You Saw Me?!

You Saw Me?!
Jebakan



Eps. 26


Clara memberikan beberapa lembar uang pada pemilik kios lalu mengambil makanannya. Dengan membawa nampan berisi makanan, Clara berjalan berhati-hati menuju bangku kedua temannya.


“Aku benar-benar terkejut melihat reaksi Rey saat melihat mu, apa dia setakut itu pada ku?” tanya Lisya yang sedang berjalan tepat di samping Clara, suaranya terdengar sedih.


Lisya bergerak melewati murid-murid yang berlalu tanpa harus menghindarinya. Dengan mudahnya Lisya tinggal menembus tubuh mereka.


“Aku juga terkejut,” gumam Clara.


Clara meletakkan nampan di atas meja saat ia sudah sampai di meja tempat Dita dan Alice duduk.


Selesai dengan makanannya mereka, Alice, Dita dan Clara kembali berjalan menuju kelas. Secara tidak sadar Clara berjalan sedikit menunduk karena pikirannya saat ini sedang penuh dengan bagaimana cara menyampaikan pesan.


Sebuah tarikan pada tangannya berhasil membuat Clara mendongak, terbagun dari lamunannya seraya melihat seseorang yang sedang menariknya.


“Dita? Mau kemana?” tanya Clara yang berjalan sedikit kewalahan mengikuti langkah Dita.


“Ikut aku sebentar,” ujar Dita masih menarik tangan Clara kuat.


“Aku tunggu kalian di sini,” kata Alice biasa. Clara menoleh pada Alice yang melambaikan tangan dengan wajah datarnya.


Mereka berjalan cukup jauh menuju kursi kayu di bawah pohon kecil, Dita menghentikan langkahnya tepat di depan anak laki-laki dan beberapa temannya.


Menghela pelan, Clara tak habis pikir, untuk apa Dita membawanya bertemu dengan teman yang tidak ia kenal. Situasi ini terasa canggung.


“Hei, Rendy!” sapa Dita pada salah satu anak laki-laki di gerombolan itu.


Laki-laki bernama Rendy ini sedang berbicara dengan temannya.


“Dita? Ada apa?” tanya Rendy setelah menoleh menatap Dita. Laki-laki tinggi ini terpaksa menghentikan bincang-bincangnya dengan teman di depannya.


Ada beberapa anak lain yang tampak familiar bagi Clara, namun Clara tidak berminat bergabung. Ia hanya melirik mereka sekilas kemudian mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


Sekali lagi Clara menghela pelan. Untuk apa Dita membawanya ke sini jika ia hanya akan menjadi patung diantara manusia ini. Untuk mengusir rasa canggungnya, Clara membuat dirinya sibuk melihat ke arah lain.


Begitu melihat kesempatan, wanita berambut sebahu ini dengan sigap menarik lengan Dita. “Hei, untuk apa kau membawa ku ke--”


Kalimat Clara terpotong saat pandangannya menangkap seorang laki-laki yang tak asing, laki-laki yang sedari tadi berdiri di depan Rendy menoleh ke arahnya.


Re-Reyhan?!! sedang apa dia di sini?


Spontan Clara mengalihkan pandangannya ke arah lain. Juga menoleh pada Lisya yang juga tidak tahu menahu tentang keadaan Reyhan. Kenapa dia baru sadar disana ada Reyhan?


Dita yang menangkap tingkah Reyhan dan teman perempuannya itu, tampak tersenyum tipis. Melihat Reyhan yang salah tingkah, dan tidak setenang biasanya membuat Dita semakin yakin dengan kecurigaannya.


Lisya melihat Reyhan dengan cemas lalu mengalihkan pandangannya pada Clara yang tampak bingung.


“Apa kau melihat Rosy?” tanya Dita pada Rendy, sesekali melirik sikap Reyhan.


Seketika Reyhan berbalik dan kembali pada kawan-kawannya yang lain.


Selang beberapa detik, ia pergi setelah mengajak teman-temannya untuk kembali ke kelasnya.


“Ayo kembali ke kelas, sebentar lagi bel masuk.”


“Loh? Rey, tunggu sebentar lagi!,” kata Eros.


"Kenapa dia?" tanya Aldio.


"Entahlah, tadi dia bicara dengan Rendy dan--" suara Eros terputus, diganti dengan senyum miring paham akan sesuatu.


"Pantas saja. Lihat tuh," jawab Eros menunjuk ke arah Rendy dengan dagunya.


“Oh kalau begitu terima kasih ya, dah,” pamit Dita kemudian menarik lengan Clara untuk kembali pada Alice yang masih setia menunggu.


Aldio menatap kepergian Clara biasa, lalu sekilas mengalihkan pandangannya bertatapan dengan Eros.


"Ayo," ajak Aldio. 


Eros hanya mengedikkan bahu singkat dan berjalan bersama Aldio mengikuti kepergian Reyhan.


Clara berjalan dengan berat mengikuti tarikan Dita. Ia sudah lelah mengeluh, sebentar ditarik kesana, sebentar lagi ditarik kesini.


Lisya pun hanya mengekori keduanya dari samping.


Clara merasa bersalah saat melihat Lisya yang terlihat muram mengikutinya. Ia bahkan mengacuhkan Dita yang sedari tadi mengomel atau membicarakan sesuatu. Ingin rasanya Clara bertanya kenapa tidak kau ikuti saja Reyhan? Setidaknya Lisya bisa melihat sendiri bagaimana keadaannya.


“Untuk apa kau mengajakku ke sana?” tanya Clara jengah.


“Aku sedang mencari Rosy, aku tidak ingin berjalan sendirian mendekati kerumunan anak laki-laki, Clara,” ujar Dita mencari alasan yang tampak di buat-buat di mata Clara.


Tidak masuk akal. Dita yang sering berteman dengan siapa saja tidak mengkin merasa canggung. Dan lihat sikap nya tadi, tidak canggung sama sekali.


Clara membuka mulut hendak menyanggah namun ia urungkan. Clara sudah malas berdebat. “Lalu, sekarang ke mana lagi?”


“Kita kembali ke kelas,” ucap Dita semangat dengan senyum seribu watt nya entah karena apa.


Clara berjalan dengan Lisya di sisinya, tidak sadar jika ia sudah meninggalkan kedua orang temannya di belakang.


“Benar kan?” tanya Alice khas dengan wajah datarnya.


“Benar sekali Alice, reaksi mereka benar-benar berlebihan,” ucap Dita puas dengan senyum lebar tercetak di bibirnya.


“Boleh,” jawab Dita tersenyum jahat.


.


.


.


Alice melihat Reyhan sedang memasuki perpustakaan. Ia menolehkan kepalanya menatap Dita lalu memberikan kode dengan dagunya. Dita menangguk dengan tersenyum licik.


“Aku ingin ke perpus,” suara Alice.


“Aku ikut,” kata Dita semangat.


“Clara ayo ikut,” ajak Alice.


"Kalian saja."


"Ayolah ikut," rengek Dita mulai menarik tangan Clara.


“Iya iya, duh!” kata Clara malas.


Ada apa dengan dua orang temannya ini? Ada kecurigaan yang Clara rasakan. Apa hari ini ulang tahun Clara? Atau April mob? Bukan!


Dengan malas Clara berdiri dan mengikuti kedua temannya berjalan menuju perpustakaan sekolah.


Setelah mencari target, Alice menemukan Reyhan sedang membaca buku sambil berdiri di rak nomor tiga. Ia tersenyum samar dengan ekspresi yang tidak banyak berubah.


“Hei, bisakah kau membantuku mencari buku ini?” tanya Alice memberikan secarik kertas yang berisikan judul buku pada Clara.


Clara menaikkan sebelah alisnya. “Kau yakin ada buku seperti ini di perpus sekolah?” tanyanya tak percaya.


“Tolong carikan saja, kalau memang tidak ada, yasudah,” kata Alice santai.


“Dita membantu ku di rak satu, aku cari di rak dua, kau cari di rak tiga. Aku ingin cepat selesai dan cepat keluar dari tempat ini,” tambah Alice.


Clara mengangguk. Tidak ingin berdebat dengan Alice, ia melangkahkan kakinya menuju rak ketiga dan mulai mencari buku yang Alice inginkan.


Mencari novel di perpustakaan sekolah? Rasanya tidak mudah. Ia mulai mencari perlahan, sedikit demi sedikit, Clara menggeser tubuhnya mencari di rak yang lebih dalam.


"Clara," panggil Lisya.


"Hm?"


"Clara!" panggil Lisya lagi tampak panik.


"Apa?!" bisik Clara sedikit jengkel. Saat ini di perpustakaan cukup banyak orang, mereka tidak bisa sembarangan berkomunikasi.


"Reyhan--"


"Ugh, nanti saja! Aku, belum punya ide," gumam Clara berbisik, dengan menyentuh pening kepalanya.


"Tapi--"


"Nanti saja oke," final Clara menggerakkan bibirnya tanpa bersuara.


Kembali mencari, Clara sedikit terperanjat saat tubuhnya hendak menabrak seseorang yang sedang berdiri membaca buku.


Reflek Clara menoleh hendak meminta maaf. Namun, niat nya berubah. Nafasnya tercekat tiba-tiba saat melihat orang yang sedang berdiri di depannya.


Reyhan?!


Disisi lain Reyhan tak kalah terkejut, dia memundurkan kakinya satu langkah dan menjatuhkan sebuah buku tipis yang ada di tangannya. Laki-laki tampan itu menatap Clara marah dan tak suka.


Tanpa banyak bicara, Reyhan mendecak kesal lalu mengambil buku yang terjatuh. Ia meninggalkan Clara dengan tergesa-gesa setelah meletakkan buku di tangannya ke dalam rak, tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang tengah menatap Reyhan.


Reyhan dan Clara tidak hanya berdua di rak ketiga. Masih ada beberapa murid yang juga sedang mencari buku di sana.


Clara menghela berat melihat Reyhan yang pergi begitu saja dengan tatapan menyakitkan baginya. Ia juga mengindahkan beberapa pasang mata yang tampak penasaran dengan drama tadi.


“Kenapa dia terburu-buru?” suara seorang perempuan di belakang Clara. Beberapa orang di depan mereka kembali menoleh pada pemilik suara itu sekilas.


Mendengar suara perempuan di belakangnya membuat mata Clara terbelalak.


Sejak kapan dia disana? Itu bukan suara Lisya?! 


Clara hendak berbalik namun ia urungkan karena wanita itu sudah berdiri sejajar dengannya.


“Kenapa akhir-akhir ini Reyhan seperti senang sekali menghindarimu? benarkan Clara?” bisik Alice mendekatkan tubuhnya pada Clara sejenak saat berbisik.


“Sama seperti saat kita di depan kantin ataupun di dekat bangku kayu waktu itu,” tambah Alice.


Tenggorokan Clara terasa kering tiba-tiba. Ia berkali-kali menelan ludahnya susah payah namun ia mendadak haus. Clara mengalihkan pandangannya mencoba mencari alasan yang masuk akal. Ia harus benar-benar memikirkannya karena Alice adalah orang yang kritis.


Mencoba mencari Lisya namun hantu itu kini tidak muncul.


“Sudah tertangkap basah, jangan membuat alasan lagi!” ucap Alice datar sedikit dingin.


Clara terkesiap. Ia memberanikan diri menoleh pada Alice yang terlihat lebih menyeramkan dari Lisya. Tanpa ia sadari, Dita sudah berdiri di sebelah Alice dengan melipat kedua tangannya di dada, menatap Clara datar.


Sial! Aku di jebak!!