
Eps. 69
Cuaca sangat dingin pagi ini. Clara masih mengenakan jaketnya di dalam kelas, duduk seorang diri di bangkunya menunggu teman-teman lainnya datang.
Gadis berambut lurus itu merebahkan kepalanya di atas meja, menatap lorong kelas dengan tatapan yang tidak berarti. Tidak ada yang ia pikirkan kali ini, pikirannya benar-benar kosong.
Sebenarnya apa yang ku harapkan dengan datang ke sekolah sepagi ini.
Kelas sudah mulai penuh, pelajaran sudah dimulai seperti biasanya. Clara tidak banyak bicara hari ini, ia hanya tersenyum kecil dan mengangguk singkat jika diperlukan.
Gadis ini terlalu sibuk merasakan perasaan penuh di hatinya, dan bayang-bayang laki-laki yang ada di mimpinya semalam.
Pergantian jam pelajaran sangat berisik karena guru mata pelajaran berikutnya yang tak kunjung datang. Clara melipat kedua tangannya di atas meja dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Lama-lama aku bisa gila!
Tok tok
Dita mengetuk meja Clara pelan. "Hei, kau kenapa sih? Seharian uring-uringan terus?" tanya Dita penasaran.
Clara mendongak dengan mata ngantuknya. "Aku ngantuk, semalam mimpi buruk," jawabnya singkat. Tentu saja bohong, ia sedang malas menceritakan perasaan itu pada kedua temannya.
Clara menarik tubuhnya untuk duduk, sebaiknya ia mengalihkan perasaan konyolnya itu dari pada terus memikirkannya.
"Hei, Reyhan mengajak kita ke pantai," ucap Clara santai setengah malas.
"Pantai?" tanya Alice.
"Benarkah?? Pantai?" tanya Dita lebih antusias.
Clara mengangguk singkat. "Ya. Tiga hari dua malam. Dia dan beberapa temannya, aku dan kalian. Katanya mereka juga membawa pacar masing-masing."
"Yah, kita jomblo," ujar Dita mulai tidak bersemangat.
"Aku tidak tertarik," ungkap Alice.
"Ayolah teman-teman, jika kalian tidak ikut. Aku akan sendirian disana. Kita hanya membawa diri sendiri, penginapan, fasilitas dan semua Reyhan yang tanggung, kita–"
"Wah gratis?" potong Dita dengan mata berbinar
"Tentu."
"Ayoo kita berangkat Alice! Kapan kita ke pantai, Clara?" ujar Dita sudah tidak sabar untuk liburan.
"Minggu depan."
" Merepotkan sekali," gumam Alice tak acuh.
"Ayolah ikut," bujuk Dita sudah menggebu-gebu.
"Dia mengajakmu untuk acara meminjam kan?" tanya Alice menelisik.
"Kau tahu?"
"Tidak mungkin dia mengajakmu kesana tanpa tujuan," ucap Alice biasa.
"Setidaknya kita bisa liburan, Alice!" bantah Dita. "Sudah ikut saja!" suruh Dita mulai kesal.
"Baiklah baik, tapi aku cukup di kamar saja. Jangan mengajakku main atau segala macam, kecuali untuk acara makan," imbuh Alice memberi isyarat.
"Kau tidak menikmati liburanmu, sayang sekali," ejek Dita.
"Diam."
Clara tersenyum kecil. Dengan begini Clara tidak akan sendirian di tempat orang asing.
"Kalian tahu? Kudengar Pangeran es kita memang dari keluarga yang cukup terpandang, meskipun dia bukan konglomerat tapi dia mampu menyewa penginapan untuk kita, waah bahagianya. Fans club Reyhan pasti iri padaku, hahaha," ucap Dita.
Dita memang punya fans club sendiri untuk Reyhan. Karena senang diajak liburan gratisan, kawannya yang satu itu kini tertawa berlebihan dengan imajinasinya sendiri.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah sehat?" tanya Alice menatap lurus ke arah Clara.
"Hmm … Lumayan. Setelah ini aku mau latihan fisik agar lebih sehat lagi."
Tidak ada respon dari dua manusia di hadapannya membuat Clara menatap mereka bingung.
Beberapa saat setelahnya, Dita tertawa terbahak-bahak sedangkan Alice hanya terkekeh kecil.
"Kenapa? Tidak percaya?" sinis Clara.
"Hahaha tidak tidak. Hanya saja, seperti bukan dirimu," ejek Dita yang masih menahan tawanya.
Clara jengah, ia memutar bola matanya malas. "Ya. Aku terpaksa karena meminjam ternyata melelahkan."
"Kasian!" seru dua manusia di depannya serempak.
.
.
.
Cara terbaik bicara dengan Lisya adalah duduk di taman menjauh dari keramaian. Reyhan tersenyum membaca balasan dari kekasihnya di handphonenya.
"Jadi kau mengerjai mereka? Kenapa sekarang kau begitu usil?" ucap Reyhan terkekeh kecil membuat voice di chat itu.
"Ya ya, aku ingin balas dendam pada mereka yang dulu jahat pada ku. Dan kau seharusnya melihat saat mereka berlari terbirit-birit. Hahaha. Rasakan! Aku tidak perlu melakukan apapun, aku hanya menyuruh hantu-hantu seram itu untuk muncul dan membuat keributan di depan mereka," ucap Lisya yang juga menulis di ponsel Reyhan.
Mereka menikmati cerita itu. Tempat rindang yang cukup sepi membuat mereka bercerita dengan bebas. Reyhan yang seolah sedang chatting dengan seseorang dan Lisya yang hanya menggunakan kekuatannya untuk mengetik di ponsel Reyhan, semua terlihat lebih ringkas.
Tapi tetap saja, meminjam tubuh Clara lebih menyenangkan karena mereka bisa berbicara langsung dan hantu cantik itu bisa memperlihatkan ekspresinya pada kekasihnya itu.
Lisya menunduk, sebenarnya ia tidak ingin pergi meninggalkan Reyhan. Hantu ini menatap laki-laki di sampingnya nanar, lalu menangis pilu hingga sesegukan. Tidak ada Clara disini jadi Lisya menangis sepuasnya. Lisya bahkan memeluk kekasihnya itu sambil menangis, Reyhan yang tidak mengerti hanya menganggap Lisya sedang memeluknya biasa.
Hantu tanpa wajah yang biasa menemani Lisya kini hanya diam menatap gadis yang sedang menangis ini.
"Sudah ku bilang, semakin lama kau dengannya akan semakin berat kau meninggalkannya. Kau harus tetap sadar bahwa hubungan hantu dan manusia itu tidak akan pernah berhasil," ucapnya datar.
Lisya yang masih menangis sesegukan menghempaskan hantu tanpa wajah itu begitu saja, tapi perlu repot-repot melihatnya.
Hantu sialan! Tidak menghiburku tapi malah membuatku semakin sedih!
"Lisya?"
"Sayang?"
"Halo? Lisya apa kau baik-baik saja?" ucap Reyhan dalam voicenya saat Lisya tidak kunjung membalas.
Lisya tersentak, ia menarik tubuhnya duduk kemudian mengusap air matanya cepat. "Ah, aku lupa membalas pesannya." Lisya berdehem pelan sebelum kembali membalas pesan kekasihnya.
Hatinya masih sedih, tapi sebisa mungkin ia membalas dengan ceria saat Reyhan mengajaknya komunikasi.
"Aku mulai merasakan teman yang sesungguhnya saat bersama Clara. Hei, dia anak yang baik kan?" tanya Lisya lewat chat itu.
"Iya, dia anak yang baik. Dulu kupikir dia mendekatiku karena wajah ku, seperti wanita yang lainnya. Tapi ternyata tidak."
"Kau benar Rey. Sebaiknya kau terus berteman dengannya setelah ini, siapa tau kalian cocok," balas Lisya di chat itu.
"Kau mau menjodohkan ku dengannya?"
"Hah? Tidak. Untuk apa? Kau bisa mencari wanita mu sendiri kan? aku hanya memberikan pendapat," tulis Lisya dengan emot senyum malu.
"Kau wanita ku, Sayang."
Sekali lagi Lisya terdiam. Rasa ngilu di hati Lisya timbul begitu menyiksa. Jika Reyhan terus seperti ini, Lisya semakin enggan meninggalkannya.
"Hei, kalian disini?" suara Clara yang tiba-tiba datang dengan sebatang es krim di tangannya.
Lisya kelabakan segera mengusap air matanya. Sedangkan Reyhan yang tidak mengerti situasi hanya tersenyum biasa menyapa Clara.