You Saw Me?!

You Saw Me?!
Melarikan diri



Eps. 104


Clara meremat kedua tangannya, sesekali menggosokkan kedua telapak tangan itu perlahan agar membuatnya lebih hangat.


Reyhan dan Clara berjalan menjauh mencari tempat yang lebih sepi agar bisa berbicara berdua. Dan setelah mereka hanya berdua di tempat yang tidak jauh dari sebelumnya, Clara begitu gugup hingga tangannya menjadi dingin.


Clara tidak tahu apakah keputusannya benar atau tidak. Berkali-kali Alice dan Dita terus memberi saran namun Clara tetap pada pendiriannya.


Clara menunduk dengan gugup, sedangkan Reyhan sudah berdiri di hadapannya menatap Clara lekat.


"Apa kau masih tidak mau menerima perasaan ku?" tanya Reyhan kecewa.


Clara masih terdiam. Semua ucapan yang ia susun dan diulangnya berkali-kali sebelum bertemu dengan Reyhan, kini hilang seketika. Clara tidak bisa berpikir jernih dan otaknya terasa kosong.


"Apa kau pernah mencintai ku?"


"Ya. Aku mencintaimu," ucap Clara pada akhirnya menyerah dengan sikap bungkamnya.


"Lalu apa lagi?"


"Apa aku pernah mengatakan padamu bahwa aku bisa merasakan perasaan Lisya saat dia meminjam tubuh ku? Aku sangat mengerti rasa cintanya pada mu … dan aku … merasa buruk jika aku harus bersama mu saat Lisya masih menyimpan begitu banyak perasaan untuk mu."


Reyhan mengeratkan tangan dengan wajah yang lebih dingin. "Apakah itu caramu untuk melarikan diri?"


"Rey–"


"Lisya menginginkan mu untuk hidup bersama ku," potong Reyhan dengan menahan kecewa.


"Jangan menghiburku!"


"Aku tidak menghiburmu! Dia terus bertanya pada ku bagaimana jika kau menyukai ku? Apa kau tahu itu?"


Clara terpaku, lalu menunduk memikirkan ucapan yang baru saja Reyhan katakan.


"Jangan membohongi perasaanmu sendiri, Clara. Kau tahu aku tidak akan mudah menyukai seseorang. Aku tidak pernah menyamakanmu dengan Lisya.


Kau dan Lisya adalah orang yang berbeda, tentu saja aku menyukaimu bukan karena tubuhmu yang sering Lisya gunakan.


Apa kau juga tidak memikirkan bagaimana perasaan ku?"


Clara tertunduk, menahan sakit di hatinya yang begitu kuat mencengkram. Ia ingin bersama Reyhan. Ia ingin bersama laki-laki yang begitu ia cintai tapi bayang-bayang Lisya di belakang Reyhan tidak pernah mau pergi di mata Clara.


"Maaf Rey … maafkan aku… aku akan percaya jika Lisya mengatakan itu langsung padaku," ucap Clara lalu berbalik dan pergi meninggalkan Reyhan.


Namun, ucapan Reyhan setelahnya mampu membuat air mata Clara mengalir begitu deras.


"Apa kau baik-baik saja jika aku bersama wanita lain?"


Clara menghentikan langkahnya. Tiba-tiba saja air matanya menerobos begitu banyak tidak bisa dibendung.


Clara menoleh cepat menatap Reyhan nanar. Jika Clara melangkahkan kaki saat ini, Reyhan pasti dengan mudah mendapatkan wanita lain selain dirinya.


Udara dingin di sekitar juga ikut menyapa dengan dingin melewati tubuh Clara.


"Kau bahkan tahu jika wanita itu tidak akan pernah memikirkan perasaan Lisya," ucap Reyhan lagi. Air mukanya terlihat begitu pahit. Reyhan juga terluka.


"Apa kau tidak apa-apa dengan itu? Aku … dan wanita lain?" ucapnya getir.


Clara yakin itu bukan gertakan. Dengan wajah seperti itu Reyhan bisa melakukan segalanya karena Clara bukanlah satu-satunya wanita yang ada di dunia ini.


Dengan susah payah Clara menarik nafas agar air matanya berhenti mengalir. Ia tidak bisa berpikir jernih. Tapi, jika ia pergi sekarang, ia harus rela jika Reyhan akan hilang selamanya untuknya.


Tapi ….


"Rey … maafkan aku," ucapnya terakhir kali lalu pergi meninggalkan Reyhan.


.


.


.


Saat ini Clara akan berangkat bersama Alice, jadi ia tidak akan merasa kesepian.


"Hati-hatilah disana. Pastikan hubungi Mama jika kau membutuhkan sesuatu, oke?" ucap Harumi kemudian memeluk Clara singkat, yang sedang berdiri di samping mobil.


"Tenang saja, Ma. Alice bersama ku."


"Benar Tante, kami akan menjaga satu sama lain," ucap Alice yang berdiri di samping Clara, tersenyum kecil. Setidaknya teman yang satu itu masih tersenyum saat berbicara dengan orang yang lebih tua.


"Kami berangkat," pamit Clara dan Alice.


Mobil berangkat membelah jalanan kota, menuju kota lain tempat mereka berkuliah.


Sejak hari itu, Alice dan Dita tidak pernah membicarakan tentang Reyhan pada Clara. Gadis yang sedang patah hati itu berlari dan menangis sesegukan menceritakan segalanya pada Dita dan Alice. Namun kedua temannya hanya diam, tidak banyak memberikan ceramah, namun mereka menghibur Clara dengan baik.


Kabar yang Alice dengar, Reyhan juga berkuliah di jurusan arsitek di kota J yang memerlukan waktu dua belas jam dengan mobil dan enam jam dengan kereta.


Kota itu adalah kota terbesar di negaranya, Clara yakin, banyak gadis yang akan menempel pada Reyhan dan pria yang dicintainya itu cukup memilih salah satunya.


Dada Clara nyeri tiba-tiba mengingat hal itu. Tapi apa boleh buat, ini adalah keputusan egois Clara. Ia berharap segera melupakan Reyhan dengan cepat, atau Clara akan menjomblo selamanya.


Tahun pertama Clara menjalani kuliah, ia habiskan dengan murung dan tangis jika ia sedang merindukan Reyhan. Alice hanya diam melihat teman sekamarnya yang sudah terluka dengan pilihan bodohnya itu.


Sekali lagi, Clara menenggelamkan pikirannya hanya untuk belajar dan tidur agar tidak lagi memikirkan pria yang ia cintai.


Namun tahun ketiga dan keempat, Clara sudah mulai membuka hati untuk kembali berteman dengan beberapa yang lain.


"Clara, sedang apa?" tanya Alice pada Clara yang sedang bersila di atas tumpukan kertas yang berserakan.


Rambut panjang Clara hanya diikat seadanya menjadi satu ke atas, masih terlihat acak-acakan.


Clara menoleh dengan mata panda yang sangat terlihat di bawah matanya. "Aliiice, bantu aku mengolah data ini," rengek Clara meminta bantuan.


Alice sudah lulus ujian skripsi sedangkan Clara harus mengejar dengan batas maksimal minggu depan. Jika tidak, ia harus mengulang untuk beberapa bulan berikutnya.


"Sebelum itu, aku beri kau asupan dulu. Lihat ini," suruh Alice lalu menunjukan inslagrum milik Reyhan.


Clara melihat ponsel itu lekat seolah enggan menoleh pada yang lain. Ini benar-benar asupan untuk hatinya.


Di video singkat itu, Reyhan terlihat sedang berkeliling gedung megah. Di video yang lain, Reyhan tampak merekam projek bersama teman-temannya. Tidak hanya laki-laki, tapi juga wanita-wanita cantik disana.


Clara menelan ludahnya kasar. Apakah Reyhan masih mengingatnya hingga saat ini?


Inilah yang Alice tunjukkan yang mampu membuat Clara berhenti dari tindakan gilanya menangis dan menenggelamkan diri dalam belajar ataupun tidur seharian tanpa makan.


Alice menunjukkan aktivitas Reyhan di kampus, menunjukkan perubahan wajah Reyhan yang semakin terlihat dewasa dan tentu saja semakin tampan.


"Hei, kenapa kau malah jadi murung?"


"Ah, tidak. Aku hanya …," ucap Clara tidak menyelesaikan kalimatnya.


"Merindukannya?"


Clara tersentak namun ia kembali menunduk menatap wajah yang ia rindukan di layar.


"Iya Alice. Aku sangat merindukannya," lirih Clara sendu.


"Ya, berterima kasihlah pada orang bodoh yang meninggalkan laki-laki setampan ini," sarkas Alice.


Benar. Alice semakin hari semakin bicara tanpa difilter jika itu mengenai kebodohan Clara meninggalkan Reyhan. Dan Clara tidak bisa melawan itu.


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Sebenarnya aku gatal ingin mengatakannya sejak lama. Tapi aku takut karena emosimu saat itu masih labil," ucap Alice serius.


Clara mematung. Apa yang akan Alice katakan dengan wajah serius seperti itu? Apa Reyhan sudah memiliki kekasih?