You Saw Me?!

You Saw Me?!
Perasaan lain



Eps. 87


Clara sedang menggulir ponselnya dengan malas, duduk di depan perpustakaan menunggu Alice dan Dita yang sedang di perpustakaan.


Tidak lama, Clara mendongak saat ada beberapa orang dan memanggilnya dengan tidak ramah.


"Disini ternyata."


Mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya, Clara menghela lelah dan memutar bola matanya malas. Ia sudah jengah dengan kelakuan mereka seolah tidak merasa puas.


Entah kenapa akhir-akhir ini mereka semakin gencar membully Clara. Sekarang tidak hanya cibiran sekilas atau tatapan jijik meremehkan seperti yang biasa mereka lakukan saat Lisya masih bersamanya.


Mereka terkadang datang dengan mengintimidasi, mengancam, dan segala hal yang tidak menyenangkan lainnya. Dan mereka selalu melakukanya saat Clara sedang sendirian.


"Apa kalian gak bosan?" ucap Clara jengah menatap mereka malas.


"Coba lihat wajah itu, sok cantik! Ngerasa paling disukai Reyhan!" cibir wanita ber name tag 'Julia' yang sudah sering ia jumpai. Belum lagi nama-nama yang lain


"Bebal juga dia."


"Memangnya kenapa?" suara lain menginterupsi dengan dinginnya.


Semua menoleh ke arah suara itu. Alice dan Dita sudah berdiri menatap gadis-gadis itu dingin dengan ponsel di depan mereka.


"Teruslah ganggu Clara dan aku akan menyebar ini di media sosial," ancam Alice dengan wajah datar dan dinginnya. Gadis berkulit pucat dengan rambut ekor kuda itu memang sedikit menyeramkan dengan wajah dinginnya.


"Ck! Sial!"


Juli cs kembali dengan geram dan hentakan kaki yang keras. Mereka tampak kesal dan sesekali mengumpati Clara dan teman-temannya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Alice dan Dita khawatir.


"Aku baik-baik saja. Alice, apa kau benar-benar merekamnya?"


Alice melihat rekaman handphone miliknya dengan tidak tertarik. "Em … entahlah, sepertinya aku lupa memencet tombol vidio, tapi aku sempat memotret saja," ucap Alice dengan nada biasa.


"Astaga, untung saja mereka tidak sadar kalau kau hanya menggertak," sergah Dita.


"Sudahlah. Setidaknya mereka sudah pergi. Hei Clara, lebih baik mulai saat ini kau jangan pergi sendirian lagi," titah Alice.


Clara mengangguk singkat. Ada apa dengan mereka akhir-akhir ini, dulu meskipun ia sangat dekat dengan Reyhan, mereka tidak berani bermain kasar seperti sekarang.


Benar kata Alice, sebaiknya ia tidak sendirian mulai saat ini. Sejak saat itu Clara selalu bersama dengan dua orang temannya.


Sebentar lagi bel jam masuk akan segera berbunyi. Clara berdiri dari duduknya karena tiba-tiba saja ia ingin pergi ke toilet.


"Mau kemana?" tanya Dita.


"Toilet."


"Mau kutemani?"


"Tidak perlu. Toilet kan dekat."


"Kau yakin?"


"Tenang saja. Di sekolah banyak anak-anak, aku hanya akan berteriak jika mereka berani main fisik," ucap Clara mantap meyakinkan kedua temannya.


Clara berjalan cepat dengan sedikit khawatir. Ia tidak takut pada gadis-gadis itu. Hanya saja, geng ja*ang itu bisanya cuma main keroyokan, menghadapi mereka tidak akan semudah yang ia pikirkan. Ia berharap jika Clara masih di keramaian, mereka tidak akan berani macam-macam.


Selesai mencuci tangan, Clara berjalan keluar toilet hendak berjalan ke kelasnya, ia tersentak melihat segerombolan gadis kemarin yang berjalan dari jauh, meskipun saat ini mereka masih belum melihat Clara.


Tubuh Clara sedikit gemetar, namun ia tidak boleh berlama-lama disana. Sesaat sebelum ia kembali melangkah, Clara tersentak cukup hebat dan langsung menjauhkan badannya saat seseorang dari arah belakang menyentuh pundaknya.


"Akh!"


"Hei … kenapa kaget begitu?"


Clara masih mengatur nafas menatap laki-laki di hadapannya sedikit horor. Ia menghela lega menyentuh dadanya saat mengetahui siapa yang menyapanya.


"Reyhan, kau mengagetkanku." Reyhan hanya tertawa kecil menatap Clara lucu.


"Sedang apa disini?"


"Ah, aku baru saja dari toilet," ucap Clara singkat. Matanya sedang melirik mencari gadis-gadis itu yang hilang entah kemana.


Belum berapa lama, Clara kembali tersadar bahwa Reyhan lah yang ada di hadapannya. Itu berarti bisa saja Arion akan ada di sekitar mereka.


"Hei," panggil Reyhan meraih pergelangan tangan Clara. Tubuh gadis ini sedikit tersentak.


"Sedang mencari siapa?" tanya Reyhan tersenyum sangat manis. Clara terpaku melihat senyuman indah itu. Ia bahkan hampir lupa menutup mulut jika saja ia tidak segera sadar.


"Ah, tidak ada."


Reyhan tersenyum memperlihatkan gigi-giginya kemudian mengacak puncak kepala Clara gemas. Sekali lagi, Clara membeku di tempat belum bisa mencerna situasinya saat ini.


"Hei, bel sudah berbunyi, sana masuk," suruh Reyhan.


"Ah, i-iya," ucap Clara segera berlari setelah berpamitan singkat.


Berjalan setengah berlari, otak Clara masih blank, ia bahkan tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Saat ia sudah duduk di bangkunya, Clara masih terdiam dengan pandangan kosong menatap kedepan, juga dengan mulut sedikit terbuka.


Entah kenapa Reyhan sedikit berbeda akhir-akhir ini. Setelah cukup lama tidak bertemu, kini tatapan Reyhan terlihat lain. Tatapan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Sikapnya juga terasa lebih dekat, jauh berbeda dengan beberapa waktu lalu. Apa yang sebenarnya terjadi?


Tangan Clara bergerak menyentuh pelan rambut yang Reyhan sentuh beberapa saat lalu. Dadanya terasa hangat, wajahnya memanas begitu saja. Clara segera menenggelamkan wajahnya pada bangku sedikit keras dan membuat suara benturan.


Rasa senang bercampur aduk, perasaan kupu-kupu yang lebih ringan daripada saat bertemu dengan Arion, tersipu malu hingga ia rasakan di wajah, namun ada perasaan sakit dan rasa bersalah yang terselip di hatinya.


Itu bukan apa-apa. Itu tidak berarti apa-apa. Jangan berpikir berlebihan bodoh! Jangan salah paham. Aku tidak boleh salah paham … kan, Lisya?


"Kenapa dia?" tanya Alice menatap heran pada Clara.


"Entah."


.


.


.


Clara menjatuhkan kepalanya di atas buku tugasnya. Baru beberapa menit mengerjakan tugas di perpustakaan, kepalanya sudah pusing.


"Aku sudah menyerah mengerjakan soal nomor tiga," gumam Clara masih dengan kepala tertunduk.


"Aku juga," sahut Dita.


"Hm … sepertinya aku juga berhenti di tengah jalan," ucapnya tenang.


Seseorang menarik kursi di sebelah Clara membuat tiga gadis ini menoleh. "Sedang apa disini?" tanya Reyhan tersenyum manis, hanya melihat Clara, dan sekilas melihat Alice dan Dita tersenyum ramah.


"Rey, kau mau duduk disini? Kami ke kursi sebelah sana," tunjuk Eros ke kursi panjang dua baris di belakang Clara.


"Nanti aku kesana."


Eros mengangguk, kemudian pergi bersama yang lainnya ke kursi yang Eros tunjuk.


"Ada tugas?" tanya Reyhan lagi.


"Ya. Kami sedang berdiskusi tapi sepertinya tetap sulit," jelas Clara.


Reyhan terlihat menatap soal dan jawaban Clara kemudian bersuara, "Kenapa tidak gunakan formula yang ini saja?" tunjuk Reyhan. Ketiganya memperhatikan namun masih terlihat bingung.


"Pakai yang ini dulu, setelah itu masukkan formula yang nomor satu," ucap Reyhan lagi. Ia mengambil pulpen di tangan Clara kemudian menuliskan sembari menjelaskan jawabannya pada ketiganya.


Semua takjub, tidak salah dia masuk di kelas unggulan. Selain pintar, penjelasannya juga mudah dipahami.


Clara tersenyum kagum dengan Reyhan yang terlihat memiliki segalanya. Wajah tampan, kaya, dan juga otak yang cemerlang. Berbeda dengan Dita yang menatap Reyhan kagum tanpa filter.


"Terima kasih," ucap ketiganya serempak.


"Sama-sama."


Setelah sedikit berbincang-bincang, Reyhan pamit dan kembali pada teman-temannya, sedangkan Clara dan teman baiknya kembali ke kelas mereka.


Belum lima meter melangkah dari perpustakaan, Reyhan kembali memanggil.


"Clara," panggilnya pelan lalu berlari kecil menghampiri gadis dengan buku di tangannya.


"Iya?"


"Apa sore ini kau ada acara?"