
Eps. 101
Reyhan tersenyum lembut, mengulurkan salah satu tangannya mengajak Clara untuk kembali. "Ayo pulang. Aku disini."
Perlahan Clara melangkah dengan ragu. Tatapannya masih kosong namun gadis ini terus menggerakkan kakinya mencoba mendekati Reyhan.
Dengan tangan yang masih menahan nyeri di dadanya, Arion mencoba meraih Clara dengan tangan satunya.
"Tidak, tidak, tidak Clara! Tidak lagi! Kau milikku! Jangan dengarkan dia!" Rancau Arion dengan bekas sisa air mata yang masih terlihat.
Semua impian yang ia bangun runtuh begitu saja, pemandangan di sekitar tiba-tiba menghilang bagai kabut, menyisakan rerumputan dan hanya pemandangan putih di sekitarnya.
Semua sudah hancur. Clara memilih untuk bangun dan pergi bersama pria yang paling Arion benci karena telah merebut gadis itu darinya.
Arion melihat Clara yang perlahan mengangkat tangannya hendak meraih tangan laki-laki sialan itu. Clara meninggalkan Arion dan akan pergi dengan Reyhan.
Sudah tidak ada lagi hal yang tersisa. Arion menangis pilu dengan kedua tangan menopang pada tanah. Harapan satu-satunya telah sirna. Dan semua sudah berakhir.
Apa yang akan kulakukan sekarang… apa aku harus menunggu bertahun-tahun lagi. Bagaimana jika–
"Arion," suara lembut itu memanggil namanya akrab.
Tangis Arion terhenti saat itu juga setelah mendengar suara kesayangan itu memanggilnya. Secepat kilat Arion mendongak menatap gadis di hadapannya tak percaya. Sekilas ia melirik Reyhan yang hanya diam memperhatikan keduanya.
Apakah ini ilusi? Atau Clara memang kembali kepadanya? Clara menolak Reyhan dan kembali pada Arion?
Mata Arion membulat sempurna dengan mulut ternganga. Ia tidak mempercayai apa yang ia lihat.
Clara tersenyum lembut menatap Arion lekat, gadis ini bahkan sudah berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Arion yang masih bersimpuh di tanah.
Arion menatap Clara bingung, sesekali ia masih sesegukan, wajahnya terlihat kacau dengan bekas air mata yang masih jelas terlihat. Gadis itu sudah sadar sepenuhnya tapi kenapa dia malah kembali dan tersenyum begitu lembut?
"Aku ingat Arion. Aku ingat semuanya … Aku … aku juga menyukaimu."
Seketika Arion menarik Clara dalam pelukannya dan memeluk gadis itu erat. Arion menangis sejadi jadinya, namun tangis nya kini adalah tangisan bahagia. Orang yang dicintainya selama bertahun-tahun kini sudah mengingatnya.
*
Clara membuka mata perlahan, ia masih mengerjap pelan beberapa kali untuk membiasakan cahaya yang begitu menyilaukan di matanya.
Clara menoleh dengan lemah, melihat orang-orang yang terlihat khawatir padanya.
Leo, Reyhan dan yang lainnya tersenyum lega karena akhirnya gadis yang terbaring sudah hampir seminggu ini kini sudah membuka mata.
"Clara … Clara, Sayang … apa kau baik-baik saja?" tanya Harumi senang, air matanya tidak terasa menetes karena khawatir Clara tidak akan bangun lagi.
Leo mencoba menyalurkan energinya lembut, agar Clara bisa pulih lebih cepat. Tidur selama itu akan membuat tubuhnya benar-benar lemas.
Dan ternyata, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Suasana kembali tegang saat Arion kini muncul tepat di depan ranjang Clara.
Leo hanya diam, tapi Harumi berdiri dan marah dengan berbagai amukan pada Arion, namun Harumi tidak dapat menyentuh hantu tampan itu.
Ryo yang hanya diam karena tidak bisa melihat namun bisa merasakan kehadiran makhluk halus itu, sedangkan Reyhan tidak mengerti situasi karena laki-laki blonde itu tidak bisa melihat atau merasakan sesuatu.
"Harumi, tenanglah," suru Leo.
Tidak ada bantahan. Harumi diam dengan menahan amarah, kedua tangannya terkepal dengan erat.
"Aku … baik-baik saja… Paman," bantahnya halus. Kemudian mendorong pelan tangan Leo yang ingin membantunya.
Harumi kembali duduk di ranjang Clara dan mencoba meyakinkan Clara agar kembali berbaring. "Clara, mau kemana? kau masih sakit. Tidurlah," titah Harumi.
"Maaf Ma, aku ingin bicara dengan Arion."
"Tapi–"
"Ma … kumohon." Clara memohon dengan iba, ia tahu tubuhnya seperti remuk dan tidak bertenaga, tapi ia harus menemui hantu tampan yang terlihat kacau itu.
Clara berdiri perlahan dan melangkah mendekati Arion. Belum sempat ia sampai di tempat itu, Clara terjatuh dengan posisi duduk.
Arion yang khawatir segera menghampiri Clara dan menyentuh pundak gadis itu. Membantunya bangun, namun Clara memilih tetap duduk.
Harumi dan yang lainnya juga hendak berlari kearah Clara namun Leo tidak mengizinkannya. Leo tahu, Clara harus bicara berdua dengan Arion.
"Apa kau baik-baik saja, Clara?" tanya Arion khawatir.
Clara tersenyum menatap hantu itu. "Tumben kau tidak memanggilku sayang? Aku merindukan panggilan itu," ucap Clara menggoda Arion.
Arion yang sempat termangu, kini menghela pelan dan tersenyum kecil. "Tentu saja. Sayang … apa kau baik-baik saja?" tanya Arion dengan senyum sendunya yang hanya dibalas dengan senyuman terbaik oleh Clara.
"Ini tidak ada apa-apanya dengan apa yang kamu alami selama ini. Bagaimana dengan mu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Clara khawatir. Arion tersenyum pilu.
Clara menggerakkan tangannya, meraih pipi Arion dan mengelusnya lembut. Disaat semua hantu begitu menakutkan bagi Clara, namun hantu ini berhasil mencuri hatinya dengan rasa suka yang tidak masuk akal.
Itu cukup menyiksa, tapi kini Clara tahu alasannya.
"Maafkan aku karena tidak bisa mengenalimu sejak awal. Kenapa kau memilih jalan yang sulit untuk membuat ku mengingat mu, hm?"
Arion masih diam menatap Clara lekat. Hantu tampan itu hanya memejamkan mata dan menangkup tangan Clara yang ada di pipinya, merasakan kehangatan sentuhan itu.
"Kenapa kau menyiksa diri sendiri hanya untuk ku?" tanya Clara lagi.
"Maafkan aku," sesal Arion menggenggam erat tangan Clara yang masih menempel di pipinya.
Clara menggeleng dengan senyuman lembut.
"Akulah yang seharus meminta maaf pada mu karena tidak bisa mengenalmu sejak awal. Jika saja aku mengerti itu kau, semua tidak akan menjadi seperti ini."
"Kau tahu aku begitu mencintaimu kan, Sayang?" tanya Arion khawatir.
Clara hanya terkekeh kecil melihat tingkah Arion yang terlihat seperti anak-anak. "Aku tahu. Aku sangat tahu."
"Aku selalu bahagia bersama mu, bermain dengan mu, kau yang melindungiku saat aku takut. Dan kau tahu kan, aku juga menyukaimu?" tanya Clara. Namun Arion hanya diam begitu sedih.
"Karena itu …" Kini kedua tangan Clara menangkup wajah Arion. "Aku ingin kau bahagia. Kau seharusnya bahagia sudah sejak delapan tahun yang lalu, tapi kau masih disini menderita karena ku. Aku tidak mau."
Air mata yang sedari tadi Clara tahan kini lolos tanpa pertahanan. Melihat Arion yang berjuang sendirian hingga detik ini, meninggalkan rasa sakit di hati Clara. "Aku ingin kau juga bahagia untuk ku, Arion."
Arion menatap Clara begitu sedih. Hantu tampan ini kembali menangis melihat Clara yang terlihat sedih untuknya.
Arion mengeraskan rahangnya. Detik berikutnya ia menarik tubuh Clara dan memeluknya erat.