You Saw Me?!

You Saw Me?!
Syarat bahagia



Eps. 34


Sruuuutt.


Sebotol air mineral yang Clara minum sudah hampir habis, ia masih merasa harus meskipun sudah menghabiskan satu minuman kotak miliknya. 


Clara menyandarkan punggungnya di kursi taman sekolah. Setelah Lisya menyelesaikan keperluannya, kini mereka sudah berpindah ke taman sekolah.


Dita dan Alice yang ada di sebelah Clara hanya menatap keheranan, sedangkan Lisya yang berdiri di depan Clara cukup tersenyum maklum.


Suasana sekolah sudah sangat sepi karena semua murid sudah pulang. Hanya segelintir murid yang tersisa, mungkin mereka OSIS atau mereka yang sedang berkumpul dengan ekstrakulikulernya.


"Apa? Aku benar-benar haus," ucap Clara pada kedua temannya yang tengah menatapnya aneh.


“Reyhan sedang pergi membeli air, tunggu lah sebentar lagi,” kata Alice.


Clara mencoba meregangkan tubuhnya yang terasa berat, tubuhnya masih lemas karena dehidrasi. Rasa hausnya masih belum hilang meskipun ia sudah menghabiskan satu kotak teh dan hampir satu botol air mineral.


“Aku tidak tahu jika meminjamkan tubuh ku pada mu membuat ku benar-benar kehabisan tenaga, tubuhku rasanya berat sekali, mata ku terasa perih,” keluh Clara.


Lisya tersenyum canggung. “Itu karena aku terlalu banyak menangis.”


Clara mencebikkan bibirnya, namun ia bisa memaklumi kenapa Lisya menangis. “Bibirku juga terasa sedikit tidak nyaman, seperti habis makan cabai,” keluh Clara lagi membuat Lisya terkesiap begitu juga dengan Alice dan Dita yang bereaksi aneh.


Clara menaikkan sebelah alisnya, menatap mereka bergiliran dengan tatapan curiga. “Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?” tanya Clara sewot.


"Tidak ada. Istirahatlah, setelah Reyhan datang, kita langsung pulang," jawab Alice biasa.


“Mata ku benar-benar terasa sepat,” ujar Clara yang sudah bersandar pada bangku dan menutup mata.


Memejamkan mata lebih nyaman untuk saat ini. Mata yang terasa sepat, perih dan mengantuk, rasanya Clara enggan pulang dan tidur disini sekarang juga.


Alice terdiam, mengingat saat terakhir kali Clara berubah. Setelah urusannya selesai, tubuh temannya itu tiba-tiba terjatuh, untung saja Reyhan bisa menangkapnya.


Clara yang terlihat setengah sadar, mereka sandarkan pada tembok. Wanita berambut sebahu ini tidak pingsan, ia hanya terlihat sangat lemas.


"Clara… ?" panggil Alice ragu. Namun gadis yang dipanggil itu mendongak menatap Alice.


“Kau baik-baik saja?” tanya Alice lagi “Aku haus,” jawab Clara lemah tidak menjawab pertanyaan Alice.


Dita membuka tas ransel nya kemudian merogoh untuk mengambil minuman kemasan, untuk diberikan kepada Clara.


Tidak lama. Clara sudah cukup sadar untuk dibawa pergi, mereka membawa Clara ke bangku taman agar dia bisa istirahat selama Reyhan membelikan minuman untuk Clara.


“Bisakah kalian merahasiakan apa yang kalian lihat?” pinta Reyhan pada Alice. Dita dan Clara sudah berjalan cukup jauh.


“Maksudnya?” tanya Alice tidak mengerti.


“Tentang ciuman itu, kalian melihatnya kan?” tanya Reyhan mengusap tengkuknya dengan sedikit canggung.


Alice sedikit memicingkan mata. Baru kali ini melihat sikap pangeran es yang tiba-tiba saja merasa malu.


Alice menghela pelan. "Aku tidak bisa berjanji akan merahasiakannya. Tapi untuk saat ini, memang sebaiknya Clara tidak tahu. Kecuali dia ingat apa yang terjadi. Lebih baik kau yang memberitahunya jika dia bertanya," kata Alice tenang.


“Alice, Dita, ada apa dengan kalian?” tanya Clara jengah mengembalikan Alice dari lamunannya.


“Tidak ada.”


“Ah.. ti-tidak ada.”


Alice dan Dita merespon bersamaan. Sedangkan Lisya hanya mengalihkan pandangannya seperti salah tingkah.


"Kalian tidak pandai berbohong. Jadi jelaskan pada ku saat aku sudah sehat nanti," ucap Clara.


“A-aku akan menyusul Reyhan sebentar,” suara Lisya kemudian pergi ke arah kantin.


"Urgh terserah kalian saja," kesal Clara.


"Hei, apa kau benar-benar baik-baik saja?" tanya Alice kini terlihat khawatir.


Clara hanya menatap Alice dan menghela pelan. "Entahlah," jawab Clara tersenyum kecil.


Baru kali ini ia rasakan tubuhnya sangat tidak nyaman setelah dirasuki Lisya. Atau mungkin ia sudah lupa bagaimana rasanya dulu saat ada hantu yang mencoba mengambil alih tubuhnya.


"Apa efeknya separah ini? Kenapa kau membiarkan Lisya menggunakan tubuh mu? Maaf Lisya aku hanya bertanya," kata Alice reflek di akhir kalimat.


Terkekeh kecil Clara menatap Alice geli. "Lisya tidak disini. Dia sedang pergi menyusul Reyhan," jelas Clara.


Kedua temannya hanya ber oh ria.


"Aku tidak tahu. Mungkin karena kurang persiapan atau karena Lisya yang terlalu emosional makanya tubuhku rasanya kehabisan tenaga."


.


.


.


Hanya terdiam dengan pandangan kosong, Lisya kembali mengingat perkataan Reyhan di belakang gedung praktikum.


“Aku harap kau tidak akan menyakiti dirimu lagi Rey. Hiduplah dengan bahagia untuk ku,” ucap Lisya menatap Reyhan lekat. Reyhan tidak menjawab, ia hanya menatap Lisya nanar.


Mereka sudah terduduk di atas ubin di belakang gedung praktikum, semua kesalahpahaman telah selesai, kini saatnya Lisya untuk berpamitan untuk selamanya.


“Jangan menatapku seperti itu, aku tidak akan bisa tenang jika kau tidak bahagia,” tegur Lisya membuat Reyhan sedikit menunduk dan mengeratkan genggamannya pada Lisya.


“Bukankah gadis-gadis yang mendekati mu benar-benar cantik?” kata Lisya mencoba menggoda Reyhan. Laki-laki ini menoleh cepat, menatap Lisya tidak suka.


“Apa kau tidak ingin memilih salah satu dari mereka?”


“Tidak.”


“Oh… atau kau memilih menunggu saat kuliah jadi kau bisa memilih mereka dengan hubungan yang lebih serius,” tambah Lisya tersenyum tulus.


Reyhan mengernyitkan keningnya menatap Lisya tajam. Sepertinya dia sudah mengerti kemana arah pembicaraan Lisya.


“Masih banyak wak--”


“Lisya!” potong Reyhan tak suka. Lisya sedikit tersentak.


Sebenarnya, Lisya juga tidak menyukai ide tentang Reyhan dan kekasih barunya. Namun, ia tidak ingin egois. Kehidupan Reyhan masih sangat panjang, bagaimanapun juga lelaki kesayangannya itu harus hidup bahagia.


“Jangan memaksa ku mencari wanita lain untuk menggantikan mu!” dingin Reyhan.


Mendengar perkataan Reyhan, Lisya tidak tahu apakah ia harus senang atau sedih. “Aku masih sangat menyayangimu, Lisya.”


Lisya terdiam sesaat, lalu mencoba tersenyum meski seadanya. Dengan lembut ia membelai pipi kekasihnya itu.


“Berjanjilah kau akan bahagia setelah ini. Urusan ku di sini sudah selesai, jadi kau harus kembali menjadi Reyhan yang dulu lagi.”


“Aku akan bahagia, tapi dengan satu syarat,” ucap Reyhan menggantung kalimatnya. “Kau akan menemani ku di sini sedikit lagi,” tambah Reyhan.


Mata Lisya membulat. Lisya membuka mulutnya untuk menjawab perkataan Reyhan, namun pangeran es itu sudah kembali bersuara.


“Selama ini aku hidup dalam ketakutan dan rasa bersalah. Apa kau akan pergi begitu saja setelah ini? Lisya…?” tanya Reyhan  menatap Lisya sendu.


“Rey…”


“Ku mohon, anggap saja ini permintaan terakhir ku,” ucap Reyhan tampak sangat berharap. Ia mengangkat genggaman tangannya di depan dada, menatap lekat pada manik mata Lisya.


Setelah berpikir cukup matang, dengan berat hati Lisya mengangguki permintaan Reyhan. Ia seolah tidak bisa menolak jika ditatap seperti itu oleh Reyhan.


“Apa Clara akan marah jika dia tahu kalau aku menggunakan tubuhnya untuk berciuman dengan Reyhan?” tanya Lisya pada dirinya sendiri.


Kini ia kembali ke taman sekolah. Di sana terlihat Reyhan yang sudah kembali berkumpul bersama yang lainnya.


“Oh… itu dia,” ucap Clara menoleh ke arah Lisya.


Reyhan, Alice dan Dita juga menoleh ke arah Lisya namun tidak menatap Lisya. Mereka tidak melihat ke arah Lisya dengan benar.


“Dari mana saja? Reyhan sudah kembali beberapa saat setelah kau pergi,” ucap Clara.


“Aku sedikit berkeliling mencari Reyhan, ternyata dia sudah di sini.”


“Clara… boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Reyhan. Clara hanya mengangguk.


“Saat Lisya meminjam tubuhmu… A-apa kau mendengar atau melihat apa yang aku dan Lisya bicarakan?”


“Tidak. Entahlah… samar-samar, tapi aku tidak ingat apapun,” jawab Clara.


Clara sedikit bingung dengan wajah teman-teman di sekitarnya, mereka yang terlihat tegang dan menahan nafas, tiba-tiba saja terlihat lega. “Ada apa?”


"Tidak ada," sahut Alice cepat dan datar.


“Clara. Sekali lagi, terima kasih banyak. Aku punya banyak salah padamu,” kata Reyhan sedikit membungkukkan badan pada Clara.


“He-hei jangan seperti itu, wajar saja jika kau tidak tahu,” jawab Clara merasa tidak nyaman melihat Reyhan yang sedikit membungkuk di hadapannya.


Mereka saling berpamitan, lalu kembali ke rumah masing-masing. Reyhan sudah pulang dengan motor besarnya, sedangkan Clara dan kedua temannya masih berada di tempat parkir.


“Clara matamu benar-benar bengkak, apa Mama mu tidak akan marah?” tanya Dita membuat Clara mematung sejenak di tempat.


"Hahaha sudah jangan dipikirkan," ucap Dita memberi semangat, sedangkan Alice hanya tersenyum kecil.


"Setidaknya, hal yang merepotkan sudah selesai. Aku bisa kembali hidup dengan tenang sekarang. Semoga setelah ini Reyhan bisa kembali menjadi diri nya lagi," ujar Clara.


"Ya, dan semoga Lisya bisa kembali dengan tenang," tambah Alice.


Dita dan Clara mengangguk serempak.


"Ayo pulang," ajak Alice.


Disisi lain, di suatu tempat, terdapat aura hitam yang sedari tadi mengamati yang tidak mereka ketahui. Sebuah aura yang cukup mengerikan jika Clara mengetahuinya. Setidaknya untuk kali ini Clara masih bisa pulang dengan damai.