
Eps. 106
Setelah kesibukan dan frustasinya menyelesaikan skripsi, akhirnya Clara lulus dan wisuda dengan bahagia.
Clara, Alice dan Brian wisuda bersama, mengambil foto bersama dan merayakan kelulusan mereka di malam harinya, makan di sebuah restoran bersama beberapa teman yang lain.
Brian masih begitu perhatian pada Clara, tidak ada tatapan benci dan marah di netra laki-laki itu. Clara menatap laki-laki di depannya yang sedang tertawa bahagia bersama teman-teman seangkatan yang lain. Brian benar-benar anak baik.
"Apa Kakak membenci ku?" tanya Clara. Ia sedang berdiri dengan Brian di depan restoran dengan tas jinjing dan mantel panjangnya. Brian pun juga mengenakan jaket tebal karena malam ini begitu dingin di kota M.
Brian tersenyum lembut seperti biasanya. "Tidak. Ah, aku hanya sedikit kecewa karena kau tidak menerima pernyataan cinta ku," ucap Brian kemudian tertawa kecil.
"Maafkan aku," sesal Clara.
"Jangan merasa terbebani. Apakah kau akan kembali ke kota mu setelah ini?" tanya Brian lagi.
Clara mengangguk. "Iya Kak. Aku sudah berjanji pada Mama akan segera kembali setelah lulus."
Brian menghela pelan dan mengikis jarak pada Clara. "Apa aku boleh menyimpan foto mu saat kita foto bersama di wisuda?" tanyanya dengan wajah sedih.
"Boleh Kak. Ah, aku jadi merasa bersalah."
"Kalau begitu jadilah pacarku," suruhnya kemudian tertawa keras. Clara mencebikkan bibirnya kemudian tertawa kecil setelahnya.
Hening beberapa saat. Clara dan Brian menikmati dinginnya malam ini.
"Boleh aku meminta satu permintaan lagi?" Clara mengangguk kecil.
Besok pagi-pagi sekali Clara akan pulang ke kota kelahirannya. Ia sudah berjanji pada ibunya dan gadis itu juga tidak sabar ingin menemui Reyhan. Meskipun sebenarnya ia ragu jika Reyhan masih menunggunya selama empat tahun lebih ini.
Bisa jadi ini adalah pertemuan terakhir dengan Brian. Karena Clara tidak tahu apakah setelah ini, dirinya akan kembali berkunjung ke kota ini atau tidak.
"Bolehkah aku memeluk mu untuk yang terakhir kali?" tanya Brian hati-hati.
Tubuh Clara menegang sesaat. Mungkin ini yang terakhir sebelum Brian menemukan cinta yang lain. Clara tahu, wajah itu berharap cukup banyak pada jawaban Clara.
"Tentu," ucap Clara setengah ragu.
Clara cukup gugup saat Brian berjalan perlahan dan tiba-tiba memeluknya erat. Hangat. Ia mencoba memberanikan diri menggerakkan tangannya dan membalas pelukan itu. Anggap itu adalah pelukan teman yang akan berpisah.
"Terima kasih, Clara. Aku akan merindukanmu," bisik Brian.
Clara tidak bisa menjawab kata-kata itu karena terdengar begitu menyakitkan di telinga Clara.
"Maafkan aku Kak Brian. Kakak sehat-sehat ya."
.
.
.
"Sudah siap?" tanya Alice. Clara mengangguk setelah selesai meletakkan semua barang-barangnya di dalam mobil.
Gadis yang kini berambut panjang lurus dua puluh senti di bawah punggung ini mendongak, menatap bangunan kos tiga tingkat berwarna salem yang cukup rapi dan bersih.
Empat tahun dia tinggal disini bersama Alice. Clara yakin, suatu saat nanti ia akan sangat merindukan tempat ini.
"Ayo Clara," ajak Alice dari dalam mobil dengan kaca terbuka.
"Iya." Clara memasuki mobil yang akan mengantarnya ke kota kelahirannya. Meninggalkan begitu banyak kenangan di tempat ini.
Akhirnya, aku pulang.
Mobil berjalan perlahan meninggalkan kota M yang dingin. Kota ini adalah kota pegunungan, udara yang begitu sejuk dan air yang sangat dingin.
Clara menatap keluar jendela, melihat pemandangan kota yang akan segera ia tinggalkan. Ia tidak sabar ingin segera sampai di rumahnya dan menemui Reyhan.
Empat jam lebih di dalam mobil, akhirnya Clara tiba juga di kotanya. Sebenarnya, dalam tiga tahun ini Clara masih pulang ke rumah satu atau dua bulan sekali, namun hari ini ia akan menetap di kota kecil itu.
"Clara, aku ingin mampir ke minimarket sebentar. Mau ikut?" tanya Alice yang duduk di sebelah sopir.
"Tentu."
Mobil berbelok pada minimarket tidak jauh dari rumah Clara. Ia berencana membeli beberapa makanan agar tidak perlu keluar lagi setelah ini. Karena perjalanan yang cukup jauh membuat Clara ingin istirahat sesampainya di rumah.
Berbeda dengan suasana di kota M, kota kelahirannya cukup hangat dan minimarket ini tidak begitu ramai.
"Clara?"
DEG
Tubuh Clara bergeming. Apakah ia tidak salah mendengar? Apakah benar suara itu … tapi bukankah Reyhan masih di kota J?
Clara menoleh cepat, dan benar saja. Itu benar-benar Reyhan.
Clara termangu dengan mulut sedikit ternganga. Reyhan di dunia nyata jauh lebih tampan daripada yang ia lihat di media sosialnya.
Wajah Clara kini terasa memanas menatap laki-laki itu, mungkin wajahnya sudah memerah saat ini. Hati Clara terasa bergemuruh. Ia menahan kakinya mati-matian agar tidak berlari dan memeluk laki-laki itu.
Clara sangat merindukan pria itu.
"Ha-hai, Rey. Apa kabar?" tanya Clara canggung. Ia meremat kuat troli yang ia bawa.
"Baik. Kau sudah pulang?" tanya Reyhan terlihat biasa. Apakah Reyhan sudah tidak marah atau … dia sudah tidak peduli dengan Clara lagi?
"Ah iya. Aku sudah kembali karena kuliahku sudah selesai. Bagaimana dengan mu?"
"Aku sudah seminggu disini. Kuliah ku juga selesai, aku–"
"Rey, ayo pulang," ucap seorang perempuan dewasa dengan rambut gelombang, begitu cantik. Gadis anggun ini mengenakan pakaian formal dengan rok span di bawah lutut.
"Eh? Kau sedang bicara dengan seseorang?" tanya gadis itu.
"Hemm … tunggulah di mobil, aku akan menyusul," ucap Reyhan biasa.
"Oke."
Gadis cantik itu terlihat menilai Clara dari atas sampai bawah kemudian tersenyum setelah berpamitan. Senyuman itu sedikit mencurigakan.
Clara sangat penasaran dan ingin bertanya namun ia urungkan. Ia sadar sedang cemburu saat ini. Melihat dari perlakuan Reyhan, sepertinya gadis itu sangat dekat dengan laki-laki yang disukainya.
Apakah harapanku sudah pupus?
"Maaf Clara, sepertinya aku harus pergi," pamit Reyhan.
"A,ah … tentu. Silahkan."
Reyhan tersenyum dan berbalik hendak pergi. Apakah ini akan menjadi kesempatan terakhir Clara bertemu? Tidak. Tidak boleh seperti ini.
"Rey!" panggil Clara sedikit keras membuat Reyhan menoleh.
"Bolehkah aku minta nomor teleponmu?"
Reyhan tidak menjawab. Laki-laki itu hanya menatap Clara datar.
Clara tidak bisa membaca ekspresi di wajah Reyhan. Tapi ada sesuatu yang membuat Clara merasa canggung.
"Boleh," ucap Reyhan kemudian kembali dan memberikan nomornya pada Clara.
*
"Hei, kau kenapa?" tanya Alice sembari memasukkan barang belanjaan pada mobil.
"Alice … aku bertemu Reyhan barusan," lirih Clara sedih.
Alice menghentikan aktivitasnya dan memberikan perhatiannya pada Clara, namun respon teman baiknya itu terlihat biasa saja.
"Benarkah? Lalu, kenapa kau murung?"
Clara masih tertunduk dengan hati yang sakit. Mulutnya terasa berat untuk berbicara.
"Reyhan … dia … sedang bersama dengan seorang wanita."
Setelah bergeming cukup lama, Alice menutup pintu mobil belakang dan berjalan kedepan. Ia membuka pintu di kursi depan, namun sebelum masuk ia kembali bersuara. "Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin itu bukan kekasihnya. Sudah ku bilang kan? Tidak ada salahnya mencoba. Ayo masuk, cepat makan dan istirahatlah."
Dada Clara begitu sesak mengingat Reyhan bersama wanita itu. Clara ragu, Apakah ia masih punya kesempatan?