You Saw Me?!

You Saw Me?!
Hari tergelap



Eps. 16


Lisya terbaring tak berdaya, darah mulai mengalir dari kepalanya membasahi jalan beraspal. Dengan kesadaran yang sudah mulai menurun, samar-samar Lisya dapat mendengar teriakan orang-orang, melihat Reyhan yang sedang berlari panik mendekatinya, hingga tubuhnya yang mulai dikerumuni orang banyak.


“Cepat panggil ambulan!”


“Tangkap pengendara itu, jangan biarkan dia lari!”


“Tadi ada pengendara motor yang melawan arus, dia yang harus ditangkap!”


Suara-suara panik dan emosi mulai terdengar samar di telinga Lisya, hingga akhirnya Lisya tak sadarkan diri.


Reyhan merengkuh tubuh Lisya yg tergeletak di aspal, ia sudah tidak peduli pada darah dari tubuh Lisya yang kini banyak menempel pada baju Reyhan. 


"Lisya... Lisya sayang... sadarlah... Lisya, Lisya, Lisya kau akan baik-baik saja, bertahanlah oke?! " mohon Reyhan dengan suara bergetar dan air mata yang tanpa sadar mulai mengalir di pipinya. Ia menepuk-nepuk pipi Lisya pelan, berdoa agar Lisya masih bisa terselamatkan.


"Tolong!! Tolong! siapa saja!" teriak Reyhan frustasi, menatap kerumunan orang di sekitarnya. 


"Tolong bawa Lisya ke rumah sakit," lirih Reyhan memeluk Lisya erat. Tangis Reyhan sudah tidak bisa dibendung. Ia menangis cukup keras, memeluk tubuh Lisya erat.


Reyhan sesekali menatap Lisya yang sudah tidak sadarkan diri. Ia mengusap wajah Lisya lembut dengan sesegukan, berbisik pelan di depan wajah Lisya, mencoba terus membangunkannya.


Tubuh Lisya sudah di larikan ke dalam UGD rumah sakit terdekat. Tim medis sedang sibuk memberikan pertolongan pada Lisya yang sudah berada di ruang resusitasi. 


Lisya tercengang ketika tiba-tiba membuka mata dan melihat beberapa tenaga medis sedang memberikan pijat jantung pada seorang pasien.


Sebagian ada yang melewati Lisya dan berlarian pada pasien yang tengah di kerubun itu.


Penasaran dimana ia sekarang, Lisya mengalihkan pandangannya, menemukan Reyhan berdiri dua langkah di belakang tenaga medis.


Laki-laki berambut blondie itu sedang menangis menatap orang yang sedang diberikan pertolongan medis di depannya.


Siapa yang sakit? Yang membuat kekasihnya menampakkan wajah sekacau itu?


Tidak lama, kejadian kecelakaan sore tadi kini terlintas di kepala Lisya. Tubuhnya mulai gemetar, ia berharap semua tidak seperti yang dipikirkan.


Lisya mencoba mendekat, bergerak perlahan melihat siapa yang sedang diberi pertolongan.


Tubuh Lisya membeku melihat dirinya tengah terbaring pucat dan sedang diberikan pertolongan oleh tenaga medis. Tubuh yang masih berlumuran darah, dengan sungkup oksigen berada di wajahnya.


Lisya mengangkat, melihat kedua tangannya dan memperhatikannya lekat. Hati Lisya bergetar, tubuhnya seketika luruh saat melihat tangannya sudah tembus pandang tidak seperti manusia kebanyakan. Air mata Lisya jatuh begitu derasnya.


Lisya berteriak, ia bersimpuh di lantai, meraung keras dengan tangisan, meski tak seorangpun bisa mendengarnya. Bagaimana mungkin semua berakhir seperti ini?!


Lisya kembali berdiri dan mencoba masuk kembali ke tubuhnya. Berkali-kali namun tetap saja gagal.


"Ayo masuk! bagunlah!" teriak Lisya mencoba membangunkan tubuhnya.  Namun, semua sia-sia.


Suasana mulai riuh saat tim medis sudah berhenti memberikan pertolongan. Wajah mereka tampak iba. Seorang laki-laki paruh baya yang mungkin adalah dokter, berjalan mendekati Reyhan.


"Dik, mana keluarganya?" tanya dokter itu pada Reyhan.


"Dokter, kenapa kalian berhenti? Bagaimana Lisya? katakan pada ku bagaimana keadaan kekasih ku?" mohon Reyhan panik,  ia meremas kedua lengan baju dokter yang berdiri di depannya.


"Kumohon, katakan pada ku. Orang tua kami sedang dalam perjalanan," pinta Reyhan menunduk dengan air mata yang mengalir deras.


"Tidak!!" teriak Reyhan kemudian berlari dan memeluk tubuh Lisya yang sudah tak bergerak.


Roh Lisya menutup mulutnya rapat-rapat begitu mendengar diri nya sudah meniggal, tidak bisa diselamatkan. Air matanya mengalir sangat deras, Lisya kembali jatuh ke lantai, menangis meraung, tidak bisa berbuat apapun saat ia melihat Reyhan mengguncang tubuhnya untuk membangunkan dirinya.


Reyhan berkali-kali menepis Aldio yang mencoba menenangkannya. Hingga Aldio pun menyerah dengan kepala tertunduk, dan membiarkan Reyhan memeluk tubuh Lisya.


Tidak lama setelah itu, orang tua dan saudara Lisya datang. Elvina, bunda Lisya, jatuh pingsan kala melihat Lisya sudah tidak bernyawa.


Ayah dan Kakak laki-laki Lisya menangis dan mencoba membawa Elvina keluar ruangan.


"Aku takut, aku menangis sejadi-jadinya. Bunda pingsan saat itu, sempat terbangun, tapi pingsan lagi hingga beberapa kali. Reyhan masih tak henti-hentinya menangis memeluk ku, tidak peduli dengan bau darah di tubuh ku," kata Lisya sendu.


"Bahkan dia tidak mau pergi saat tenaga medis meminta izin untuk merawatku. Aku takut. Apa semua akan berakhir seperti ini? Aku belum siap. Aku tidak mau mati."


Di depan tembok, Lisya bersandar dan menenggelamkan wajahnya pada lutut yang ia tekuk dan memeluknya erat-erat. Tidak mau lagi melihat tubuhnya yang sedang dibersihkan oleh petugas medis.


Apalagi yang bisa dia lakukan, bagaimana Lisya bisa menerima ini! Setelah cukup lama menangis, Lisya keluar melihat keadaan Reyhan dan Bundanya.


Di ruang tunggu, Lisya melihat Reyhan duduk dilantai dan bersandar pada tembok dengan wajah yang tenggelam di lututnya yang tertekuk. Sedangkan Elvina masih belum sadarkan diri.


Keesokan harinya, tubuh Lisya sudah dimakamkan. Reyhan masih setia berdiri disana meskipun yang lain sudah pergi.


Elvina dan orang tua Reyhan sudah membujuknya untuk pulang, namun Reyhan menolak. Ia berdiri menatap pusara milik Lisya. Menatapnya hampa dengan mata sembab dan kantung mata yang besar.


"Aku sudah mencoba menerima apa yang terjadi pada ku, karena meskipun aku sekuat tenaga untuk menyangkalnya, kenyataan bahwa aku sudah tiada tidak bisa dipungkiri lagi. Aku berlari karena sangat merindukannya, tapi rindu ku tidak terbayarkan, dan kini aku akan merindukan Reyhan selamanya."


"Aku melihat bunda terus menerus menangis di rumah, tidak mau makan, bahkan pingsan beberapa kali. Karena tidak tahan, aku memutuskan untuk pergi ke rumah Reyhan.


Tapi keputusan ku juga bukan hal yang benar. Setiap malam tiba, aku melihat Reyhan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut seolah sedang bersembunyi dari sesuatu."


"Setiap malam Reyhan menangis ketakutan dan sulit untuk tidur. Pagi hari nya, Reyhan mengurung diri di kamar, tidak mau makan, kurang minum, dan tidak mau pergi sekolah. Hanya dalam beberapa hari, tubuhnya benar-benar kurus. Aku tidak tahu kenapa, tapi dia benar-benar menderita."


"Karena tidak tahan,  aku kembali ke rumahku mencoba melihat keadaan bunda. Sudah lewat satu minggu, mungkin bunda sudah bisa menerima kepergian ku.


Tapi ternyata sama saja, bunda terlihat semakin kurus, bunda selalu menangis saat mengingat ku, tidak mau makan, dia hanya suka tidur. Kakak dan ayah ku selalu di sisi bunda untuk menghiburnya. Hingga suatu ketika..."


Elvina sedang menangis tersedu-sedu di meja makan, di hadapannya terdapat seporsi nasi yang belum tersentuh sama sekali. 


"Bunda, sudah jangan menangis. Kalau Bunda seperti ini terus, Lisya pasti akan sedih," ucap Alfi, Kakak laki-laki Lisya. 


"Sudah seminggu Bunda seperti ini. Ikhlaskan kepergian Lisya, Bunda harus hidup dengan semangat. Semua tidak terjadi secara kebetulan Bunda, semua telah diatur oleh takdir. Bunda harus tegar, kuat, dan hidup dengan bahagia.


Bunda harus sehat agar Lisya juga bahagia melihat Bunda, dan Lisya bisa tenang di alam sana. Benarkan, Lisya?" tanya Alfi tersenyum lembut, menoleh pada Lisya.


Lisya terkejut, apakah Kakaknya mengetahui kehadirannya? ataukah dia bisa melihat Lisya? Namun Lisya tidak peduli itu, Lisya tersenyum lembut dengan sendu, memberikan senyuman terbaik yang bisa ia berikan pada Kakaknya.


Jika Alfi bisa melihat Lisya, dia harus tahu bahwa Lisya sedang tersenyum saat ini.


Elvina menatap Alfi sekilas dengan mata yang sudah bengkak dan sisa air mata yang terlihat. Elvina menatap Alfi sendu, air matanya kembali mengalir deras sebelum akhirnya ia memeluk Alfi erat.


Melihat pemandangan di depannya, Lisya mendekat ke arah Ibu dan Kakaknya, memeluk mereka erat.