia menyukaiku?
Kau pikir begitu?
Lihatlah sikapnya begitu peduli pada ku, bukankah itu ketertarikan?
Apa kau lupa Lisya pernah mengatakan bahwa kau bisa merasakan perasaan cintanya pada Reyhan setelah Lisya meminjam?
…
Apa kau yakin Reyhan tidak salah memberikan perhatian hanya karena Lisya?
…
Kau juga pasti ingat, Reyhan sangat perhatian pada mu sejak Lisya meminjam, untuk menjaga kesehatanmu?
Tapi sekarang Lisya sudah pergi.
Benar, dan Reyhan sudah biasa bersama Lisya menggunakan tubuh mu. Apakah kau juga salah paham dengan rasa terima kasih sudah berbaik hati dengan kekasihnya?
Clara menggigit bibirnya erat, pikirannya terus berdebat tentang sesuatu yang begitu menyakitkan.
"Clara."
DEG
Gadis yang tengah duduk di depan kelasnya ini mendongak, menatap si pemilik suara. Mencoba tenang menatap Pangeran es yang baru saja ia pikirkan.
"Hei, ikut denganku," ajak laki-laki dengan senyum tampan itu.
Belum menjawab, Reyhan sudah meraih tangan Clara dan menariknya untuk mengikuti langkahnya. Banyak pasang mata yang melirik begitu berminat, namun seolah tidak peduli laki-laki itu terus berjalan masih menggenggam tangan Clara.
Gadis berambut lurus ini mencoba menenangkan perasaannya yang bercampur aduk, menatap tangannya yang Reyhan genggam. Ia terus mengingatkan dirinya bahwa perlakuan Reyhan padanya tidak ada yang spesial. Clara terus menepis perasaan bahagia yang juga bercampur dengan rasa sakit.
Namun dengan wajah rumit, ia tidak bisa mengendalikan semburat merah yang mungkin sudah muncul di wajahnya.
"Mau kemana?"
"Ikut saja."
"Duduklah," titah Reyhan mendudukan Clara di bangku yang ada di bawah pohon besar, tempat mereka biasa bertemu.
Reyhan memberikan es krim pada Clara, kemudian duduk tepat di samping gadis itu. "Temani aku makan es krim," ujar Reyhan lagi. Laki-laki blonde itu sudah memakan es miliknya dan menatap lurus ke arah lapangan. Meskipun tidak begitu jelas, mereka masih bisa melihat segerombolan anak laki-laki yang sedang bermain bola.
Clara membuka bungkus es krim itu dan memakannya.
Berbagai pertanyaan terus muncul di kepalanya. Potongan ingatan tentang perlakuan Reyhan yang membuatnya spesial, perasaan berdebar, sentuhan fisik yang Reyhan buat dan rasa bahagia yang membuat nya merasa bersalah pada Lisya. Dan semua barang pemberian laki-laki itu …
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanya Clara dengan mata setengah menerawang. Ia sudah lelah dipermainkan perasaannya sendiri.
"Tentu."
"Kenapa kau begitu baik pada ku?" tanya Clara membuat laki-laki di sebelahnya menoleh dengan es krim masih di mulut.
"Kau bahkan masih sangat dingin pada mereka yang menyukaimu."
Tidak langsung menjawab. Reyhan masih terdiam, membiarkan es krim biru muda itu meleleh di tangannya. "Apa kau tidak nyaman berada di dekat ku?"
"Bukan begitu. Hanya saja, aku tidak tahu alasanmu menjadi begitu baik pada ku."
Clara menoleh dengan penasaran, ia merasa hari ini dirinya harus mendapatkan jawaban itu.
Reyhan hanya terdiam dengan wajah seriusnya. Tidak ada senyuman disana, hanya tatapan yang begitu lekat tepat di manik mata Clara.
Hanya sepersekian detik, saat Clara merasakan benda lembut, kenyal dan basah tengah menempel pada bibirnya. Tangan Reyhan sudah membelai rambut Clara. Laki-laki itu kemudian mel*mat bibirnya lebih intens.
Clara sempat tersentak dengan pikiran kosong, namun rasa aneh yang menyengat hatinya, membuat Clara meleleh dalam ciuman itu.
Mencoba bernafas dengan baik, perlahan gadis ini membalas pang*tan yang Reyhan berikan, dan mulai memejamkan matanya menikmati waktu mereka. Membiarkan es di tangannya terjatuh ke tanah.
Perasaan ribuan kupu-kupu terbang menggelitik di perut dan dada Clara, rasa meleleh di dada merasakan pang*tan manis di bibirnya, semburat merah juga memenuhi wajah keduanya.
Clara menyukai nya. Clara benar-benar mencintai laki-laki yang sedang menciumnya saat ini.
Sangat mencintainya.
Andai ia bisa menghentikan waktu untuk saat ini–
"Clara."
Suara panggilan itu membuat gadis ini membuka mata sempurna. Ia melepas pang*tan dan mendorong tubuh Reyhan saat tiba-tiba saja ingatan tentang Reyhan dan Lisya menyerang pikiran Clara.
Rasa menyenangkan berubah seketika menjadi amarah dan rasa sakit di dada Clara. Gadis ini mencoba menenangkan nafasnya yang berderu karena gusar, menahan rasa yang sangat menyakitkan untuknya.
Apa … apa yang sedang ku lakukan?!
"Clara–"
PLAK
Clara menepis tangan Reyhan begitu keras, menatap laki-laki itu nanar dengan kening mengkerut.