You Saw Me?!

You Saw Me?!
Efek samping



Eps. 59


Clara duduk di ranjangnya setengah sadar. Badannya terasa sedang memikul beban seberat seratus kilogram. Mata Clara masih terpejam dengan badan yang sesekali oleng ke kanan dan ke kiri.


"Aku masih ngantuk!"


Setelah dengan berat hati bersiap ke sekolah, Clara turun dengan gontai menuju meja makan. Orang tua dan adiknya sudah makan disana.


"Mama berangkat dulu ya," pamit Harumi tepat saat Clara duduk.


"Eh, Mama sudah mau berangkat?"


"Iya, Mama shift pagi," jawab Harumi sembari menyambar tas ranselnya.


"Papa juga berangkat ya," pamit Ezra mengikuti Harumi. Sebelum benar-benar berangkat Clara dan Ryo menyalami orang tuanya.


Belum lima menit makan, Ryo sudah selesai makan dan hendak beranjak pergi.


"Hei, mau kemana?"


"Sekolah lah," jawab Ryo datar.


"Tunggu aku. Aku ikut ya," ujar Clara kemudian segera menghabiskan nasinya.


"Hah? Kakak kan sudah ada motor? Berangkatlah sendiri," jawab Ryo acuh kemudian berjalan ke pintu depan.


Setelah menyelesaikan makannya, Clara menyusul Ryo yang sudah keluar rumah. Beruntung adiknya itu masih kembali karena kunci motor yang ketinggalan, jika tidak mungkin adik kecilnya itu akan meninggalkan Clara.


"Hei, jangan pelit! Antar saja aku sampai di pertigaan. Jadi kau tidak perlu putar balik," ucap Clara sudah berdiri di samping motor Ryo.


"Hemm … iya deh. Ayo naik," suruh Ryo.


Clara menaiki motor bebek milik Ryo, kemudian berpegangan pada pundaknya.


Perlahan Ryo melajukan motornya membelah jalanan. "Terus pulangnya Kakak dengan siapa?'


"Ada lah nanti."


"Oke."


*


Di tengah pelajaran matematika, Clara hampir saja tertidur karena ngantuk yang menyerang tanpa ampun. Entah kenapa sepertinya tubuh Clara butuh hibernasi.


"Apa ada pertanyaan? Kalau tidak ada, buka wkwk buku latihan kalian halaman 53, kerjakan latihan nomor 1b, 1e, 2a, 2c, 3d, 4 dan 5. Saya tinggal sebentar, jangan berisik."


"Baik Pak," ucap murid kelas itu serempak.


Guru matematika tinggi putih itu melangkah meninggalkan kelas.


Clara membuka tasnya, mencari botol air mineralnya lalu mulai meneguknya habis.


Astaga, aku benar-benar haus.


Botol air mineral enam ratus mililiter itu habis dalam beberapa menit. Setelah tandas, ia kembalikan botol itu ke dalam tasnya.


"Wah, setelah kencan kemarin sekarang masih kehausan?" cibir Alice.


Clara hanya memutar bola matanya malas. Sedangkan Alice dan Dita mulai terkekeh kecil.


"Hei, kalian kerjakan tugasnya, nanti aku nyontek," ucap Clara lelah kemudian merebahkan kepalanya di atas meja.


Dita dan Alice menghela berat dan menggeleng singkat. Mau bagaimanapun mereka paham karena ia pernah melihat Clara yang seperti ini.


Setelah jam istirahat, Clara akhirnya membereskan apapun yang ada di atas mejanya lalu mulai tidur disana.


Apa aku ke UKS saja ya?


"Hei, kau tidak mau ke kantin?" tanya Dita setelah mencolek lengan Clara.


"Tidak. Aku titip air mineral satu dan roti coklat ya, nanti uangnya aku kasih. Aku benar-benar ngantuk" jawab Clara lalu mulai menutup matanya.


Di kelas ini ia sulit menutup mata, namun terasa terlelap hanya beberapa menit Clara terbangun oleh bisikan-bisikan yang cukup mengganggu.


Ugh kenapa berisik sekali!


Oh Reyhan. Pantas saja.


Hanya sepersekian detik mata Clara terbuka begitu lebar. Gadis ini masih ngantuk tapi ia sudah tak bisa menutup matanya lagi. Orang di depannya benar-benar mampu membuat Clara terjaga.


"Re-Reyhan? Sedang apa disini?" rancau Clara tampak bingung. Ia bergantian menatap Reyhan dan Lisya.


" 'Dia' khawatir pada mu. Kami tidak melihat mu di kantin, dan kata Alice dan Dita, kau terlihat sangat lelah di kelas," jawab Reyhan menjelaskan.


Belum sempat Clara merespon, Pangeran es itu sudah menyodorkan sebuah susu kotak coklat dan roti coklat.


"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Lisya.


Clara memejamkan matanya tidak menyangka akan mendapat kunjungan dari seorang laki-laki most wanted di sekolahnya. Berhubungan dengan mereka benar-benar merepotkan, lihatlah sekarang, Clara yang enggan menjadi pusat perhatian kini malah menjadi kenyataan.


Hampir semua pasang mata di kelas ini sedang melirik atau menatap terang-terangan pada mereka.


Clara menghela pelan. "Ah, aku baik-baik saja. Kalian– ah, kau tidak perlu repot-repot datang kesini. Bukankah sudah ku bilang aku butuh istirahat sesudah meminjam."


"Aku tahu aku hanya–"


"Aku hanya khawatir. Aku ingin melihat keadaanmu," ucap Reyhan memotong kalimat Lisya.


Lisya menatap Reyhan sekilas, lalu tersenyum kecil. "Kami mengkhawatirkanmu. Kami tahu kau butuh istirahat tapi kami ingin memastikan kalau kau baik-baik saja. Minumlah susu itu," suruh Lisya.


Tidak bisa menjawab. Clara lagi-lagi hanya menghela lelah. Ia mengambil susu yang Reyhan berikan lalu mulai meminumnya.


"Sepertinya kau butuh olahraga Clara," ucap Reyhan tiba-tiba.


Clara mengangguk. "Sepertinya begitu. Setelah memulihkan badan, aku akan mencoba berolahraga perlahan. Mungkin nanti efeknya tidak akan seperti ini."


.


.


.


Clara berjalan gontai memasuki rumahnya, ia berjalan menuju kulkas lalu mengambil jus jeruk disana. Ia membawa jus itu dan sebuah gelas menuju meja makan.


Ah … lelah sekali. Rasanya aku ingin segera tidur saja. Lebih baik besok aku bawa bekal.


Perlahan Clara menuangkan jus pas gelas lalu meminumnya. Sampai pandangan Clara beralih pada Harumi yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Mama? Mama lagi libur?" tanya Clara.


"Ya. Mama libur dua hari. Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Harumi yang kini sudah bersama Clara duduk di meja makan.


"Oh, aku baik-baik saja Ma."


"Benarkah?" tanya Harumi memastikan lalu mulai menuangkan jus ke dalam gelasnya.


"Mama perhatikan kau terlihat sangat kelelahan akhir-akhir ini, apa sekolahmu memang sangat melelahkan?" tanya Harumi penasaran kemudian sesekali meminum jus di tangannya.


Clara tertegun sesaat dengan senyum hambar, Harumi benar-benar peka. Clara harus bisa bersikap senatural mungkin agar mamanya tidak curiga.


"Ah ya begitulah Ma. Aku hanya lelah ingin istirahat. Sepulang sekolah pasti rasanya sangat lelah. Ma, bisakah kau membuatkan aku bekal besok?"


"Tentu. Besok Mama buatkan. Sekarang kau mandi dan istirahatlah, jangan sampai sakit."


"Kalau begitu aku naik dulu ya Ma," pamit Clara kemudian naik ke lantai dua.


Gadis ini ingin buru-buru naik, tidak ingin lagi berbicara terlalu panjang dengan mamanya karena ia khawatir akan salah bicara.


"Oh Clara," panggil Harumi membuat Clara sedikit tersentak. Namun Clara mencoba setenang mungkin.


Clara berbalik. '"Iya Ma?"


"Ini vitamin, bawalah. Sepertinya kau butuh itu," ucap Harumi sudah menyodorkan vitamin pada Clara.


"Oh terima kasih Ma," ucap Clara setelah mengambil obat itu lalu segera beranjak pergi.


Apa Mama sadar sesuatu? Semoga saja tidak.


Clara melirik Mamanya yang sedang duduk diam meminum jus yang ia tinggalkan di atas meja.