
Eps. 63
"Hei Rey, apa kau pacaran dengan anak IPA 2 itu?" tanya teman sekelas Reyhan. Seorang gadis berambut sedikit bergelombang dengan kulit putih cantik.
Reyhan melirik gadis yang sudah duduk di hadapannya. "Tidak."
Pangeran Es ini memang tidak begitu akrab dengan teman sekelasnya, namun ia masih bisa berkomunikasi dengan normal.
"Benarkah? Tapi kelihatannya kalian sangat dekat. Boleh aku ikut kalau nanti kalian bertemu? Aku juga ingin–"
"Hei Gab, pergilah," usir Eros tidak suka.
"Apaan sih! Aku sedang bicara dengan Reyhan, jangan ganggu!" marah perempuan bernama Gaby.
Reyhan menghela pelan melihat kedua orang didepannya terus berargumen. Sejak kematian Lisya, banyak wanita yang terus mendekatinya.
Bahkan sebelum itu, ada diantara mereka yang terang-terangan mendekati Reyhan di depan Lisya.
"Hei," Panggilan Reyhan menghentikan ocehan keduanya. Mereka menoleh serempak menatap Reyhan.
"Aku hanya ingin berdua saja dengannya saat bertemu. Aku tidak ingin ada pengganggu," ucap Reyhan datar sedikit dingin. Ia sudah muak dengan mereka yang masih mencoba mendekat.
Bagaimana mungkin dengan sikap dingin dan kasarnya, masih saja banyak anak perempuan yang mencoba mendekatinya.
Gaby memajukan bibirnya beberapa senti lalu pergi setelah berdecak sebal.
"Wah, kau masih kasar seperti biasanya," cibir Eros kemudian duduk di depan Reyan.
"Aku curiga. Apa benar kau hanya berteman dengannya?" tanya Aldio yang mulai penasaran.
"Benar. Aku juga dengar kalau kau ke kelasnya saat dia tidak enak badan," sahut Eros.
Reyhan hanya terkekeh kecil melihat temannya yang begitu penasaran. Sejujurnya ia ingin sekali menceritakan yang sebenarnya tentang Lisya. Namun, mereka tidak akan percaya.
"Ya. Kalian benar. Hubungan kami adalah teman yang spesial," ucap Reyhan dengan senyum miringnya.
"Ha!! Sudah kuduga!!" tuding Eros kesal pada Reyhan.
Reyhan tertawa renyah yang cukup mengundang perhatian teman-teman sekelasnya. Banyak yang sudah Clara lakukan untuk Reyhan dan Lisya. Terutama mengusir kesalahpahaman diantara keduanya yang cukup membuat Pangeran es ini terpuruk.
Kini Reyhan tertawa cukup lepas, apalagi melihat temannya yang kesal karena penasaran. Karena hingga akhir, Reyhan tetap mengatakan bahwa ia hanya berteman baik dengan gadis itu.
.
.
.
"Kenapa kau terlihat sangat lelah dibandingkan saat 'meminjam' sebelum ini?" tanya Dita penasaran.
Ketiga gadis ini segera kembali dari kantin dan menikmati makanan penutupnya. Mereka tiba di kelas dan duduk di bangku masing-masing.
"Mungkin dia lelah dengan cibiran fans Pangeran itu," jawab Alice.
Clara hanya mengangguk sembari memakan coklat stiknya. Masih banyak cibiran yang ia dapat selama masih bersama dengan Reyhan. Membandingkan Lisya yang lebih cantik lah dan banyak hal yang lain.
"Hmm… aku sudah cukup kebal dengan omongan mereka. Biarkan saja mereka berkomentar sesukanya," ujar Clara tak acuh.
"Lalu bagaimana dengan Arion?" Tubuh Clara menegang mendengar nama yang Dita sebutkan. Kenapa tiba-tiba menanyakan Arion? Clara memang pernah menceritakan kepada temannya tentang Arion, tapi tidak dengan seberapa sakit hal yang Clara alami karenanya.
"Apakah dia masih mengganggu mu?" tambah Dita lagi.
"Bisakah kau tanyakan hal lain? Apa kau tidak melihat kalau Clara tidak menyukai topik itu, Dita?" omel Alice dengan nada tenangnya.
"Oh begitukah? Maafkan aku Clara," ucap Dita tulus.
Clara mendengus dan tersenyum kecil. Temannya yang satu itu memang tidak peka sama sekali. Berbanding terbalik dengan Alice yang sangat peka meskipun Clara berusaha menyembunyikannya.
"Tidak masalah."
Besok akan ada festival makanan di alun-alun kota, mungkin saat itulah Clara akan mengajak Reyhan dan Lisya untuk berkencan disana.
Tangan kanan gadis ini bergerak memijat tengkuknya yang terasa kaku, menekannya perlahan.
"Berapa kali lagi kau akan dipinjam?" tanya Alice yang sedari tadi memperhatikan pergerakan Clara.
"Dua kali lagi," ucap Clara dengan mata tertutup, masih memijat tengkuk dan bahunya.
"Kau yakin bisa menahannya?" tanya Alice lagi.
"Benar Clara, kau terlihat kelelahan. Kenapa tidak kau selesaikan saja," usul Dita.
"Kalian sudah tahu alasannya."
Ketiganya menghela berat. Sangat menyedihkan kembali mengingat bahwa setelah ini Lisya akan berpisah dengan Reyhan selamanya. Semua orang tahu Reyhan sangat mencintai kekasihnya itu.
"Sepertinya kau harus minum vitamin dan olahraga yang teratur," saran Dita.
.
.
Lisya menggenggam tangan Reyhan erat. Ia sudah mengambil alih tubuh Clara. Malam ini udara cukup dingin. Clara hanya mengenakan kaos biru yang ditutupi jaket hitam, dipadukan dengan celana jeans hitam.
Reyhan juga hanya mengenakan hoodie hitam dan celana jeans navy. Simpel, tapi Reyhan masih terlihat sangat menarik di hadapan keramaian saat ini.
Mereka sudah berada di festival makanan yang dipenuhi oleh banyak orang. Bermacam-macam makanan enak sudah terlihat, dengan aroma makanan penggugah selera. Makanan yang dibakar, digoreng ataupun dipanggang hingga makanan berbumbu sudah lengkap disana.
Begitu juga dengan beragam minuman warna warni, serta makanan berat.
Lisya dan Reyhan berjalan bergandengan mendatangi gerai yang menurut mereka menarik. Mencobanya satu-satu kemudian berkeliling. Mereka terlihat sangat bahagia dan menikmati kencan hari ini.
"Bukankah itu Reyhan?" tanya Eros pada Aldio yang sedang sibuk dengan sate usus di mulutnya.
"Wah, benar-benar ya. Apa itu yang dikatakan teman spesial? Aku berani bertaruh mereka pasti sudah berkencan!!" ucap laki-laki berkulit kuning langsat ini. Ia berkata dengan nada kesal.
"Kenapa kau kesal begitu?" tanya laki-laki berkacamata, kemudian sibuk memakan sate ususnya.
"Tumben sekali dia tidak cerita pada kita tentang hubungannya. Anehnya, dia hanya baik pada wanita itu, dan dia masih dingin pada yang lain. Apa Lisya sudah digantikan oleh wanita itu?" tanya Eros. Mereka berdua sedari tadi berbicara sambil menatap dua sejoli yang terlihat mesrah itu.
"Entahlah. Ayo kita sapa mereka," ajak Aldio yang sudah berjalan mendekat.
Jarak mereka tidak jauh, di keramaian namun tidak sesak, hanya beberapa langkah mereka sudah bertemu.
"Hai," sapa Aldio dan Eros. Reyhan dan Lisya menoleh.
"Eros, Aldio, kalian disini juga?" sapa Lisya yang tampak bersemangat menyapa keduanya.
Aldio dan Eros terdiam. Bertatapan sesaat seolah menanyakan sikap gadis di depannya.
"Ehem … Clara," panggil Reyhan. Ia menyentuh lengan Lisya dan menatapnya lekat di manik mata gadisnya itu.
Reyhan berharap semoga Lisya sadar jika sekarang dia berada di dalam tubuh Clara. Dan kedua temannya itu tidak terlalu dekat dengan Clara.
Detik berikutnya, lelaki tampan ini tersenyum melihat respon Lisya yang tampak mengerti dengan maksudnya. Lisya berdehem, kemudian bersikap seolah mereka hanyalah teman seangkatan.
"Dengan siapa kalian kesini?" tanya Reyhan mencoba mengalihkan perhatian. Sebenarnya ia tidak suka jika kencannya dengan Lisya diganggu oleh siapapun. Apalagi Clara punya batasan menerima Lisya di tubuhnya.
"Kami dengan Arslan dan yang lain. Mereka sedang memesan makanan lain," jawab Aldio.
"Wah wah, kalian mesrah sekali. Apa kalian sudah pacaran?" sindir Eros yang menaik turunkan alisnya menatap Reyhan.
"Sudah ku bilang kami teman yang spesial. Iya kan, Clara?" tanya Reyhan yang kini sudah merangkul bahu Lisya.
Lisya tersenyum mencoba mengikuti alur. Karena tubuh ini memang belum memiliki hubungan apapun dengan Reyhan.
"Ugh kalian menyebalkan. Mana ada teman spesial yang bergandengan tangan, kencan berdua, dan hal yang dilakukan seperti orang pacaran? Benar kan, Clara?" Tidak menyerah kini Eros menatap Lisya mengintimidasi seolah mencari kebenaran dari gadis ini.