
Eps. 53
"Sebentar ya, aku keluar dulu sebelum Clara marah," ucap Lisya. Detik berikutnya, tubuh Clara sedikit tersentak ke belakang dan kesadarannya kembali seperti semula.
"Clara maafkan aku, aku tidak sengaja," ucap Lisya bersungguh-sungguh.
"Ah, lain kali–" Lagi, ucapan Clara terpotong.
"Dasar ja***," ucap tiga kawanan wanita yang tidak dikenal melewati Clara dengan wajah marah.
Setelah mendengar umpatan dari gadis-gadis ini, Clara menoleh pada keduanya meminta penjelasan. Reyhan akan membuka suara namun suara lain sekali lagi menginterupsi percakapan mereka.
"Wow, kalian mesrah sekali. Sejak kapan?"
Ketiganya serempak menoleh pada sumber suara.
"Kami sedang bicara, kalian pergilah duluan," suruh Reyhan.
"Oh baiklah-baiklah. Kami menunggu traktirannya okey? Hahaha," ucap Eros kemudian berpamitan bersama Aldio.
Clara menghela pelan kemudian melipat tangannya di depan dada. "Baiklah. Bisakah kalian menjelaskan ada apa sebenarnya?"
"Ah it-itu–"
"Maaf Clara. Dia tidak sengaja 'meminjam' dan dia hanya menyentuh pipi ku saat berpamitan keluar. Apa kau marah?" tanya Reyhan merasa bersalah.
"Iya Clara, aku tidak sengaja," sahut Lisya.
Sebenarnya ini bukanlah apa-apa. Sedari awal Claralah yang menawarkan diri untuk membantu mereka.
"Aku tidak marah. Hanya saja, tolong hindari kontak fisik saat di sekolah. Bukankah sudah kubilang mereka akan salah paham?"
"Biarkan mereka salah paham, aku juga sudah mengatakan itu pada mu," ucap Reyhan.
"Iya, biarkan mereka salah –eh?" Lisya tidak melanjutkan kalimatnya, ia menatap Reyhan penuh arti.
"Dengan begitu mereka tidak akan mengganggu lagi," tambah Reyhan.
Lisya menggeleng singkat, kemudian mengangguki pernyataan Reyhan, dan tersenyum manis pada Clara.
.
.
Lisya terduduk di depan air mancur, menatapnya sendu saat seseorang mengambil duduk disebelahnya.
Reyhan bukan tipe yang mudah bergaul dengan wanita, saat berpacaran pun Reyhan tidak dekat dengan teman-teman Lisya. Kekasihnya itu bahkan cenderung dingin.
Melihat kekasihnya yang tersenyum ramah manis pada Clara membuat sesuatu di hatinya terasa nyeri. Tapi Reyhan tidak sepenuhnya salah. Lisya lah yang meminta Reyhan agar baik pada Clara.
Sedikit banyak Lisya juga menceritakan perjuangan Clara saat membantunya, dan efek yang Clara dapat bukanlah hal sepele.
Sejak awal, Clara bahkan tidak tertarik dekat dengan orang populer. Lisya juga lah yang memintanya dengan sedikit memaksa.
Dan hantu manis ini juga sadar, sering menggunakan tubuh Clara dan membuat kontak fisik dengan Reyhan bisa membuat rasa lain datang diantara mereka.
Lisya memeluk kedua lututnya erat dan menopang dagu diatasnya. Clara bukanlah orang yang ramah penuh senyum, tapi setidaknya dia baik dan tulus. Lisya merelakan Reyhan jika kekasihnya itu mau melanjutkan hubungan serius dengan Clara. Dan gadis pilihan Lisya itu juga pasti mau pada Reyhan. Siapa yang tidak mau dengan laki-laki tampan most wanted di sekolahnya?
"Apa kau menyesal?" tanya seseorang di sebelah Lisya.
Lisya menggeleng cepat. Tapi enggan menjawab.
"Apa kau benar-benar yakin kalau gadis itu yang terbaik untuk Reyhan?"
"Menurut ku begitu," jawab Lisya.
"Apa kau yakin? Kau tidak sakit hati melihat mereka dekat? Bukankah dia kekasih yang paling kau–"
BRAK!
"Diamlah kau setan! Aku sedang menguatkan hati sekarang!"
"Aku bisa apa? Jika aku masih hidup, aku tidak akan melakukannya. Tapi aku sudah mati, dan seharusnya aku sudah pergi dari sini."
Lisya menurunkan kakinya dan menggoyangkannya pelan. Senyuman kecil tulus mulai muncul di bibir hantu cantik ini.
"Aku yakin Tuhan akan memberiku pasangan di surga sana. Dan kau tahu? Rey masih 18 tahun, dia masih sangat muda. Setidaknya aku harus mencarikan pasangan yang baik untuknya sebelum aku pergi. Karena bahagianya, bahagia ku juga. Bukankah begitu?" tanya Lisya tersenyum pada hantu tanpa wajah itu.
"Hei, memunculkan wajahmu!"
"Kau berkata seperti itu seolah mereka bisa menikah atau bersama lebih lama. Bisa jadi mereka akan berpisah karena tidak cocok," komentar hantu seram ini.
"Yah kau benar, tapi setidaknya aku sudah mencoba. Asal Rey bahagia, itu saja sudah cukup bagiku."
.
.
.
"Aku tidak menyangka kalian akan dekat, dan ro-man-tis," ucap Alice tersenyum ringan.
"Kau mengalihkan dunianya Clara," sambung Dita dengan mata berbinar.
"Oh… kalian salah paham, dia hanya berterima kasih karena aku sudah membantunya dengan 'dia'."
"Oh, 'dia' masih disini?" tanya Alice menyelidik.
Clara bergidik kaget, sedangkan Dita hanya tersenyum tidak tahu arah tujuan pembicaraan mereka.
"Ah… maksudku, saat membantunya dulu," jawab Clara mengklarifikasi. Ia belum berniat menceritakannya pada kedua temannya ini. Dita mungkin akan bahagia karena bisa melihat Reyhan lebih sering, tapi tidak dengan Alice.
"Lalu kenapa dia baru melakukannya sekarang? Bukankah itu sudah lama berlalu?" Alice benar-benar terlalu peka.
Clara bungkam. Mulutnya sudah tak bisa mengatakan apapun. Alice seperti ibunya yang akan menceramahinya jika ada sesuatu yang menurutnya tidak benar.
"Setelah gangguan 'yang lain', kau yang terlalu gelisah tentang 'dia yang tampan', dan sekarang dia tiba-tiba baik padamu hanya untuk berterima kasih untuk hal yang cukup lama berlalu?"
Dita tersenyum tidak mengerti sedangkan Clara hanya mengerjap merasa bersalah.
"Eemm.. Sebenarnya ada apa ini?" tanya Dita polos. Tidak ada jawaban dari keduanya membuat Dita memutar bola matanya malas.
"Oh Tuhan ketegangan ini nyaris membunuh ku," seru Dita merasa tidak paham situasi.
Clara menghela pelan. "Terlalu peka itu tidak baik Alice."
"Aku hanya mengkhawatirkanmu."
"Tapi Alice, bukankah Re– dia sangat perhatian pada Clara akhir-akhir ini?" sahut Dita.
"Ya. Dan hanya dia yang perhatian. Clara terlalu sering menatap ke arah 'disebelah dia' dan lihat Clara yang kadang tidak terlalu nyaman," bantah Alice. Matanya menusuk tajam menatap Clara.
Yang ditatap tersentak dengan bulu kuduk meremang. Temannya yang satu ini terlalu menyeramkan sampai bisa sedetail itu.
"Oh benarkah?" tanya Dita tidak percaya.
"Baiklah. Aku menyerah. Sebenarnya aku menunggu waktu yang tepat untuk menceritakannya pada kalian."
"Tidak ada waktu yang benar-benar tepat Clara," sanggah Alice.
Setelah itu, Clara mencoba menyederhanakan ceritanya dan bercerita pada keduanya agar hanya mereka yang mengerti. Mereka sedang ada di dalam kelas, Clara harus bercerita dengan bahasa sesederhana mungkin.
"Bukankah itu akan berbahaya untuk mu? Kenapa kau tidak tutup saja 'pintu' itu?" tanya Alice tidak setuju.
"Benar kata Alice, Clara," sahut Dita.
"Aku hanya ingin membantunya untuk yang terakhir kali. Lagi pula, ini adalah dua minggu terakhir sebelum mereka benar-benar berpisah."
"Apa kau yakin? Maksudku… apa kau yakin kau tidak akan punya perasaan padanya setelah semua selesai? Ah.. Maksudku, coba lihat perhatiannya pada mu, siapapun akan luluh saat diperhatikan seperti itu," ujar Dita.
Lagi, Clara menghela berat. "Aku yakin," ucapnya mantap tanpa keraguan.