
Eps. 56
Beberapa detik setelah bel jam masuk berbunyi, Lisya keluar dari tubuh Clara. Berbeda dari sebelumnya, Clara sempat terdiam namun mendongak setelah mendengar panggilan Reyhan.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Reyhan terdengar sangat perhatian.
Tubuh Clara menegang seketika. Ia mengalihkan wajahnya karena tidak berani menatap laki-laki tampan itu.
"Ehem … aku baik-baik saja."
"Ayo kembali. Bel sudah berbunyi," ajak Reyhan dengan senyum ramahnya.
"Ah ya, kalian duluan saja. Aku masih ingin membeli sesuatu." Clara mendongak, disamping Reyhan terlihat Lisya, Eros dan Aldio.
"Kalau begitu kami pergi dulu," pamit Reyhan, tangannya terangkat melambai singkat.
Clara mengangguk singkat, tersenyum kecil juga pada Lisya yang juga berpamitan.
Ketika Reyhan dan yang lainnya sudah hilang dari pandangan Clara, saat itu juga ia tertunduk dengan tangan kanan meremat kuat pada baju di dadanya. Semburat merah memenuhi wajah Clara.
Gadis ini masih mengatur perasaan kupu-kupu yang memenuhi di dadanya. Seperti baru saja bertemu dengan seseorang yang sangat dicintainya, rasa bahagia itu masih jelas membekas.
Clara gusar, perasaannya benar-benar bahagia karena lelaki blondie itu, ia bahkan hampir tidak bisa menatap wajah Reyhan yang sedang tersenyum.
Ugh gila! Apa aku mulai menyukai Reyhan? Mana mungkin! saat duduk di kantin bersama, perasaan ini tidak ada! Kenapa tiba-tiba?
"Benar-benar gila," lirih Clara frustasi, tangannya menyugar rambutnya keatas.
.
.
.
Lisya memperhatikan Clara yang duduk di kelasnya, ada beberapa hantu yang tampak memperhatikan Clara dari jauh enggan untuk mendekat.
Seringkali ada beberapa yang mencoba mendekat akan mundur seolah mengurungkan niatnya. Lisya tahu, Arion adalah dalang dari semua ini. Dia menjaga Clara dengan begitu baik. Tapi kenapa hanya Lisya yang boleh bermain-main dengan yang dianggap miliknya?
Arion bukanlah hantu yang membiarkan Lisya hanya karena Lisya tidak memiliki niat buruk pada Clara. Banyak hantu lain yang juga tidak beraura negatif, namun tidak berani mendekati Clara karena Arion.
Pasti ada alasan kenapa Arion membiarkan Clara membantu Lisya dan Reyhan.
"Biarlah. Setidaknya untuk saat ini Clara aman," gumam Lisya kemudian menghilang begitu saja.
Glup glup glup
Clara meneguk sisa air mineral botol 330ml nya hingga tandas. Ia mengangkat botol kecil itu ke udara dan menatapnya heran.
"Ada apa?" tanya Dita penasaran.
"Sepertinya botol ini bocor. Aku sudah menghabiskan dua botol tapi rasanya masih haus," jawab Clara dengan nada heran.
"Ah ya, kau sangat haus karena interaksi mu yang sangat manis dengan 'dia'," cibir Alice.
Dengan cepat Clara menoleh menatap Alice horor. Ia mencondongkan badannya mengikis jarak dengan Alice.
"Apa aku– ah maksud ku 'dia' melakukan hal yang aneh?" tanya Clara dengan menggelengkan kepalanya cepat saat meralat kalimatnya.
"Dia siapa?" Alice memajukan tubuhnya hingga sangat dekat dengan telinga Clara. "Yang kami lihat, kau tiba-tiba sangat akrab dengan Pangeran Es itu, bercengkrama dengan hangat, bahkan sampai berpegangan tangan. Sebagian fans nya terlihat sangat tidak suka melihatmu seperti itu," bisik Alice di telinga Clara.
Wajah Clara memucat, Alice dan Reyhan benar-benar lupa dengan sekitar. Tapi sesuai perjanjian, tidak ada yang salah dengan berpegangan tangan.
"Wajah mu benar-benar menatapnya hangat penuh cinta, seolah kalian hanya berdua di kantin itu yang lain cuma lalat," imbuh Dita mengejek.
Apa mungkin perasaan yang kurasakan tadi …? Ah aku tidak mengerti!
"Jangan bermain-main dengan api, bagaimana jika kau terluka lagi?" tanya Alice datar, namun dibalik wajah datarnya Clara mengerti bahwa temannya sedang khawatir.
Saat Clara pingsan setelah cukup babak belur melawan Jenny dan teman-temannya, Alice dan Dita lah yang sangat khawatir melihat keadaannya. Tentu saja Reyhan yang terlihat sedih karena merasa bersalah.
"Benar Clara, banyak yang cem–" Dita termangu saat Alice menutup mulutnya dengan tangan.
"Kecilkan suaramu," ucap Alice pelan.
"Ma-maaf," ujar Dita merasa bersalah.
"Jika terjadi sesuatu, katakan saja pada kami," bisik Dita kemudian memberikan botol air mineral miliknya.
"Kami tahu kau pasti haus," ucap Dita tersenyum antusias.
.
.
.
Hari sudah gelap. Reyhan dengan pakaian santainya duduk di ranjang dengan tangannya yang berkutat dengan ponsel.
Sesekali ia mengetikkan pesan untuk Clara, namun ia juga berulang kali menghapusnya. Ia ingin mengajak Clara untuk membantunya berkencan dengan Lisya, tapi hati kecilnya merasa bersalah untuk itu.
"Aah, rasanya benar-benar tidak nyaman. Aku masih sungkan mengajaknya ke acara kencan kita," kata Reyhan dengan kepala bersandar ke kepala ranjang.
Reyhan menoleh, membaca tulisan yang baru muncul pada buku kecil yang ada disampingnya.
'Tidak masalah Rey, Clara yang menawarkan diri membantu kita. Kau tidak perlu merasa bersalah.'
Kedengarannya sangat egois. Tapi memang benar, Clara bahkan cukup memaksa saat ingin membantu Reyhan dan kekasihnya. Karena itu adalah kerjasama yang saling menguntungkan untuk membantu Clara jauh dari Arion.
'Clara, apa kau mau nonton film bersama ku dan Lisya di hari minggu ini?' Pesan terkirim.
.
.
Clara menatap ponselnya lekat, menatap sesuatu yang tampak disana. Ia sedang duduk di atas kasurnya dengan celana kain pendek dan baju kaos rumahannya.
"Hmm … sudah waktunya ya …."
From : Reyhan
Clara, apa kau mau nonton film bersama ku dan Lisya di hari minggu ini?
^^^Oke^^^
^^^Kita ketemuan di bioskop^^^
"Horeeei! Akhirnya weekend sudah tiba," sorak Dita heboh sendiri.
"Ya. Akhirnya bisa istirahat di rumah dengan tenang," kata Alice datar.
"Hei, ayo kita ke mall?" ajak Dita.
"Aku ingin santai dirumah," jawab Alice malas.
"Yah Alice, sudah lama kita tidak jalan bareng. Kalau kau Clara?"
"Aku sudah ada janji."
Alice dan Dita menoleh serempak dengan wajah curiga dan sedikit penasaran. "Dengan Reyhan?" tanya mereka bersamaan.
Yang ditanya menelan ludahnya susah payah, ia mengalihkan pandangannya tidak ingin menatap keduanya.
"Sudah kuduga," cibir Alice.
"Wah, ada yang mau kencan," goda Dita dengan cengiran kudanya.
"Ck! Ayolah, kalian tahu tujuanku kesana. Jangan menggoda ku lagi," omel Clara.
Sore itu, Clara sudah duduk di meja foodcourt seorang diri dengan segelas teh sudah tersedia di depannya.
Seperti biasa, mall sangat ramai saat weekend. Banyak pasangan muda yang sedang berkencan disana, dan anehnya tiba-tiba saja wajah Arion muncul di benak Clara.
Hah?! Yang benar saja! Apa aku berharap akan berkencan dengan Arion seperti mimpi ku? Ck! Sayang sekali dia bukan manusia, tapi luar biasa sekali dia bisa mencabik-cabik hati ku seperti ini!!
Tidak lama waktu berselang, keadaan foodcourt tiba-tiba menjadi sedikit ramai dengan orang disekitar Clara yang mulai berbisik dan melirik ke arah yang sama.
Penasaran, Clara menoleh melihat apa yang begitu menarik bagi orang disekitarnya.
Pangeran Es itu muncul, dengan wajah yang lebih segar dan lebih tampan dibandingkan saat mereka makan bersama di cafe pancake kesukaan Lisya.
Dengan baju seperti itu, dia terlihat seperti idol. Pantas saja semua mata tertuju padanya.
Namun sayang sekali, mereka tidak bisa melihat kecantikan Lisya yang kini juga berdandan dengan dress selutut bernuansa peach dengan dandanan yang cantik dan lembut. Biasanya Lisya hanya memakai seragam.
"Hai," sapa Reyhan dan Lisya. Mereka tersenyum sangat menyilaukan. Mata Clara rasanya tersakiti oleh cahaya rupawan mereka.
Sayang sekali. Padahal mereka sangat sempurna.