You Saw Me?!

You Saw Me?!
Senyuman termanis



Eps. 80


Clara membuka mata perlahan saat tiba-tiba saja ia merasakan rasa begitu ngilu, sakit menusuk hatinya. Ia ingin menangis dan berteriak namun gadis ini menahannya.


Gadis ini menoleh, menatap Reyhan yang sedang duduk disampingnya. Laki-laki ini terlihat diam dengan tatapan yang sangat sulit diartikan, antara sedih terluka dan berbagai perasaan lain menjadi satu di wajahnya.


Reyhan menatap lurus ke depan membuat Clara penasaran apa yang membuat laki-laki itu membuat wajah seperti ini.


"Clara …" sapa Lisya yang berdiri dengan gaun putih indah tengah tersenyum begitu teduh.


"Lisya …"


"Terima kasih untuk segalanya. Jika bukan karenamu, mungkin aku akan pergi setelah kematian ku dengan perasaan terluka dan tak terobati. Dan mungkin Reyhan juga akan selamanya salah paham dan menyalahkan dirinya sendiri."


Entah kenapa air mata Clara mengalir begitu saja. Pertemuan singkat dengan Lisya meninggalkan kesan dan luka yang cukup berarti baginya.


Lisya tersenyum kecil. "Kenapa menangis, dasar bodoh!" ucap Lisya.


Clara menahan diri agar tidak menangis. Ia tersenyum miring. "Kau yang dengan teganya menyisakan perasaan sakit mencekik ini di hati ku, kau tega sekali."


Lisya sempat termangu, namun detik berikutnya hantu cantik ini berhambur dan memeluk Clara erat.


"Aku menyayangimu, teman baikku. Kita tidak lama kenal tapi kehadiranmu sangat berkesan bagi kami."


Clara tercengang. Lisya bisa memeluk tubuh Clara? Tidak lama sampai kesadaraan Clara kembali. Ia dengan cepat memeluk gadis itu erat, tidak ingin kehilangan momen yang langka itu.


"Kau bisa memelukku?!" marah Clara.


Lisya tersenyum tenang. "Hanya disaat terakhir karena aku mengerahkan semua yang kubisa."


Clara bergeming, hanya bisa memeluk hantu itu dengan erat. Sangat erat seolah tidak mengizinkan Lisya untuk pergi.


Lisya mengurai pelukan itu perlahan. Gadis cantik ini kemudian mendekati Reyhan, menatap kekasihnya untuk yang terakhir kali dan tersenyum sendu.


"Aku mencintaimu," ucap Lisya lagi.


"Aku tahu."


Perlahan Lisya mengecup bibir Reyhan dan laki-laki itu membalasnya. Clara yang melihat itu merasa terharu, lihat saja kedua wajah yang terlihat sedih itu.


Keduanya melepas ciuman pilu itu. "Selamat tinggal, Sayang. Selamat tinggal Clara. Terima kasih."


Setelahnya Lisya dengan senyuman termanisnya, senyuman yang sudah tidak terlihat kesedihan disana. Lisya berpendar menjadi cahaya kecil dan menghilang perlahan. Reyhan mencoba tersenyum lembut menatap Lisya yang mulai tak terlihat.


Clara hanya terpaku, saat air matanya tiba-tiba mengalir deras tidak bisa dikontrol. Gadis ini membiarkan isakan itu keluar, dan menangis untuk membuang beban dan sakit di hatinya.


Hantu cantik itu sudah pergi, hantu yang awalnya ia tolak. Namun akhirnya bisa berbagi tubuh dan berbagi rasa di dalam tubuh Clara.


Clara seolah kehilangan teman terbaiknya melebihi Alice dan Dita. Karena Lisya bisa mengetahui apapun yang Clara rasakan meskipun gadis ini menyembunyikannya.


Sudah beberapa saat Lisya pergi namun Clara masih menangis dan Reyhan hanya terdiam dengan wajah sedih dan pandangan menerawang.


Mereka berdua masih duduk terdiam di pantai. Dengan Reyhan yang hanya diam menatap lurus kedepan, dan Clara yang menangis sejadi-jadinya dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Gadis yang kini sudah pergi benar-benar memberi luka di hati keduanya.


.


.


Mata Clara terasa sangat perih. Sepertinya besok pagi akan bengkak. Clara dan Reyhan masih duduk terdiam di pinggir pantai. Tidak ada seorangpun disana karena malam sudah larut.


Keduanya sudah memberi kabar pada yang lain bahwa mereka tidak akan kembali ke penginapan. Mereka hanya ingin berdiam tanpa harus menerima pertanyaan apapun dari yang lain. Hati mereka sedang sakit.


"Dia wanita yang sangat ceria," ucap Reyhan tiba-tiba membuat Clara menoleh ke arahnya.


"Dia membawa keceriaan dalam hidupku. Meski banyak yang membulinya, dia tidak memberitahuku dan melawan pembuli itu." Reyhan tidak menatap Clara, pandangannya masih terlihat kosong menatap kearah laut.


"Aku tahu. Dia luar biasa."


"Hey, apa kau bisa melihat Lisya?"


"Ya. Disaat terakhir, aku bisa melihat dan menyentuhnya," ucap Reyhan singkat.


Laki-laki ini tertunduk. Clara tahu saat Reyhan mulai terisak kecil. Pasti berat baginya melihat orang yang begitu ia sayang kini harus pergi dengan cara seperti ini.


Tidak ada yang bisa Clara lakukan. Ia hanya diam menunggu laki-laki itu selesai menangis.


Tidak ada yang salah jika laki-laki menangis. Apalagi kehilangan seseorang yang mereka cintai.


Tidak lama, Reyhan kembali mendongak dan membersihkan sisa air matanya.


Ketika semua sudah tenang, pangeran es ini bersuara, "Ayo kembali. Sebentar lagi pagi."


Clara menoleh melihat laki-laki ini yang kini tampak lebih tegar. Melihat itu, Clara tersenyum karena usahanya tidak sia-sia, usaha Lisya tidak sia-sia. Semua sudah berakhir dengan baik. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka yang tertinggal.


Clara mengangguk dengan senyum kecil. Tapi, saat gadis ini mencoba berdiri.


DEG!


Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Ia mencoba meraih sesuatu untuk dipegang namun gagal. Semua tampak buram dan hitam setelahnya.


Beruntung Reyhan masih bisa menangkapnya. Ia kembali duduk di pantai dan membiarkan Clara tertidur dalam pelukannya.


"Dia pasti kelelahan," gumam Reyhan.


Bagaimana tidak, seharian ini Clara mengizinkan kekasihnya untuk meminjam. Belum lagi ada gangguan hantu jahat yang ingin menguasai tubuh Clara.


Reyhan menatap wajah gadis ini lekat. Wajah yang menangis tadi, dengan mata membengkak. Reyhan mengernyit dan menghela pelan. Wajah ini yang selalu Lisya pakai saat meminjam. Tidak bisa dipungkiri, wajah Clara mengingatkannya pada Lisya.


"Tubuh ini. Mengingatkan ku pada Lisya yang selalu ada di dalamnya … maafkan aku … Clara."


Reyhan memeluk dan merebahkan kepalanya pada pucuk kepala gadis ini. Seolah sedang memeluk Lisya yang meminjam tubuh ini.


.


.


.


Clara bergerak dari tidurnya saat mendengar suara orang berbicara dan sinar yang menyilaukan dari luar jendela. Tirai yang sedari tadi di tutup kini dibuka oleh temannya.


"Hei … ayo siap-siap pulang," ucap Dita yang membuka tirai. Sedangkan Alice sudah mengemasi barang.


Clara menguap dengan mata setengah tertutup. Ia masih sangat mengantuk dengan badan yang terasa lelah.


"Ini masih pagi kan?" tanya Clara kemudian kembali tidur dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Pagi? Sekarang sudah jam 11 siang," ucap Alice datar.


"Hah?" Clara berjengit dan kembali membuka selimut dengan duduk seketika.


"Bener sudah jam 11," ucapnya frustasi karena tubuhnya masih lelah dan ingin melanjutkan tidur.


"Aaah," rengeknya lalu merebahkan kembali tubuhnya pada kasur.


"Hei," panggil Alice. Temannya ini sudah duduk di seberang kasur. "Semalam dari mana saja jam tiga pagi baru pulang?" tanya Alice menyelidik.


Clara menoleh tidak percaya pada Alice. Ia tidak ingat jam berapa dirinya pulang. Yang ia ingat hanya saat-saat terakhir Clara akan kembali ke penginapan. Tapi tidak ada ingatan tentang itu.


"Jam tiga pagi? Memangnya bagaimana aku kembali ke kamar? Aku lupa," tanya Clara penasaran.


Dita yang juga terlihat ingin tahu kini sudah bergabung dengan Alice dan Clara.


"Kau dibawa Reyhan dengan digendong ala bridal style."


"Apa?!"