
Eps. 98
Arion ngos ngosan dengan tangan berpangku pada lutut. Ia sudah kelelahan menghindari dan menyerang Leo dan Ryo. Dua lawan satu, dan Arion masih membawa tubuh yang bukan miliknya.
"Sial!" umpat Arion marah. Belum berapa menit istirahat, kedua orang itu sudah kembali menyerang.
Kali ini Arion sudah tidak bisa mengelak. Ia tertangkap, tangannya ditekuk ke belakang dengan posisi berjongkok. Ia juga tertunduk karena Leo menekan kepalanya ke bawah.
Arion terus berontak saat Ryo memegangi kedua tangannya, sedangkan Leo saat ini mencoba menarik Arion dari tengkuk leher Clara.
Arion memekik kuat kesakitan saat Leo mencoba menariknya keluar, namun gagal. Arion pingsan bersama tubuh yang ia gunakan.
Leo masih bergeming menatap tubuh Clara yang sedang pingsan, dengan alis bertaut. "Seharusnya tidak seperti ini."
*
Leo berjalan perlahan, menyusuri gedung seperti rumah sakit yang sangat terawat namun tidak ada seorangpun terlihat disana. Langkah Leo terhenti saat sudah sampai di akhir bangunan. Ia sudah berada di taman, di bagian samping rumah sakit.
Laki-laki tinggi besar ini terdiam dengan miris, melihat Clara kecil dan anak laki-laki kecil yang imut sedang bermain pasir bersama di sebuah kotak pasir besar. Mereka berdua sangat bersemangat dengan dunia mereka.
Perlahan Leo bergerak mendekati keduanya. Meskipun dua anak kecil ini tidak peduli dengan kehadiran nya.
"Clara," panggil Leo.
Clara menoleh. Wajahnya sangat manis dengan pipi tembemnya. "Paman?"
"Ayo bangun. Waktunya kau bangun, Clara."
Clara kecil menggeleng cepat. "Tidak Paman. Aku masih ingin main. Paman pulang duluan sana, nanti aku susul," usir Clara kemudian kembali bermain dengan pasirnya.
Anak laki-laki yang sedang bersama Clara hanya diam, menatap Leo tidak ramah.
Leo membuka mata, kemudian bersandar pada kursi yang ia duduki. Laki-laki ini menoleh, melihat Clara yang sedang tertidur pulas dengan tangannya yang menggenggam tangan Leo. Sudah beberapa kali Leo mengajak Clara agar bangun dari mimpinya, dan semuanya sia-sia.
"Leo," lirih Harumi memanggil Leo. Wajahnya terlihat khawatir.
Dua hari ini Clara tertidur dan seperti enggan untuk bangun. Berbagai cara sudah mereka lakukan dan semuanya gagal. Clara bahkan tidak merespon pada rasa sakit yang mereka berikan dengan suntikan.
"Dia masih bermain dengan Arion," ucap Leo lelah. Ia memijat pangkal hidungnya pelan.
Aku sudah mengingatkan agar tidak bermain-main dengan hantu, tapi dia terus saja tidak mendengarku.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Paman?" tanya Ryo.
"Clara senang berada disana. Sepertinya, Clara ingin melupakan semua beban yang selama ini ia alami. Clara akan bangun jika dia memang mau bangun."
"Tapi Kakak tidak mau bangun, bahkan saat aku dan Mama ikut memanggilnya kesana," sanggah Ryo.
Leo diam. Semua orang disini sudah mencoba membangunkannya, bahkan Harumi dan Ryo juga sudah mencoba tapi Clara tidak peduli.
Siapa lagi yang bisa membangunkan Clara?
*
Di jam istirahat, seperti biasa Reyhan berjalan beriringan dengan segerombolan teman baiknya. Namun kali ini, pikirannya sedang tidak berada di tempat.
Sudah tiga hari Clara tidak terlihat. Ia sudah bertanya pada Alice dan Dita, dan mereka mengatakan jika Clara tidak masuk dengan surat sakit. Dan anehnya, gadis yang mereka cari tidak dapat dihubungi sama sekali.
Beberapa hari sebelumnya, Reyhan sengaja memberi perhatian lebih pada Clara untuk melihat respon dari gadis itu.
Apa Reyhan berlebihan? Karena Clara selalu kesal dan menatapnya tajam tiap kali mereka bertemu.
Entah ada angin apa, pulang sekolah hari ini Reyhan memilih menunggu parkiran sepi sebelum mengambil motor besarnya. Ia sedang tidak mood berkomunikasi dengan yang lain.
Setelah dirasa sudah sepi, Reyhan berjalan perlahan menuju tempat parkir. Ia mulai waspada saat seorang laki-laki tinggi besar sedang berdiri seolah menunggunya.
Reyhan bergeming dengan waspada. Menatap laki-laki itu tidak ramah. Bagaimana orang asing bisa masuk kesini? Tapi tidak heran karena sekolah ini sangat besar, hanya satu orang tidak akan ada yang mencurigai.
"Anda siapa?"
Laki-laki ini tersenyum ramah lalu berjalan mendekat.
"Perkenalkan. Namaku Leo, paman Clara. Bisa bicara sebentar?"
Reyhan terkejut dengan bingung. Paman? Untuk apa paman Clara menemuinya? Reyhan tetap berhati-hati meskipun sebenarnya ia cukup penasaran.
"Bisa. Tapi, Anda harus mengatakannya di tempat ini."
.
.
.
Arion kecil meletakkan mainannya karena bosan bermain sendirian. Ia kembali tiduran di ranjang rumah sakit.
Anak kecil berusia sepuluh tahun ini sering keluar masuk rumah sakit karena penyakit yang bahkan ia tidak ketahui. Hal itu juga membuatnya tidak memiliki teman di sekolahnya.
Disuatu pagi yang biasa, Arion penasaran dengan teman sekamar barunya. Ia mengintip dari balik tirai saat mendengar suara lirih tangis anak kecil.
Anak perempuan kecil itu menangis karena Mamanya akan pergi sebentar untuk membeli makanan, ia bersikeras ingin ikut padahal dia sedang sakit dan harus beristirahat di ranjang rumah sakit ini.
"Hei, siapa namamu?" tanya Arion memberanikan diri saat Mama anak itu sudah pergi.
"Clara," jawabnya takut-takut melihat Arion.
Arion tersenyum melihat anak perempuan manis itu. "Halo Clara, aku Arion. Jangan takut ya, aku disini bersamamu," ucap Arion tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Clara merengut namun ia mengangguk kecil. Dan setelah itu, keduanya menjadi akrab. Mereka berdua sering ngobrol, kadang bermain bersama. Sesekali Arion melihat Clara yang tertidur kesakitan, Ibu nya akan memberi kompres pada kepala Clara.
Sore hari berikutnya, Arion membuka mata dari tidurnya saat mendengar rintihan tangis dari Clara. Ia mencoba mengintip dan melihat Clara yang menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Arion menoleh ke sekitar, tidak ada orang disana kecuali mereka berdua. Kemana perginya orang-orang?
"Clara … hei, Clara? Apa kau baik-baik saja?" tanya Arion, ia mengguncang kecil tubuh Clara, mencoba membangunkan gadis kecil itu.
Arion tersentak saat Clara membuka selimutnya dan memeluk Arion dengan erat. Clara seolah ketakutan entah karena apa. Arion menggerakkan tangannya hendak mengusap punggung Clara ragu-ragu. Setelahnya, ia mengusap lembut dan teratur mencoba menenangkan Clara.
Hanya beberapa hari bersama, Arion begitu menyukai anak perempuan tembem itu. Clara mulai ceria saat sakitnya kian membaik, dan dia semakin sering bermain bersama Arion.
Saat ini keduanya sedang berjalan bersama ditemani oleh Leo. Clara berlari lari kecil kesana kemari sedangkan Arion hanya berjalan biasa. Orang tuanya tidak mengizinkan untuk berlari karena penyakitnya.
"Arion sakit apa?" tanya Leo.
"Tidak tahu, Paman. Saya hanya sering berada di rumah sakit," jawab Arion ramah.
"Baiklah, semoga cepat sembuh ya," ucap Leo dengan senyum manis, mengusap pucuk kepala Arion.
*
Arion kecil membuka mata perlahan saat ia merasakan usapan kecil pada kepalanya. Kedua orang tuanya menangis haru melihat dirinya yang sudah membuka mata.
"Arion, kau sudah sadar, nak?" ucap Ibunya dengan mata yang sudah bengkak kemudian berlari mencari dokter.
Setelah benar-benar sadar, Arion mengerti. Ternyata ia telah pingsan selama dua hari. Dan saat itu, Clara sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit.
Arion begitu sedih, melihat ranjang yang biasanya ditempati Clara, kini sudah bersih dan rapi.
Clara … kenapa tidak pamit pada ku?