You Saw Me?!

You Saw Me?!
Emosi sesaat



Eps. 13


Hari ini suasana sekolah SMAN 1 sedikit dingin, entah karena suasana dingin atau karena berita duka yang sudah mulai menyebar pagi ini.


Seorang anak perempuan meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Topik mengenai kematiannya terus dibahas oleh guru, murid dan semua perangkat sekolah hingga seharian penuh. Bahkan terus mengalir hingga beberapa hari berikutnya.


“Kasihan Lisya, umurnya masih terlalu muda,” kata Dita ikut berduka.


“Umur kita memang tidak ada yang tahu,” sambung Alice yang duduk di depan Dita dan Clara.


Alice, Dita dan Clara duduk di kelas mereka karena jam pelajaran sedang kosong.


“Lisya yang mana?” tanya Clara.


“Kau tidak tahu siapa Lisya?” tanya Dita takjub. Clara menggeleng yakin.


“Dia anak unggulan, kekasih Reyhan,” sambung Alice.


Clara diam, tampak sedang berpikir. “Kau tidak tahu teman kita sendiri?” tanya Alice.


“Aku hanya tahu wajah tapi tidak nama mereka, atau aku pernah mendengar nama mereka tapi aku tidak pernah tahu wajah mereka,” jelas Clara santai.


“Lisya anak kelas unggulan yang cantik itu loh,” kata Dita gemas.


“Di kelas itu sepertinya cukup banyak murid cantik,” jawab Clara tanpa beban.


“Anak perempuan Cantik yang sering bersama Reyhan,” tambah Alice.


“Reyhan yang mana? Sepertinya ada beberapa nama Reyhan di sekolah kita, apa kalian lupa sekolah kita punya banyak sekali murid? Aku tidak mungkin menghafalnya satu per satu,” sanggah Clara.


Dita dan Alice menghela berat. “Aku tidak memiliki fotonya. Kasihan sekali, dia sungguh cantik. Aku dengar Reyhan sangat terpukul dengan kematian Lisya,” ucap Dita terlihat iba.


“Benar, Reyhan bahkan tidak masuk hari ini,” tambah Alice.


.


.


"Sudah ingat?" tanya Dita dengan mata yang mengernyit. Clara hanya nyengir kuda.


“Sejak Lisya meninggal, Reyhan berubah menjadi sangat dingin terutama pada perempuan. Dia tidak memandang siapapun, saat ada seorang perempuan yang mendekatinya, dia akan menjadi sangat dingin dan tidak berperasaan,” jelas Dita.


“Reyhan memang sangat populer, saat dia bersama Lisya sekalipun, masih ada anak perempuan yang mencoba mendekati Reyhan, banyak. Terutama kakak kelas,” sambung Dita lagi.


Alice mengangguk. “Reyhan yang sekarang tidak seperti dulu, sepertinya dia lebih banyak di kelas atau sesekali bersama teman-temannya. Padahal saat bersama Lisya, dia benar-benar anak yang baik dan ceria,” ujar Alice.


“Benar, banyak sekali yang menyatakan perasaan mereka pada Reyhan, entah secara langsung atau lewat surat. Tapi dengar-dengar, Reyhan menolak mereka dengan sedikit sadis,” tambah Dita.


Clara hanya diam memperhatikan dengan seksama apa yang kedua temannya sampaikan.


“Dari kabar yang ku dengar, anak yang berani menyatakan perasaannya pada Reyhan adalah anak yang cukup cantik dan cukup populer di sekolah kita, entah dari adik kelas sampai senior kita,” jelas Dita.


“Apakah sampai sekarang masih berlanjut?” tanya Clara.


“Hm... masih, terutama di kalangan junior. Bahkan ada anak sekolah lain yang mencoba mendekati dan menyatakan perasaannya pada Reyhan,” jawab Alice.


“Bisa jadi Reyhan masih sangat mencintai Lisya,” gumam Clara.


“Gagal move on maksudmu?” tanya Dita.


“Bisa jadi seperti itu,” jawab Clara.


“Benar Clara, bisa jadi dia tidak mau move on. Dia memang sangat mencintai Lisya,” timpal Alice membenarkan.


Dita mengernyitkan keningnya dan berpikir. “Apa harus seperti itu? Sayang sekali wajah tampannya jadi sia-sia,” gumam Dita menerawang membayangkan wajah Reyhan.


“Tapi… kau tidak mengetahui anak sepopuler dan setampan itu, kau benar-benar kurang bersosialisasi,” kata Alice mengetuk kening Clara dengan telunjuknya.


“AAAuu, Alice!” desis Clara. “Apa kalian lupa? laki-laki tampan di sekolah kita ini banyak,” cibir Clara mengingatkan.


“Tidak, tidak, Reyhan tetap yang paling populer,” sahut Dita menggerakkan telunjuknya di depan Clara.


Clara memutar bola matanya malas, ia membiarkan saja apa pendapat teman-temannya.


Pembicaraan tentang kematian Lisya terlalu menyedihkan untuk Clara, membuat Clara sebisa mungkin tidak mendengarkan lagi apapun tentang kronologi kematian Lisya.


Clara tidak memiliki kesempatan mengetahui wajah Reyhan, karena setelah kematian Lisya, Reyhan tidak terlihat di sekolah. Kabar duka itu akhirnya memudar dua minggu setelahnya, dan disusul oleh ujian semester, membuat Clara melupakan hal menyedihkan itu.


“Aku pernah memberitahumu wajah Reyhan dan Lisya kan?” suara Dita tiba-tiba membuyarkan lamunan Clara.


“Benarkah?” tanya Clara.


“Hmm... Dita menunjukkan foto mereka di Acebuk,” sambung Alice.


Clara kembali nyengir kuda. “Eh, hehehe.. mungkin aku lupa.”


Alice dan Dita serempak memukul kepala Clara dengan buku yang berada di meja Clara.


.


.


.


Sudah beberapa hari ini Lisya benar-benar tidak mengganggu ku. Dia bahkan tidak terlihat di sekitar Reyhan lagi.


Tapi… kenapa rasanya ada yang tidak nyaman. Clara meremat baju di depan dadanya.


Clara berjalan melewati lorong setelah menyelesaikan keperluannya di perpustakaan. Tanpa sadar Clara mendongakkan kepalanya dan melihat papan dua belas IPA satu.


Ini kan kelas Reyhan? batin Clara.


Clara mencoba melirik ke dalam kelas, penasaran apakah Reyhan ada di dalam atau tidak. Clara menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk kelas, saat ia melihat Lisya berdiri di sebelah Reyhan.


Lisya tampak sedih.


Ternyata dia masih di sini. Apakah dia benar-benar Lisya yang Alice dan Dita ceritakan? Dia benar-benar cantik, seperti yang Dita sebutkan, gumam Clara.


Clara masih berdiri di depan kelas Reyhan, sedikit bersembunyi di belakang pintu.


Melihat ekspresi Lisya yang terlihat sedih, ucapan Dita tentang perubahan Reyhan dan kisah cinta mereka yang cukup menyedihkan, kembali Clara ingat.


Seharusnya aku tidak perlu mengetahui kisah menyedihkan itu.


"Rey, coba kau lihat. Itu… wanita di depan pintu yang mendorong mu waktu itu kan? Sepertinya dia menatapmu dari tadi,” ujar Eros menunjuk Clara dengan dagunya.


Reyhan menoleh sesaat lalu kembali menatap layar ponsel di tangannya. “Jangan hiraukan dia,” jawab Reyhan tidak peduli.


Lisya masih terdiam menatap Reyhan yang sedang sibuk dengan ponselnya, tidak mendengarkan ucapan Eros.


“Sepertinya memang dia, melihatmu dengan wajah ketakutan dan sekarang menatapmu dengan lekat,” goda Aldio. Laki-laki tampan berkacamata, yang duduk di depan Reyhan.


“Hmm... Terserah, aku tidak peduli,” ucap Reyhan datar.


Mendengar pernyataan Aldio, Lisya menolehkan wajahnya dengan cepat ke arah pintu. Lisya menatap Clara tajam saat pandangan mereka bertemu, membuat Clara tersentak. Clara tidak menyangka bahwa Lisya akan menoleh.


Sedang apa dia di sini! marah Lisya dalam hati.


Lisya mengepalkan tangannya membentuk tinju yang kokoh.


Lisya melihat Clara sedikit membuka mulutnya lalu menutupnya kembali seperti ingin menyampaikan sesuatu.


Namun dengan kekuatannya, Lisya menggerakkan tangannya seperti sedang menyapu angin, dan tiba-tiba saja pintu di depan Clara tertutup seolah di banting. Clara hendak pergi saat melihat pintu tertutup dengan sangat keras disertai angin kencang.


Kaca pintu itu pecah, bunyi nyaring pintu tertutup dan kaca pecah jatuh berserakan bersamaan dengan suara teriakan murid-murid yang ada di dalam kelas Reyhan, membuat suasana sedikit mencekam.


PYAAAARR


KYAAAAAAA


Clara reflek menutupi wajah dengan kedua lengannya. Angin yang berhembus keras membuat Clara sedikit mundur dan terjatuh tidak jauh dari depan pintu.


Bunyi keras pintu yang tertutup cukup membuat seluruh penghuni kelas dan murid yang berlalu lalang terkejut bukan main.


Pecahan kaca berserakan di sekitar pintu bahkan ada yang terlempar jauh dari pintu. Clara menurunkan lengannya, Ia melihat pecahan kaca yang berserakan dan beberapa murid yang hendak lewat juga terjatuh tidak jauh dari Clara.


Clara terpaku dengan wajah memucat. Otaknya masih dengan lambat mencerna apa yang baru saja terjadi.


“A-apa yang terjadi?” gumam Clara tampak kebingungan.