
Eps. 18
“Mungkin aku tidak bisa meminjamkan tubuh ku pada mu, tapi aku bisa membantumu untuk menyampaikan pesan mu pada Reyhan,” ungkap Clara.
Rasa bersalah yang Clara rasakan sudah mengendalikan pikirannya kali ini. Clara hanya berdoa semoga ia tidak menyesali usulannya ini.
“Be-benarkah?” tanya Lisya setengah tidak percaya.
Clara menghela pelan dan mengangguk, tatapan Lisya berubah dari sebelumnya. Terlihat begitu bahagia dan berharap banyak. “Mari kita coba!” ucap Clara yakin.
Setidaknya, Clara tidak menggunakan tubuhnya untuk Lisya. Semuanya akan terkendali.
Lisya tampak terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Air mata Lisya kembali jatuh membasahi pipinya begitu saja, ia masih menatap Clara tak percaya.
Lisya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tidak bisa lagi menahan air mata yang jatuh semakin deras.
Terkejut melihat respon Lisya yang tidak sesuai dengan ekspektasinya, Clara jadi salah tingkah. Ia pikir Lisya akan bahagia dan bersemangat seperti biasanya begitu tahu Clara akan membantunya.
“E-eh?! Li-Lisya… kenapa menangis?” tanya Clara canggung, kini Clara bisa mendengar suara isakan di balik tangan itu. Beruntung ibu Ely sudah pergi beberapa saat lalu, jadi Clara tidak perlu lagi mencari alasan jika ada orang yang mendengarnya sedang berbicara sendiri.
“Hiks… terima kasih Clara…,” lirih Lisya masih menutup wajahnya.
“Mendengar mu ingin membantu ku, benar-benar membuat ku bahagia, sekarang aku tidak perlu sendiri lagi untuk menyampaikan perasaan ku pada Rey,” kata Lisya menatap Clara dengan terharu.
Terpaku melihat wajah Lisya yang penuh arti, Clara menarik bibirnya tersenyum kecil. Ternyata hanya membantunya menyampaikan pesannya membuat hantu cantik ini begitu bahagia.
“Aku bahkan belum mengatakan rencana ku pada mu. Aku bahkan tidak yakin ini akan berhasil,” kata Clara ragu.
Lisya menggeleng dan tersenyum senang. “Tidak masalah Clara, aku cukup bahagia telah mendapatkan teman untuk menyampaikan pesan ku pada Rey. Aku tidak sendiri lagi,” sanggah Lisya.
Clara mengangguk dan tersenyum kecil. Namun, masalah saat ini, Clara sedikit ragu, apa yang akan dia lakukan untuk membantu Lisya.
Satu-satunya cara agar Lisya dapat pergi dengan tenang adalah memenuhi keinginan terakhirnya, seperti yang Leo katakan.
.
.
.
Suara derap kaki terdengar sedang terburu-buru datang memasuki kelas dua belas IPA dua. Ia berjalan setengah berlari setelah melangkah memasuki kelas.
“Permisi… permisi…,” suara Dita tengah melewati teman-temannya satu persatu.
“Alice!” seru Dita kemudian duduk di samping Alice.
“Apa?” sahut Alice mengernyitkan dahi menatap Dita jengah.
“Apa kau dengar suara kaca pecah?”
Alice menyandarkan bahunya pada kursi, menatap Dita datar. “Dengar. Pintu kelas dua belas IPA satu pecah karena tertiup angin kencang.”
“Benar! Dan satu orang siswi menjadi korban, dia adalah Clara!” ujar Dita panik dalam satu tarikan nafas.
Suara Dita yang cukup keras membuat murid-murid yang masih di dalam kelas menolehkan pandangannya pada Dita.
“Clara?”
“Clara? Kenapa Clara?”
“Ada apa?”
Pertanyaan teman-teman sekelasnya dapat Dita dengar. Dita kembali mengalihkan pandangannya pada Alice, mengabaikan pertanyaan teman-temannya.
“Clara ada di UKS, ayo kesana,” ajak Dita lalu berdiri dan berlari ke luar kelas.
“Clara sedang terluka, dia ada di UKS,” ucap Alice pada teman-temannya agar mereka tidak penasaran, sebelum akhirnya berjalan mengejar Dita.
.
.
“Jadi… kau akan berbicara dengan Reyhan, aku berdiri disampingmu dan akan menyampaikan apa yang kau katakan padanya,” kata Clara menjelaskan dengan gerakan tangannya.
Clara menatap Lisya yang tampak berpikir, kemudian menatap Clara ragu. “Apa dia akan mempercayai mu?” tanya Lisya ragu.
“Hmm…,” deham Clara. Clara melipat kedua tangannya di depan dada tampak berpikir keras.
"Aku tidak tahu. Apa kau ada ide lain?"
Lisya menggeleng pelan. “Bagaimana caranya kau menemuinya?” tanya Lisya lagi.
“Aku akan menemuinya dan mengatakan, ‘Bisakah kita bicara sebentar? Ada yang ingin ku sampaikan pada mu’. Bukankah banyak perempuan yang juga meminta waktu untuk bertemu dengannya?”
“Bagaimana kau tahu?”
“Rumor yang menyebar.”
“Kau bilang tidak mengenal kami?”
“Ya, sampai akhirnya kau mengikutiku dan membuat ku tahu rumor tentang Reyhan,” tegas Clara.
“Seperti yang ku katakan tadi. Aku mengajak Reyhan bertemu, membawanya ke tempat sepi, lalu kau mulai bicara dan aku menyampaikannya pada Reyhan. Selesai... mungkin,” ujar Clara ragu.
Lisya mengernyitkan keningnya, lalu memutar bola matanya malas. “Sepertinya kau tidak yakin, Clara.”
“Kita coba saja, hanya itu yang bisa kupikirkan saat ini. Katanya, Reyhan tidak pernah menolak jika ada anak yang ingin berbicara empat mata dengannya, meskipun akhirnya dia menolak perasaan mereka."
Melihat Lisya yang masih berpikir keras karena tidak yakin, Clara kembali bertanya, "Mungkin kau ada ide lain selain meminjam tubuhku?"
Lisya mengibaskan tangannya di depan Clara. “Baiklah, baiklah… aku serah kan semua pada mu saat ini.”
“Baiklah, kita coba strategi pertama. Ayo!” ujar Clara yang sudah turun dari ranjang, dan berjalan menuju pintu.
“Kemana?”
“Kembali ke kelas,” sahut Clara.
Clara membuka pintu dengan semangat, namun tubuhnya sedikit tersentak saat menemukan ibu Ely yang hendak membuka pintu yang juga sedikit terkejut.
“Kau mengagetkan Ibu,” tegur Bu Ely.
“M-maaf Bu…,” kata Clara meminta maaf, sedikit menundukkan kepala.
“Sudah baikan?” tanya Ibu Ely lagi.
“Iya Bu… Saya baik-baik saja. Saya pamit kembali ke kelas,” pamit Clara. Ibu Ely mengangguk mengerti, lalu melangkahkan kakinya masuk setelah Clara keluar dari UKS.
.
.
Clara sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat situasi kelas saat ini membuat Lisya mengernyitkan keningnya menatap Clara jengah.
“Kau bilang akan kembali ke kelas, lalu untuk apa sekarang kau berdiri di sini?” tanya Lisya ketus, ia sedang berdiri di samping Clara.
Saat ini Clara sedang berdiri di lorong, lima meter di depan pintu kelas Reyhan. Kelas unggulan memang terpisah dengan kelas biasa, letak kelas Reyhan saat ini jaraknya sedikit jauh dengan kelas Clara.
Pintu tadi masih terpasang, hanya saja pecahan kaca sudah bersih, tidak bersisa.
Clara menarik tubuhnya untuk bersandar pada tiang yang cukup besar. Ia tidak mau berlama-lama melihat kelas itu, khawatir yang punya kelas akan curiga.
“Aku hanya ingin melihat situasi sebentar. Jika saat ini ada kesempatan, kita bisa langsung melakukannya saat ini juga."
"Kalau kau bertemu Rey, kau akan mengajaknya bicara?"
Clara mengangguk mantap. "Tentu, agar misinya cepat selesai!"
Untuk mempersiapkan mentalnya bertemu Reyhan, Clara mencoba membuat reka adegan di kepalanya saat ini. Memang benar Reyhan tidak pernah menolak saat anak perempuan memintanya untuk menyampaikan perasaannya.
Namun, Clara benar-benar tidak nyaman dengan sikap manusia es itu yang menatap lawan bicaranya begitu datar dan dingin. Bagaimana bisa anak perempuan menyukai laki-laki seperti itu.
“Hei Reyhan, kau tahu Lisya kan? Pacar mu. Aku ingin menyampaikan pesannya untuk mu,” kata Clara bersemangat.
Dibayangan Clara, Reyhan hanya diam menatap Clara datar.
Clara menggelengkan pelan. Jika ia mengatakan hal seperti itu, sudah dipastikan Reyhan akan melihatnya dengan tatapan aneh.
Clara menghela pelan. “Aaahhh…"
Ternyata memang tidak semudah itu.
Lisya menghela berat melihat tingkah Clara yang tampak aneh di matanya.
Di saat Clara sedang berpikir dengan keras, Aldio menatap ke luar jendela menemukan Clara yang tampak sedang berpikir.
“Hei, Reyhan… bukankah itu anak perempuan yang tadi?” tanya Aldio menunjuk keberadaan Clara.
Reyhan menoleh melihat ke arah tunjukan Aldio.
Eros Pun ikut menoleh. “Hmm… sepertinya dia benar-benar-benar menyukaimu, Rey… haha.” Tawa Eros terhenti saat melihat Reyhan yang tiba-tiba berdiri dan berjalan ke luar kelas.
“Loh, tumben sekali,” kata Aldio santai. Melihat Reyhan berjalan keluar kelas ke arah Clara yang sedang berdiri.
“Hm… kau benar… tumben sekali,” sahut Eros.
“Mmmm… Clara…,” suara Lisya memanggil Clara yang masih serius berpikir dan bergumam pelan.
“Hmm?”
“Clara… itu…,” kata Lisya menunjuk seseorang yang datang dan berdiri di belakang Clara.
“Clara!!”
“Apa?!”
Clara menatap Lisya yang tengah mengernyitkan dahinya, tampak khawatir. Clara masih setia menatap Lisya penasaran, Lisya bahkan memberi bahasa isyarat yang tidak Clara mengerti.
“Berbalik!” suruh Lisya panik.
Clara menaikkan sebelah alisnya lalu berbalik. Seketika Clara mendongakkan kepalanya, dengan mata membulat menatap seseorang yang berdiri di depannya.