
Eps. 95
Reyhan tersentak sangat terkejut saat tiba-tiba saja Clara menepis tangannya dengan kasar. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menusuk tepat di hatinya.
Gadis itu tiba-tiba berubah gusar, bingung, seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri. Reyhan menggerakkan tangannya mencoba meraih pucuk kepala gadis itu, namun ia urungkan.
Pria blonde ini sedih melihat Clara yang terlihat frustasi setelah ciuman itu. Banyak gadis yang menyukai dan mencari perhatiannya. Dan saat Reyhan memberikan perhatian dan mencium gadis ini, dia malah frustasi seperti ini.
Pangeran es ini hanya bisa diam. Saat ia menyatakan perasaannya pada Clara, tanggapan gadis itu malah semakin menyakiti hatinya.
Semakin ia mendengar ucapan Clara, hati Reyhan semakin memanas. Ia bukanlah laki-laki playboy yang bisa dengan mudah mengucapkan suka pada seseorang, tapi Clara malah menganggap perasaannya hanya sebuah kebingungan.
Melihat tatapan Clara yang seolah baru saja mengalami hari buruk saat itu membuat Reyhan sangat terluka.
Reyhan menciumnya, bukan menyakitinya. Tapi gadis kecil itu malah menatap Reyhan seolah telah tersakiti. Dia juga terlihat bisa menangis kapan saja, Reyhan yakin Clara menahan mati-matian agar tidak menangis.
Yang paling membuat Reyhan marah adalah Clara yang menolak mengakui perasaannya, padahal dengan jelas mata itu menatap Reyhan dengan cinta.
Reyhan sangat yakin jika gadis itu juga menyukainya, ia bahkan merasakan Clara yang membalas ciumannya.
Aku tidak menyangka, ternyata selama ini Clara menganggap perhatianku padanya hanya sebagai pelampiasan pada Lisya.
"Kenapa aku terbawa suasana. Seharusnya aku bicarakan dulu dengannya," gumam Reyhan mengusap wajahnya kasar.
Laki-laki rupawan ini menyugar rambutnya ke belakang dengan kening mengkerut. Setelah berpikir cukup lama, ia tersentak mengetahui sesuatu.
"Ah kenapa aku baru sadar," gumamnya gusar kemudian berbalik terburu-buru berlari menuju tempat yang sebelumnya ia tinggalkan.
Bangku taman.
"Jika kau melihat matanya, kau pasti tahu ada sesuatu yang terjadi pada Clara." Ucapan Lisya yang tiba-tiba melintas di pikirannya, membuat Reyhan berlari tergesa-gesa.
Bodoh! Kenapa aku tidak sadar. Mata itu jelas terlihat berubah.
Reyhan menghentikan langkah dan menetralkan nafasnya yang ngos ngosan. Clara sudah tidak ada disana.
"Aku lupa. Padahal Lisya sudah mengingatkan berkali-kali, bahwa Clara sedikit berbeda dengan wanita lainnya. Bodoh!"
.
.
.
Clara duduk dengan kaki yang ditekuk, di pinggir danau yang sangat jernih. Clara mengenakan gaun putih panjang hingga ke menutup pergelangan kakinya.
Sedikit menerawang, ia menatap air yang begitu tenang. Kakinya yang tanpa alas menyentuh langsung pada rumput yang begitu lembut.
Gadis bersurai hitam ini menoleh pada suara laki-laki yang begitu ia kenal. Clara menegakkan tubuhnya dan tersenyum begitu lebar menyambut laki-laki itu.
"Arion," panggil Clara begitu bahagia. Mimpi tentang laki-laki bermanik hazel beberapa minggu ini, baru kali ini Clara bisa mengucapkan nama itu dengan jelas.
Keduanya berjalan di sekitar danau begitu menikmati kebersamaan mereka. Mereka begitu bahagia. Entah hanya sekedar memancing, bermain petak umpet, atau hanya sekedar makan saat piknik bersama. Mereka hanya berdua di tempat itu.
"Hei, waktu nya kau pulang," ucap Arion.
Clara terlihat murung dan kesal, memalingkan wajahnya dari Arion.
"Kenapa?" tanya Arion lembut.
"Apa kau tidak ingin pulang?" tanya pria ini lagi saat Clara tidak menjawab.
"Kau bisa bersama ku jika kau mau?"
"Benarkah?" Clara menoleh, tersenyum senang menatap Arion, seperti anak kecil.
"Apa kau mau? Kau bisa bersama ku lebih lama." Arion menggenggam tangan Clara.
"Tentu, aku mau!" jawab Clara tersenyum sangat antusias, membalas genggaman Arion.
"Bagus Clara. Bagus. Teruslah bersama ku, kau bahagia bersama ku, kan?"
Perlahan, Arion bergerak mendekati tubuh Clara. Ia melayang tepat diatas tubuh gadis itu. Semakin dekat, wajah Arion kini sudah berjarak lima senti dari wajah Clara. Tubuh mereka juga berhadapan.
"Akhirnya… kau milikku selamanya."
Tubuh Arion merasuki tubuh Clara perlahan, hingga Arion bisa masuk sepenuhnya menguasai tubuh Clara.
Gadis itu adalah milik Arion sekarang.
Bukan seperti Lisya yang meminjam atas izin Clara. Arion sudah menggenggam kesadaran Clara, dan gadis itu tidak akan sadar jika dia tidak ingin.
Dengan mengendalikan tubuh Clara, Arion membuka mata itu perlahan. Ia tersenyum sinis, kemudian mengangkat kedua tangannya, memperhatikan tangan itu penuh minat. Itu adalah kedua tangan Clara. Seluruh tubuh Clara kini sudah dikuasai Arion.
Tidak sia-sia Arion membuat Clara terpuruk dengan mempermainkan perasaannya dengan Reyhan.
"Bagus. Sekarang tinggal menyingkirkan benalu yang selalu mengganggu kita, Sayang."
Hantu tampan ini memang tidak menyukai laki-laki blonde yang mencoba merebut gadis miliknya.
.
.
.
Bel istirahat berbunyi. Reyhan menutup buku dan berjalan keluar kelas untuk menemui Clara. Sebenarnya ia masih marah pada Clara, tapi gadis itu seperti dalam kondisi tidak stabil. Reyhan penasaran, apa yang Arion lakukan sehingga membuat Clara menjadi seperti itu.
Pangeran es ini mempercepat langkahnya saat melihat Clara berjalan seorang diri di koridor. Ia juga tersenyum kecil, tidak sabar untuk menemui gadis kecil itu.
"Clara, tunggu!"
Gadis itu menghentikan langkahnya. Namun, dia terdiam sesaat sebelum membalikkan tubuhnya.
"Ada perlu apa?" tanya Clara dengan wajah datarnya.
Apa dia masih marah pada ku? Bukankah seharusnya aku yang marah? Ah tidak-tidak. Bersabarlah Rey!
"Bisakah kita bicara sebentar? Berdua saja."
Gadis itu tampak memutar bola matanya, memikirkan sesuatu. Tidak lama, Clara kembali menatap Reyhan dengan senyum culas di bibirnya. "Tentu."
DEG
Ada sesuatu yang salah. Ada perasaan mengganjal yang tidak Reyhan mengerti. Mata gadis itu tidak begitu aneh seperti saat mereka di taman, tapi …
Reyhan melangkah mengikuti kepergian Clara dengan memantapkan perasaannya. Setidaknya ia akan meminta maaf dan menjelaskan kesalahpahaman mereka, agar tidak semakin larut.
Tapi … kenapa aku punya firasat buruk tentang ini.
Clara dan Reyhan duduk di pojokan kantin menjauh dari keramaian. Mereka tidak makan, hanya ada dua gelas minuman yang tersedia di meja mereka.
Reyhan menatap wajah Clara lekat. Sikap gadis itu benar-benar berubah dari saat itu. Kini dia terlihat lebih tenang dan mungkin … lebih tidak peduli pada keberadaan Reyhan.
Biasanya Clara juga akan sedikit tidak nyaman jika harus berdua dengan Reyhan di keramaian, tapi apa yang ia lihat di hadapannya sekarang? Clara duduk santai dan tidak peduli dengan apapun di sekitarnya.
"Jangan tatap aku seperti itu," titahnya datar, menatap tajam pada Reyhan.
Reyhan sempat tersentak dengan ucapan Clara. Sepertinya gadis itu memang masih marah padanya.
"Cepat katakan, ada apa?" tanya Clara. Gadis bermanik hitam kelam ini memainkan sedotan di gelasnya, kemudian meminum jus itu perlahan.
Reyhan menatap Clara tajam, terus memperhatikan gadis yang sedang menatap minumannya seperti sedang penasaran pada minuman itu, lalu kembali meminumnya dengan senyum tipis.
Sebelum ini Clara terlalu sadar dengan keberadaan Reyhan, tersipu saat di perhatikan atau bahkan salah tingkah jika pangeran es ini sedikit memberi sentuhan.
Namun, kali ini gadis berambut lurus itu benar-benar tidak memperdulikan Reyhan yang duduk di hadapannya.