You Saw Me?!

You Saw Me?!
Hari kelulusan



Eps. 103


Reyhan berjalan ragu ke arah pintu coklat pada rumah yang ada di hadapannya, kemudian menekan bel ragu-ragu.


Baru saja tangan Reyhan lepas dari bel, pintu itu sudah terbuka. Leo sudah tersenyum disana menyambut Reyhan ramah.


"Sudah sampai? Aku sudah menunggu mu," ucapnya santai. "Ayo masuk," suruhnya lagi.


Reyhan merinding mengetahui kenyataan bahwa Leo sudah tahu bahwa ia akan datang berkunjung. Padahal Reyhan tidak menghubungi atau memberitahukan itu sebelumnya. Tidak memperdulikan itu, Reyhan melangkah masuk ke rumah mungil penuh bunga itu.


*


Reyhan meletakkan cangkir teh yang baru saja ia minum. Keadaannya cukup canggung. Dilihatnya Leo yang sedang menyeruput teh nya dengan nikmat, air muka laki-laki paruh baya itu begitu tenang.


"Jadi?" tanya Leo membuat Reyhan tersentak dari lamunannya.


"Ah, iya Paman. Saya hanya ingin berkunjung," jawabnya salah tingkah namun mencoba tenang.


Paman itu tersenyum, seolah mengerti sesuatu membuat Reyhan keheranan.


"Maafkanlah Clara. Dia sedang dalam kerumitan pikirannya sendiri," ucap Leo tiba-tiba.


Reyhan termangu. Oke, apa Paman itu bisa membaca pikiran? Biarlah, Reyhan menepis itu dan berhenti mengelak tentang tujuan kedatangannya ke rumah Leo.


"Ah ya, Paman."


"Kau sudah cukup bersabar. Tunggulah sampai saatnya dia mau bicara dengan mu. Mungkin setelah selesai ujian nasional. Kau juga harus fokus kan?" tanya Leo lagi. Reyhan hanya mengangguk mengiyakan.


Sangat takjub dengan kemampuan Leo meskipun sebenarnya Reyhan sudah mengerti sejak awal. Reyhan berpikir sedari tadi, mungkin akan lebih baik jika ia langsung meminta pendapat pada Leo.


"Paman … boleh aku tanya sesuatu?"


"Tentu."


"Tentang Arion … apakah Clara masih memikirkannya?" tanya Reyhan tidak yakin dengan pertanyaannya sendiri.


Sekali lagi, laki-laki yang sedang bersandar santai itu tersenyum penuh arti dan Reyhan tidak menyukai senyuman itu.


"Tidak. Arion mungkin adalah kenangan cinta masa kecilnya, tapi Clara tidak memikirkan itu," jawab Leo.


Reyhan termangu menatap Leo. Senyuman laki-laki itu cukup menyebalkan. Kenapa dia tidak mengatakannya saja semuanya tapi harus dengan bahasa abu-abu.


Laki-laki blonde ini menunduk sedang berpikir. Sedikit banyak Reyhan mengerti, namun ia butuh sebuah kepastian bukan hanya spekulasi pikirannya sendiri.


Apakah Clara tidak bisa move on dari Arion? Pertanyaan itu sudah dipatahkan. Lalu kenapa?


"Dia sedang berdiri di tepi jurang … untuk mu. Semua tergantung pilihanmu, Rey. Dia akan terjatuh jika kau mendorongnya, dan akan berpegangan erat pada mu jika kau menariknya kearahmu," ucap Leo lagi.


Itu sulit. Ucapan Leo terlalu banyak perumpamaan.


"Tapi … semua butuh waktu," imbuh Leo.


"Waktu?" tanya Reyhan penasaran.


Leo tersenyum begitu senang padahal Reyhan sudah sangat penasaran. "Benar."


.


.


.


Kesibukan ujian nasional membuat semua murid di sekolah negeri ini sibuk dengan persiapan mereka masing-masing. Minggu depan adalah ujian nasional.


Sudah sejak saat itu Clara tidak berkomunikasi sama sekali dengan Reyhan. Gadis ini menenggelamkan pikirannya dengan belajar agar bisa mengalihkan kerinduannya pada Reyhan.


Jika ia sudah tidak sanggup, sesekali ia akan melihat Reyhan dari jauh sepuas hatinya. Alice dan Dita hanya mampu melihat Clara dengan prihatin.


"Kenapa tidak kau terima saja perasaan Reyhan?" tanya Dita gemas.


"Kalian tidak akan mengerti," sanggah Clara.


Mereka sedang bermain video game di rumah Dita, setelah baru saja menyelesaikan belajar bersama.


"Itu hanya ada dalam pikiranmu Clara, Lisya–"


"Sudahlah Alice!" potong Clara menaikan nadanya.


"Aku terus bermimpi buruk tentang Lisya yang kecewa pada ku. Aku menyukai Reyhan, bukan! Aku mencintainya tapi hidupku tidak tenang dengan Lisya yang selalu menjadi mimpi burukku," ucapnya kesal.


Alice dan Dita terdiam. Setelah kejadian dengan Arion beberapa saat yang lalu, Clara kini semakin enggan bercerita pada kedua temannya. Dan terlalu sensitif tentang hal yang berurusan tentang Reyhan.


Clara berdiri begitu saja dengan mood yang sangat buruk. "Maaf, aku pulang dulu. Sampai jumpa di ujian nasional senin besok," ucap Clara kemudian dengan terburu-buru mengambil tas dan pergi setelahnya.


"Apa kau pikir Clara sedang depresi?" tanya Dita iba.


"Ya. Sepertinya ujian masuk universitas, ujian nasional, Lisya dan Reyhan cukup menguras pikirannya."


Ujian nasional berjalan dengan menegangkan. Clara tak henti-hentinya belajar dengan berlebihan. Bukan hanya untuk ujian nasional atau universitas, tapi juga untuk menghilangkan Reyhan dari pikirannya.


"Apa? Kenapa tidak mengambil kuliah di dalam kota? Kau tau kan kota M itu sangat jauh? Butuh empat jam dengan mobil–"


"Satu jam dengan kereta, Ma," potong Clara.


Ryo yang mendengarkan perkumpulan keluarga ini segera berdiri dan menjauh. Setelah ini hal tidak akan menjadi bagus. Kakaknya yang bersikeras ingin kuliah di luar kota dengan Mamanya yang tidak mau Clara pergi jauh, akan terjadi perang sebentar lagi.


"Aku mau tidur dulu," pamit Ryo kemudian berjalan ke arah kamarnya.


BLAM


Bunyi pintu yang Ryo tutup terdengar cukup keras melihat situasi yang sangat hening di ruang keluarga.


"Apa itu karena Reyhan?" tanya Harumi.


"Ma–" ucap Ezra yang tidak selesai karena kembali Harumi potong.


"Jawab Clara," tanya Harumi penuh penekanan.


"Ma … aku hanya ingin kuliah dengan tenang. Hanya empat tahun dan aku berjanji akan kembali kerumah," jawab Clara memohon pada ibunya.


"Tidak masalah, Sayang. Kita akan mengunjungi Clara sesering mungkin, Oke?" bujuk Ezra.


Harumi menghela berat, memijat pangkal hidungnya pelan. "Beri Mama alasan yang tepat, kenapa Mama harus menyetujuinya."


.


.


.


Ujian nasional sudah berlalu, dan Clara sudah diterima di universitas yang dia inginkan. Besok adalah hari kelulusan, ia akan berpamitan pada Reyhan.


Suasana kelulusan begitu khidmat di aula sekolah. Semua murid mengenakan seragam kelulusan dengan toga yang sama berbaris di kuris mereka begitu rapi.


Setelah acara selesai, Reyhan dan kawan-kawan berkumpul bersama Clara dan kedua temannya. Senyuman bahagia mengembang di wajah mereka. Setelah memberi selamat satu sama lain, mereka mulai berfoto bersama.


"Clara … mau foto berdua bersama ku?" tanya Reyhan.


DEG


Hati Clara bergetar. Pipinya juga sudah memanas karena tersipu, namun sikap Clara masih tenang seperti biasanya.


"Tentu," jawab Clara dengan senyum manisnya. Tentu saja dia mau. Ia sangat bahagia, tidak menyangka Reyhan akan mengajaknya berfoto bersama.


Reyhan dan Clara sudah berdiri bersisian, sedangkan Alice sudah berdiri di depan dengan kamera miliknya.


"Hei, bisakah kalian lebih dekat?" ucap Alice setelah melihat keduanya dari kamera.


"Ayo lebih rapat lagi, lebih rapat," sambung Dita memberi kode agar Clara dan Reyhan lebih dekat.


Teman-teman Reyhan yang lain juga tersenyum seolah menggoda keduanya.


Clara masih ragu dan terlihat canggung, sedangkan Reyhan tiba-tiba saja mengikis jarak dengan bahu yang menyentuh bahu Clara. Tubuh Clara menegang, namun ia mencoba tenang dan tersenyum menatap kamera.


"Bagus! Siap, satu, dua, senyuuum!"


Hanya satu foto yang diambil namun hati Clara begitu bergemuruh. Setelah ini, Clara berniat meminta foto itu pada Alice dan menyimpannya di tempat yang bagus.


"Rey … bisa kita bicara sebentar?"


Reyhan menatapnya begitu intens sebelum mengangguk. "Tentu. Aku juga ingin membicarakan sesuatu pada mu."