You Saw Me?!

You Saw Me?!
Cinta masa kecil



Eps. 102


Tubuh Clara tersentak dengan tangisan yang sempat terhenti saat Arion tiba-tiba memeluknya begitu erat terlihat jelas jika itu adalah pelukan perpisahan. Clara menggerakkan tangannya dan membalas pelukan Arion begitu erat, sebuah pelukan terakhir yang akan Clara kenang setelah ini.


Leo menatap keduanya prihatin. Mengerti situasi mereka karena Leo lah yang sering menemani mereka saat keduanya kecil dulu.


Harumi yang sempat tidak terima melihat pemandangan itu perlahan melunak karena ibu Clara ini tahu, Arion tidak akan lama disini.


Sedangkan Ryo dan Reyhan yang tidak bisa melihat apa yang ada di hadapannya, melihat Clara dengan gerakan yang cukup aneh karena gadis itu terlihat memeluk sesuatu.


Arion mengurai pelukan itu dan menatap Clara sendu. "Jangan menangis, oke? Aku sangat sedih melihatmu menangis seperti itu," pinta Arion. Clara mengangguk cepat, mengiyakan permintaan teman kecil nya itu.


"Maafkan aku," ucap Arion lagi merasa bersalah dengan senyuman sendunya. Namun, wajahnya kini sudah tidak se kacau sebelumnya.


Sepertinya Arion sudah mulai menerima keadaannya saat ini. Clara sangat bersyukur.


Gadis pucat ini tersenyum dan menggeleng cepat. "Tidak perlu meminta maaf."


Arion menghela pelan dengan senyum yang tercetak sangat tampan di wajah itu.


"Terima kasih, Sayang … terima kasih sudah mengingatku. Sebenarnya aku ingin menemuimu karena ingin berpamitan, tapi aku menjadi serakah.


Apa kau tahu? Aku telah membuat wajah ini untuk mu. Aku tidak menyangka ternyata wajahku begitu tampan dan sesuai dengan seleramu," ucap Arion kemudian tertawa kecil.


Clara terkekeh kecil. "Benar. Kau memang tampan. Kau saaaangat tampan, aku menyukainya."


Senyum Arion begitu teduh dengan tatapan lembut. Detik berikutnya, tubuh Arion mengeluarkan cahaya-cahaya kecil, dan berubah menjadi Arion kecil berusia sepuluh tahun, sebelum meninggal dulu.


Sekarang, Arion terlihat tersenyum dengan wajah imutnya. Clara terpaku di tempat, tercengang melihat penampilan Arion.


Clara tersenyum sangat pilu, namun dengan hati yang menghangat. Wajah itulah yang Clara kenal. Wajah itu yang pernah mencuri hati Clara dulu.


Saat itu, Clara tidak bisa berpamitan dengan benar, karena Arion sedang tidak sadar selama beberapa hari.


Arion tiba-tiba jatuh dan pingsan saat mengejar Clara yang hampir saja jatuh saat berlari. Clara sangat syok melihat Arion, ia bahkan menangis sejadi-jadinya takut Arion akan meninggalkanya.


Pada saat Clara sembuh dan harus keluar dari rumah sakit, Arion masih belum sadarkan diri.


Clara harus pulang dengan ikhlas, setidaknya ia tahu bahwa laki-laki itu baik-baik saja.


Clara tidak bisa menahan air matanya lagi melihat Arion kecil di hadapannya, anak kecil ini yang terus menunggu Clara hingga sebesar ini dengan sabar dan merelakan ketenangannya untuk Clara.


Arion kecil terkejut melihat wajah sedih Clara membuatnya kembali memeluk Clara erat untuk menghibur gadis yang sedang bersedih itu.


Leo dan Harumi bahkan mengalihkan pandangannya karena tidak sadar air mata mereka juga turun begitu saja. Mereka tahu bagaimana sedihnya Clara saat itu, saat melihat Arion terbaring tanpa bisa berpamitan.


Reyhan dan Ryo terlihat canggung dengan ketiga orang itu yang sedang meneteskan air mata. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, hanya saja suasana ini terlihat begitu memilukan.


"Sudah ku bilang untuk tidak menangis. Kau akan membuat ku sedih."


Arion melepas pelukan dan tersenyum begitu manis dengan senyuman kecilnya. "Aku mencintai mu. Dan aku ingin kau bahagia. Aku juga akan bahagia untuk mu, janji?" ucap Arion membuat pinky promise dengan Clara.


Clara tertawa singkat di antara tangisannya. Ia mencoba tersenyum meskipun masih susah untuk berhenti menangis. Gadis ini menghapus jejak air matanya cepat dan mengambil nafas dalam-dalam agar bisa berhenti menangis.


Senyuman Arion kecil begitu ceria. Anak mungil itu berpamitan dengan melambaikan tangan pada Harumi dan Leo, begitu juga pada Clara.


"Sampai jumpa lagi, Sayang," pamitnya kemudian menghilang menjadi butiran cahaya dengan senyum mengembang yang tidak pernah sirna dari wajahnya.


Sedikit sesegukan, Clara masih menatap cahaya terakhir yang kini sudah menghilang.


Cinta pertamanya saat kecil dulu sekarang akan benar-benar bahagia. Rasa ngilu dan senang di hatinya terasa meremas di dada Clara.


"Selamat tinggal, Sayang," lirih Clara pelan.


Rasa nyeri di seluruh tubuhnya kini ia rasakan saat Arion benar-benar pergi. Clara sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia terjatuh dan pingsan.


Leo dan yang lainnya berlari pada tubuh yang terbaring di lantai itu. Clara masih sangat lemah, entah kekuatan dari mana gadis itu bisa bertahan saat mengucapkan kata perpisahannya dengan Arion.


Reyhan menunduk, menatap Clara yang sedang berbaring di ranjang coklat itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa nyeri yang sedari tadi singgah di hatinya, melihat apa yang Clara lakukan meskipun Reyhan tidak benar-benar melihat apa yang terjadi.


Benar yang Lisya katakan. Saat memasuki alam mimpi Clara, Reyhan sempat takjub melihat Arion yang begitu tampan. Reyhan ragu, apakah Clara akan bisa melupakan laki-laki setampan itu?


.


.


.


Setelah dua hari tidak sadarkan diri, Clara akhirnya membuka mata di hari ketiga. Harumi mengajukan istirahat hingga seminggu penuh agar anak gadisnya itu bisa beristirahat dengan baik.


Di rumahnya, Clara hanya mampu terdiam seolah kehilangan sesuatu. Ia lebih suka berdiri di samping jendela dan melihat apa saja yang ada di hadapannya.


Clara masih sedikit bersedih mengingat perjuangan Arion yang tidak biasa. Namun ia juga bahagia karena akhirnya cinta kecilnya bisa bahagia saat ini.


Hal lain yang begitu mengganggu adalah rasa rindunya pada Reyhan yang terasa begitu mencekik. Sedangkan bayang-bayang Lisya masih menghantui di belakang Reyhan.


Clara yang paling tahu bagaimana perasaan Lisya yang sebenarnya pada Reyhan. Ia terlalu takut untuk mencintai Reyhan meski Lisya sudah tiada. Sebab, jika bukan karena Lisya, Clara tidak akan bisa dekat dengan Reyhan.


Clara merasa menghianati Lisya jika rasa itu tumbuh meski tidak diinginkan. Clara sangat tulus membantu keduanya, tapi perasaan itu memang tidak bisa diatur. Ia juga pernah melihat wajah Lisya yang begitu marah ketika melihat gadis-gadis yang menyatakan perasaannya pada Reyhan.


Jika Clara juga menyatakan perasaan itu dan Lisya melihatnya, ia sangat yakin Lisya akan sangat kecewa.


"Kenapa aku harus menyukai Reyhan," lirih Clara begitu frustasi.


Sejak Clara mulai kembali masuk ke sekolah. Ia berubah menjadi pendiam dan terlalu suka melamun. Ia bahkan mulai menghindari Reyhan sebisanya.


"Emmm … Rey, maafkan aku tapi … bisakah aku sendiri dulu? Aku ingin fokus pada ujian nasional beberapa bulan lagi. Kau jugakan?" tanya Clara tersenyum canggung.


Reyhan terdiam cukup lama menatap gelagat aneh dari tingkah Clara. Pangeran Es ini menghela berat lalu mengiyakan permintaan Clara.


Alice dan Dita juga hanya bisa diam melihat Clara yang terlihat lebih pemurung dari sebelumnya. Clara bahkan lebih sering membawa bekal seadanya dan jarang keluar kelas. Ia lebih suka tidur dikelas saat jam istirahat.


Clara juga tidak menceritakan apapun pada kedua temannya. Alice dan Dita mengetahui cerita sebenarnya setelah mereka bertanya pada Reyhan.


Alice menghela pelan. Ia dan Dita sedang bersama Reyhan saat ini. "Saran ku, lebih baik kita biarkan saja dia sementara waktu sampai ujian selesai. Kita juga harus mempersiapkan diri untuk ujian nasional dan ujian masuk universitas," usul Alice yang diangguki oleh Dita dan Reyhan.