You Saw Me?!

You Saw Me?!
Menghindar



Eps. 25


"Apa Rey harus setakut itu jika ia tahu kalau itu adalah aku?" tanya Lisya sedih.


Duduk di bangku bersebelahan dengan Clara, Lisya mulai menggoyang-goyangkan kakinya tak memiliki pekerjaan lain.


Clara mengedikkan bahunya tak peduli. “Hm… entahlah. Mungkin jika itu aku, aku lebih memilih melihatmu secara langsung daripada harus melihat benda bergerak atau melayang sendiri, itu terdengar menakutkan,” jawab Clara memainkan ujung sedotan di teh nya.


“Melihat wajah orang yang kita sayangi, bisa mengurangi rasa takut daripada harus melihat benda bergerak sendiri,” tambah Clara.


“Begitu ya…,” lirih Lisya.


Lisya menghentikan gerakan kakinya dan dipandangnya kakinya penuh minat. Selama ini Lisya berpikir Reyhan akan bahagia jika ia tahu Lisya masih disekitarnya. Apakah dia sudah membuat kesalahan besar?


“Bukankah kau sendiri yang bilang kalau Reyhan menyalahkan dirinya sendiri atas kematian mu? Dan kau menghantuinya seperti itu? dasar bodoh!” sarkas Clara kembali menyesap minumannya.


Seketika Lisya menoleh, termangu menatap Clara.


“Yah, minuman ku habis…,” seru Clara.


”Coba kau ulangi kata-kata mu barusan,” suruh Lisya.


Clara menaikkan sebelah alisnya. “Minuman ku... habis…?” ucap Clara ragu.


“Bukan itu! Sebelumnya,” ralat Lisya.


“Kau bodoh?”


“Bukan itu Clara!!” sungut Lisya.


Clara mengedikkan bahu tidak peduli, ia melihat Lisya tampak berpikir dengan serius.


“Jika Reyhan menyalahkan diri nya atas kematian ku, itu artinya… mungkin saja dia berpikir aku sedang menghantuinya karena itu,” kata Lisya memberi kesimpulan seraya kembali menatap Clara, ia sedikit tidak mempercayai kalimatnya sendiri.


“Tepat.”


Lisya menyentuh kedua sisi wajahnya merasa bersalah. Apalagi alasan yang membuat Reyhan semakin takut bahkan saat tahu itu adalah kekasih tercintanya?


“Aku telah melakukan kesalahan besar,” seru Lisya merasa bersalah.


“Benar, dan kini misi kita akan semakin sulit,” ucap Clara tidak membantu.


Lisya berdiri lalu berbalik menatap Clara. “Tapi apa alasan Reyhan menyalahkan dirinya? Dia bahkan tidak memiliki kesalahan sedikitpun.”


Clara melipat kedua tangan di atas dada. Ia tidak menyangka akan terlibat sesuatu yang sangat merepotkan baginya. “Andai saja Reyhan tidak sebenci itu padaku, mungkin semua tidak akan sesulit ini,” kata Clara mencoba berpikir.


“Dia merasa diteror oleh mu. Jadi jika aku menyebut kata hantu atau nama mu pada Reyhan, dia pasti lari. Lalu bagaimana caranya aku menyampaikan pesanmu?” tanya Clara menatap Lisya bingung.


Keduanya mendesah lelah. Meskipun ia mencoba meminjam tubuh Clara, belum tentu Reyhan mau mendengarkannya. Menyebutkan kata hantu saja Reyhan sudah lari.


Aku harus bagaimana?!  Batin Lisya. Ia tidak menyangka bahwa keadaannya bisa serumit ini.


“Andai saja Rey memiliki kemampuan melihat hantu sepertimu, aku tidak bisa memunculkan diri di depan manusia sesukaku, itu tidak mudah.”


Lisya menghela berat. ”Lebih baik kau pulang. Istirahatlah dulu. Besok kita pikirkan lagi bagaimana caranya.”


“Aku tidak mau berpikir lagi,” kata Clara lelah, lalu menyandarkan kepalanya pada kursi taman.


“Ayolah Clara!" kata Lisya memberi semangat. "kenapa kita tidak berdiskusi di rumahmu saja?”


“Jangan!” kata Clara cepat seraya menegakan tubuhnya kembali duduk dan menatap Lisya.”Jangan ke rumah ku!” tambah Clara tampak panik.


“E-eh?? kenapa?”


“Sebenarnya mama ku bisa melihat hantu… dan adikku juga bisa merasakan keberadaan hantu, jadi… lebih baik kau jangan ke rumahku kecuali mereka tidak ada di rumah.”


Lisya mengangguk mengerti. “Oh…  ternyata itu warisan keluarga. Memangnya kenapa jika mamamu bisa melihat ku?”


“Mama ku tidak suka aku berurusan dengan hantu, jadi aku tidak mungkin bisa lagi menolongmu” jawab Clara khawatir.


“Oh… begitu rupanya. Apa kau memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan tentang hantu?” tanya Lisya penasaran.


Clara menghela pelan. “Sudahlah, tidak perlu dibahas. Yang terpenting, jangan pernah datang ke rumahku, kecuali ada hal yang sangat mendesak. Atau aku yang memberi sinyal jika di rumah ku sedang aman.”


“Baiklah. Umm… lalu apa ayah mu juga bisa melihat ku?” tanya Lisya lagi.


“Papa? Tidak, papa ku aman. Hanya papa yang tidak bisa melihatmu,” jawab Clara santai.


Clara melangkahkan kakinya memasuki koridor setelah memarkirkan sepeda motor miliknya. Pagi ini Clara kembali membawa motor ke sekolah karena motor sedang tidak dipakai oleh siapapun.


Tidak lama melangkah, Clara menemukan Reyhan dan kawan-kawannya sedang berdiri di koridor bersama teman-teman yang lain. Tentu saja ada Lisya di sebelah Reyhan.


Clara mencoba berjalan melewati mereka dengan sedikit menunduk. Sekilas Clara melirik ke arah Lisya yang kebetulan menoleh ke arahnya. Teman hantunya ini tersenyum dan melambaikan tangan pada Clara dengan antusias.


Namun, saat pandangan Clara bertemu dengan Reyhan, laki-laki tampan ini tampak terkesiap dan pergi setelahnya.


Apa sekarang dia takut melihat Clara? Padahal sebelum ini dia menatap Clara dengan tatapan membunuh.


“Woi! Rey?! mau kemana?” tanya Eros melihat Reyhan yang tiba-tiba berbalik pergi.


“Kelas,” jawab Reyhan lantang sambil berjalan dengan langka panjangnya.


Eros berbalik dan tidak sengaja melihat Clara sekilas, namun detik berikutnya dengan cepat Eros kembali menoleh menatap Clara.


Tidak nyaman rasanya melewati kelompok manusia populer ini. Clara berjalan sedikit menunduk saat melewati mereka, namun bisa ia lihat dari sudut matanya, Clara sedang ditatap oleh dua orang teman Reyhan dengan tatapan menyelidik.


“Clara!” panggil Lisya yang kini mulai mengikuti Clara.


“Kau bisa lihat kan bagaimana sikap Reyhan saat melihat ku?” tanya Clara dengan berbisik, tanpa menolehkan wajahnya pada Lisya.


Lisya menghela berat. “Iya… aku melihatnya.”


“Bagaimana cara menyampaikan pesan pada nya jika melihat ku saja dia sudah menghindar?” bisik Clara mengernyitkan keningnya sembari menutup mulutnya dengan tangan.


Clara melangkahkan kakinya memasuki kelas, lalu meletakkan tas ranselnya di kursi. Ia mendudukkan dirinya dengan kesal.


Lisya dan Clara terdiam sesaat, kemudian menghela berat bersamaan. Hari ini terasa makin berat saat melihat Reyhan yang begitu takut melihat Clara.


Clara meletakkan kepalanya di atas bangku. Sepertinya ia tidak akan menemukan cara.


“Pagi-pagi begitu sudah suntuk?” tanya Dita mengejek.


Clara hanya menyentuhkan jari telunjuk dan jempolnya mengisyaratkan "OK" di depan Dita tanpa perlu mengangkat wajahnya.


Otot-otot di kepala dan leher Clara rasanya sudah tegang. Ia memijit pelan bahu dan tengkuknya yang terasa kaku.


Pagi tadi sudah di pusingkan dengan sikap Reyhan, ditambah dengan jam pelajaran guru terkiller seantero sekolah, menambah kepala Clara terasa berdenyut.


“Ugh… aku benar-benar tidak suka pelajaran itu! Ibu Indi benar-benar killer,” seru Clara kesal.


Berjalan beriringan dengan kedua temannya menuju kantin sekolah.


“Sudah… sudah… ibu Indi baik kok kalau di luar sekolah,” ujar Dita.


Clara hanya memutar bola matanya malas menanggapi perkataan Dita. Tidak lama berjalan, Clara sempat menghentikan langkahnya kala melihat Reyhan berdiri sekitar lima meter di depannya.


Tidak hanya Clara, pangeran es tampan yang tidak sengaja melihat Clara, juga ikut terpaku beberapa detik, dan pergi setelahnya. Tidak mengindahkan teman-teman kelompoknya yang meneriaki namanya.


Hah? Begitu lagi?


Dita dan Alice yang tidak sengaja melihat adegan ini, ikut menghentikan langkahnya. Pasalnya, Reyhan tampak terpaku melihat ke arah mereka. Sedangkan teman berambut sebahu mereka juga tiba-tiba menghentikan langkah tanpa sebab.


“Hei, apa Reyhan pergi setelah melihat mu?” tanya Dita menatap Clara penasaran.


"Hm.. Dia menatap mu sebelum dia pergi," sambung Alice.


“Hahaha, mana mungkin. Kau lihat di sekitar kita banyak sekali anak-anak yang lain? Mungkin kau salah lihat,” kata Clara santai. Ia mulai berjalan memasuki kantin mendahului keduanya.


Jam istirahat baru saja berbunyi, hampir semua murid memang menyerbu kantin utama di sekolah ini. Tampak banyak murid di sekitar Clara.


“Alice, apa kau lihat itu?” tanya Dita masih mempercayai apa yang ia lihat.


Alice hanya mengedikkan bahunya tidak peduli, membuat Dita menyerah untuk mencari kebenaran.